Coming Home: Doing the Write Thing

ComingHome-CVF_602d2f24-9910-4776-878f-697c01beae38_large

Sooo… my graphic stories about our moving from Amsterdam to Bandung in early 2007, its preparations and afterwards – when we were adjusting to our new life in a different city – are now published under the title Coming Home by Epigram Books, Singapore. There was a plan to have a launching event in Singapore earlier this year, but, Corona.

Coming Home can be ordered through Epigram Books online shop. There’s also a lengthy interview/article, Doing the Write Thing: Tita Larasati. Go to the link for a complete version of the article; I’ll just put the first parts here.

For those who aren’t familiar with my graphic diary, it’s actually what it is: a visual recording of my daily happenings, or thoughts. It’s not in a conventional format of ‘comics’ with panels and word balloons, since they’re spontaneous scribbles in a sketchbook. No prior pencil sketches, directly drawn with black gel pen. I’m glad Epigram Books replaced my scrawny hand writing with a font that looks similar, but more friendly to the eyes.

I usually post my stories at Multiply (already extinct now), so readers are usually my friends and networks from that social media, who are also familiar with the real “me” from my other updates at Multiply. Anyhow, hope old and new readers alike would enjoy this one, too!  

=====

Why did you decide to make your book a graphic diary instead of a graphic novel or simply a memoir?
Because it is actually a diary, where I record daily occurrences, not only in writings but mostly in graphics. I didn’t start by an intention of creating a “novel”, since I know I wouldn’t have time for such ambition although I’d love to, one day. A “memoir” tends to mean that it is produced on purpose to make an autobiography, which also wasn’t my intention. I just want to record memorable, simple happenings around me—like a person taking a photograph of things she likes—and compile the results into an album.

How did your habit of recording and drawing daily happenings begin?
I actually never stop drawing since I knew how to use a crayon or a pencil. Whenever our family made a long trip, as far as I remember, we kids were each given a drawing book and a set of crayon or colourful markers. So when we’re bored, we were told to just draw. Or, whenever we went on a vacation, then my father (he’s an architect) used to make sketches too of the sceneries or objects around us, and I did the same while accompanying him. I haven’t really started compiling my drawings properly until 1995. I spent almost the whole year in Germany, doing my apprenticeship in a product design company. My German boss asked me to fax my parents every week, to send them news (about what I did in Germany). I thought, writing day-to-day happenings would be too tedious to read, so I fax them 1 page of drawings each week. (My mother used to make copies of my fax pages and distributed them to families and friends). By the end of my apprenticeship period, I ended up with about 100 pieces of A4 papers full of drawings. This habit apparently continues, even up to today.

 

 

 

Lumbung Pangan Sekewood

[lanjutan dari tulisan sebelumnya]

koboy1Sebut saja namanya Ninu. Memang panggilannya begitu, meskipun bukan nama aslinya. Malah dia seringnya pake nama saya, Larasati, untuk kombinasi namanya, jadi begini: Ninu Laras. Ninu ini temen seangkatan di FSRD. Kalau pernah nonton film Koboy Kampus, ingat ada tokoh namanya Ninu? Ya itu dia. Makanya, gak nyangka banget kalau dia sekarang jadi Ketua RW. Kiprahnya di kampung itu lumayan seru, ceritanya bisa jadi satu blog sendiri, sampai kampungnya punya julukan Sekewood. [Aslinya Sekepanjang, tapi karena orang sekampung itu bikin film semua, seperti Hollywood, jadi “Sekewood”. Bebas lah ya.]

Nah, sebagai Ketua RW, Ninu sempat menggalau perihal COVID-19 ini. Awalnya curhat lewat WA soal desinfektan yang disemprotkan ke rumah-rumah. Kenapa? Karena bau/ bikin sesak, warga malah keluar rumah, terus bergerombol, gak jaga jarak. Yang lebih gawat lagi, ketika panik, warga mengoplos “desinfektan” sendiri; yang malah jadi bahaya untuk kesehatan.      

sekewoodTerus Ninu nge-WA lagi, karena punya ide, supaya Pak Gub Jabar mau merekam suaranya, berisi imbauan agar warga mau berdiam #dirumahaja dan jaga jarak, untuk wajib diputar di corong-corong masjid. Sambungnya lagi, seharusnya social distancing harus bisa berjalan dengan baik di Indonesia karena tatanan pemerintahnya berjenjang, hingga ke lingkup terkecil, yaitu area RT. Seharusnya rumah-rumah warga bisa “dikunci” dengan adanya imbauan dan peringatan terus-menerus. Pengawasan seharusnya jadi lebih mudah, dan warga seharusnya bisa jadi semakin sadar akan urgency-nya. Tapi sayangnya hampir tidak ada koordinasi. Pemerintah tidak mengaktivasi peran RT/RW secara maksimal; tidak ada arahan maupun pendelegasian. Sebagai Ketua RW, dia jadi tidak memiliki landasan dalam menentukan kebijakan. Lapisan terbawah seakan dibiarkan mengatur kebijakan sendiri, dan ini sangat membingungkan; berujung ke nggak ngapa-ngapain. Curhatan yang panjang, tapi berisi.

Tak lama kemudian, muncul lagi WA dari Ninu, kali ini berisi inisiatifnya membuat surat edaran. Masih draft, tapi sudah cukup lengkap (saya kopikan di bawah ini). Dia juga tiba-tiba sibuk membuat pamflet dan poster, dan merekrut relawan. Saat ini, saya sambil mengabari juga ke Ninu, bahwa dari pemkot sudah mulai ada instruksi dari sekda untuk instruksi dan mekanisme koordinasi ke kewilayahan. Tapi tampaknya Ninu sedang asyik sendiri dengan merealisasikan rencananya. 

Benar saja, di WA berikutnya, proporsi curhat kalah jauh dibandingkan dengan proporsi solusi. Ninu yang sedang senang-senangnya, mengabari bahwa Program Lumbung Ketahanan Pangan Sekewood berhasil! Di tahap awal ini, di luar dugaan, lumbung melimpah karena banyak donatur berpartisipasi; sudah ter-cover 67 KK yang mendapat manfaat dari lumbung ini. Di chat WA bertaburan emoji senyum dari Ninu. Berikut Ini klasifikasi KK yang diprioritaskan sebagai penerima hasil program Lumbung:

    1. Masukan dari para Ketua RT 01, 02, 03 dan 04 yang faham akan kondisi warganya
    2. Kesesuaian atas data mustahiq (penerima zakat fitrah) dari DKM
    3. Warga untuk periode awal ini tidak termasuk atau tidak tercantum ke dalam data yang diinformasikan oleh Dinsosnangkis melalui kelurahan dari BDT (Basis Data Terpadu), baik melalui program BPNT ataupun PKH
    4. Terdampak secara langsung 
    5. Janda tanpa penghasilan, lanjut usia sendiri, yatim piatu, kondisi sakit, terkena PHK, bangkrut

Rupanya Ninu berhasil mengkonsolidasi pengurus kewilayahan dan warganya. Caranya cukup mudah, katanya, melalui surat edaran yang telah disebarkan: para Ketua RT diwajibkan membuat grup WA warga per RT. Semua informasi harus dari satu sumber ini, no hoax, dan warga pun kompak, sehingga situasi menjadi kondusif.

WhatsApp Image 2020-04-08 at 08.32.29

Ninu sebagai Ketua RW saat menerima donasi dari Bapak Pendeta Jan dari Gereja HIT Cicadas

Istimewanya lagi, program ini pun mendorong kolaborasi antara masjid dan gereja, yang juga menjadi pendonor lumbung dalam bentuk uang dan bahan makanan, meskipun semuanya memang dipusatkan di masjid. [Tahukah Anda? Sekewood memang telah menjadi contoh terbaik skala nasional untuk Kampung Toleransi. Bayangkan, di tengah-tengah Bandung/ Jawa Barat yang nilai toleransinya terendah se-Indonesia!]

Ninu, kamu sudah menunjukkan kualitas kepemimpinan di masa krisis, dengan cara yang paling tepat dan efektif. Kamu sudah membuktikan bahwa modal sosial itu penting dan nyata adanya; beban akan menjadi ringan bila ditanggung bersama. Nggak nyangka, ya, segala keisengan dan kenekadan di masa lampau, ternyata adalah latihan bagi ‘keisengan dan kenekadan terencana’ di masa sekarang. Bangga padamu, Nu. Sekarang, mari tularkan caramu ini ke kampung-kampung lain di Bandung, atau bahkan di Jawa Barat, dan lebih luas lagi. Kita memang hanya akan bisa keluar dari masa darurat ini dengan selamat kalau bisa kompak, mau berkolaborasi, berempati, dan saling mengerti porsi dan tugas masing-masing. Semangat!

 

***TAMBAHAN***

Ada update dari Ninu:

  1. Sejauh ini posko ketahanan pangan sudah mendistribusikan ke 100 KK di Gelombang 1. Untuk selanjutnya, dibuka mekanisme pendaftaran via daring lewat grup WA Kabar Warga melalui Ketua RT, baik secara langsung mendaftarkan dirinya, atau merekomendasikan tetangganya yang memang nyata terdampak.
  2. Selanjutnya, status yang terdampak diverifikasi melalui data yang ada, lalu diwawancara secara daring oleh relawan satgas pangan, termasuk validasi KK dan NIK, karena posko ini tidak hanya membantu warga asli RW 11 tapi juga warga pendatang (yang kos atau mengontrak).
  3. Diedarkan juga surat imbauan untuk para pemilik kontrakan/ kamar kos untuk memberi keringanan pembayaran, karena banyak yang belum mampu membayar, terancam diusir.
  4. Kampung RW 11 sudah di-fogging menyeluruh dengan mobil penyemprot dan manual berkeliling. Hal ini akibat kedekatan dengan salah seorang anggota dewan, Erick Darmajaya (PSI), yang justru perolehan suaranya di kampung itu nol, tapi ia sudah dekat dengan warga dan kadung sayang pada Sekewood karena toleransi dan kegiatan filmnya.

