Connecti:City – Peran Simpul-simpul Kreatif bagi Pembangunan Daerah

ConnectiCity Logo

Belum lama berselang, di Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan event Connecti:City dengan konteks simpul kreatif, atau creative hub, yang rencananya akan menjadi event tahunan. Acara ini juga menjadi ajang bagi Pemprov Jabar untuk menghibahkan simpul kreatif kepada kota/ kabupaten sebagai salah satu wujud komitmen Pemprov Jabar dalam mengembangkan Ekonomi Kreatif di wilayah kota/ kabupaten di Jawa Barat. Connecti:City yang pertama ini bertema Enhancing the Roles of Creative Hotspots, Community Hubs, and Smart Networks for Regional Development (Memperkuat Peran Titik-titik Panas Kreatif, Simpul Komunitas, dan Jejaring Cerdas untuk Pembangunan Daerah), dan dalam konferensinya mengundang pembicara yang dapat memaparkan konsep dan contoh mengenai “simpul kreatif”: bentuk, cara mengelola, cara mendanainya, dan sebagainya. Berikut ini inti dari paparan para narasumber.

2019 WestJavaCEconf present.008

Kenneth Cobonpue dari Cebu, Filipina.

Sebagai salah satu desainer profesional yang paling sukses di dunia, Kenneth juga berperan sebagai konsultan kebijakan (melalui semacam Bappeda) di Filipina. Paparan Kenneth menampilkan karya-karyanya, yang  dalam tiap proses penciptaanya mengandung pemikiran tersendiri: Kenneth bekerja dengan material (alami) yang kerap ditemui secara lokal, dengan bentuk yang terinspirasi juga oleh keragaman lokal, serta mengembangkan teknik produksi sedemikian rupa sehingga tidak dapat diduplikasi mesin (menjaga tingkat keterampilan manual dan serapan tenaga kerja). Tidak berhenti di situ, Kenneth juga sangat memperhatikan strategi branding bagi produk-produknya.

Sebagai desainer yang berasal dari Asia Tenggara, ketika pertama kali berpartisipasi di pameran internasional, ia diberi ruang di lantai atas, di pojok, dekat WC. Ia memikirkan cara untuk dapat keluar dari lokasi tersisih itu ke tempat yang lebih mendapat perhatian. Akhirnya ia membuat mobil dari bambu, yang bahkan kemudian dipajang di pintu masuk utama event pameran teresebut. Branding-nya semakin kuat dengan adanya endorsement dari Brad Pitt (“It takes Holywood to get your product known worldwide”) dan ketika salah satu mebelnya, tempat tidur, dipakai di klip video Maroon 5. Belakangan ini,  brand yang memuat namanya sendiri itu semakin melesat dengan adanya kolaborasi antara Kenneth Cobonpue dengan Star Wars. Ia telah menyatakan tidak akan membuat turunan desain dari karakter Star Wars, melainkan menyerap karakteristik film tersebut dalam karya-karyanya, hingga menjadi satu-satunya desainer yang namanya diperkenankan muncul bersama dengan brand Star Wars.

Apa yang dapat dipelajari dari Kenneth? Ia menekankan pentingnya desainer Asia Tenggara untuk mengenali material kekayaan alam asli Asia Tenggara dan mengolahnya sedemikian rupa sehingga mencapai kualitas unggul, yang tidak mudah ditiru dan diproduksi oleh mesin; bahwa desainer Asia Tenggara harus terus mengeksplorasi sumber daya alam dan budaya lokalnya masing-masing, untuk menemukan kekayaan tak terhingga di sana.

M. Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat

Sebagai pemrakarsa acara ini, RK memaparkan terlebih dahulu perjalanannya dengan latar belakang praktisi arsitektur dan urban desain, yang juga pernah aktif di masyarakat – sebagai pendiri dan ketua Bandung Creative City Forum (BCCF) – yang telah banyak menghasilkan prototype/ purwarupa solusi bagi Kota Bandung. Beliau menampilkan beberapa karya arsitektur dan filosofinya, kemudian beralih ke karya-karyanya di Kota Bandung, terutama pembangunan fasilitas ruang publik. RK mengungkapkan perlunya ruang-ruang pertemuan ini, yang dapat menjadi salah satu faktor penting penggerak aktivitas komunitas, mahasiswa, dan masyarakat umum. Inilah alasan Pemprov Jabar menghibahkan ruang-ruang publik yang khusus didedikasikan bagi kepentingan dan kebutuhan komunitas kreatif lokal, yang diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan ekosistem ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Jia-Ping Lee, dari ThinkCity, Malaysia

ThinkCity telah menjalin kerja sama dengan Kota Bandung melalui BCCF sejak terbentuknya SouthEast Asian Creative Cities Network (SEACCN) pada tahun 2014. ThinkCity yang pada awalnya mendapat tugas khusus untuk mengelola GeorgeTown Penang sebagai kota pusaka UNESCO, kini telah berkembang dan bercabang di kota-kota lain di Malaysia dengan tugas melakukan peremajaan dan revitalisasi kota, tidak hanya melalui pra/sarana fisiknya, tapi juga melalui kegiatan dan dampak sosial budaya pada masyarakatnya. Pada kesempatan ini Ping menampilkan beberapa kasus yang telah berlangsung, sekaligus mengabarkan mengenai program berikutnya yang mengundang kota-kota lain untuk turut berpartisipasi: Placemaker Week ASEAN 2019 (4-8 November 2019).

