Monthly Archives: June 2025

Hasil Penilaian UNESCO untuk Bandung sebagai Kota Kreatif

Semua anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UCCN) wajib menyerahkan Membership Monitoring Report (Laporan Pemantauan Keanggotaan) secara berkala, setiap empat tahun. Bandung, yang bergabung sebagai Kota Desain di tahun 2015, telah menyerahkan MMR pertamanya tahun 2019, dengan hasil “Very Good/ Excellent”.

Bandung menyerahkan MMR-nya yang kedua di tahun 2023, yang sedikit berbeda dengan adanya tambahan konten terkait Deklarasi Mondiacult. Perbedaan lainnya lagi adalah, dulu laporan ini diserahkan dalam bentuk PDF, sekarang dalam bentuk borang/ formulir yang dilengkapi secara daring. [Meskipun hanya diwajibkan mengisi borang, Bandung tetap membuat MMR keduanya dalam format PDF]. Juga terdapat dua macam laporan: tentang capaian kota itu sendiri dalam bidangnya, dan tentang penerapan Deklarasi Mondiacult. Sehingga laporan 2023 direvisi untuk dilengkapi, dan akhirnya diserahkan pada tahun 2024. Hasil penilaian laporan Bandung kali ini, yang dikirimkan oleh UNESCO pada akhir Juni 2025, kembali mendapatkan predikat “Very Good/ Excellent” dengan nilai 4,6 (nilai tertinggi 5)!

Hal-hal apa saja yang menjadi faktor penilaian? Antara lain, partisipasi dalam program-program UCCN (terutama yang wajib, yaitu kehadiran di Konferensi Tahunan UCCN); penyelenggaraan pertemuan internasional dengan keterlibatan kota-kota anggota lainnya; inisiatif kolaborasi antar kota, secara kualitas dan kuantitas, yang berkontribusi pada tujuan UCCN; kekuatan dan kelemahan komparatif kota dalam bidang kreatifnya; penerapan terbaik dari kebijakan/ aktivitas/ inisiatif kota dalam bidang kreatifnya; rencana aksi empat tahun ke depan, termasuk relevansinya dengan tujuan UCCN serta pengaruhnya terhadap potensi budaya & kreatif kota.

Beberapa komentar, “Rencana aksi Bandung empat tahun ke depan, yang terfokus pada kreativitas, inovasi dan pembangunan berkelanjutan, sejalan dgn tujuan UCCN dan Agenda 2030”. Bandung dinilai memiliki kekuatan sektor kreatif melalui berbagai inisiatif seperti Indeks Kota Kreatif (oleh ICCN dan KREASI Jabar), Bandung Design Biennale (oleh Bandung Desain Kolektif) dan ICON-ARCCADE (oleh FSRD ITB), yang juga mendorong kolaborasi dengan kota-kota anggota UCCN lainnya. Sebagai penutup, disebutkan bahwa, “Bandung demonstrates a mature and comprehensive approach to its design action plan”.

Penilaian dari sejawat menyebutkan pula beberapa faktor penambah nilai MMR ini, antara lain DesignAction.bdg, atau ‘musrenbang interaktif’ di mana pemerintah berbaur dengan warga dan pelaku ekraf dalam sebuah lokakarya Design Thinking for governance yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) bersama Pemerintah Kota Bandung. Juga, penyelenggaraan event internasional, seperti Connecti:City (konferensi internasional tentang simpul-simpul kreatif dan pengembangan ekonomi kreatif daerah) oleh KREASI Jabar dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Creative Cities Dialogue yang kerap menjadi bagian dari Connecti:City.

Sebuah tahap sekali lagi terlampaui dengan hasil memuaskan dan, semoga, membanggakan bagi semua profesional dan pelaku bidang kreatif di Kota Bandung, khususnya desain. Terima kasih atas kerja kerasnya selama ini, para penggerak budaya dan kreativitas di Kota Bandung beserta seluruh mitra, yang tidak pernah lelah menghadapi beragam tantangan dalam mengaktivasi Bandung sebagai Kota Kreatif kelas dunia! Tentunya terima kasih juga kepada Pemerintah Kota Bandung atas dukungannya selama ini; semoga dapat lebih konsisten, sinergis dan optimal, sesuai dengan komitmen kota ketika bergabung dengan Jejaring Kota Kreatif UNESCO di tahun 2015.

