Author Archives: Tita Larasati

M-SYSTEM, Material Pengganti Batu Bata

Dwiastuti Yunita

M-System Innovative Building Technology

Pemanasan Global merupakan isu yang menghangat di segala bidang kehidupan dan telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi atau disebut juga dengan gaya hidup konsumtif. Beberapa pihak tidak memahami dan peduli terhadap isu perubahan iklim sebab banyak yang mengatakan dampak lingkungan terjadi secara kumulatif. Pada titik ini masalah lingkungan dianggap tidak penting bagi beberapa pihak dan kalangan.

Download the complete article here

Popok Kain Mengurangi Beban Bumi

Rhily Mahalia Zoro

Popok kain Enphilia Lite karya Rika Winurdiastri

Apakah kita pernah berpikir, bagaimana jika di masa depan, manusia harus membeli air karena air bersih sulit ditemukan? Bagaimana jika manusia diwajibkan membeli oksigen karena udara telah terkontaminasi? Atau, bagaimana jika lahan tempat tinggal manusia semakin sempit karena sampah yang menggunung? Kekhawatiran yang berkepanjangan akan terus terjadi jika manusia tetap memperlakukan bumi secara tidak adil. Pemanasan global adalah salah satu dampak yang ditimbulkan. Suhu bumi meningkat akibat tingginya karbon di udara yang dihasilkan dari asap kendaraan bermotor. Gas berbahaya tersebut mempengaruhi iklim dan ekosistem di dalamnya. Jika ingin bersikap adil, setiap manusia yang menggunakan kendaraan bermotor, sebaiknya menanam satu pohon sebagai tanggungjawabnya terhadap lingkungan. Tetapi pada kenyataannya, banyak penebangan hutan liar yang terjadi di negara-negara berkembang. Kawasan hutan diratakan untuk pembangunan gedung-gedung
bertingkat, real estate, atau mall. Bahkan terdapat perubahan fungsi hutan menjadi perkebunan sawit, yang hasilnya digunakan sebagai bahan dasar kosmetik, dimana dalam proses penebangannya, banyak makhluk hidup yang mati dan kehilangan tempat tinggal. Beberapa negara di dunia telah melakukan upaya dalam mengatasi perubahan iklim dengan menandatangani kesepakatan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan dari tiap negara. Tetapi, Salah satu negara adikuasa tidak setuju untuk menandatangani kesepakatan tersebut. Mereka lebih baik membayar negara berkembang untuk menanam lebih banyak pohon agar dapat mengurangi dampak pemanasan global. Padahal, emisi yang mereka hasilkan cukup besar dan belum tentu dapat diatasi hanya dengan sekedar membayar negara lain untuk menanam pohon.

Download the complete article here

RE-USE Product Design

Aurora Rintya

Lalitya Talitha melakukan usaha reuse dengan mengubah 100% limbah plastik dan stereofoam menjadi sebuah stool yang fungsional, dinamakan 'Cubicle Patchwork'.

‘Reuse is smaller footprint’. Apa maksud pernyataan tersebut? Footprint yang disebutkan bukanlah definisi jejak secara harfiah, melainkan jejak ekologis manusia dalam kehidupannya di bumi ini. Sebelum mengartikan kalimat pembuka tersebut, ada baiknya kita mengetahui kondisi bumi saat ini, berkaitan dengan jejak ekologis manusia.

Dalam kehidupan ini setiap manusia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, namun selain kebutuhan primer, sifat dasar manusia mendorong dirinya untuk memenuhi kebutuhannya akan kesejahteraan sosial, kenikmatan, serta keuntungan bagi dirinya. Jika semua manusia tidak membatasi dirinya dengan kualitas hidup makhluk lainnya di bumi ini, maka akibatnya akan dirasakan oleh semua makhluk yang hidup di masa tersebut juga pada masa yang akan datang. Hal tersebut berkaitan dengan etika lingkungan , dasar etika lingkungan merupakan kebebasan manusia untuk memilih, dan tugas untuk merawat dunia ini dengan penuh tanggung jawab dan berkesinambungan. Demi mencapai keseimbangan tersebut, salah satu faktor yang cukup dominan adalah mempertimbangkan jejak ekologis guna mengukur kebutuhan bahan baku alam yang digunakan oleh setiap bangsa dan setiap orang.