Emily Ong, dari DesignSingapore Council, Singapura

Emily adalah focal point Singapura Kota Desain untuk UNESCO Creative Cities Network (UCCN). Sebagai sesama Kota Desain UCCN dari Asia Tenggara sejak 2015, Singapura dan Bandung sedang berupaya mempererat kerja sama, dengan juga menggandeng kota-kota lain di wilayah regional ini. DesignSingapore Council tadinya bernaung di bawah Kementerian Komunikasi dan Informasi, namun per April 2019 pindah di bawah Kementerian Perdagangan, dengan tujuan meningkatkan dampak ekonomi dengan basis potensi desain dan kreativitas pada umumnya. Salah satu hal menarik adalah adanya kurikulum kreativitas/ design thinking bagi tingkat sekolah menengah di Singapura, yang dikembangkan oleh guru-guru bersama dengan para siswanya, yang mengembalikan gairah untuk mengeksplorasi dan aktif bereksperimen, bagi anak-anak usia remaja di Singapura. Sekolah menjadi tempat belajar yang menyenangkan.

2019 WestJavaCEconf present.009

Daniel Donnelly (Asia Timur), Malaya Del Rosario (Filipina), Camelia Harahap (Indonesia) dari British Council

British Council telah menyusun Creative Hub Toolkit yang dapat diunduh secara gratis di website mereka, dan telah mendiseminasi Toolkit ini di beberapa kota di Asia Tenggara, termasuk melakukan penelitian terkait implementasi dan dampaknya terhadap perkembangan ekonomi kreatif di kota-kota tersebut. Sebuah simpul kreatif, dalam hal ini, tidak selalu berupa sebuah ruang fisik, tapi juga dapat berupa sebuah platform online di mana para pelakunya dapat bertukar informasi dan membangun sesuatu secara bersama-sama. Berbagai bentuk simpul kreatif di Filipina dan Indonesia dipaparkan oleh masing-masing Director of Arts BC di negara-negara tersebut, meliputi juga program-program yang tengah dan akan dijalankan.

Imhathai Kunjina, dari Creative Economy Agency (CEA), Thailand

Bagi para pelaku dan profesional di bidang kreatif, Thailand terkenal dengan Thailand Creative & Design Centre (TCDC), yang memiliki koleksi material terkaya dalam perpustakaan materialnya, Material ConneXion. Kini TCDC, yang markasnya terdapat di Bangkok dan Chiang Mai, sedang bertransformasi menjadi Creative Economy Agency (CEA), yang akan juga mencakup bidang-bidang kreatif selain desain. TCDC, yang branding-nya sudah sangat kuat, menjadi bagian dari CEA. Dalam kesempatan ini, Imhathai menyampaikan berbagai capaian dan rencana dalam transformasi ini, terutama terkait TCDC/CEA Chiang Mai yang diampunya. Chiang Mai juga telah bergabung dalam UCCN pada tahun 2017 sebagai Kota Craft & Folk Art, namun kota ini telah juga menyelenggarakan acara rutin tahunan Chiang Mai Design Week, biasanya berbarengan dengan Nimmanhaemin Art Promenade (NAP), yang telah mampu membawa perubahan dan perkembangan bagi kota tersebut.

Arief ‘Ayiep’ Budiman, dari Rumah Sanur, Bali

Rumah Sanur didirikan berdasarkan inspirasi kearifan lokal (Bali) yang mencakup tiga hal yang tak terpisahkan: desa (tempat), kala (waktu) dan patra (konteks), dengan menghidupkan kembali semangat Sanur School yang mengusung kolaborasi antar budaya dan ekspresi. Sejak 2014, Rumah Sanur bertujuan membangun kreativitas yang inklusif, melalui pengembangan ekosistem kreatif dan mendukung inovasi sosial, yang terfokus pada pengelolaan sumber daya dan pengembangan produk. Dalam paparannya, Kang Ayiep menyampaikan hal-hal yang dapat menjadi acuan bagi sebuah simpul kreatif, di mana pun simpul ini berada. Rumah Sanur sendiri berkolaborasi dengan berbagai pihak, yang mengaktivasi simpul dengan tiga tahapan: membentuk, mengelola, dan me-monetise para pelaku (baik pengelola maupun pengunjung) yang berkepentingan dengan simpul tersebut. Salah satu hal yang patut dicatat dari paparan ini adalah bahwa penting bagi sebuah simpul kreatif untuk dapat menarik dan mengajak beragam talenta lokal untuk dapat berkarya bersama, dengan memanfaatkan tempat tersebut sebagai titik temu yang ‘tak terduga’, yang harus dapat dikelola dengan benar untuk dapat terus menghidupkan tempat tersebut dan berdampak positif bagi  para pelakunya.