—–

Terdapat perubahan mekanisme MMR, yang disampaikan pada UCCN Annual Conference 2025 di Enghien-les-Bains, tanggal 24 Juni lalu: seluruh kota anggota UCCN akan menyerahkan laporan berikutnya secara serentak di tahun 2027.

—–

*MMR seluruh anggota UCCN dapat diakses di website UNESCO

Be Like Bamboo

During a session of Culture and Creative Economy Foresight at The International Training Centre of the International Labour Organization in Turin (ITCILO), 23-25 April 2025, I was given this question, “Your early research explored bamboo—an incredibly adaptable, resilient, and regenerative material. If you had to design a learning ecosystem for creative entrepreneurs with the qualities of bamboo, what would it look like in 2035? What are the ‘bamboo-like’ skills we should be nurturing today?”

It was actually fun the make the analogy; big thanks to Stefano Merante for the question! 🙂

1 Resilient | For centuries, bamboo has been considered as a reliable structural material. It has been used as skyfoldings, bridges, towers, houses, and many more; its flexibility enables the bending techniques, its strength retains the forms while holding the burdens, its lightness makes it easy to transport and work with. It grows fast; it can be harvested within months, depending on the kind of products it is aimed for — hence earning its reputation as a renewable, rapidly regenerative material. It withstands new ‘tricks’, or new production processes, which makes it a potential material for the future. | Resilience in creatives should also make them spring back or stand a strain of challenges in their line of work; they should learn (grow) fast and be agile when faced with new ‘tricks’ (system, technology, environment, etc.) that would turn them into future-ready creatives. Creatives should also regenerate their skills, experience and knowledge, particularly considering the rapid acceleration of media and technology development.

The bamboo doodle on my sketchbook, made right after the session

2 Healing | Bamboo has numerous properties that make it welcome by all living beings in any environment. It releases more oxygen compared to average trees, its groves provide shadings and nesting spaces for a variety of small species (birds, insects, snakes); its hollow tubes are used as a cooking ‘pot’ and to hold liquids; its shoot is known as delicacies in many cultures; its roots neutralize the soil from toxic substances. Its positive impacts have been proven, recorded and measured. | Creatives should also spread goodness and heal, or provide solutions to, the issues they are delving in; their works should be impactful and relevant in a long term.                 

3 Binding | It is not directly visible, but the roots of bamboo – being actually a giant grass – connect and tangle beneath the ground. The roots form a network that binds the soil, strengthening its structure, preventing landslides at critical landscapes. The stronger the binds, the more solid the grounds, ensuring a more productive landscape. | Creatives rarely work alone; they would always establish networks in different ecosystems, creating resources and supports, ensuring strong advancements of their works.       

4 Vulnerable | Despite being praised as a “material of the future”, bamboo surely has its vulnerability. Once taken from its groves and unprotected by its silicon-invested skin, bamboo poles are prone to insect and fungi attacks. Therefore it requires proper preservation, appropriate treatments, and the right supports in order to be able to optimally perform. | Creatives often face multiple challenges, ending up in self burn-outs and substandard performance. Their vulnerability should also be addressed and coped with, to maintain productivity and excellence.    

There are a lot more to bamboo than this, of course, but that would take an entire book to write. But as far as creatives are concerned, these are at least the qualities of bamboo that we can relate to.

 

Belajar Mengelola Kota Desain dari Saint Etienne

Tanggal 26-28 Mei 2025 lalu berlangsung kegiatan tahunan UNESCO Cities of Design Subnetwork Meeting, di mana Saint Etienne terpilih menjadi tuan rumah, yang sekaligus sedang menghelat Design Biennale di kota tersebut. Sebagai salah satu ‘kakak tertua’ Kota Desain UNESCO Creative Cities Network (UCCN), pengelolaannya cukup matang dan hasilnya dapat langsung terlihat, meskipun pemerintahan dan personelnya juga berubah-ubah sejalan dengan linimasa politik lokal maupun nasional mereka. Dan, tentu saja, “desain” di sini bukan sekedar obyek atau benda dengan kualitas fungsi dan estetik tertentu, tapi lebih luas lagi: sebagai jasa (service design), sistem dan pola pikir (design thinking), semangat solutif dengan empati, serta ekosistem yang inklusif, sekaligus produktif dan berkelanjutan. Berikut ini beberapa catatan dari St. Etienne.