Download the complete article here

Ayo Bermain Game untuk Lingkungan Kita

Andika Dwicahyo Aribowo

Bermain game sudah menjadi hal yang lumrah, tidak hanya untuk anak-anak tetapi orang dewasa juga memainkannya.

“Setiap hal punya masalah, demikian pula halnya lingkungan. Namun, apakah setiap orang tahu?”

“Setiap masalah ada jalan keluarnya, demikian halnya masalah lingkungan. Namun, apakah setiap orang tahu?”

Pertanyaan itu yang rasanya muncul ketika saya duduk membaca koran dipagi hari sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Setiap hari selalu saja ada pemberitaan mengenai bencana banjir yang melanda sebagian wilayah di Indonesia, terlebih saat ini adalah musim hujan. Seperti di Bandung misalnya, tepatnya kawasan Bandung Selatan yang sepertinya hampir dapat dipastikan seratus persen dilanda banjir ketika hujan turun lebih dari 1 jam. Begitu mirisnya kita melihat penderitaan penduduk setempat yang menderita baik secara psikologis, stress dengan kehilangan materi bahkan anggota keluarga mereka, ataupun secara fisik dengan terganggunya kesehatan mereka.

Pemberitaan media tidak kalah hebohnya, wartawan berlomba-lomba mencari berita bencana ini kemudian dipublikasikan untuk dapat dilihat masyarakat luas dan sedikit menyentil kita untuk peduli terhadap sesama kita yang sedang membutuhkan (pastinya juga untuk mencari nafkah mereka sendiri). Sesaat ketika melihat dan menyaksikan pemberitaan itu, kita terenyuh dan seakan sadar akan pentingnya wasada terhadap bencana. Namun
sejurus kemudian, kita lupa dan kembali pada rutinitas dan kesibukan kita masing-masing. Apa yang salah disini?

Download the complete article here

Manfaat Limbah Bulu Ayam sebagai Green Material

Slamet Riyadi

"Tujuan dasarnya adalah memperkenalkan materi ramah lingkungan baru yang akan mengurangi sampah, menguntungkan petani dan (nantinya) menggantikan materi dari minyak" - Richard Wool

Bulu-bulu ayam yang terbuang sia-sia pada setiap daging ayam yang dijual di supermarket dan di pasar merupakan salah satu isu global yang ada di hampir setiap negara. Amerika merupakan salah satu negara konsumsi ayam yang
terbanyak hingga mencapai angka 8 juta ayam broiler setiap tahunnya.
Jumlah limbah bulu-bulu ayam yang dihasilkan oleh para industri ternak yaitu antara 2 juta hingga 3 juta pon per tahun. kebanyakan dari mereka membakar limbah tersebut, mengubur sampai mencampurkannya kembali ke dalam pakan ternak–metode tersebut sungguh memakan biaya dan bertentangan.

Download the complete article here

Plastik, Ratu atau Racun Dunia?

Nina Nurviana

Kode untuk produk industri yang sudah disepakati oleh  masyarakat internasional, biasanya ada di bagian bawah botol/wadah plastik

terpanggang sinar matahari, plastik lalu menjadi butiran seperti telur ikan. Butiran itu sering disangka makanan oleh ikan dan Kode untuk produk industri yang sudah disepakati oleh masyarakat internasional, biasanya ada di bagian bawah botol/wadah plastik

Ilmuwan Belgia Leo Hendrik Baekeland (1863-1944) menemukan bakelit pada tahun 1908. Bakelit adalah bahan plastik pertama dari jenis duroplast. Seiring dengan penemuan bakelit muncul pula penemuan baru di bidang kimia, seperti teknik polimerasi unsur karbon. Bakelit yang setelah diolah kini dikenal dengan nama plastik itu mempunyai sifat material yang baik, keunggulannya adalah mudah dibentuk, relatif kuat, bukan penghantar listrik dan murah harganya sehingga sangat sesuai untuk produk konsumsi sehari-hari dan produk rekayasa canggih lainnya. Keturunan bakelit pun bermunculan  sebelum tahun 1945 yaitu nilon, polyester, teflon, silikon, polyuretan, PVC dan lain-lain. Karena keunggulannya, membuat bahan tersebut dapat diaplikasikan ke berbagai produk hampir tanpa batas, bahan plastik menjadi ladang subur bagi penemuan desain baru yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Dunia menyambut “Ratu dunia” dengan kegairahan baru, era kayu dan logam menjadi
tersisih.