Hirokazu Nagata, dari Plus Arts, Kobe, Jepang

Jepang dapat dipandang sebagai negara yang memiliki banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai bencana alam, sehingga warganya pun dapat dianggap sebagai memiliki cara-cara yang paling teruji dalam mengatasi hal-hal darurat. Nagata dari +Arts telah mengembangkan berbagai paket disaster awareness dengan pendekatan kreatif, yang dapat melibatkan seluruh anggota keluarga, dan terutama anak-anak, dengan cara bermain, melalui komunikasi yang mudah diserap oleh siapa pun. Paket-paket ini tersedia dalam bentuk fisik dan aktivitas, praktik latihan penyelamatan dan kondisi darurat, yang sudah diterapkan di berbagai kota dunia; masing-masing mengalami penyesuaian dengan kondisi tempat masing-masing. Di Indonesia sendiri aktivitas ini telah beberapa kali dilakukan di Yogyakarta, terutama setelah terjadi gempa besar di kota tersebut. Dari pengalamannya selama bertahun-tahun, Nagata memaparkan filosofinya mengenai jenis-jenis manusia: angin, air, dan tanah. Manusia bertipe angin adalah yang menyebarkan benih-benih “stimulasi” atau program pada komunitas atau masyarakat di suatu tempat; manusia bertipe tanah adalah yang tinggal dalam komunitas tersebut dan menjaga kelangsungan program di tempat tersebut; manusia bertipe air adalah yang mendampingi komunitas, yang terus menerus mengairi, menumbuhkan dan memberi dukungan bagi bertumbuhnya “benih” program yang telah ditanam di tempat tersebut. Nagata dan timnya mengembangkan Earth Manual Project, yang memuat berbagai cara mengatasi kondisi darurat, dan telah melakukan pameran dan aktivasi keliling; yang kebetulan kali ini sedang digelar di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta.

Kobe telah bergabung sebagai Kota Desain UCCN sejak 2008, sehingga dalam platform ini pun Bandung dan Kobe sedang berupaya menjalin kerja sama dalam hal darurat bencana. Terutama mengingat bahwa Jawa Barat adalah juga wilayah rawan bencana, sementara terdapat ribuan desainer di Bandung, yang tentunya dapat lebih berkontribusi bagi kesiapan/ tanggap bencana Jawa Barat dengan cara-cara yang dapat diserap dengan mudah, cepat, dan menyenangkan bagi masyarakat umum.

 

Dari paparan para narasumber pada Connecti:City ini, terlihat berbagai bentuk simpul kreatif di sebuah kota, yang dengan karakteristiknya masing-masing berhasil menghasilkan dampak nyata, inklusif, dan relevan bagi kebutuhan warga lokal maupun pengunjung dan jejaringnya di tingkat global. Simpul-simpul ini dapat menjadi ruang bagi pengembangan kreativitas di bidang-bidang tertentu, namun juga dapat menghasilkan solusi yang jitu dan inovatif bagi beragam isu dan persoalan yang dihadapi wilayah tersebut, melalui rekayasa sosial dan aktivasi potensi kreativitas yang ada.

Diharapkan, pada Connecti:City berikutnya, simpul-simpul yang baru dibentuk di Jawa Barat pun telah dapat menunjukkan perkembangan dan dampaknya yang positif bagi wilayahnya, melalui para pelaku dan penggerak simpul-simpul tersebut.

ConnectiCity Poster

*Paparan dari saya sendiri akan ditulis di blog terpisah 🙂

**Connecti:City 2019 akan didiseminasikan dalam bentuk buku

INDONESIA 2045: Diplomasi Maritim untuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

INDONESIA2045 poster

Jumat 5 April lalu, dari acara diskusi INDONESIA 2045 Gedung MKAA, dapat info menarik tentang arah pembangunan Indonesia, dan rasanya harus segera dibagikan seluas mungkin! Para narasumbernya kredibel, sehingga yang disampaikan pun dari ‘tangan pertama’, bukan hanya kira-kira atau coba-coba, tapi jelas sedang berlangsung.

INDONESIA2045 LBP

Berikut ini beberapa pointers dari keynote speaker, Menko Maritim Jend. TNI (Purn) Luhut B. Panjaitan, dengan tema “Diplomasi Maritim untuk Mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia”.