====[draft di bawah ini masih dalam versi aslinya, tidak diedit sama sekali]====

“SEBELAS BERSATU!”

SATGAS SIAGA covid-19 RW11

1. Grup w.a “KABAR WARGA 11″

Seluruh para ketua RT wajib menghimpun masing” warganya dalam satu grup w.a per rt. Yg disebut grup w.a “KABAR WARGA RT 01”, “KABAR WARGA RT 02”, “KABAR WARGA RT 03”, “KABAR WARGA RT 04″

Pembentukan grup w.a per masing-masing rt ini dimaksudkan sebagai media komunikasi dan informasi. Baik untuk program atau kebijakan yg akan dan sedang dilaksanakan dlm menghadapi covid 19 di rw 11.

Media informasi untuk mengetahui kondisi kesehatan warga dan bila ada yang terindikasi dlm kondisi sakit. Dan info” lainnya

2. INFO WARGA 11

Koordinator himbauan dan arahan melalui corong masjid terutama mengingatkan secara berkala ttg pentingnya diam dirumah saja, menjaga kebersihan diri dan keluarga, dan jadwal penyemprotan.

Yang harus secara rutin terus di gaungkan kpd warga masyarakat rw11.

Memberikan edaran, pamflet, spanduk dsb kepada warga.

3. INFO KESEHATAN WARGA

Mengkoordinasi seluruh tenaga perawat/paramedis yg berdomisili di wilayah rw 11 dlm satu grup w.a yang nomornya bisa diakses oleh para ketua rt untuk mendapatkan arahan bila ada warga yg terindikasi terpapar. Agar tidak salah dalam penanganannya.

Serta tanya jawab masalah kesehatan lainnya.

4. INFO KEAMANAN WARGA

– Dibuat Nomor tlp khusus untuk pengaduan dan laporan warga terkait adanya gangguan keamanan dan kriminal. 

– Pembentukan relawan untuk terus berkeliling memonitor dan menghimbau warga agar tetap di rumah saja dgn cara yg persuasif.

– Penutupan tempat” kost untuk tidak lagi bisa menerima tamu/pendatang dari luar

5. LUMBUNG PANGAN WARGA

Menjadikan Masjid sebagai pusat penanggulangan lumbung pangan warga. Membuka dan menerima donasi, mengelola dan mendistribusikan ketahanan pangan u warga yg benar-benar terdampak diakibatkan wabah covid 19 ini. Menggalang dana awal yg berasal dari kas masjid, dana sehat pkk dan dana zis. Untuk selanjutnya membuka penerimaan infaq u ketahanan pangan warga rw11 yg tidak mampu.

Gotong Royong Kekinian

Kita semua sekarang sedang dalam berada kondisi luar biasa. Semua kegiatan sehari-hari terpaksa dilakukan di luar kebiasaan; tidak selalu semuanya berarti buruk, bahkan beberapa justru melatih untuk menjadi lebih baik. Hebohnya, perubahan ini berlaku di seluruh dunia, bagi segala kalangan, tanpa kecuali. Yang menjadi pembeda hanyalah cara-cara menanggapi dan menghadapinya, sesuai dengan konteks kebutuhan masing-masing. Berikut ini sedikit catatan sehubungan dengan pandemi COVID-19 di lingkungan yang terdekat dengan saya. 

 

PEC

Mengenai PEC ini (International Advisory Council for Creative Industries Policy and Evidence Centre UK), pernah saya tulis beberapa waktu lalu. Seharusnya tim PEC ini kumpul lagi awal Juni di Istanbul, Turki, tapi harus dibatalkan. Salah satu dari kami mengusulkan untuk bertemu lewat Zoom, untuk melanjutkan pembicaraan dan supaya tidak “terpisah terlalu lama”. Dengan segera waktu di-polling dan ditentukan, dan tibalah saatnya bertemu secara virtual. 

Screen Shot 2020-04-02 at 19.55.03

Pertemuan PEC

Menarik, mengetahui pengalaman masing-masing negara dan wilayah di belahan bumi lain, dengan fokus perhatian yang juga berbeda-beda. Jelas bahwa tidak ada satu pun negara yang siap dengan kondisi berdampak semasif dan semulti-dimensi ini, tapi setidaknya kita selalu dapat saling belajar dari pihak-pihak lain dalam hal upaya, pengalaman, dan kolaborasi.

Salah satu hal yang diangkat dari pertemuan PEC kali ini adalah fenomena tersedianya akses publik terhadap pertunjukan seni (musik, tari, teater, dll.) yang ditampilkan  secara daring tanpa dipungut biaya. Terdapat kekhawatiran bahwa hal ini akan cenderung membentuk pendapat umum bahwa “seni itu gratis”. Hal lain yang diangkat adalah tentang terpukulnya sektor pariwisata dan berbagai sub-sektor industri kreatif yang menyertainya, yang memang mengandalkan hadirnya kerumuman manusia sebagai sumber pendapatan. Kondisi yang beragam akan menuntut solusi yang berbeda-beda pula. Saya menyampaikan bahwa modal sosial (social capital) adalah yang selama ini memang mendominasi jenis tanggapan yang paling cepat dapat dirasakan manfaatnya; berupa inisiatif masyarakat dalam bentuk berbagai penggalangan dana dan aksi. Saya sampaikan juga program Indonesia Creative Cities Network (ICCN) terkait COVID-19, yaitu kompilasi inisiatif forum lintas komunitas para anggotanya di lebih dari 220 kabupaten/kota, berupa: (1) Komunikasi & edukasi seputar COVID-19, terutama hal-hal yang harus diperhatikan untuk menghadapinya, dalam konten visual dan verbal yang sesuai dengan budaya setempat; (2) Sumber-sumber daya lokal yang menjadi pijakan bagi berbagai gerakan; (3) Konten protokol untuk pemulihan kilat, terutama bagi industri lokal yang terdampak. Data yang diperoleh akan diolah menjadi masukan dan rekomendasi solusi bagi pemerintah sebagai ajuan resmi dari ICCN, agar kebijakan dapat ditetapkan berdasarkan kondisi nyata (evidence-based policy).          

Sebagai tindak lanjutnya, PEC kini sedang mengumpulkan berbagai inisiatif dan gerakan penanganan dampak epidemi COVID-19, terutama yang terkait dengan industri kreatif dan ekonomi kreatif, yang hasilnya diharapkan dapat berkontribusi bagi sektor tersebut secara global.    

 

Bandung dan Sekitarnya

Namanya juga Bandung, yang sarat kampus, kaum muda, dan komunitas, yang semuanya tidak pernah berdiam diri bila ada peluang solusi, terutama di masa krisis seperti sekarang ini. 

    • Design Ethnography Lab. Ini adalah lab baru di Program Studi Desain Produk, FSRD ITB, untuk penelitian desain berbasis entografi. Lab ini mempublikasikan cara membuat masker sendiri dengan bahan-bahan keseharian yang umumnya terdapat di rumah, dengan mengacu dari berbagai referensi. Sekarang, ada versi bahasa daerahnya juga!
    • Masih dari kampus. Desain Produk ITB punya mesin-mesin pencetak 3 dimensi (3D printers). Sebagian, yang memenuhi syarat, sekarang dikaryakan untuk mencetak komponen face shield dan thermometer. Untuk alat-alat medis yang lebih kompleks, seperti ventilator, dibutuhkan standar khusus dan tingkat kelayakan material yang teruji.     
    • Jurusan Fashion di Universitas Maranatha, baik dosen maupun mahasiswanya, menjahit masker kain (non-medis) untuk dibagikan gratis pada yang membutuhkan di sekitar Bandung dan Jawa Barat. Gerakan produksi masker kain ini banyak juga dilakukan oleh teman-teman baik pengusaha perorangan maupun yang bergabung dalam asosiasi semacam Indonesia Fashion Chamber. 
    • Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII) banyak membahas kontribusi profesi desain produk/industri di grup-grup WA dan media sosial, seperti produksi alat dan bilik desinfektan, face shield, fasilitas cuci tangan & sabun di ruang-ruang publik, dan sebagainya.
    • Torch, start up lokal untuk peralatan traveling dan outdoor, mengalihkan sebagian lini produksinya untuk membuat Alat Pelindung Diri (APD) reusable (!) untuk tenaga medis, dengan juga memperhatikan faktor-faktor keamanan (aman partikel virus) dan kenyamanan (breathable fabric, ukuran tidak menghalangi gerakan).

      619ea3ac-2f37-48f9-828c-725cd025d65f

      APD desain Torch

    • Arus Informasi Santri (AIS) Jawa Barat berkolaborasi dengan para desainer lokal (melalui Bandung Creative City Forum dan Forum Desain Bandung) untuk mengeluarkan materi informasi dan edukasi yang akrab dengan keseharian masyarakat Jawa Barat. Karena terminologi seperti social distancing, physical distancing, lockdown, dan sebangsanya itu sulit untuk langsung dimengerti; dengan sasaran warga yang masih sering bergerombol, bepergian, dan berniat mudik. 
    • YPBB menginisiasi gerakan untuk memberi bantuan pada pemulung dan tukang sampah yang rawan terpapar virus, karena setiap hari mereka harus menghadapi limbah disposable mask dari rumah-rumah tangga. Banyak lagi gerakan yang bersifat mendukung mereka yang harus bekerja di luar, yang membutuhkan fasilitas pengaman yang layak.    

 

Pertemuan Virtual

Terima kasih kepada teknologi informatika dan komunikasi masa kini, yang memungkinkan kita bertemu secara virtual melalui berbagai program. Yak, kalau termasuk sebagai kaum yang privileged, pasti dengan mudah punya akses ke gawai canggih, layanan internet, dan aliran listrik yang stabil. Kontak sosial terjadi lewat daring, dengan teman-teman yang biasanya jarang sekali bisa bertemu.