Download the complete article here

High Line Park, New York

Arianti Ayu Puspita

High Line Park, New York

High Line Park merupakan taman sepanjang 2,33 km yang asalnya adalah jalur untuk kereta barang yang dibangun pada tahun 1930. Terletak di sisi barat Manhattan, New York dengan tinggi 30 kaki. Penggunaan angkutan barang ini tetap berjalan aktif hingga tahun 1980. Karena terbengkalai dan tidak digunakan lagi pada tahun 1990-an, mulai tumbuh rumput-rumput liar dan semak belukar di sepanjang sisi rel kereta api.
Pada tahun 1999 dibentuk sebuah kelompok yang bernama “Friends of the Highline” oleh Robert Hammond dan Joshua David untuk mengusung ide mengubah High Line menjadi jalur hijau. Ide ini terinspirasi dari Promenade plantee di Paris, taman layang yang juga bekas jalur kereta api. Komunitas-komunitas yang menuntut penggunaan lahan publik untuk berjalan kaki pada jalur ini semakin banyak dan teralokasikan pada tahun 2004. Desain dari High Line Park merupakan hasil dari kompetisi antar 720 tim dari 36 negara.

Download the complete article here

INFOGRAFIK, Usulan untuk Desain yang Berkelanjutan dan Desainer yang Berkesadaran

Gamaliel W. Budiharga

Contoh kampanye Hellmann’s dengan menggunakan infografik

Setelah teori evolusi fisik manusia yang diperkenalkan oleh Darwin, rupanya ada bentuk evolusi lain yang terus berlanjut sampai hari ini, yaitu evolusi kesadaran. Mulai dari pemikiran filsafat klasik semenjak Sokrates hingga filsafat kontemporer abad 21, pada dasarnya semuanya menendang kesadaran kita sebagai manusia. Segala praktik
hidup manusia yang sedang berlangsung dipertanyakan dan diuji lewat berbagai macam sudut pandang. Munculnya terminologi desain berkelanjutan (sustainability design) mungkin bisa dimaknai dalam kerangka proses penyadaran tersebut. telah menawarkan segala macam fatamorgana keindahan namun sebenarnya mengandung kanker yang menggerogoti alam dan kemanusiaan kita selama ini.

Download the complete article here

Berkelanjutan dengan Desain Grafis yang Lebih Baik

Senja Aprela Agustin

Kemasan minuman anggur yang bisa disusun kembali menjadi kap lampu yang manis dan estetis

Namanya perancang grafis, karya dan kerjanyanya menghasilkan artefak cetak bagi kehidupan manusia. Di antaranya yang berurusan dengan kertas seperti kemasan, dunia publikasi (buku dan majalah) serta katalog, poster, lembaran promosi. Meskipun jenis baru pengetahuan ini berusia muda, namun keberadaanya mampu mengubah wajah dunia yang disesaki dengan berbagai citraan-citraan gambar yang dikenal dengan budaya visual (visual culture).

Download the complete article here

Tiada Kata Tak Mungkin bagi Perusahaan Industri untuk Berdamai dengan Lingkungan

Qadr Jatsiah Elmir

Contoh produk tas Raflo dari PT. Ekanindya Karsa

Akhir-akhir ini gencar sekali dibicarakan pada berbagai media, seminar, workshop, materi kuliah, bahkan lingkungan bertetangga, mengenai isu global warming – pemanasan global. Namun sebenarnya, seperti apakah ‘makhluk’ yang bernama global warming itu?
Global warming yang jika diindonesiakan maka bermakna ‘pemanasan global’, merupakan sebuah isu lingkungan dengan tujuan utama mengajak manusia-manusia dunia untuk lebih sadar serta peduli akan lingkungan, dengan mengingat kenyataan bahwa bumi sudah semakin panas dan semakin tidak bersahabat. Telah ada sekian banyak bencana alam, yang disadari atau tidak, adalah suatu reaksi alamiah bumi terhadap perilaku manusia-manusianya yang semakin “mengukuhkan diri” sebagai perusak lingkungan. Lingkungan ini tidak hanya menyangkut ‘lingkungan hidup’ yang identik berkisar pada tumbuhan, pohon dan hutan. Namun lebih dari itu, ia berkaitan pula dengan gaya hidup setiap individu. Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan saat ini pastinya akan berdampak pada lingkungan, dan bumi yang kita pijak ini.

Download the complete article here