  1. INDONESIA2045 LBPslide1Sesuai sub-tema, Indonesia 2045: Berdaulat, Maju, dan Berpengaruh pada Tataran Global – sebenarnya bukanlah hal yang terlalu muluk untuk dicapai oleh Indonesia, mengingat potensinya yang begitu besar. Namun untuk mencapai hal tersebut, memang diperlukan strategi dan arah kebijakan yang tepat.
  2. Indonesia memang kaya, tapi sekarang kita masih terlalu terbuai oleh ekspor raw material. Hal ini harus segera dialihkan ke komoditi dengan nilai tambah, bukan lagi sekedar mengandalkan bahan mentah dari hasil eksploitasi & ekstraksi SDA. Kemajuan Indonesia harus sesuai dengan zaman, dan harus dapat memanfaatkan teknologi mutakhir.
  3. Posisi dan luasan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia membuatnya berbatasan dengan banyak negara. Tidak mudah mengelola ini.
  4. Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang menjadi anggota G20. Kita ambil contoh terbaik dari negara-negara lain, dan dalam diplomasi kita harus berani – asal tetap terukur. Indonesia is big enough to not be forced to take sides even among powerful nations.
  5. Apakah benar Indonesia bisa menjadi raising star? Untuk mencapai ekonomi maju, seluruh pengambilan keputusan harus dilaksanakan secara terbuka. Kepemimpinan saat ini tidak hanya berkomitmen untuk ini, mau mendengar masukan, tapi juga berani menjalankan!
  6. Stabilitas ekonomi mempengaruhi stabilitas politik. Hal ini telah terbukti, dan somehow memiliki siklus tujuh tahunan, yang mengindikasi bahwa 2015 menjadi critical year, sehingga harus dirancang strategi khusus untuk menjaga stabilitas nasional. Because there’s no such thing as “auto pilot”. Presiden menerima dan menjalankan saran-saran yang diperolehnya saat itu, yaitu untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, yang berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan, yang dirasakan oleh masyarakat seluas mungkin! Fokus pada penyediaan lapangan kerja, ekonomi, serta kemerataan (terutama termasuk garis depan/ wilayah perbatasan). Akibatnya? 2016 berhasil kita lalui dengan aman: grafik pertumbuhan ekonomi cenderung meningkat, meskipun belum setinggi target, namun berhasil menjaga stabilitas nasional.
  7. Pembangunan Tol Laut, hub & spoke, terbukti telah memperlancar distribusi ke seluruh wilayah di Indonesia dan berhasil membuat harga-harga menjadi kompetitif.
  8. Tantangan tentunya ada, misalkan kuntet (stunting) yang bukan hanya berpangkal
    dari masalah gizi, tapi juga lingkungan, dan sebagainya. Kualitas SDM dan produksi/ nilai tambah komoditi dapat ditingkatkan menggunakan aplikasi digital yang relevan dengan kebutuhan  masa kini. Rencana untuk membentuk “10 Bali baru” atau destinasi wisata baru yang dapat membuka lapangan kerja, sekaligus mengakomodasi kebutuhan kelas menengah Indonesia, yang mengalami peningkatan hingga 4x lipat. Ini juga menjadi tantangan tersendiri.        INDONESIA2045 LBPslide2
  9. Pengamanan perbatasan kita telah meningkat, dan pertahanan kita cukup kuat. Besaran anggarannya tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan negara lain, karena juga ditentukan berdasarkan hakikat ancaman bagi tiap negara.
  10. Indonesia adalah negara besar, yang kaya ragam alam, warga, budaya, beserta seluruh potensinya; sekarang sedang dalam kondisi yang semakin baik dan berkembang dengan strategi dan arah yang tepat. Ini yang harus dijaga dengan cermat agar peningkatan prestasinya konsisten. Tidak bisa merawat Indonesia dengan marah-marah.

Paparan ini diakhiri dengan pesan agar setiap WNI menggunakan hak pilihnya, sebagai bentuk kontribusi yang dapat turut menentukan arah pembangunan Republik Indonesia ke depan.

KITA PROJEKT: Kreativitas untuk Semua

 

“Semua orang itu terlahir kreatif”, Mbak Anne mengutip ajaran alm. Prof. Primadi Tabrani saat memberikan sambutannya di Simpul, Sabtu 16 Maret lalu, “Yang beda hanya kadarnya.” Ungkapan ini bukan sekedar teori, karena telah terbukti bahwa seni dan kegiatan kreatif pada umumnya dapat menjadi media yang tepat bagi para penyandang difabilitas untuk berekspresi dan berkomunikasi. Mbak Anne Nurfarina adalah pendiri Art Therapy Centre (ATC) Widyatama, di mana anak-anak muda difabilitas dapat belajar desain grafis, ilustrasi, musik, seni pertunjukan, dll. Dari ATC Widyatama inilah muncul The Special ID yang menjadi platform sosialisasi dan pemasaran karya para siswa ATC Widyatama. Salah satunya adalah melalui KITA PROJEKT, atau Proyek Karya Internship dan Tugas Akhir, yang kali ini berkolaborasi dengan Bandung Creative City Forum (BCCF).

Di acara kick-off KITA PROJEKT di Simpul Sabtu lalu, para peserta KITA menggelar portfolio masing-masing dalam sebuah pameran kecil, sehingga yang hadir dapat menikmati rekam jejak karya mereka. Banyak yang telah menjadi produk jadi berupa kemasan, sampul kepingan CD, buklet, poster, dsb. Jelas terlihat, bahwa karya-karya para kreator difabel ini memiliki karakternya sendiri; sangat khas dan jujur, memberi peluang tak terhingga bagi penerapannya pada beragam produk. Acara kick-off ini juga mempertemukan para kreator difabel dengan calon klien potensialnya, yaitu para wirausahawan atau pemilik brand produk-produk kreatif di Bandung, yang diundang oleh jejaring BCCF sebagai kolaborator. Tahap selanjutnya adalah pemberian pesanan desain grafis dan ilustrasi untuk para kreator KITA, untuk dapat diterapkan pada produk-produk dari brand yang berpartisipasi. Para kreator KITA kemudian akan menggarap pekerjaan tersebut selama satu bulan penuh di Simpul, disertai arahan dari para instruktur dan pemilik brand. Hasil akhirnya? Akan siap untuk dipasarkan dalam kemasan yang kaya akan karakter dan storytelling!