Screen Shot 2020-04-04 at 16.39.00

Ngumpul seangkatan SMA

  • Ngumpul daring dengan teman-teman seangkatan di SMA 6 Jakarta ini memang ajaib, karena meskipun caur banget, bobot kontennya nggak kalah dengan kantor berita kelas dunia. Beberapa hari lalu, ditetapkan para narsum yang semuanya canggih, teman-teman seangkatan juga, untuk bahas COVID-19 dan dampaknya. Benar-benar jadi makanan jiwa dan otak, sampai kenyang dan senang.
  • Sesi-sesi ngobrol daring jadi berhamburan di mana-mana. Sekali cek medsos dan grup WA, pasti keluar minimal 2-3 poster promo untuk sesi-sesi ini. Siapa pun jadi bisa belajar tentang apa pun, dan pasti berharap punya waktu cukup untuk menyimak semuanya, atau minimal berharap waktunya nggak bentrok dengan virtual meeting lainnya.          

 

Nah, inisiatif yang berikutnya ini yang paling seru: Lumbung Pangan Sekewood.

Art, Design and Culture

Ini adalah hari-hari akhir semester, yang artinya? Ya, benar: waktunya mengejar tenggat waktu menilai kumpulan tugas-tugas dan hasil ujian akhir semester. Makanya, seharusnya semua tugas dan ujian itu bisa dibuat seru, supaya masa-masa penilaian seperti ini justru bikin semangat. Salah satunya adalah CCE60 Art, Design and Culture (ADC), mata kuliah di MBA CCE ITB, pesertanya adalah mahasiswa tingkat magister bisnis yang sekaligus juga pengusaha muda. Ini adalah kelas ADC kedua yang saya pegang, sebagai salah satu dosen dalam sistem team teaching; kali ini bersama Dina Dellyana dan Prananda Luffiansyah. 

Inti kelas ADC ini adalah memberikan wawasan tentang bagaimana kreativitas (seni, desain) dan budaya dapat berpengaruh bagi aktivitas bisnis, beserta praktiknya (karena ini kuliah 3 SKS). Materi-materi seperti design thinking, emotional design, manifestasi ragam budaya pada komoditi (barang dan jasa), craftsmanship, etnografi, dan sebagainya, disampaikan di dalam kelas, seperti biasa. Yang berbeda adalah: untuk Ujian Tengah Semester (UTS), kelas ini wajib menyelenggarakan sebuah acara diskusi terkait kontribusi kreativitas dan budaya terhadap bisnis dan mendokumentasikannya dalam bentuk laporan tertulis; untuk Ujian Akhir Semester (UAS), secara kolektif kelas ini wajib menyusun publikasi, juga dalam bentuk buku, mengenai studi etnografi yang dilakukan dalam kelompok, sekaligus memuat kesan & pesan mereka terhadap perkuliahan ini. 

Hasil UTS dan UAS ini terlalu heboh untuk hanya disimpan di perpustakaan (di bawah ada tautan ke buku UAS ADC versi PDF). Saya coba tuliskan sedikit di sini, berhubung nilainya sudah beres dimasukkan semua. (Hore!)

How Creative Mind Enhances Your Business

Talkshow ini digelar pada tanggal 9 Oktober 2019, pk.17:30-21:00 WIB di Auditorium SBM ITB. Mahasiswa dibebaskan untuk mengorganisasi sendiri seluruh keperluannya; tim dosen hanya harus memastikan bahwa penyelenggaraannya bertepatan dengan jadwal UTS, serta mengingatkan kelengkapan yang diperlukan untuk penilaian. Kebetulan pula, selama satu bulan penuh di Oktober 2019 itu sedang berlangsung Bandung Design Biennale (BDB), sehingga talkshow ini pun tercatat sebagai salah satu peserta BDB. Salah satu tantangan utamanya tentu saja adalah memperoleh narasumber yang dapat segera dikonfirmasi, salah satunya untuk keperluan publikasi. Pada Hari-H, semua berlangsung dengan lancar, dan yang penting dapat memberikan insights bagi para mahasiswa kelas ini mengenai pentingnya pemahaman terhadap budaya, terutama untuk menentukan segmen pengguna dan performance produk barang/jasa, serta pentingnya kreativitas untuk dapat berinovasi.

Para narasumber talkshow ini adalah Yusuf Zulkifli (Matoa), Bayu Rengga (POT Branding House), dan ‘Ayah’ PidiBaiq (The PanasDalam). Yusuf dan Bayu masing-masing memamparkan jalannya bisnis mereka. Matoa memberikan added value pada market melalui Creative Concept dan Creative Storytelling; namun tidak hanya terfokus pada nilai jual produknya saja, melainkan terus berupaya untuk menginspirasi pelaku industri kreatif lainnya. Kunci sukses penjualan produk Matoa, menurut Yusuf, adalah international quality dengan cara upgrading kerajinan tangan lokal. Ketika ditanya kenapa konten promosi produk Matoa se’ribet’ itu, jawabannya adalah: to raise the bar. Memang, jangan mau biasa-biasa saja; make extra deliveries to prove your worth untuk dapat bersaing dengan produk-produk sejenis. Sedangkan POT selama dua tahun belakangan ini terus mengulik “manusia” untuk memahami bagaimana sebuah brand dapat menjadi bagian dari diri mereka. Bayu menyampaikan 3 fase pertumbuhan dalam pengembangan brand: functional (responsif, solutif), emotional (konteks emosi & selera), dan behavioural (kesepakatan value). PidiBaiq, yang caranya berkarya termasuk sangat impulsif, telah menghasilkan berbagai produk, dari komik dan musik, hingga yang populer belakangan ini, novel dan film layar lebar (Dilan). Di acara ini, Pidi menyampaikan konsepnya tentang kreativitas. Bahwa, di dunia eksakta, bila jawabanmu umum atau sama dengan yang lain, berarti kamu benar; sementara di dunia kreatif, bila jawabanmu umum, berarti kamu nyontek, atau tidak berinovasi. “Kreatif” berarti terus menerus bereksperimen, bebas berkarya, tidak dibatasi, dan fokus pada upaya untuk terus menerus memperbaiki karya dan diri sendiri.   

Tanggapan dari audience rata-rata menginginkan agar acara ini diselenggarakan siang hari agar lebih banyak yang bisa hadir; tapi sepertinya panitianya di siang hari sibuk menggarap UTS lain, sehingga talkshow terpaksa digelar malam. Secara keseluruhan, yang hadir – termasuk mahasiswa peserta kelas ini – menikmati dan memberi tanggapan positif terhadap acara ini, yang memberikan pengalaman dan insights yang tidak dapat diperoleh bila pembelajaran hanya terjadi rutin di ruang kelas.

Etnografi dalam Eksplorasi Solusi Kreatif untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Untuk melengkapi inti mata kuliah ini, disampaikan materi etnografi yang langsung dipraktikkan di lapangan. Mahasiswa, dalam kelompok, memilih obyek UMKM di sekitar kampus untuk diintervensi dengan menggunakan panduan dan lembar kerja yang disediakan. Jenis usaha yang dipilih untuk studi sebagian besar adalah warung/ tempat makan: Taman Sari Food Festival, Rajo Dendeng, Sate Kobar, Ruko Nonstop (Kaya Kopi), Warung Timbel Hasanudin, Simpang Tigo; selain juga Komunitas Baca Badak Singa dan Laundry Tubagus Ismail. 

Dengan terjun ke lapangan dan langsung berinteraksi, baik dengan pemilik/ pengelola tempat usaha maupun konsumennya, para mahasiswa melakukan penggalian data, termasuk dalam hal emosi, perilaku, dan sebagainya terkait budaya dan kebiasaan sehari-hari. Selanjutnya, dilakukan proses analisa, diskusi, dan co-designing dengan para pengambil keputusan di tempat-tempat usaha tersebut, untuk solusi yang paling feasible dengan dampak nyata dan terukur. Untuk hal yang terakhir ini, jelas dibutuhkan waktu lebih lama lagi untuk membuktikan perubahannya; namun setidaknya interaksi ini telah berkontribusi positif, baik bagi pihak tempat usaha maupun bagi mahasiswa yang mendapatkan hands-on experience dalam upaya meningkatkan aktivitas bisnis UMKM. Metodologinya dapat lanjut dibawa ke unit usaha yang dijalankan oleh tiap mahasiswa, dan di-exercise terus hingga mencapai cara yang paling jitu, dan siapa tahu, dapat juga dibawa untuk menciptakan dampak yang lebih besar bagi pengembangan UMKM di Indonesia.           

Mata Kuliah Art, Design and Culture ini masih  diselenggarakan bagi kelas-kelas selanjutnya di MBA CCE ITB, tapi mungkin akan berlangsung dengan cara yang berbeda, karena dosen-dosen pengampunya berganti. Bagaimana pun itu, pasti tetap dapat memberikan bekal dan wawasan dari perspektif seni, desain, budaya, dan kreativitas pada umumnya, yang relevan dan dapat berkontribusi bagi pengembangan bisnis. 

Dear students, it’s been a real pleasure working with you in the past months. We‘ve read all your words and observed all your deeds; sincerely proud of your hard work and commitments. Hope our paths come across again, in the same (or more) challenging and fun ambience. Have a great life!

Book Design – ADC – Final

 

Potret Ilmuwan Muda Indonesia

Humbled to be able to represent researchers in the field of Design, and Creativity in general; a relatively young discipline that never stands alone, that is heavily loaded with multi-dimensional contexts in order to create real impacts and make a difference, that is often considered inferior compared to other fields of knowledge — especially here in Indonesia.

Respect and gratitudes to those who are involved in this work.


Semoga semangat dan sikap “ilmuwan” makin tumbuh di segala kalangan di Indonesia. Bukan hanya soal berprofesi sebagai peneliti di institusi formal, tapi juga di keseharian, ketika sudah tumbuh kesadaran untuk selalu cek ulang fakta, bersikap obyektif dan sportif dalam berargumen, serta bermurah hati untuk berbagi hal-hal yang nyata-nyata bermanfaat bagi sesama.

Selamat menjelang 2020!