 

Pengelola Kota Desain | St. Etienne bergabung dalam UNESCO Creative Cities Network sebagai Kota Desain di tahun 2010, namun sebelumnya memang telah memiliki rekam jejak yang signifikan dalam bidang desain; yaitu terselenggaranya International Design Biennale sejak 1998, dan terbentuknya kawasan desain, Cité du Design, sejak 2005. Perguruan tinggi seni & desain memiliki peran besar dalam hal ini, dan Pemerintah Kota St. Etienne adalah otoritas lokal pertama di Perancis yang mengintegrasikan fungsi manajemen desain dalam rancangan dan implementasi kebijakan publik, sejak 2010. Prosesnya selama ini pun tidak mulus-mulus saja, bahkan sampai saat ini. Tapi komitmen untuk terus melibatkan desain & kreativitas dalam mengelola kota tidak pernah ditinggalkan, sehingga dampaknya terlihat nyata dan terukur.

Cité du Design | Kota St. Etienne memutuskan untuk memanfaatkan lahan dan bangunan bekas pabrik senjata menjadi Kawasan Desain, atau Cité du Design. Di tahun 2025 ini, telah rampung digarap bangunan sekolah tinggi seni dan desain yang memuat berbagai bengkel, studio, ruang kerja digital, ruang cetak (mahasiswa harus cetak dan jilid laporan tugas akhir/skripsinya sendiri!), dll.; gedung kantor administrasi sekolah dan Cité du Design, ruang konferensi, serta ruang-ruang yang disewakan untuk pengusaha, baik rintisan (startup) maupun yang lanjutan; berbagai galeri dan studio, termasuk toko cenderamata; taman dalam ruang (green house) yang menuju ke perpustakaan buku dan materiał (ada koleksi material dari Material Library ITB di sana!); serta semacam showroom yang memuat maket dan linimasa rencana pembangunan kawasan, juga display karya dan milestones sejarah desain dunia. Sebuah concept hotel dan restoran juga direncanakan terbangun dalam waktu dekat ini. Sehingga, pantaslah St. Etienne menjadi kiblat Kota Desain di Eropa, bahkan dunia, melalui komitmen dan aksinya dalam melibatkan desain dalam strategi pembangunan kota.

Purwarupa Bangku Taman | Salah satu display dalam rangkaian Design Biennale ini adalah enam purwarupa bangku taman yang dipasang di salah satu taman di tengah kota. Tiap bangku dirancang oleh seorang mahasiswa, yang harus sanggup menerapkan kapasitas teknik produksi dan material dari perusahaan mitra yang memproduksi bangku tersebut; penempatannya pada ruang publik pun disepakati bersama dengan pemerintah kota. Di dekat setiap bangku, terdapat nama bangku, nama desainer, serta nama perusahaan yang dicetak pada stiker, yang ditempel pada pelataran di depan masing-masing bangku. Pengunjung taman, masyarakat umum, siapa pun, dapat memanfaatkan bangku-bangku tersebut, dan memberikan masukan untuk perbaikan desainnya. Diakui oleh dosen pengampunya, bahwa tidak mudah untuk mendapatkan kesepakatan dalam skema Public-Private-Partnership ini, namun keenam purwarupa bangku telah berhasil merepresentasikan kerja sama lintas stakeholder tsb. Project ini langsung mengingatkan pada instalasi Bandung Public Furniture di Helarfest 2008 dan 2009, serta program RekaKota di Semarak Bandung 2010. Kita harus mulai lagi nih!