Diharapkan, di kali pertama ini, kolaborasi antara BCCF dengan ATC Widyatama dan The Special ID dapat berlangsung dengan lancar dan menyenangkan, juga dengan hasil yang konkret, yang menunjukkan bahwa kondisi difabel tidak menjadi penghalang seseorang untuk berkarya dan berekspresi, untuk dapat diapresiasi sesuai kapasitas dan karya nyatanya, serta untuk meningkatkan rasa percaya dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari komunitas kreatif dan masyarakat pada umumnya. Karena, kreativitas itu untuk semua!

**Post Note: selain KITA PROJEKT, BCCF juga membuka diri bagi para musisi difabel dari ATC untuk tampil di Simpul Kitchen. Para musisi difabel ini, yang tadinya mengamen di persimpangan jalan Kota Bandung, mendapatkan pelatihan musik di ATC untuk dapat memberikan performance yang layak. Paling tidak, dengan panggung rutin di Simpul nanti, mereka akan punya pengalaman apresiasi yang baru dan makin membaik. Semoga suatu saat nanti kegiatan ini juga dapat menjadi suplemen bagi kemandirian mereka. Kapan dimulainya? Kita tunggu update berikutnya dari BCCF dan ATC Widyatama!

Singapura, Kota Desain Luar-Dalam

Dalam Singapore Design Week yang diselenggarakan pada tanggal 6-10 Maret 2019, penyelenggaranya, DesignSingapore Council, mengundang sesama Kota-kota Desain yang tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) untuk turut berpartisipasi. Sebagai tuan rumah, mereka memfasilitasi dua orang perwakilan dari tiap kota dengan akomodasi 4 malam, akses khusus ke berbagai sub-event, acara makan siang/malam, dsb. Tiap delegasi hanya harus menanggung tiket pesawatnya sendiri.

Tidak sulit bagi Bandung, Kota Desain yang terdekat, untuk memenuhi undangan tersebut. Sebagai focal point Bandung untuk UCCN, saya sangat mengusahakan hadir, karena ingin mengambil kesempatan untuk berkumpul kembali dengan rekan-rekan dari sesama Kota Desain UCCN yang datang dari jauh, untuk dapat mengkoordinasikan berbagai hal lain. Tiap delegasi Kota Desain UCCN yang hadir akan menampilkan kasus di kotanya di UNESCO Cities of Design Public Forum, yang sesi-sesinya terbagi sesuai dengan pokja Kota Desain UCCN: kebijakan, bisnis, edukasi, komunikasi. Berikut ini adalah hal-hal yang memberikan kesan terdalam selama menghadiri Singapore Design Week 2019.

IMG_0991

Brainstorm Design: Measuring the ROI of Design Thinking

Sebuah rangkaian acara seri konferensi bertajuk Brainstorm Design diselenggarakan selama 3 hari, tapi kami, delegasi Kota Desain UCCN, hanya mengikuti sesi di hari terakhir. Sesi pagi merupakan workshop/ diskusi dalam kelompok kecil, di mana peserta dapat memilih satu dari sekian tema yang ditawarkan. Saya memilih ruang dengan judul Measuring the ROI of Design Thinking. Menarik, karena selama ini kita melakukan Design Thinking (DT) untuk berbagai hal di luar profesi desain (bisnis, IT, pemerintahan, dll.), namun jarang memperhitungkan efektivitasnya. Apakah benar DT menjadi metodologi yang paling optimal? Faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan untuk dapat mengukur keberhasilan DT? Prof. Jeanne Liedtka, University of Virginia Darden School dan Prof. Kristina Jaskyte, University of Georgia, mengembangkan penelitian terkait hal ini dan membuat sebuah toolkit dalam format check list dengan Skala Likert, yang membantu kita untuk mengukur efektivitas DT. Dalam workshop ini, peserta mencoba menggarap toolkit tersebut dalam versi “permukaan”. Tentu saja, bila ingin pendalaman, harus berupa konsultasi dan/atau kasus khusus, namun workshop ini cukup memberi gambaran mengenai seberapa jauh DT dapat diterapkan sebagai cara berpikir/bekerja yang optimal.

 

DesignSingapore Council: Perpindahan Kementerian Induk

DesignSingapore Council, yang dibentuk oleh Pemerintah Singapura pada tahun 2003 atas kesadaran pentingnya sumber daya kreasi, daya cipta, kreativitas dan teknologi sebagai elemen strategi pembangunan Singapura yang minim SDA, menjadi salah satu andalan Singapura dalam memajukan kesejahteraan bangsanya. DesignSingapore Council kini masih bernaung di bawah Kementerian Kominfo, namun per 1 April 2019 nanti akan berinduk pada Kementerian Industri dan Perdagangan. Kebetulan saat welcome dinner saya didudukkan dengan Menteri Indag ini, sehingga dapat langsung bertanya, “Saat perpindahan kementerian induk nanti, apa yang akan berubah (dari Council)?” Jawabnya, “Kita akan lebih titik-beratkan dukungan bagi karya-karya desain Singapura pada faktor industrinya, akan lebih digenjot sisi ekonominya, untuk dapat lebih berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan para pelaku industri desain dan seluruh stakeholders-nya.” Sekarang saja mereka sudah rapih sekali cara kerja dan tata kelolanya, badan-badan pemerintahnya kompak menjalankan tugas sesuai petajalan; apalagi dengan fokus pada industri, perdagangan, dan peningkatan aktivitas ekonomi berbasis desain dan kreativitas ini, pasti Singapura akan jauh melesat.

