Cibaduyut area in West Java is famous for its footwear industry. However, along with the production, comes also the mount of waste from the shops, whether leftover materials or rejected, deformed pieces. Among the wasted materials is rubber, of which Jeffry took as a case and processed it into stripes, to be woven into seats for his graduation project at Industrial Design ITB.
Category Archives: indonesian case
Lamp”Oo” by Frans Atuh Sanger
Sasanti by Felicia Simon
Copy, bind and print shops/services around a university would release not only research papers and works of students, lecturers and researchers, but also the waste of the works, such as the excess of papers and plastics. Felicia Simon aimed to reduce the plastic waste (from book covers, binders, etc.) by processing and turning it into a series of room divider for her graduation project at Industrial Design ITB.
CanStool by Fammina Rismaya
Aluminum drink cans are consumed daily in a great number, which add to the pile of garbage that are not properly treated, moreover recycled, in urban areas in Indonesia – while drinks in cans are still being widely produced and consumed. In her graduation project, Fammina attempted to reduce the waste problem by turning the cans into a stool, through the process of pressing and fixing them together. In this project, she also designed a simple, manual tool to process this material for small-scale industries.
Can’an by Dian Suri
Tembesu wood is originated from Palembang, the capital city of South Sumatra province, and is popular as one of the main materials in timber industry. The waste of tembesu timber industry is in blocks of wood pieces, which are too small to be a construction element or any structural product, but are too big and valuable to let burn as garbage. Dian Suri saw the potential of this raw material and turned it into a series of jewelry and body accessories that carry the theme of Palembang ethnicity for her graduation project at Industrial Design ITB.
Cassava by Apid Rustandi
Skin by Amelia Rachim
Amelia Rachim explored the waste of a fishing industry for her final project at the Industrial Design section of ITB: fish skin, which are normally thrown away and burnt. She came up with a concept to preserve, clean and dye the skin pieces and apply them on products such as lighting accessories, tableware and stationery.
Baglamp by Agrina Librata
Diary Litya
This video is an end-term group assignment & exam of Design & Sustainability class (DP4101, 201o) at the Industrial Design Section of the Faculty of Arts & Design, Institute of Technology Bandung (ITB), Indonesia. Students, in groups, are asked to make a 5min. video with keywords such as sustainability, green lifestyle, eco-product, global warming, etc.
This one is called “Diary Litya”, depicting a daily activity of a student, concerning her consumption of energy, water, etc.
[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=Woh-w9Yug1A&hl=en_US&fs=1&]
2 baGoes = 1 bor biopori = kurangi resiko banjir
Terasa ya, terutama bagi kita yang tinggal di Bandung, bahwa di musim yang seharusnya sudah lebih ‘kering’ ini, hujan justru turun terus? Bagi yang rajin baca berita, pasti tahu ya, kalau hujan deras sebentar saja sudah bisa membuat jalan-jalan di Bandung menjadi sungai-sungai dadakan? Secara logika, mestinya kita ngerti ya, bahwa limpahan air itu kalau tidak ditampung pasti akan mengalir terus, dan bahwa air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Bagi yang cukup beruntung tinggal di daerah bebas banjir dan longsor, tentunya bisa berpikir dengan lebih tenang ya, dan dapat membantu mencarikan solusi agar sesama warga Bandung ini dapat hidup lebih tentram tanpa harus merasa cemas setiap kali turun hujan deras, karena harus segera menyelamatkan harta-benda dan mengungsikan keluarga?
Berikut ini adalah salah satu caranya, bila kita ingin berperan dalam mengurangi beban banjir.