Katalog Pameran Potret Ilmuwan Muda Indonesia

DxCC [1/2]

DxCC1Mungkin pernah dengar, ya, ungkapan ini, “Kalau kita menjadi orang yang paling cerdas di sebuah ruangan, berarti kita berada di ruangan yang salah”. Nah, pertemuan di Bangkok yang baru lalu ini membuat lega, karena saya pasti berada di ruangan yang benar. Kesibukan selama ini dalam membangun organisasi, metodologi dan konsep, serta program-program selama ini dalam konteks ekonomi kreatif, design thinking, pengembangan komunitas, dan sebagainya, meskipun nampaknya bergerak ke arah yang benar, akan selalu membutuhkan kritik (termasuk self criticism), masukan, dan referensi. Sehingga undangan untuk berpartisipasi dalam seminar DxCC dan workshop Design for Collaborative Cities ini pun dirasa tepat waktu, di tengah-tengah laju aktivitas yang sepertinya ‘seru sendiri’. Tiba saatnya jeda sebentar untuk belajar. Mari, simak sejenak, apa yang dipikirkan dan sudah dilakukan oleh orang-orang, komunitas, dengan pengetahuan, keahlian, dan semangat serupa.     

Kita, warga dunia ini, sedang dihadapkan pada berbagai krisis yang seluruhnya membutuhkan penanganan mendesak. Bagi Asia Tenggara, kawasan yang umumnya beriklim tropis dengan kepadatan penduduk yang terus bertambah, juga sebagai lahan lumbung keanekaragaman bahan makanan dan rempah dunia, adalah wajar bila hal-hal utama yang diangkat terkait soal ketahanan pangan dan kesehatan. Dampak Perubahan Iklim telah sangat terasa, ketika panen tidak lagi stabil, pasokan air bersih makin langka, udara makin panas dan kotor, serta menciptakan kondisi yang subur bagi berbiaknya berbagai penyakit. Sebagai yang menekuni bidang desain dan kreativitas pada umumnya, solusi apa yang bisa kita tawarkan dalam menghadapi tantangan ini? 

DxCC2Ezio Manzini, pendiri DESIS (Design for Social Innovation and Sustainability) Network, menginisiasi sebuah program bernama DxCCDesign for Collaborative Cities: cultivating communities in sustainable and healthy city making, yang telah dilaksanakan di Shanghai, Bogota, dan Beijing, dan kini di Bangkok, bekerja sama dengan Universitas Chulalongkorn. 

  1. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah, “Bagaimana makanan menjadi bagian dari desain sebuah kota?”, karena rantai pasokan pangan yang lengkap, di mana bahan makanan ditanam/ diternakkan kemudian dipanen, diolah menjadi bahan baku, didistribusikan, hingga dimasak dan mencapai konsumen, pada akhirnya menjadi pertimbangan penataan sebuah ruang kota. 
  2. Makanan juga telah menjadi penggerak yang baik dalam sebuah komunitas; kegiatan keseharian di kota padat penduduk tentunya tidak terlepas dari kebutuhan manusia akan akses yang cepat dan terjangkau ke makanan, yang seringkali muncul di kota-kota Asia Tenggara dalam bentuk kaki lima. Tentu saja kegiatan ini berimbasnya terhadap pengelolaan limbah dan persoalan higienis lainnya.            
  3. Ezio Manzini menegaskan bahwa DxCC bukan hanya untuk arsitek dan perancang kota, tapi juga desainer, dan berbagai lapisan pihak yang terlibat dalam perputaran produk dan jasa. Program ini bermaksud menemukan komunitas bentuk baru, yang menentukan “how a city could be” dalam korteks antara Kota dan Sistem Pangan.  
  4. Apakah Inovasi Sosial dapat berkontribusi dalam fokus kepada Kota (City) dan Pereka-Kota (City-Making)? Terutama dalam menemukan hubungan baru antara manusia dengan alamnya, dan, dalam skala yang lebih luas: antara perkotaan dengan lahan tumbuh makanannya. Hal ini tidak terlepas dari upaya menghubungkan kembali antara perkotaan dengan pedesaan. 
  5. Darurat Iklim bukan hanya menyangkut kepedulian terhadap lingkungan, tapi juga pada perilaku dan keterhubungan antara manusia dalam perannya yang beragam. 
  6. Tentu saja kita tidak bisa kembali ke masa lalu, di mana kota yang multifungsi dan agrikultur yang juga multifungsi masih berfungsi dengan baik dan efektif. Kini kita harus membangun “komunitas pangan yang baru”. Berbagai upaya telah dilakukan terkait hal ini di kota-kota dunia dalam skala yang berbeda-beda, seperti peri-urban farms, urban farms, neighbourhood farms, rooftop farms, balcony vegetable gardens, dll. yang pada akhirnya membentuk sebuah sistem rural-urban baru, dan menciptakan social gardeners.      
  7. Bagaimana sistem rural-urban baru ini dapat terus berlanjut? Karena warga dan komunitas terus menerus melakukannya, untuk membentuk “komunitas pangan yang baru” tersebut. Komunitas inilah yang menghasilkan koperasi pangan, dan kemitraan antara petani dan warga (kota). 
  8. Dari segi Inovasi Sosial, telah diketahui bahwa bila sebuah “komunitas masa lalu”, yang mempraktikkan perilaku, aktivitas, dan cara-cara kerja konvensional, mengalami bentrokan dengan “komunitas kontemporer”, yang mempraktikkan perilaku, aktivitas dan cara-cara kerja termutakhir, termasuk dengan pemanfaatan media dan teknologi canggih, biasanya “komunitas masa lalu” ini akan lenyap.  
  9. Kita memerlukan light, place-related communities, yang memiliki kekuatan, pengetahuan, dan juga pengetahuan desain. We should grow a new sense of care.
  10. Kita harus menciptakan enabling ecosystems, yang relevan dengan tempat, keahlian, peralatan dan dukungan, dilengkapi dengan visi bersama, kemampuan co-design, dan rancangan yang terarah.     

 

*Di bagian kedua nanti, paparan tentang penelitian di kota-kota Asia Tenggara, dan  workshop yang menggunakan 3 Horizons Framework

 

DxCC3

DxCC4

Placemaker Week ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, 7-8 November 2019

Placemaker Week ASEAN 2019 baru saja usai diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia; pertama kalinya di kawasan Asia setelah sebelumnya hanya berlangsung di Eropa Barat. PMWA2019 ini digelar di stadion Ching Woo yang dibangun tahun 1950an, yang beberapa fasilitasnya masih berfungsi dan terbuka utk publik. Apa itu “placemaking”? Kata-kata kunci yang banyak dilempar di forum ini, terkait istilah tersebut, antara lain: keberlanjutan, pemberdayaan komunitas dalam menciptakan perubahan, transformasi ruang (publik), hak terhadap (ruang) kota, inklusivitas, dan sejenisnya. Bisa dilihat dari kotretan #graphicnotes di sini 🙂 

placemakerASEAN tita

Senang hadir di sini, karena juga bisa sambil reuni sebentar dengan Mas Singgih, yang menekankan bahwa dalam konteks Asia, aspek warga desa (tidak hanya warga kota) berpengaruh besar terhadap pergerakan di skala wilayah kota/kabupaten. Intinya, meskipun placemaking bukanlah hal yang baru bagi kita di Asia, namun dalam platform ini kita bisa saling berbagi dan menunjukkan cara orang Asia membentuk dan mengubah ruang-ruangnya sendiri, dengan caranya sendiri; sekaligus dapat menjadi rujukan bagi warga belahan dunia lain yang masih berjuang untuk menentukan ruang hidupnya sesuai dengan kapasitas dan ekspresinya sendiri. Pointers dari acara ini antara lain:

  1. ThinkCity, yang awalnya dibentuk khusus untuk menangani peremajaan area bersejarah Penang sebagai Kota Pelabuhan abad ke-14, yang telah diakui UNESCO sebagai Kota Pusaka, dalam melaksanakan tugasnya berprinsip untuk membentuk ruang-ruang sosial berbasis budaya, untuk membuat orang nyaman berada di dalamnya, dengan mempelajari sosiologi ruang kota dan behavioural economics.  
  2. Karena keberhasilannya di Penang, ThinkCity pun melebarkan garapannya ke kota-kota lain seperti Kuala Lumpur, Johor Baru, dll., dengan memegang konsep transformasi kota yang berpihak pada manusia, serta mempromosikan keberagaman dan inklusivitas. Bagaimana peran placemaking dalam hal ini? Apa kontribusinya?  
  3. Setiap orang punya hak untuk membentuk ruangnya, sehingga kesetaraan sosial dapat tercapai.
  4. Placemaking harus bisa menciptakan a sense of space, juga rasa memiliki. Pendekatan bottom-up memungkinkan hal ini, untuk mewujudkan kemauan masyarakat yang sebenarnya; bukan kemauan masyarakat yang diasumsikan oleh pemerintah.    
  5. Placemaking bukan berarti membangun yang baru, tapi justru memanfaatkan yang telah dimiliki, dengan cara memberikan dimensi dan perspektif baru pada ruang tersebut. 
  6. Ruang sosial dapat dibentuk dalam tahapan: Branding >> Destinasi >> Liveability.
  7. Kesetaraan dalam kota dapat tercapai dengan mempertimbangkan aspek-aspek Place, Product, Program, People, Prosperity, Promotion.
  8. Intinya adalah empati, ketika berurusan dengan komunitas, keadilan, dan orisinalitas.  

Setelah sesi panel, saya bergabung dengan workshop yang difasilitasi oleh The City at Eye Level Asia, sebuah inisiatif yang dimulai di Belanda dan mulai menyebar ke seluruh dunia, dan baru kali ini dicoba untuk Asia. Format workshop-nya adalah world cafe, di mana para peserta dalam kelompok-kelompok secara bergiliran mampir berdiskusi dari satu meja ke meja berikutnya. Tiap meja memiliki tema yang berbeda; dalam hal ini berupa pertanyaan How, Who, When, Why, What, Where, untuk gagasan pembentukan jejaring The City at Eye Level di Asia. Hasil dari sesi ini adalah pengajuan diri dari kota-kota di Asia untuk menjadi tuan rumah, sekretariat, dan sebagainya. The City of Eye Level selama ini telah mengadakan pertemuan dan menerbitkan publikasi seputar partisipasi masyarakat dalam kotanya; diharapkan terdapat pula publikasi dengan tema tersebut dari wilayah Asia dari jejaring yang telah terbentuk ini.