IMG_1013

Name tag Brainstorm Design

3bb3248c-9045-4a3b-9286-5df1635f2d53

Memberikan Buku Putih Kota Kreatif Indonesia ke Menteri Indag Singapura, yang akan mengampu DesignSingapore Council per 1 April 2019

Design Orchard

Reputasi Singapura tidak akan lepas dari Orchard Road, kawasan niaga utama yang sangat ramai dilalui orang. Tepat di tengah keramaian inilah Singapore Tourism Board membuka sebuah tempat bernama Design Orchard. Berusia baru beberapa bulan namun sudah operasional, Design Orchard memuat ruang-ruang coworking, pelatihan/ kelas, auditorium mini dan perlengkapannya. Karena diutamakan untuk sub-sektor fashion, Design Orchard ini dilengkapi pula dengan mesin-mesin jahit dengan berbagai teknik produksi, dari yang full manual, masinal, hingga digital print. Terdapat juga koleksi beragam material garmen dan contoh hasil pengolahannya. Dua lantai paling atas didedikasikan untuk belajar, berproses, bertemu, bereksperimen, dll., sementara lantai dasar menjadi etalase bagi produk & brand unggulan Singapura, terutama bagi pengusaha pemula. Tidak hanya untuk produk fashion dan aparel, tapi juga pernik perhiasan, cendera mata, hingga makanan. Disediakan juga ruang untuk pop-up cafe, dengan tema yang berganti-ganti (tema saat itu: Food & Fashion, dengan jenis makanan mulai dari sejenis ‘jajan pasar’, gulali, hingga cup cake). Khusus untuk produk fashion, terdapat fasilitas canggih: cermin tegak yang tersebar di sekitar display bukan hanya dapat memantulkan citra orang yang berdiri di depannya, namun juga dapat menjadi semacam ‘papan informasi’ digital di mana pengunjung dapat memindai kode baju yang dipegangnya untuk mencari ukuran atau warna lain, sekaligus juga untuk dapat melihat varian baju dengan model serupa. Seluruh produk yang ada di outlet ini telah melalui proses kurasi yang sangat ketat, baik dari segi kualitas material/ produk, konten, hingga kemasannya.

Tiga hal tersebut memberi kesan terdalam selama hadir di Singapura Design Week kali ini. Di akhir kunjungan, saya diminta memberikan komentar mengenai partisipasi dalam event ini. Pertanyaan yang diajukan pada saya adalah, apa persamaan dan perbedaan antara Singapura dan Bandung sebagai Kota Desain? Jawaban saya di depan kamera waktu itu harus diulang hingga 3-4 kali, jadi pasti ada frasa atau kata-kata yang tertinggal (dan entah akan disunting di bagian mana saja); lagi pula saya bukan tipe yang bisa tenang bicara versi live coverage. Untuk lebih jelasnya, begini: Singapura dan Bandung tentu saja memiliki kesamaan dalam hal kondisi cuaca dan iklim secara umum, karena sama-sama berada di wilayah tropis basah. Kedua kota ini sama-sama memiliki tantangan perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan kepadatan penduduk. Yang menjadi pembeda adalah, sebagai Kota Desain, Singapura secara formal jauh lebih terstruktur, karena pemerintahnya sadar betul bahwa Desain dan kreativitas pada umumnya telah menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan telah menjadi strategi yang krusial untuk meningkatkan pendapatan. Secara top down, Singapura jauh lebih rapih dalam menerapkan kebijakan terkait potensi Desain dan penerapannya, sehingga dampaknya dapat terukur dengan lebih valid. “Desain” di Singapura telah berhasil mewujudkan polesan negrinya luar-dalam: tampak pantas di permukaan dengan segala gegap-gempitanya, namun juga berlaku pantas di lapisan dalamnya, baik dari segi tata kelola, maupun penguatan dan penerapan kebijakan terkait pengembangan desain. Sedangkan di Bandung, inisiatif dan gerakan bottom up lebih dominan, di mana stakeholders kota – selain pemerintah – memanfaatkan desain dan daya kreativitas sebagai cara untuk mencari solusi bagi berbagai isu lokal. Aktivitas desain di Kota Bandung belum didukung kebijakan dan fasilitas yang memadai, sehingga upayanya belum terasa secara masif, apalagi dampaknya secara ekonomi. Jelas, PR Bandung sebagai Kota Desain masih banyak, untuk memperjuangkan peran Desain yang dapat berdampak luar-dalam seperti halnya di Singapura. Mari, lanjut berjuang!

