Tag Archives: bandung

Why do people run out of a building when a quake happens?

Because it’s not the quake that kills them; it’s the building. Why do we make unsafe buildings? Don’t we learn anything from nature that has produced excellent examples of perfect shelters?

One of Prof. Bando’s presentation slides, showing viruses, ‘sheltered’ by their forms

These questions were often heard recently at our department, Industrial Design at ITB, during lectures by Professor Takaaki Bando, from Science of Design Department, Musashino Art University, Tokyo, who has been staying for almost one year in Bandung. His passion toward biomimicry, Buckminster Fuller’s concepts, bamboo and structures is obvious from his energy during the presentations. Now that his one-year period at ITB is almost up, as a closure Prof. Bando conducts a Bamboo Shelter Project. He’ll deliver an open lecture concerning this project so, comprehensive explanations should come from him, but as far as I know, this project is a realization of a shelter concept that is save for people living in it during quakes, flood, and such. The form is obviously a slight modification of a Bucky Ball, which is strongly inspired by structures of virus molecules and the form of Apollo 11 that landed the first human on the moon in 1969 (Prof. Bando has also delivered a lecture concerning interconnected inspirations within the history of great designs).

Detail of the structure’s joint system

This project involves not only students from Industrial Design department, but also from other departments in ITB such as Architecture, Interior Design, Visual Art, Aerospace Engineering, and Civil Engineering.

The realization itself is not without challenge. First, it was the supply of material – in less than one week, around 800 sliced bamboo had to be provided, cut according to the precise, required measurements. A number of requirements had to be compromised, among others concerning the bamboo slices: initially, the skin of the bamboo should still be intact, which was not possible considering the amount of wasted slices that would be generated while lots of slices are needed. This skinless-bamboo condition might affect the strength of the structure, but we’ll never know for sure until we try it full scale. All other flaws, especially the detailed, technical ones that are happening during the building process, are not ones that can’t be solved, and they added to the valuable experience.

How the shelter looked on Day-3: still completing the ball shape, before inserting the platform (support) into the ball

Although not fully equipped with ‘real’ dwelling facilities, this bamboo structure serves as a model of a safe shelter. As Prof. Bando mentioned in one of his lectures, “Design does not explain how society is, but how it can be”. This bamboo shelter is surely the beginning of a process in discovering how humanity may thrive and cope with extreme global changes. So- let’s discuss some more: you’re all welcome to attend Prof. Bando’s lecture on Monday, 26 March 2012 at FSRD ITB!

 

2 baGoes = 1 bor biopori = kurangi resiko banjir

Terasa ya, terutama bagi kita yang tinggal di Bandung, bahwa di musim yang seharusnya sudah lebih ‘kering’ ini, hujan justru turun terus? Bagi yang rajin baca berita, pasti tahu ya, kalau hujan deras sebentar saja sudah bisa membuat jalan-jalan di Bandung menjadi sungai-sungai dadakan? Secara logika, mestinya kita ngerti ya, bahwa limpahan air itu kalau tidak ditampung pasti akan mengalir terus, dan bahwa air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Bagi yang cukup beruntung tinggal di daerah bebas banjir dan longsor, tentunya bisa berpikir dengan lebih tenang ya, dan dapat membantu mencarikan solusi agar sesama warga Bandung ini dapat hidup lebih tentram tanpa harus merasa cemas setiap kali turun hujan deras, karena harus segera menyelamatkan harta-benda dan mengungsikan keluarga?

Berikut ini adalah salah satu caranya, bila kita ingin berperan dalam mengurangi beban banjir.