Ada satu sesi lagi di mana saya berkesempatan menyampaikan contoh-contoh intervensi ruang publik yang telah dilakukan oleh BCCF, yang kemudian bergeser ke program-program yang bersifat pengembangan kapasitas SDM melalui urban games, workshop design thinking bagi pemerintah, sebagai modul sekolah, dsb. 

placemakerASEAN tita2

Selama di sana, saya juga sempat diwawancara oleh salah satu media terbesar Malaysia, The Star, yang hasilnya bisa dibaca di tautan ini:

https://www.thestar.com.my/metro/metro-news/2019/11/16/placemaking-speakers-share-their-experience-and-ideas

Dari acara-acara semacam ini, yang paling menyenangkan adalah kesempatan bertemu kembali dengan rekan-rekan ‘seperjuangan’ di wilayah Asia Tenggara. Setelah menunaikan seluruh sesi hari itu, saya kembali berdiskusi dengan tim ThinkCity terkait rencana kolaborasi berikutnya. Hubungan erat yang kami mulai sejak tahun 2014, ketika kami sebagai Kota-kota Bandung dan Penang beserta Cebu dan Chiang Mai bersepakat untuk bekerja sama dalam korteks Jejaring Kota Kreatif Asia Tenggara, hingga kini telah mengalami dinamika yang tak terduga. Di sinilah kami harus saling belajar melihat manfaat dan dampak dari kolaborasi yang selama ini terjadi. Nantikan rencana-rencana kami berikutnya, karena sepertinya bakal lebih seru, terutama yang juga terkait dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN).

Asia Pacific Creative Cities Conference, Adelaide, Australia, 23-26 Okt 2019

Yak — mari kita mulai rangkaian tulisan dari beberapa perjalanan belakangan ini:

Asia Pacific Creative Cities Conference di Adelaide, Australia, 23-26 Oktober 2019 — sebagai focal point Bandung City of Design UCCN, untuk bicara di sesi panel bertema Maximising the Potential of the Asia-Pacific Region: Entrepreneurship and the Movement of Ideas, Creators and Innovation

Placemaker Week ASEAN 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia, 7-8 November 2019 — untuk bicara di sesi panel ASEAN dan sesi diskusi tentang Placemaking & Identity  

Indonesia Now di Amsterdam, Belanda, 12 November 2019 — sebagai pembicara keynote bersama Mbak Leila Chudori, serta di sesi tentang Design for Sustainability

PEC Meeting di Edinburgh, Inggris, 14-15 November 2019 — pertemuan kedua sebagai anggota International Advisory Council for Creative Industries Policy and Evidence Centre (PEC) UK   

 

20191024 OzAsia APCC Convention - Social - Daniel PurvisPMDX3697

Para delegasi kota-kota kreatif Asia Pasifik yang hadir di APCCC 2019

ASIA PACIFIC CREATIVE CITIES CONFERENCE — Adelaide, Australia, 23-26 Okt 2019

Asia Pacific Creative Cities Conference (APCCC) diinisiasi oleh Adelaide, Kota Musik UNESCO Creative Cities Network (UCCN), dalam rangka menghubungkan antara kota-kota kreatif UCCN yang berada di wilayah Asia & Pasifik. APCCC juga mengundang kota-kota di Asia Pasifik, yang sedang menunggu keputusan bergabungnya mereka dalam UCCN. Forum ini terbagi dalam panel-panel diskusi, yang menampilkan beberapa perwakilan dari kota-kota kreatif Asia Pasifik sekaligus dalam tema-tema tertentu, terutama terkait dengan jejaring UCCN: sejauh mana kota-kota anggota UCCN dapat merasakan manfaat jejaring ini bagi pertumbuhan masing-masing. 

Adelaide, Kota Musik UCCN, menyelenggarakan APCCC ini berbarengan dengan berbagai festival yang telah rutin diselenggarakan di kota tersebut, sehingga para delegasi juga sekaligus dapat menikmati acara-acara lain yang digelar tidak jauh dari tempat pertemuan APCCC dan hotel tempat menginap. Kesiapan Adelaide menjadi tuan rumah jelas meyakinkan, karena pengelolaan festivalnya telah menjadi andalan yang serius bagi kota tersebut; sehingga baik pendatang maupun warga sama-sama mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, bukan hanya karena festival itu sendiri, tapi juga karena infrastruktur, akses dan sistem terhadap segala fasilitasnya telah berjalan dengan baik. 

Tambahan lagi, seluruh delegasi di forum ini adalah staf pemerintah kota dan/atau dari lembaga yang resmi menjadi rekanan kota dalam mengelola kotanya sebagai Kota Kreatif UCCN; yang beraeti mendapatkan alokasi anggaran yang sepantasnya untuk mengaktivasi jejaring dan mengelola program-programnya. Selain Bandung yang diwakili oleh saya sendiri sebagai focal point Bandung Kota Desain UCCN, dari Indonesia hadir pula perwakilan Ambon (yang saat itu sedang menunggu keputusan UCCN atas bergabungnya Ambon sebagai Kota Musik), terdiri dari wali kota dan rombongan OPD terkait, serta personel dari Ambon Music Office.

Berikut ini hal-hal yang tertangkap selama forum tersebut berlangsung:

  1. Tahun 90an produksi manufaktur berkembang di Asia, hingga menjadi keuntungan kompetitif untuk dunia Barat. Krisis finansial di tahun 97 membawa tantangan kreativitas bagi negara-negara di Asia, yang kemudian mengadopsi ekonomi kreatif dan menjadi pemain terbesar dalam sektor ini.
  2. Tantangan terbesar kota, selain menjamin pertumbuhan sosial dan ekonominya, adalah “homogenisasi”. Sehingga kota-kota harus mampu menampilkan vitalitas, daya tarik, serta keunikannya, yang damat dicapai melalui industri kreatif di kota-kota tersebut, yang kemudian membentuk identitasnya sebagai “kota kreatif”. 
  3. Kisah tentang manusia dan ruang didokumentasi sedemikan rupa sehingga membentuk narasi seni dan budaya yang kemudian menjadi identitas bagi sekelompok manusia di ruang tersebut. Kegiatan ekspresi budaya ini menjadi makin besar dan melembaga, sehingga terjadi pendefinisian terhadap beragam ekspresi tersebut.     
  4. Untuk apa melakukan kolaborasi? Untuk memperoleh gagasan dan pendangen baru, selain juga untuk dapat merasa lebih berdaya ketika dipertemukan dengan orang-orang dengan perjuangan dan semangat serupa.
  5. Mengenai pariwisata: apakah brand sebuah “kota kreatif” benar-benar berpengaruh bagi penentuan kebijakan dan strategi pemasaran kota tersebut? Terutama dalam kaitannya dengan pengembangan kota yang mengutamakan kepentingan warga lokalnya, meskipun sambil juga meningkatkan bisnis hospitality.
  6. Brand Kota Kreatif sendiri mungkin belum terlalu dikenal; menjadi anggota UCCN bukanlah tujuan akhir, tapi menjadi salah satu cara untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan. 
  7. Kota-kota memiliki tantangan sumber daya, sehingga memanfaatkan kreativitas sebagai penggerak sektor ekonominya.
  8. Kota-kota yang tangguh (resilient) dikelompokkan berdasarkan indikator kesejahteraan, yang sebenarnya harus didefinisi ulang, terutama dalam kaitannya dengan skala ekonomi makro.
  9. Kota-kota kreatif memiliki metodologi dan sumer daya produksi baru, berupa peran dan keterlibatan komunitas, di mana para pelakunya mengkapitalisasi pengetahuan dan daya ciptanya.     

Selain panel-panel diskusi, terdapat juga sesi aspirasi bagi kota-kota calon anggota UCCN, dan forum yang membahas kelanjutan dari APCCC. Seluruh perwakilan kota yang hadir bersepakat bahwa dibandingkan dengan pertemuan besar seluruh anggota UCCN yang diselenggarakan tiap tahun, forum ini memberikan lebih banyak peluang untuk berdiskusi dengan lebih mendalam, terutama dengan kota-kota yang memiliki kondisi serupa karena berada di area yang berdekatan. Rencana besarnya adalah menyelenggarakan pertemuan wilayah Asia Pasifik selanjutnya, namun masih dalam pembahasan lebih lanjut mengenai kota yang bersedia dan sanggup menjadi tuan rumah. 

APCCC sets sights on the future – press release Oct 25 2019

apccc-conference-atmosphere-2000x480

Sesi Panel 6 mengenai Entrepreneurship and the Movement of Ideas, Creators and Innovation; di mana says berkesempatan juga mempresentasikan Buku Putih Kota Kreatif ICCN sebagai upaya forum komunitas di Indonesia untuk memastikan masuknya budaya dan potensi kreativitas sebagai salah satu faktor dalam strategi pembangunan daerah.

Ada Apa di Ternate?

Ada apa di Ternate?

[34.000 DPL, antara Manado dan Jakarta, 8 September 2019]

PHOTO-2019-09-08-06-56-29

Catatan ini mulai ditulis dalam pesawat yang sedang terbang menuju Jakarta, dari Manado, dalam rangkaian perjalanan pulang menuju Bandung dari Ternate. Iya, seharusnya pagi tadi sudah tiba di Jakarta dengan pesawat yang terbang langsung dari Ternate, lalu langsung sambung jalan darat ke Bandung. Tapi pesawat pagi tadi batal berangkat, ada masalah teknis, lalu kami jadinya harus pindah maskapai. Anyway, yang penting akhirnya ada kepastian bisa berangkat pulang dengan aman. Agak-agak loncat dari satu pulau ke yang lain, tapi pasti pulang. 