Public Community Partnership

Istilah yang umum terdengar adalah Public Private Partnership/ PPP, atau rekanan antara pemerintah dan sektor swasta untuk bersama-sama mewujudkan sebuah sarana atau layanan publik. Namun bukan PPP itu bahasan di sini, melainkan Public Community Partnership, atau rekanan antara pemerintah dan komunitas, juga dengan tujuan mewujudkan sebuah sarana atau layanan publik. Kenapa hal ini jadi penting dibahas? Karena sudah terbukti, setidaknya di Kota Bandung, bahwa komunikasi dan kolaborasi dua arah antar dua stakeholders utama kota ini adalah cara terbaik untuk menjalankan program-program skala kota yang benar-benar berdampak nyata sesuai rencana.

BCCF dago public art

Salah satu intervensi ruang publik, pendirian huruf DAGO di perempatan Cikapayang (2008) dengan dana komunitas (“hidup adalah udunan”) untuk mengalihkan aktivitas negatif menjadi positif di kawasan tersebut. Karena upaya ini terbukti berhasil, tahun 2010 Pemkot Bandung mengalokasikan APBD untuk pendirian public art tersebut secara permanen.

Sebagai warga yang peduli (kalau enggan disebut sebagai “aktivis”), saya dan banyak teman termasuk yang sering protes terhadap kondisi kota. Entah bagaimana, sekitar tahun 2006-2007 itu kami di Bandung jadi sering sekali berkumpul, ngobrol ke sana kemari, atau sekarang sering disebut sebagai “nongkrong produktif”. Obrolan-obrolan itu berujung pada terjadinya berbagai aktivitas “kreatif” yang mengintervensi ruang-ruang publik, dengan maksud menyatakan protes yang sekaligus memberi solusi, dengan cara yang agak ‘vandal’ karena tidak semuanya berizin resmi. Masa itu, kami masih agak awam terhadap kinerja pemerintah; yang kami tahu hanya: “pemerintah tidak becus mengurus kota”; “pemerintah tidak pernah mendukung komunitas”; “pemerintah pura-pura tidak punya dana”; dan segala stigma yang mengasumsikan pihak pemerintah sebagai entitas birokratis nan membosankan, tidak bisa diharapkan. Sikap kami dulu bukan “memusuhi” secara frontal, melainkan mencoba menjadi oposisi kritis yang baik, sehingga masih terbuka ruang-ruang dialog dan kolaborasi dengan pemerintah, dalam beragam porsi.

BCCF baksil forestwalk

Ketika mendengar rencana perubahan satu-satunya hutan kota di Bandung menjadi restoran dan apartemen, komunitas ‘protes’ melalui pendirian ForestWalk, juga membuat artikel dan infografis mengenai manfaat Hutan Baksil dan memuatnya di surat kabar terbesar se-Jawa Barat. Hasilnya: bangunan dibatalkan, hutan tetap ada dan menjadi ruang ekspresi warga, hak membangun oleh pengembang dikembalikan ke Pemkot Bandung.

Sejalan dengan berlalunya waktu, secara perlahan kami mulai mengerti bahwa tidak semua pegawai pemerintah itu “oknum” dalam konotasi negatif; bahkan menemukan beberapa sosok yang jelas mendukung dan memihak kepentingan kami dalam protes-protes tersebut. Lebih jauh lagi, kami juga mulai mengerti bahwa pemerintah dalam melakukan pekerjaannya memiliki batasan yang ketat dalam merancang program dan anggaran: jenis kegiatan, termin pengajuan dan pencairan, dan seterusnya. Dalam proses kolaborasi bertahun-tahun ini, kami makin mengerti “bahasa pemerintah”, dan terus belajar jenis-jenis common language (yang sebagian besar memang istilah birokrasi) yang dapat dipahami oleh semua pihak.

Dan, seperti halnya komunikasi yang baik, ini berlaku dua arah. Pihak pemerintah pun berupaya untuk lebih memahami kebutuhan komunitas, terutama dalam hal-hal yang sering kami kritisi dan menjadi bahan protes. Minimal mereka tidak lagi melihat komunitas sebagai sekedar “sekelompok orang yang selalu merepotkan”, “hanya bisa protes”, dan “banyak menuntut”. Aspirasi kami mulai didengar, diperhatikan, dan diwadahi.

Kota Bandung menjadi kasus khusus ketika, selang beberapa tahun setelah “masa protes-protes” ini, seorang community leader menjadi wali kota. Beberapa aspirasi yang belum sempat terwujud dan program-prorgam komunitas dibawa ke tingkat kebijakan. Fasilitas dan layanan kota yang pernah didambakan, jadi nyata terbangun. Benar, tidak ada yang sempurna. Proses transisi antara “penyelenggaraan pemerintahan kota secara konvensional” dengan “penerapan program terobosan dan inovasi kebijakan” pun tidak selalu berjalan mulus, meskipun seluruh stakeholders telah berupaya keras untuk mewujudkannya dalam koridor peraturan yang berlaku.

