Monthly Archives: March 2010

Penebangan Pohon di Hutan, Produk, Desainer, Limbah & Produk Daur Ulang

Dewi Pugersari

Hasil dari penebangan pohon di hutan

Indonesia merupakan negara yang memiliki tanah yang subur dan iklim tropis, kekayaan alam Indonesia sangatlah beraneka ragam dan berlimpah-ruah. Berbagai jenis tumbuhan berdaya guna tinggi dapat ditemukan dengan mudah di alam ini. Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan yang cukup berpotensi untuk ditanamai berbagai macam pohon, berbagai varietas tumbuhan hidup subur dan berbagai macam satwa menjadikan hutan sebagai tempat hidupnya.
Namun tahukah anda bahwa luas hutan Indonesia terus menciut dari tahun ke tahun? Luas penetapan kawasan hutan oleh departemen kehutanan tahun 1950 sebesar 162,0 juta hektar, 1992, 118,7 juta hektar, 2003, 110,0 juta hektar, dan tahun 2005 hanya 93,92 juta hektar. Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa sejak tahun 1985-1997 Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 1,5 juta hektar setiap tahun dan diperkirakan sekitar 20 juta hutan produksi yang tersisa. FWI dan GFW menganalisa bahwa dalam kurun waktu 50 tahun, luas tutupan hutan Indonesia mengalami penurunan sekitar 40% dari total tutupan hutan di seluruh Indonesia (http://id.wikipedia.org).

Download the complete article here

Artificial Photosynthesis: Energi Masa Depan

Intan Prameswari

Kemacetan dan polusi Jakarta akibat jumlah kendaraan yang terus meningkat

Jakarta adalah salah satu kota dengan tingkat polusi terburuk di dunia. Hal ini disebabkan oleh banyaknya industry yang mengeluarkan limbah udara di sekitar Jakarta dan banyaknya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta. Sekitar 98 persen dari jumlah kendaraan di Jakarta adalah kendaraan pribadi, dengan demikian kendaraan umum hanya berjumlah sekitar 2 persen dari total kendaraan di Jakarta. Menurut data pemerintah Jakarta pada tahun 2006-2007, pertambahan mobil di Jakarta mencapai 220 per hari. Sedangkan sepeda motor mencapai pertambahan sebesar 897 per hari. Jumlah ini belum termasuk kendaraan-kendaraan dari sekitar Jakarta yang masuk setiap harinya seperti kendaraan dari Bekasi, Depok dan Tangerang. Sementara data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9 persen per tahun. Tentu saja fenomena ini merupakan sebuah hasil dari system transportasi umum yang tidak memadai. Masyarakat memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum yang tidak nyaman dan seringkali tidak aman.

Kepadatan kendaraan yang berakibat pada polusi udara kini tidak hanya terjadi di Jakarta, namun mulai merambat pada kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Surabaya. Kendaraan-kendaraan yang digunakan di Indonesia adalah jenis kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak, di mana hasil pembakaran bahan bakar berupa asap menyebabkan polusi. Bahan bakar minyak juga merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dengan pertumbuhan manusia yang demikian cepat, kebutuhan akan transportasi dan energi juga meningkat, sehingga persediaan bahan bakar minyak dunia sebagai bahan bakar utama terus menipis. Telah diprediksi bahwa persediaan bahan bakar minyak akan habis pada tahun 2015. Imbas dari menipisnya persediaan minyak ini telah dirasakan oleh masyarakat Indonesia dengan melambungnya harga minyak tanah dan bensin.

Download the complete article here

Efek Produksi Kertas terhadap Lingkungan

Derry Falrisya

Proses daur ulang kertas

Pemanasan global, merupakan sebuah isu lingkungan hidup yang sudah sangat sering dikemukakan di mana-mana. Hampir setiap lapisan masyarakat sudah mengerti apa dan bagaimana itu pemanasan global. Namun sama halnya saat kita mencoba satu buah resep makanan. Kita tidak akan berhasil tanpa terus membaca resep nya dengan seksama dan langsung mempraktekkannya di dapur. Begitu pula dengan isu mengenai pemanasan global. Tidak ada gunanya jika kita hanya membaca mengenai pemanasan global tanpa kita perhatikan dengan baik hal-hal apa saja yang dapat meningkatkan dan mengurangi efek dari pemanasan global. Namun semua itu juga percuma jika kita hanya hanya membaca, meresapi, tanpa ada tindakan untuk mempraktekkannya. Dalam 10 tahun ke depan, jika penggunaan fosil energy dan peningkatan emisi karbon ke atmosfir tetap tidak berubah maka kurang lebih 8-10% luas daratan akan berkurang setiap tahunnya, dan dalam 10 tahun sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. dengan kompresi serat yang berasal dari pulp yang dibuat dari kayu cemara atau kayu pinus. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa.

Download the complete article here

M-SYSTEM, Material Pengganti Batu Bata

Dwiastuti Yunita

M-System Innovative Building Technology

Pemanasan Global merupakan isu yang menghangat di segala bidang kehidupan dan telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi atau disebut juga dengan gaya hidup konsumtif. Beberapa pihak tidak memahami dan peduli terhadap isu perubahan iklim sebab banyak yang mengatakan dampak lingkungan terjadi secara kumulatif. Pada titik ini masalah lingkungan dianggap tidak penting bagi beberapa pihak dan kalangan.