Ada apa di Ternate? Ada hal-hal menakjubkan beberapa hari belakangan ini. Ada banyak hal yang menjadi pelajaran berharga, yang seharusnya bisa menjadi modal untuk memilih arah langkah selanjutnya. Dari mana ya memulai ceritanya. Oke, mungkin dari adanya sebuah organisasi bernama Indonesia Creative Cities Network (ICCN), yang tidak ada pembandingnya di Indonesia ini. 

Seperti namanya, ICCN ini adalah sebuah wadah di mana “kabupaten dan kota kreatif” bertemu untuk menjalin hubungan yang sinergis. Kabupaten/kota yang tergabung dalam ICCN ini masing-masing diwakili oleh komunitas yang telah menggerakkan aktivitas ekonomi kreatif di wilayahnya. Tak jarang, mereka juga sekaligus berperan dalam arah pembangunan wilayahnya, dengan mengandalkan daya cipta dan potensi kreativitas para anggotanya. Birds of a feather flock together. Berkat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta gencarnya pemakaian media sosial, terutama di kalangan muda, tidak suit bagi komunitas-komunitas ini untuk saling menemukan satu sama lain, kaumnya yang serupa, baik secara fisik maupun virtual. Satu demi satu hubungan dengan niat baik mulai dirajut, titik-titik produktif dihubungkan sesuai porsinya, sehingga terbentuklah sebuah jaringan yang hidup, aktif, dan bersemangat. Sejak diinisasinya pada awal tahun 2015, hingga di paruh tahun 2019 ini, ICCN telah menghubungkan komunitas kreatif di lebih dari 200 kabupaten/kota se-Indonesia.                

Ketika sebuah kumpulan bertumbuh menjadi semakin besar, dengan sendirinya sebuah sistem governance untuk mengatur diri harus disepakati dan diberlakukan. Diawali dengan komitmen untuk mengamalkan 10 Prinsip Kota Kreatif Indonesia, yang difinalisasi dan dideklarasikan di Kota Bandung, 27 April 2015. Organisasi ini secara bertahap memperkuat fondasinya melalui pengesahan bentuk legal yang paling sesuai dengan sifat alaminya: Perkumpulan. Dalam upaya pengukuhan fondasi ini, dilakukan pula pembenahan organisasi agar lebih solid, kredibel, dan bermakna bagi seluruh anggotanya. Ia juga diniatkan untuk berdampak positif bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat luas di tiap kabupaten/kota yang terpapar langsung oleh seluruh program dan kegiatannya. Tentu saja ada sekelompok individu, para pengurus organisasi, yang mengeksekusi hal-hal ini, secara sukarela. Mereka umumnya adalah pemimpin forum lintas komunitas di daerahnya masing-masing, namun juga profesional handal pada bidangnya sebagai sumber penghasilan utama bagi diri dan keluarganya. Sehingga, bayangkan, dedikasi dan energi yang diperlukan untuk dapat membagi waktu dan pikiran demi menumbuhkan dan mewujudkan sebuah idealisme kolektif yang dibungkus dalam sebentuk ICCN.

Sejak 2015 pula, dalam kurun waktu empat tahun, telah dilakukan lima kali konferensi (di Solo 2015, Malang 2016, Makassar 2017, Sleman 2018, dan baru-baru ini, Ternate 2019), tiga kali rapat koordinasi nasional (di Bandung, Padang, dan Surabaya), serta, tak terhitung, rapat-rapat koordinasi di berbagai provinsi, yang dimotori oleh para koordinator daerah, demi menjaring titik-titik energi serupa yang tersebar di kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Mobilisasi dan militansi komunitas-komunitas ini luar biasa; dan pasti diperjuangkan tengan gigih, karena masing-masing individunya percaya pada nilai-nilai yang diusung, dan percaya bahwa segala upaya bersama ini dapat membawa perubahan yang lebih baik.

Sebelum kembali ke pertanyaan, “Ada apa di Ternate?”, mungkin akan lebih membantu bila sebelumnya ada pertanyaan, “Jadi ICCN itu ngapain aja?” (dan mungkin akan memancing sayap-sayap pertanyaan berikutnya). Untuk mempersingkat cerita, sepanjang perjalanan berorganisasi dan berinteraksi secara intensif dengan rekan-rekan seperjuangan di berbagai wilayah di Indonesia, ICCN menemukan dinamika dan tantangan yang khas yang terjadi di seluruh wilayah, terkait komunitas kreatif dan pemerintah daerah. Yang semuanya sebenarnya berujung pada satu kata kunci: komunikasi. Yang pada umumnya terungkap adalah: 

      • komunitas merasa tidak pernah memperoleh dukungan yang semestinya dari pemerintah, baik dalam bentuk akses fasiiltas maupun pendanaan; 
      • komunitas sering dikecewakan dengan kerap terjadinya perubahan arah pembangunan kabupaten/kota setiap kali terjadi pergantian individu pimpinan daerah; 
      • komunitas mengalami kesulitan dalam berkegiatan dan berekspresi, karena adanya kebijakan atau regulasi tertentu yang diberlakukan di wilayahnya;         
      • dan sebagainya.

Tentu saja entitas komunitas, yang bersifat sangat organik, kadang spontan dan bahkan penuh improvisasi demi menghadapi dinamika yang sangat cepat, tidak bisa dibenturkan dengan entitas pemerintahan atau birokrasi yang sifatnya sangat rigid, kaku, serta sarat prosedur dan perhitungan dalam melaksanakan kegiatannya. Sehingga ICCN pun mencari cara agar berbagai tantangan khas tadi dapat teratasi dengan baik. Apa urusannya? Karena kemajuan dan pengelolaan sebuah wilayah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga warganya yang aktif dan kritis, dan selalu berupaya untuk menjadi bagian dari solusi. Katanya komunitas “independen”, kok mau-maunya akur dengan pemerintah? Lho, “independen” kan bukan selalu berarti menentang. Dalam hal ini, kemandirian ICCN bahkan terbukti dengan memposisikan pemerintah pada porsinya, yaitu sebagai pihak pengelola wilayah, perancang peraturan, demi perikehidupan dan kesejahteraan seluruh warganya. Dalam upaya ini, ICCN menyadari adanya momentum “bonus demografi”, “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” (Sustainable Development Goals), “Agenda Perkotaan Baru” (New Urban Agenda), serta “Revolusi Industri 4.0”; sehingga ICCN memandang pemerintah sebagai mitra strategis, terutama dalam hal mengarahkan potensi ekonomi kreatif, yang menjadi kekuatan besar di masa kini dan mendatang.

Jadi ICCN itu ngapain aja? Nah, dari 10 Prinsip Kota Kreatif Indonesia yang telah menjadi komitmen bersama untuk diwujudkan, dirincilah pokok-pokok pikiran dan kata-kata kunci yang menjadi esensinya, sebagai berikut: welas asih (compassion), inklusif, HAM, kreativitas, lingkungan, sejarah dan pusaka, transparansi dan kejujuran, kebutuhan dasar, energi terbarukan, dan fasilitas publik. 

Sekarang. Bagaimana caranya mengukur compassion dan inklusivitas, misalnya, pada sebuah daerah, sehingga menjadi sebuah indikator yang kredibel bagi sebuah kabupaten/kota? Di sinilah ICCN dapat berperan aktif, sebagai organisasi tingkat nasional yang dapat menjangkau hingga level grassroots. Melalui Buku Putih Kota Kreatif Indonesia yang telah disusun dan diterbitkan oleh ICCN dengan dukungan dari Kemenko Perekonomian dan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), ICCN menyampaikan gagasannya mengenai “kabupaten/kota kreatif”. Bahwa indikator perkembangan sebuah wilayah bukanlah untuk ‘menghakimi’ atau memberi label pada sebuah kabupaten/kota sebagai dominasi sub-sektor industri kreatif tertentu, atau untuk berkompetisi dengan kabupaten/kota lainnya. Bagi ICCN, indikator kabupaten/kota kreatif lebih berfungsi untuk memetakan posisi wilayah tersebut dalam sebuah ekosistem ekonomi kreatif, dan untuk mengidentifikasi potensi utama wilayah dalam ekosistem tersebut (misalkan, sebagai pemasok bahan baku, atau sumber daya terampil/ pengrajin, atau pusat penelitian & pengembangan, dll.), sehingga tiap daerah dapat mengetahui adanya daerah-daerah lain dengan potensi serupa, atau dengan sumber daya/potensi yang diperlukan/ dapat dikolaborasikan, untuk dapat mengakselerasi perkembangan wilayahnya melalui kegiatan berbasis komoditi industri kreatif tertentu. Misalkan, rotan. Secara umum, Cirebon memiliki reputasi sebagai pusat pengrajin dan sentra rotan; namun pasokan material rotannya sebagian besar diperoleh dari Palu, sedangkan litbang desain produknya berasal dari kampus-kampus berjurusan Desain di Bandung, dan penjualannya disalurkan melalui Jakarta dan Bali. Dari runutan ini, dan dari informasi seluruh titik wilayah yang terlibat dalam industri kreatif berbasis material rotan, dapat digambarkan sebuah peta ekosistem ekonomi kreatif yang elemen-elemennya dapat saling mengisi/melengkapi, untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas industri. Hal serupa dapat diterapkan untuk berbagai jenis industri kreatif lainnya, termasuk bagi komoditi takbenda.     

Lalu, harus mulai dari mana untuk melibatkan peran komunitas, dalam sinerginya dengan unsur Penta Helix yang lainnya? Nah, dari sinilah ICCN menawarkan 11 Jurus Kabupaten/Kota Kreatif, yang dipaparkan selama konferensi berlangsung pada tanggal 4-5 September lalu, berbentuk “meja-meja konsultasi” di mana siapa pun, terutama pemda dari seluruh penjuru Indonesia, bisa mampir dan ngobrol santai mengenai jurus-jurus tertentu, yang sebenarnya saling terkait satu sama lain. 

