Tag Archives: sustainability

Why we should care about our city forest

Regia Infographic

Regia Infographic by BatasFana (c)2012

Babakan Siliwangi, a Green Open Space in Bandung, is maintained as a preserved area up to today. On September 27, 2011, Babakan Siliwangi was declared as a World City Forest by the United National Environment Program (UNEP) in TUNSA event (an International Children and Youth Conference on Environment). There are not too many people, even those living in Bandung, know about Babakan Siliwangi City Forest, including a number of its interesting facts. Therefore, a wider dissemination is necessary, in order to reintroduce Babakan Siliwangi City Forest, among other by conducting a variety of creative activities in the area, and by spreading the information about the area. Following are a number of facts about Babakan Siliwangi City Forest.

In the earlier days, there were twelve fresh water springs within Babakan Siliwangi City Forest area, but today only one is left. Soil water surface has been reduced from 22,99meter to 14,35meter (data from 1999). If the area of this city forest is reduced, so will the soil water surface, due to the reduction of its absorbing area.

Babakan Siliwangi City Forest is a habitat for 120 plant species and 149 animal species. It is also a transit spot for six species of migrating birds. If this forest area is gone, the migration route of these birds will be cut.

Trees that grow within the area are, among others, Cola (Cola nitida) and Sempur (Dillenia Indica L.), but the dominant one is Flamboyan (Delonix Regia). Plantations in this area function as a buffer for air and noise pollutions. Whoever spends time in the middle of this city forest will feel a sense of serenity, although it is located very near to crowded big roads.

The width of canopy from the trees that grow in the forest reaches up to 5 hectares, while the width of Babakan Siliwangi area itself is only 3.8 hectares. The canopy functions as a shade that can reduce stress in human beings that stand under the area, since the trees also produce Oxygen.

The function of trees in this area as CO2 absorbance reaches up to 13,680 kilograms per day, while releasing O2 up to 9,120 kilograms per day. If the price of pure O2 is up to IDR 25,000 per liter, then the economic value of Babakan Siliwangi reaches up to IDR 148,000,000. From this calculation, it can be figured that if the area of Babakan Siliwangi is reduced even “only” up to 20%, Bandung will have a loss of about IDR 10 billion.

This information is only a few, compared to all the facts around Babakan Siliwangi City Forest, and these are facts that can mostly be observed and measured. However, beyond these facts, there are other evidences such as people’s interaction, communal activities, and social relationships that are established due to the existence of this unique, open urban space, such as this city forest. Such advantages cannot merely be quantified, since their widespread impacts and sustainability cannot be measured in a short, limited time scope. Judging from the height of activities in this area, which shows the crucial role of an urban space that invites its citizens to come out and enjoy their habitat, it can be concluded that Babakan Siliwangi City Forest should be preserved as a qualified Green Open Space that is kept open for all Bandung citizens.

*the Indonesian version of this article was published in Pikiran Rakyat

7 Prinsip Keberlanjutan untuk Komunitas Interaktif

Limpahan informasi, terutama tautan ke berbagai situs, salah satunya telah membawa saya ke sebuah tulisan berjudul Designing a Movement: Seven Principles for Sustainable Action (Valerie Casey), di mana Valerie Casey, pendiri Designers Accord, menyimpulkan prinsip-prinsip “keberlanjutan” yang dapat ia tawarkan ke komunitas desainer interaktif – sekelompok orang yang secara mendarah-daging selalu menganggap bahwa keberlanjutan adalah suatu desain sistem. Selengkapnya tentu saja bisa dibaca langsung di situs tersebut; di sini saya hanya merunut ke-tujuh prinsip tindakan berkelanjutan yang disampaikan Valerie.

1. Sebuah sistem bukanlah hanya sebuah gabungan dari bagian-bagian dari sistem tersebut. Satu bagian sistem pasti berpengaruh pada yang lain; tidak ada yang berada di luar sistem.

Tindakan: Memahami konsep sistem. Di sebuah bentangan benang yang ujung-ujungnya telah tertanam pasti/fixed (diagram Bruce Mau), tarikan pada satu bagian pasti akan mengulur bagian-bagian yang lain. Petakanlah proyek, sumber daya dan dampaknya dengan cara ini.

2. Masukan yang tertunda menyebabkan “jebakan desain”. Desainer bisa membuat keputusan buruk bila masukan/tanggapan terlambat datang.

Tindakan: Jangan mendesain untuk gejala tertentu saja. Banyak proyek desain terfokus hanya pada pemecahan masalah yang mudah untuk dicerna, daripada mengatasi sumber permasalahannya. Contohnya, orang lebih dianjurkan untuk mendaur ulang, tapi tidak pernah benar-benar dianjurkan untuk mengurangi belanjaan atau membeli produk-produk lokal.

3. Tidak ada yang namanya efek samping. Kita sering menentukan batasan-batasan artifisial di sekitar proyek kita bukan saja untuk memfokuskan diri pada permasalahan, tapi juga untuk menghindari tanggung-jawab terhadap hal-hal di luar batasan tersebut.

Tindakan: Alamilah produk-sampinganmu sendiri. Cobalah membawa-bawa sampahmu sendiri selama seminggu. Jangan buang benda-benda non-organik yang kamu pakai: botol plastik, kemasan, tisu, peralatan makan, semuanya. Ini akan jadi sebuah pelajaran kilat untuk mengetahui ‘efek samping’ dari semua konsumsi kita.

4. Tetapkan ukuran-ukuran kesuksesan yang tepat. Kurang buruk tidak berarti baik.

Tindakan: Buka sebuah jejaring sosial dengan sebuah tujuan sosial. Kita suka menciptakan jejaring, tapi bagaimana kalau kita menciptakan sebuah alasan untuk berjejaring? Kalkulator jejak karbon jadi kurang laku karena keabstrakan data hasilnya, berbeda dengan situs-situs di mana orang berbagi kasus-kasus nyata, perkembangan-perkembangan dan usaha-usahanya.

5. Pilih tingkatan yang tepat untuk perubahan.

Tindakan: Jadilah seorang mentor. Luangkan enam minggu bekerja dengan seorang siswa tingkat menengah atas, dan pelajari dirimu sendiri sambil membantu orang lain memakai pemikiran desain untuk mengubah lingkungan mereka (misalkan, sebuah sekolah).

Peta perjalanan bahan pembuat sebuah taco, menempuh hingga 64,000 mil (sumber: http://www.fastcompany.com/1567625/the-anatomy-of-a-taco)

6. Kenali hubungan antara struktur dan perilaku. Struktur sebuah kelompok, organisasi, komunitas, industri secara keseluruhan menentukan perilakunya.

Tindakan: Lakukan investigasi terhadap sebuah sistem. Telitilah sistem makanan dalam segala kejayaan politisnya yang korup. Mengertilah bahwa yang kau masukkan ke mulut adalah sebuah aksi politis. Cari berbagai referensi yang membuat kita tahu bagaimana pasar makanan global membuat lapar pihak-pihak yang miskin. Bayangkan dan berbagilah sumber-sumber mengenai hal-hal yang kau sukai, dan tambahkan sedikit data dalam investigasimu, mungkin kau bisa mempertentangkan berbagai asumsi tentang keberlanjutan, dan meluncurkan cara baru dalam berpikir.

7. Perhatian publik seringkali tidak mencerminkan perubahan dalam kondisi sebenarnya. Jangan terbuai oleh efek memabukkan dari isu-isu yang beredar tentang keberlanjutan – kamu juga harus melakukan sesuatu!

Tindakan: Kontribusi, distribusi. Bertindaklah sekarang!

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=805-HI8Jx2I]