Download the complete article here

Popok Kain Mengurangi Beban Bumi

Rhily Mahalia Zoro

Popok kain Enphilia Lite karya Rika Winurdiastri

Apakah kita pernah berpikir, bagaimana jika di masa depan, manusia harus membeli air karena air bersih sulit ditemukan? Bagaimana jika manusia diwajibkan membeli oksigen karena udara telah terkontaminasi? Atau, bagaimana jika lahan tempat tinggal manusia semakin sempit karena sampah yang menggunung? Kekhawatiran yang berkepanjangan akan terus terjadi jika manusia tetap memperlakukan bumi secara tidak adil. Pemanasan global adalah salah satu dampak yang ditimbulkan. Suhu bumi meningkat akibat tingginya karbon di udara yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor. Gas berbahaya tersebut mempengaruhi iklim dan ekosistem di dalamnya. Jika ingin bersikap adil, setiap manusia yang menggunakan kendaraan bermotor, sebaiknya menanam satu pohon sebagai tanggungjawabnya terhadap lingkungan. Tetapi pada kenyataannya, banyak penebangan hutan liar yang terjadi di negara-negara berkembang. Kawasan hutan diratakan untuk pembangunan gedung-gedung
bertingkat, real estate, atau mall. Bahkan terdapat perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, yang hasilnya digunakan sebagai bahan dasar kosmetik, dimana dalam proses penebangannya, banyak makhluk hidup yang mati dan kehilangan tempat tinggal. Beberapa negara di dunia telah melakukan upaya dalam mengatasi perubahan iklim dengan menandatangani kesepakatan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari tiap negara. Tetapi, Salah satu negara adikuasa tidak setuju untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Mereka lebih baik membayar negara berkembang untuk menanam lebih banyak pohon agar dapat mengurangi dampak pemanasan global. Padahal, emisi yang mereka hasilkan cukup besar dan belum tentu dapat diatasi hanya dengan sekedar membayar negara lain untuk menanam pohon.

Download the complete article here

RE-USE Product Design

Aurora Rintya

Lalitya Talitha melakukan usaha reuse dengan mengubah 100% limbah plastik dan stereofoam menjadi sebuah stool yang fungsional, dinamakan 'Cubicle Patchwork'.

‘Reuse is smaller footprint’. Apa maksud pernyataan tersebut? Footprint yang disebutkan bukanlah definisi jejak secara harfiah, melainkan jejak ekologis manusia dalam kehidupannya di bumi ini. Sebelum mengartikan kalimat pembuka tersebut, ada baiknya kita mengetahui kondisi bumi saat ini, berkaitan dengan jejak ekologis manusia.

Dalam kehidupan ini setiap manusia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, namun selain kebutuhan primer, sifat dasar manusia mendorong dirinya untuk memenuhi kebutuhannya akan kesejahteraan sosial, kenikmatan, serta keuntungan bagi dirinya. Jika semua manusia tidak membatasi dirinya dengan kualitas hidup makhluk lainnya di bumi ini, maka akibatnya akan dirasakan oleh semua makhluk yang hidup di masa tersebut juga pada masa yang akan datang. Hal tersebut berkaitan dengan etika lingkungan , dasar etika lingkungan merupakan kebebasan manusia untuk memilih, dan tugas untuk merawat dunia ini dengan penuh tanggung jawab dan berkesinambungan. Demi mencapai keseimbangan tersebut, salah satu faktor yang cukup dominan adalah mempertimbangkan jejak ekologis guna mengukur kebutuhan bahan baku alam yang digunakan oleh setiap bangsa dan setiap orang.

Download the complete article here

Ayo Bermain Game untuk Lingkungan Kita

Andika Dwicahyo Aribowo

Bermain game sudah menjadi hal yang lumrah, tidak hanya untuk anak-anak tetapi orang dewasa juga memainkannya.

“Setiap hal punya masalah, demikian pula halnya lingkungan. Namun, apakah setiap orang tahu?”

“Setiap masalah ada jalan keluarnya, demikian halnya masalah lingkungan. Namun, apakah setiap orang tahu?”

Pertanyaan itu yang rasanya muncul ketika saya duduk membaca koran dipagi hari sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Setiap hari selalu saja ada pemberitaan mengenai bencana banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesia, terlebih saat ini adalah musim hujan. Seperti di Bandung misalnya, tepatnya kawasan Bandung Selatan yang sepertinya hampir dapat dipastikan seratus persen dilanda banjir ketika hujan turun lebih dari 1 jam. Begitu mirisnya kita melihat penderitaan penduduk setempat yang menderita baik secara psikologis, stress dengan kehilangan materi bahkan anggota keluarga mereka, ataupun secara fisik dengan terganggunya kesehatan mereka.

Pemberitaan media tidak kalah hebohnya, wartawan berlomba-lomba mencari berita bencana ini kemudian dipublikasikan untuk dapat dilihat masyarakat luas dan sedikit menyentil kita untuk peduli terhadap sesama kita yang sedang membutuhkan (pastinya juga untuk mencari nafkah mereka sendiri). Sesaat ketika melihat dan menyaksikan pemberitaan itu, kita terenyuh dan seakan sadar akan pentingnya wasada terhadap bencana. Namun
sejurus kemudian, kita lupa dan kembali pada rutinitas dan kesibukan kita masing-masing. Apa yang salah disini?

Download the complete article here