PHOTO-2019-09-03-16-25-30

Ini adalah salah satu jawaban dari “Ada apa di Ternate?”, yaitu eksperimen sebuah konferensi di mana penyampaian konten tidak hanya berlangsung satu arah, dari pembicara ke peserta; atau dibatasi dalam sesi tanya-jawab; tapi juga berlangsung secara interaktif, di mana konten dapat disampaikan dalam format bahasan yang lebih mendalam dan spesifik sesuai dengan kebutuhan khas masing-masing wilayah; dilayani oleh para personel ICCN yang menguasai konten-konten tersebut.

Ada apa lagi di Ternate? Sebuah konferensi mengenai kabupaten/kota kreatif, dilengkapi dengan forum konsultasi 11 jurus kabupaten/kota kreatif, yang dihadiri oleh tidak kurang dari tiga gubernur, dua belas bupati dan wali kota, perwakilan negara-negara asing, pengusaha terkemuka, ratusan pemerintah daerah, dan lain-lain. Ini satu hal.

Hal lain adalah sebuah festival yang berlangsung sejak tanggal 2 hingga 7 September,  bertempat di Fort Oranje, benteng peninggalan masa kolonial di tengah kota, yang kini menjadi ruang publik yang sangat inspiratif. Puncaknya adalah Coho Gia Kololi Kie, saat 42.000 warga berdiri mengelilingi Gunung Gamalama dengan saling berpegangan tangan selama tujuh menit, memecahkan rekor MURI versi dunia karena belum pernah dilakukan sebelumnya di belahan bumi mana pun. Di sekeliling gunung, warga dari berbagai usia dan kalangan, berjajar dengan riang, siap meramaikan acara ini dengan penuh rasa bangga. Bendera merah-putih dibawa berkeliling, dikawal oleh kaum muda Ternate, secara estafet disampaikan termasuk melalui Ketua Umum ICCN, hingga tiba di tangan Wali Kota Ternate, yang kemudian menancapkan bendera tersebut di tengah Fort Oranje, sebagai lambang persatuan dan perdamaian bagi Indonesia, sekaligus merayakan keberagamannya. Semua yang hadir terbawa haru, menyanyikan Indonesia Raya, Padamu Negeri, diiringi gelegar puisi, dan seruan-seruan bersemangat. Pecah! Setelah itu, spontan, para pasukan pengibar bendera menari bersama, bercampur dengan warga dan  delegasi ICCN. 

PHOTO-2019-09-06-15-22-36

Semua keramaian ini; intinya apa? Lihat, kalau seluruh warga bisa kompak dengan pemerintahnya. Lihat, kalau semua pihak bersedia turun tangan untuk mewujudkan cita-cita bersama. Lihat, kalau pengelola daerah mampu dengan tepat mengakomodasi kebutuhan dan keinginan warganya tanpa terkecuali. Lihat, kalau tradisi tetap dijaga tanpa menafikkan kebaruan-kebaruan yang seharusnya dapat disesuaikan dengan kondisi nyata. Maka tercapailah tujuan bersama, tahap demi tahap, diiringi buncahan rasa bangga!

Tentu saja semua ini tidak berlangsung tanpa tantangan. Jalan tidak selalu mulus. Kembali pada satu kata kunci: komunikasi. “Ada apa di Ternate?” punya hal lain yang dapat menjadi pelajaran. Acara satu minggu penuh ini tentu saja telah disiapkan jauh hari sebelumnya, dimulai ketika Ternate terpilih sebagai tuan rumah saat berlangsungnya ICCF 2018 di Sleman. Pihak pengampu utama penyelenggaraan tentu saja Komunitas Jarkot, sebagai bagian dari ICCN; selain juga pihak-pihak pendukung, seperti pemerintah kota, pemerintah provinsi, sponsor, dan lain-lain. Dengan latar belakang yang sangat berbeda-beda, seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan acara ini tentu berupaya mendapatkan titik temu untuk beragam pengambilan keputusan. Penentuan prioritas. Pemilihan konten. Alokasi pendanaan dan sumber-sumber daya lain. Strategi media exposure. Mekanisme tindak-lanjutnya. Dan sebagainya. Drama? Tentu saja ada, selayaknya dinamika komunitas. Gegar budaya? Pasti juga terjadi, di semua pihak, dan dalam beragam spektrum. “Toleransi” bukanlah sekedar basa-basi. Dari semua ini, makin terbukti bahwa komunikasi yang terbuka seharusnya menjadi kunci solusi bagi berbagai permasalahan yang timbul, dan untuk mengantisipasi masalah yang mungkin terjadi. Dan justru di sinilah kedewasaan dalam berkomunitas dan mengorganisasi diri menjadi teruji. Semua yang terlibat di sini, jelas sudah ‘naik kelas’ dalam jenjang pengalaman berjejaring. Yang penting, setelah semuanya reda, dan permasalahan dapat teratasi, kita semua dapat mengapresiasi hal-hal positif yang terjadi, dan hasil bermanfaat yang dapat dinikmati bersama. Dari sini juga terbukti bahwa leadership yang tangguh, yang berani dan mampu mengambil keputusan terbaik dalam kondisi genting, hingga meredam letupan yang kontraproduktif, dapat mengembalikan kondusivitas dan optimisme bersama.     

Ada apa di Ternate? Kekayaan alamnya yang khas dan melimpah, narasi sejarahnya yang luar biasa, artefak pusaka, budaya, serta tradisinya yang terjaga baik — semua ini hanyalah seujung kuku dari sekujur tubuh potensi Ternate. Kini, sejarah di Pulau Rempah kembali ditorehkan; momentum yang kembali membawa Ternate dan segala kekuatannya ke panggung dunia, dalam kedaulatan anak-anak bangsanya sendiri. Dengan semangat kolaborasi dan jejaring, kita eratkan persaudaraan, dan rajut kembali kebhinnekaan; Karena Kita Indonesia. Semangat!   

PHOTO-2019-09-07-18-32-09

*tautan berita mengenai Indonesia Creative Cities Festival 2019 di media bisa dicari dengan kata-kata kunci “Ternate” dan “ICCF”

*sumber foto: ICCN

PEC

PEC DICE 01Oke. Tulisan ini lama tertunda karena terlalu lama mempertimbangkan, nulisnya enakan pake Bahasa Indonesia atau Inggris ya? Hingga akhirnya memutuskan, pakai Bahasa Indonesia saja, supaya lebih mudah tersebar di antara rekan-rekan pegiat ekonomi kreatif di tanah air.   

 

Creative Industries Policy & Evidence Centre

Kejadiannya memang lumayan cepat. Beberapa minggu sebelumnya, Direktur Regional British Council untuk Seni & Industri Kreatif yang bertempat di Singapura menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah satu anggota Dewan Penasehat Internasional untuk Kebijakan Industri Kreatif Inggris. Istilah mereka: International Advisory Council for Creative Industries Policy & Evidence Centre (PEC). Terdengar sangat serius, dan lumayan menantang sepertinya untuk ditelusuri lebih lanjut. Mengingat pengalaman beberapa tahun belakangan ini terkait sektor ekonomi kreatif dari tingkat kota hingga internasional, juga keterlibatan langsung di aspek-aspek akademik, kebijakan, maupun praktisi dan komunitas, tawaran ini saya terima, sambil menunggu informasi selanjutnya, mengenai peran, konten, dan sebagainya. Tim PEC ini diketuai oleh John Newbigin, OBE, pendiri dan ketua pertama Creative England, sebuah rekanan pemerintah/swasta yang berinvestasi pada bisnis konten kreatif dan teknologi digital; juga Penasihat Khusus Menteri Budaya Inggris, selain juga anggota Dewan Industri Kreatif Pemerintah Inggris, dan Duta Industri Kreatif bagi Wali Kota London. PEC ini sendiri, selain didukung penuh oleh British Council, diampu oleh Nesta, sebuah yayasan yang memusatkan aktivitasnya pada penelitian untuk mewujudkan inovasi.

IMG_1979 

Dewan Penasehat Internasional PEC ini baru pertama kalinya dibentuk, orang-orangnya sebagian besar belum saling mengenal, namun karena satu dan lain hal terhubung melalui jejaring British Council. Sidang pertama tim PEC ini dijadwalkan berlangsung di London, 20-21 Mei 2019 lalu. Untuk pertemuan pertama ini, karena memang masih dalam tahap perkenalan, kami diminta untuk menyiapkan paparan ringkas mengenai “tantangan kebijakan dari negara atau wilayah masing-masing, atau isu internasional yang dianggap dapat memperoleh manfaat dari yang dihasilkan oleh PEC”. Maksud dibentuknya PEC ini sendiri adalah:

…untuk menyediakan penelitian independen dan rekomendasi yang berotoritas, yang akan membantu pengembangan kebijakan industri kreatif Inggris, dan berkontribusi pada kelanjutan keberhasilannya. 

Sementara, tujuan pertemuan pertama ini adalah:

…mempertemukan kami (Dewan Penasehat Internasional) dengan kolega di PEC dan British Council, untuk membahas agenda penelitian PEC yang sedang dan akan berlangsung, dan (bagi mereka) untuk mengetahui prioritas dan kepentingan kami, selama badan internasional yang unik ini kita bangun bersama.  