 

Workshop bersama Design+ | Salah satu rangkaian acara UNESCO Cities of Design Subnetwork Meeting adalah workshop yang dipandu oleh Design+, yaitu perkumpulan desainer muda yang masing-masing memiliki studio, perusahaan atau jenama desain sendiri, dan bergabung dalam Design+ untuk menyelenggarakan berbagai program bersama. Terdapat tiga jenis workshop untuk para focal point Kota Desain; yang pertama menggunakan sticky notes untuk menyelesaikan kalimat, seperti, “Saya sedang memerlukan…”, atau “Tempat saya bekerja terkenal dengan…”, dsb. Notes tsb. kemudian ditempel pada papan, sehingga seluruh peserta dapat saling mengenali dan melihat peluang kerja sama. Workshop kedua mengajak tiap kelompok kecil untuk memilih tema yang dianggap urgent, mendiskusikan, dan menampilkan solusinya dalam model yang menggunakan mainan manusia, hewan, bentuk-bentuk geometris, masking tapes, play dough, dsb. Di workshop ketiga, masing-masing peserta difoto menggunakan Polaroid, lalu menempelkan fotonya di dinding, dilengkapi dengan nama dan afiliasi. Lalu, dengan kapur berwarna, membuat garis-garis yang menghubungkan dengan foto peserta lainnya, sambil menuliskan koneksi atau kolaborasi yang dapat dilakukan. Menyenangkan, dan mungkin perlu dilakukan secara berkala di antara sekian banyak komunitas yang berbeda di Bandung.

 

Material Library | St. Etienne memiliki koleksi material, termasuk “material baru” yang kerap merupakan hasil eksplorasi dalam upaya mendaur-naik (upcycling) material yang dianggap limbah, dan/atau yang belum dianggap berpotensi sebagai pembentuk benda. Perpustakaan material ini sangat bermanqfaat bagi para (calon) desainer yang ingin bereksperimen, mengeksplorasi lebih jauh proses dan penggunaan alternatif material untuk meningkatkan nilainya, atau sebagai bahan baku produk inovatif. Koleksi material yang jauh lebih lengkap dan paripurna sebenarnya adalah yang dimiliki oleh TCDC, sekarang Creative Economy Agency (CEA) Thailand. FSRD ITB mulai punya MatLib kecil-kecilan, di Design Centre CADL, terinspirasi dari St. Etienne dan CEA. Selanjutnya, ITB tengah bekerja sama dengan St. Etienne untuk MatLib ini, saling bertukar koleksi sambil mempromosikan material baru hasil eksplorasi mahasiswa dan peneliti dari masing-masing kampus.

 

Kolaborasi Internasional | Selagi di St. Etienne, kami jadwalkan untuk bertemu dengan tim hubungan internasional dari seluruh kampus St. Etienne, tidak hanya bidang seni rupa dan desain. Diskusi berlangsung singkat, padat, dan bersemangat, karena ketika masing-masing memaparkan tentang kampusnya, ternyata kita memiliki irisan besar dalam berbagai subyek penelitian. Sinergi antara sains, engineering, kreativitas dan bisnis, akan menghasilkan inovasi yang menarik dan berdampak, dan kedua kampus ini memiliki semuanya! Ada peluang besar yang kita bisa garap bersama.

—–

Refleksi. | Sungguh, hal-hal yang patut dicontoh dari St. Etienne sebenarnya bukanlah ‘barang baru’ bagi Bandung. Kita punya semuanya. Kita sudah punya lahan yang siap diadaptasi kegunaannya; kampus desain dengan akademisi, dosen/peneliti dan mahasiswa melimpah; komunitas, akademisi, praktisi desain/ subsektor industri kreatif lainnya yang terbukti unggul di tingkat nasional dan global; inisiatif warga dałam berbagai bentuk perayaan kreativitas; bahkan kebijakan dan peraturan daerah; kelompok berintegritas yang mampu memimpin perubahan hingga membawa keunggulan ekonomi kreatif Bandung hingga ke panggung internasional. Kita masih punya Bandung Design Biennale dan events kreatif lainnya, yang berdampak nyata, sekaligus menjadi panggung bagi pelaku ekonomi kreatif Kota Bandung di segala bidang dan level. Kita pernah punya belasan konsep Bandung Creative Belt, bahkan pernah melakukan piloting salah satunya, dengan menyelaraskan kepentingan warga, pelaku bisnis kreatif, serta pemerintah. Kita pernah punya harapan besar untuk mengakselerasi sektor ekonomi kreatif, demi mewujudkan kota kreatif yang sesungguhnya. Yang kita tidak punya, hanyalah konsistensi dan komitmen berkelanjutan dari pengelola dan otoritas kota.