Poster baGoes untuk Biopori dari situs FHB

Karena luasnya area serapan air di bagian Utara Bandung yang tertutup akibat pengerasan permukaan (untuk bangunan, jalanan, dsb), air hujan yang turun deras tidak dapat meresap ke tanah. Selokan-selokan di sisi jalan pun mulai tertutup juga oleh pengerasan area, dan kalaupun ada, biasanya jalur-jalurnya sudah tersumbat oleh berbagai sampah padat yang sulit disingkirkan: botol & gelas plastik, kemasan makanan, tas kresek, kaos belel, kaleng kosong, sendal karet, dll. Wajar, bukan, kalau salah satu solusinya itu berupa penambahan lubang-lubang penampungan air di wilayah Bandung yang lebih tinggi, supaya air hujan tidak segera mengalir ke wilayah yang lebih rendah? Caranya adalah membuat lubang resapan biopori (LRB), yaitu sebuah lubang di tanah yang dalamnya kurang lebih 1 meter, dengan alat sederhana: bor biopori. Kalau saja dibuat minimal tujuh LRB di setiap halaman rumah di Bandung Utara, pasti sesama warga kota di wilayah Selatan dapat menjadi lebih tenang setiap kali hujan turun.

Cara mendapatkannya di Bandung? Dengan berkontribusi sebesar 200 ribu rupiah, satu unit bor biopori ini dapat diantar ke tempat, dengan bonus 2 (dua) buah baGoes, sebuah tas lipat yang praktis dibawa-bawa untuk menggantikan tas kresek ketika berbelanja. Detailnya bisa dilihat di situs Forum Hijau Bandung (FHB).

Berikut ini Q&A yang dikutip dari Bijaksana Junerosano, koordinator FHB, ketika membicarakan tentang LRB dan baGoes pertemuan FHB Senin 29 Maret 2010 lalu:

Kenapa harus lewat FHB kalau mau punya alat pembuat LRB? Sebenarnya tidak harus, bisa juga memesan langsung dari pembuat alat tersebut melalui situs Biopori di http://www.biopori.com/. FHB menawarkan layanan ini supaya teman-teman makin tergerak untuk berkontribusi. Coba: hanya dengan dua ratus ribu rupiah, alatnya dapat diantar langsung ke alamat dan mendapatkan dua tas baGoes(!)

Bor Biopori Type L01 buatan IPB

Kalau tidak mau membeli alatnya, tapi tetap mau berperan dalam pembuatan LRB ini, bagaimana? Bisa dengan cara berkontribusi sebesar (minimal) seratus ribu rupiah, dan mendapatkan satu tas baGoes. Nantinya uang ini akan dipakai oleh FHB untuk membeli bor biopori, yang akan disimpan di FHB, untuk dapat dipinjamkan secara gratis bagi siapa pun yang memerlukannya. Atau, bisa denganmenyumbangkan tenaga dalam pembuatan LRB. FHB sedang mempersiapkan sebuah hari-H di mana komunitas-komunitas yang berniat membuat LRB dapat secara serentak bergerak membuat LRB. Silakan mengikuti situs FHB di http://forumhijaubandung.wordpress.com/ untuk memperoleh update informasi mengenai rencana ini.

Alat pembuat LRB ini sepertinya mudah dibuat. Kalau mau membuat sendiri atau menirunya, kan bisa punya bor biopori dengan harga yang lebih murah? Memang tidak ada yang bisa menjamin bahwa desain alat ini bebas dari peniruan, tapi setidaknya dengan program ini, FHB menunjukkan penghargaannya pada Hak Kekayaan Intelektual pembuat alat LRB ini.

baGoes itu apa? Sebuah tas yang bisa dlipat sehingga praktis untuk dibawa-bawa, bisa menggantikan tas kresek bila kita berbelanja, produksi Greeneration Indonesia. Selengkapnya bisa dilihat di http://greeneration.org/products

Jadi, terlihat ya, bahwa ini adalah salah satu solusi untuk memperbaiki lingkungan yang sudah kita rusak separah ini, yang ditawarkan oleh FHB. Silakan bagi yang berminat untuk berkontribusi dengan membeli bor biopori, dan bagi yang memiliki energi dan waktu yang berlebih untuk berkontribusi dengan bergabung dalam pembuatan LRB.