IMG_1990Ketika berkumpul pada hari pertama pertemuan, yang hadir berjumlah belasan, dan ada 2-3 anggota yang berhalangan. Di awal, disampaikan mengenai PEC dan hal yang memotivasi dibentuknya Dewan Penasehat Internasional ini. Oh iya, sebelum mulai, John menghampiri dan memberitahu bahwa dia pernah ke Bandung, sekitar tahun 2008. Ternyata kunjungannya waktu itu adalah bersama dengan Creative Catalyst BC, yang terdiri dari para juara IYCE (International Young Creative Entrepreneurs) dari seluruh dunia, yang berkumpul di Rumah Botol-nya Kang Emil dan juga meramaikan Helarfest 2008. Beliau juga hadir di Arte-Polis 2008 dengan pembicara kunci saat itu, Charles Landry. Tentu saja beliau ingat Kang Emil, bahkan nitip salam. Di Connecti:City berikutnya beliau kita undang jadi pembicara, ya, Pak Gub 🙂 

Kembali ke PEC. Berikut ini beberapa pointers yang bisa diambil dari pertemuan pertama ini:

  1. Kenapa kebijakan industri kreatif Inggris perlu pertimbangan dari sebuah Dewan Internasional? Tak dapat dipungkiri, Inggris adalah negara yang pertama kali mencetuskan hal “industri kreatif” sebagai sektor ekonomi yang penting. Mau tidak mau, konsep ini dibawa oleh lembaga budayanya, yaitu British Council, yang dalam usianya ke-85 tahun kini telah berada di 110 negara. Apa pun yang diputuskan sebagai kebijakan di Inggris terkait industri kreatif, akan menjadi program/ kegiatan di BC sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Inggris yang tersebar di negara-negara tersebut. Mengacu dari yang selama ini telah terjadi, termasuk di Indonesia, program BC lumayan berpengaruh pada gerakan seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Sehingga kajian mengenai arah dan konten kebijakan tersebut menjadi penting, terutama terkait relevansinya dengan kebijakan dan program-program sektor industri kreatif di internal negara-negara tersebut. 
  2. PEC memiliki Dewan Pengelola yang berhubungan secara interaktif dengan pemerintah, mendapatkan masukan dari Dewan Penasehat Internasional, Panel Ilmiah Internasional, Panel Industri (yang terdiri dari para juara/ unggulan bidang industri kreatif), serta Unit Kebijakan.
  3. PEC telah menggandeng 10 perguruan tinggi di Inggris, yang masing-masing mengampu tema-tema kajian: (1) klaster kreatif dan inovasi, (2) keterampilan, talenta, dan keberagaman, (3) HKI, model bisnis, akses pada pembiayaan dan regulasi konten, (4) seni, budaya, dan penyiaran layanan publik, (5) industri kreatif dan daya saing internasional.
  4. PEC akan lebih terfokus pada dampak, mencakup keluwesan dalam penerapannya; bersifat inklusif (tidak hanya menekankan pada indikator ekonomi, tapi juga pada bidang sosial yang mungkin tidak selalu terukur secara kuantitatif); melibatkan pihak-pihak pemerintah, swasta, dan akademisi; menghasilkan rekomendasi dan panduan untuk kebijakan; serta membangun platform komunikasi dan jejaring hingga skala internasional.           
  5. Kajian yang digarap di PEC tidak tanya mengandalkan isu-isu kuantitatif, namun juga menekankan pada isu-isu kualitatif, yang sebagian besar berupa laporan berbasis bukti (evidence-based report) dalam format story-telling atau narasi. Informasi kualitatif ini dianggap penting dalam menentukan makna penerapan budaya dan ekspresi seni. Pertanyaan utamanya adalah, bagaimana mengukur dampak dari isu-isu kualitatif tersebut. Perkembangannya dalam skala global bukan berarti menerapkan satu solusi ke yang lain, namun lebih kepada kesesuaian penerapan solusi tersebut, dalam adaptasinya terhadap kondisi yang berbeda. 

IMG_2440

Dari komunitas untuk kebijakan ekraf di Indonesia      

Di sesi paparan perkenalan, saya sampaikan bahwa Kota Bandung – bahkan sebelum menjadi anggota UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sebagai Kota Desain – sempat memiliki Komite Pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf.bdg, dibentuk tahun 2014) yang ditandem dengan salah satu badan di Pemerintah Kota Bandung (awalnya di Bagian Ekonomi Setda, kemudian di Bidang Ekraf Disbudpar), yang berfungsi untuk menyusun peta jalan, strategi, dan program-program pengembangan ekraf . Setelah bergabung dengan UCCN pada tahun 2015, tugas Ekraf.bdg bertambah satu, yaitu mengawal komitmen Bandung terhadap UCCN: memanfaatkan potensi kreativitasnya untuk menjawab tantangan Sustainable Development Goals (SDG) dan New Urban Agenda (NUA). Salah satu program Bandung Creative City Forum (BCCF) yang didukung oleh Pemkot Bandung, yaitu DesignAction.bdg (DA.bdg), bahkan telah mendapat pengakuan UCCN (pada tahun 2017) sebagai salah satu praktik terbaik bagi SDG #11, Sustainable Cities & Communities. Kini Kota Bandung tengah menunggu disahkannya Perda Ekraf, yang dalam prosesnya telah menuntaskan tahapan Naskah Akademik dan Uji Publik, dan tinggal menunggu tahap politisnya sebelum disahkan pada tahun 2020.  

Di tingkat provinsi, sebagai Tim Ahli Jabar Juara bidang Ekonomi Kreatif, saya sampaikan bahwa berdasarkan Perda Ekraf Jabar, Pemprov Jabar sedang menggarap bentukan sebuah lembaga ekonomi kreatif tingkat provinsi, serta mempersiapkan simpul-simpul kreatif (creative hubs) di seluruh kota/kabupaten di Jawa Barat, dan perkembangannya yang tidak hanya secara top-down, namun juga terdapat upaya bottom-up agar kebijakan, regulasi, serta fasilitasi dari pemerintah dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat secara inklusif.

Lebih lanjut lagi, saya sampaikan adanya 10 Prinsip Kota Kreatif yang dideklarasikan di Bandung saat berlangsungnya Creative Cities Conference (CCC) tahun 2015. CCC ini menjadi cikal bakal Indonesia Creative Cities Network (ICCN), yang dalam perjalanannya hingga kini telah menggabungkan inisiatif dan komunitas dari sekitar 210 kota/kabupaten se-Indonesia. 10 prinsip ini sedang diupayakan oleh ICCN untuk dapat diadaptasi ke dalam Sistem & Laporan Akuntabilitas Kinerja Institusi Pemerintahan (SAKIP & LAKIP), yang menjadi parameter prestasi/ kinerja pemerintah. Upaya ini terutama untuk memastikan tercantumnya hal “ekonomi kreatif” dan “industri kreatif” ke tingkat  “urusan utama” (bukan sampingan) dalam rencana pembangunan daerah, dan tetap ada meskipun personel pemerintahannya mengalami pergantian atau perubahan. Dari paparan ini, Indonesia menjadi contoh bagaimana komunitas dapat mendorong perubahan kebijakan, yang jelas sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan warga. Simulasi adaptasi 10 Prinsip Kota Kreatif dalam SAKIP & LAKIP ini tercantum dalam Buku Putih Kota Kreatif, yang versi Bahasa Inggrisnya telah saya berikan untuk John, dan untuk koleksi perpustakaan PEC.

IMG_2455

Pertanyaan-pertanyaan terkait kebijakan

Di pertemuan hari kedua, Nesta menyampaikan hal-hal yang telah mereka lakukan dalam upaya menjawab tema-tema kajian, dalam bentuk berbagai Pertanyaan Kebijakan (butir 3 di atas) yang diampu oleh kampus-kampus yang berbeda di Inggris. Pertanyaan- pertanyaan inilah yang akan terus-menerus diolah dan dikembangkan sesuai dengan temuan dan masukan yang diperoleh.

  1. Klaster kreatif dan inovasi: Bagaimana perkembangan yang baik itu? Bagaimana daerah dapat mendukung klaster-klaster kreatif? Bagaimana kita dapat meningkatkan anggaran untuk litbang dalam industri kreatif?  
  2. Keterampilan, talenta, dan keberagaman: Bagaimana posisi seni (kreativitas) dalam sistem pendidikan? Bagaimana kita dapat memastikan meningkatnya keberagaman dalam tenaga kerja industri kreatif? Keterampilan dan pekerjaan apa yang dibutuhkan industri kreatif di masa mendatang? Apa saja faktor-faktor positif dan negatif dari tenaga kerja paruh waktu?
  3. HKI, model bisnis, akses pada pembiayaan dan regulasi konten: Bagaimana caranya memastikan bahwa bisnis memperoleh pendanaan yang diperlukan untuk bertumbuh? Bagaimana caranya mengukur bisnis kreatif? Bagaimana meregulasi platform ekonominya?
  4. Seni, budaya, dan penyiaran layanan publik: Terkait penciptaan nilai yang berkelanjutan sebagai hasil dari anggaran negara/daerah untuk badan-badan budaya, regulasi model pendanaan, serta penelitian berbasis etnografi, kualitatif, dan action research. 
  5. Industri kreatif dan daya saing internasional: Terkait keterbukaan perdagangan dan distribusi (terutama untuk komoditas digital), perusahaan ekspor, konsentrasi spasial, kendala perdagangan dalam tingkat mikro dan makro, serta kebijakan internasional.

Dalam kesempatan ini dipaparkan pula penelitian yang telah dan sedang dilakukan terkait keseimbangan gender dalam industri kreatif, sebaran konsentrasi suatu bentuk usaha tertentu di Kota London, dll. 

Selanjutnya…?

Secara keseluruhan, PEC ini menjadi peluang yang sangat baik bagi Indonesia untuk mengkomunikasikan posisi dan kepentingannya dalam sektor ekonomi kreatif, dalam skala global namun relevan dengan kebutuhan nyata bagi pelakunya di tingkat nasional. Dalam posisi sebagai Dewan Penasehat Internasional, Indonesia juga dapat berperan dalam memberikan masukan terkait kebijakan yang berpotensi untuk diberlakukan secara global, yang seharusnya dapat pula mendukung perkembangan ekonomi kreatif Indonesia dengan adanya ekosistem yang terbangun secara global. Akan selalu menjadi hal yang menarik untuk mengetahui perbedaan dan persamaan perspektif mengenai industri kreatif, dan ekosistem ekonomi kreatif pada umumnya, yang dimiliki oleh negara-negara yang berbeda; dan akan terus dapat menjadi bahan pembelajaran yang selalu berkembang sesuai dengan zaman dan dinamika masyarakat saat ini. Dari pertemuan ini saja, sudah dapat ditemukan hal-hal yang menjadi pembeda penentuan kebijakan, seperti persepsi pelaku ekraf terhadap HKI, pertimbangan terhadap sektor-sektor informal, dan sebagainya. Pertemuan PEC berikutnya direncanakan menjelang akhir tahun ini, dengan target adanya konsep atau gagasan yang dapat lebih termaterialisasi. Sampai update berikutnya!