Karena luasnya area serapan air di bagian Utara Bandung yang tertutup akibat pengerasan permukaan (untuk bangunan, jalanan, dsb), air hujan yang turun deras tidak dapat meresap ke tanah. Selokan-selokan di sisi jalan pun mulai tertutup juga oleh pengerasan area, dan kalaupun ada, biasanya jalur-jalurnya sudah tersumbat oleh berbagai sampah padat yang sulit disingkirkan: botol & gelas plastik, kemasan makanan, tas kresek, kaos belel, kaleng kosong, sendal karet, dll. Wajar, bukan, kalau salah satu solusinya itu berupa penambahan lubang-lubang penampungan air di wilayah Bandung yang lebih tinggi, supaya air hujan tidak segera mengalir ke wilayah yang lebih rendah? Caranya adalah membuat lubang resapan biopori (LRB), yaitu sebuah lubang di tanah yang dalamnya kurang lebih 1 meter, dengan alat sederhana: bor biopori. Kalau saja dibuat minimal tujuh LRB di setiap halaman rumah di Bandung Utara, pasti sesama warga kota di wilayah Selatan dapat menjadi lebih tenang setiap kali hujan turun.
Cara mendapatkannya di Bandung? Dengan berkontribusi sebesar 200 ribu rupiah, satu unit bor biopori ini dapat diantar ke tempat, dengan bonus 2 (dua) buah baGoes, sebuah tas lipat yang praktis dibawa-bawa untuk menggantikan tas kresek ketika berbelanja. Detailnya bisa dilihat di situs Forum Hijau Bandung (FHB).
Berikut ini Q&A yang dikutip dari Bijaksana Junerosano, koordinator FHB, ketika membicarakan tentang LRB dan baGoes pertemuan FHB Senin 29 Maret 2010 lalu:
Kenapa harus lewat FHB kalau mau punya alat pembuat LRB? Sebenarnya tidak harus, bisa juga memesan langsung dari pembuat alat tersebut melalui situs Biopori di http://www.biopori.com/. FHB menawarkan layanan ini supaya teman-teman makin tergerak untuk berkontribusi. Coba: hanya dengan dua ratus ribu rupiah, alatnya dapat diantar langsung ke alamat dan mendapatkan dua tas baGoes(!)
Kalau tidak mau membeli alatnya, tapi tetap mau berperan dalam pembuatan LRB ini, bagaimana? Bisa dengan cara berkontribusi sebesar (minimal) seratus ribu rupiah, dan mendapatkan satu tas baGoes. Nantinya uang ini akan dipakai oleh FHB untuk membeli bor biopori, yang akan disimpan di FHB, untuk dapat dipinjamkan secara gratis bagi siapa pun yang memerlukannya. Atau, bisa denganmenyumbangkan tenaga dalam pembuatan LRB. FHB sedang mempersiapkan sebuah hari-H di mana komunitas-komunitas yang berniat membuat LRB dapat secara serentak bergerak membuat LRB. Silakan mengikuti situs FHB di http://forumhijaubandung.wordpress.com/ untuk memperoleh update informasi mengenai rencana ini.
Alat pembuat LRB ini sepertinya mudah dibuat. Kalau mau membuat sendiri atau menirunya, kan bisa punya bor biopori dengan harga yang lebih murah? Memang tidak ada yang bisa menjamin bahwa desain alat ini bebas dari peniruan, tapi setidaknya dengan program ini, FHB menunjukkan penghargaannya pada Hak Kekayaan Intelektual pembuat alat LRB ini.
baGoes itu apa? Sebuah tas yang bisa dlipat sehingga praktis untuk dibawa-bawa, bisa menggantikan tas kresek bila kita berbelanja, produksi Greeneration Indonesia. Selengkapnya bisa dilihat di http://greeneration.org/products
Jadi, terlihat ya, bahwa ini adalah salah satu solusi untuk memperbaiki lingkungan yang sudah kita rusak separah ini, yang ditawarkan oleh FHB. Silakan bagi yang berminat untuk berkontribusi dengan membeli bor biopori, dan bagi yang memiliki energi dan waktu yang berlebih untuk berkontribusi dengan bergabung dalam pembuatan LRB.