Namun, harus selalu optimis dan berpikir positif, apalagi karena interaksi antara pemerintah dan komunitas makin ‘nyambung’. Hal berharga ini seharusnya dijaga dan dibiasakan ke teman-teman komunitas yang mungkin baru mengalami interaksi intensif dengan pemerintah, agar ketika dikecewakan tidak dengan mudah menguar istilah negatif seperti “dipecat”, misalkan, padahal yang terjadi adalah “kontrak tidak diperpanjang”, dan sebagainya. Everything happens for a reason. Opini publik yang terbentuk dari media sosial saat ini mustahil terbendung, sehingga hendaknya kita semua makin cerdas dalam berkomunikasi, dan makin berempati dalam menimbang segala konsekuensinya.

2018 BINUS BCCF.021

Setelah terselenggara rutin tahunan sejak 2013, workshop design thinking yang utamanya melibatkan pemerintah dan warga/komunitas, DesignAction.bdg tahun 2017 memilih tema SerendiCtiy, dalam upaya menemukan kembali pijar-pijar aktivitas komunitas kreatif di Bandung setelah sekian tahun memperoleh berbagai kemudahan dari Pemkot Bandung. Apakah mereka kembali bersembunyi, memposisikan diri tetap sebagai sub-kultur, terus mengoposisi, atau justru terbuai? Pertemuan-pertemuan tak terduga ini seharusnya tetap menjadi sumber inovasi sosial.

Di satu pihak, sebagai komunitas/ warga, kita harus selalu kritis, namun tetap mandiri dalam mengupayakan aspirasi dan terwujudnya berbagai kebutuhan, tanpa harus bergantung penuh pada pemerintah. Di lain pihak, pemerintah pun dalam proses mengurus suatu wilayah pasti memiliki indeks pencapaian yang sangat terukur, kinerja yang kredibel, serta mengalami proses pengawasan yang ketat – namun akan selalu membutuhkan masukan dari warga, agar fasilitas dan kebijakan yang disediakan dapat berfungsi dengan baik.

Public Community Partnership, yang saat memulainya tidak pernah mudah dan akan selalu menghadapi berbagai tantangan “klise”, harus terus diupayakan agar penyelenggaraan pembangunan manusia dan wilayah dapat berlangsung dengan efektif dan benar-benar nyata berdampak positif bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat. Berbagai fasilitas skala kota, baik benda maupun takbenda (kebijakan, program, dll.),  hanya akan menjadi artefak yang makin terbengkalai, tanpa hembusan jiwa dan nafas dari warganya, untuk dapat terus bertumbuh dan berkembang.

 

SENDAL: Toponimi

Mengenai SENDAL, atau Mata Kuliah Seni, Desain, Lingkungan di FSRD ITB, bisa dibaca di sini:  https://o2indonesia.wordpress.com/2018/05/14/sendal-upgraded/

190201 SENDALpakTB.001

Tahun 2018 lalu MK SENDAL mengangkat tema “toponimi”, atau penamaan daerah sesuai dengan karakter alami daerah tersebut. Tahun 2019 ini tema yang sama masih diangkat, karena masih banyak yang sebenarnya dapat dieksplorasi oleh sekitar 250 mahasiswa FSRD ini. Dosen tamu sebagai narasumber tema ini masih tetap Pak T. Bachtiar, penulis dan peneliti, Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Masyarakat Geografi Nasional Indonesia, yang telah matang malang-melintang dengan serunya di bidang ilmu kebumian, terutama di Jawa Barat; dan yang penting, beliau selalu membagi ilmunya dengan cara penyampaian yang menyenangkan. SENDAL kali ini juga masih menggandeng Karang Taruna Kota Bandung sebagai rekanan mahasiswa yang berencana mengolah kewilayahan. Seperti juga tahun lalu, sesi kuliah Toponimi ini terbuka untuk publik, dan ternyata menarik cukup banyak peminat. Tidak masalah, karena kelas SENDAL diselenggarakan di Gedung Lembaga Film Mahasiswa (LFM), atau bioskop kampus, sehingga daya tampungnya lumayan memadai.

TOPONIMI CEKUNGAN BANDUNG – TB – 1-2-2019

Inti materi yang disampaikan Pak TB adalah asal muasal terbentuknya Kota Bandung dan wilayah di sekitarnya sebagai proses alami, yang lalu, sejalan dengan waktu, menjadi wilayah hunian padat penduduk. Cara orang menamai daerah-daerah hunian ini pun biasanya berdasarkan karakter khas atau kondisi alami tiap daerah tersebut. Pesan utamanya? Bahwa kebijakan terkait pengembangan kawasan harus memperhatikan betul toponimi dan asal muasal kawasan tersebut, terutama untuk menghindari dampak fatal bila terjadi lagi perubahan permukaan bumi. Tahukah kita, bahwa Bandung itu kota yang dibangun di atas lapisan tanah endapan danau purba, yang bawahnya masih berupa massa air? Sudah siapkah warga Bandung bila suatu saat terjadi lagi pergeseran lapisan tersebut? Bagaimana upaya pertahanan hidup yang telah disiapkan, apakah pola pikir keseharian kita sudah mengarah pada kesiagaan menghadapi bencana?

Di sinilah pentingnya mahasiswa peserta MK SENDAL memahami hal-hal terkait toponimi dan kondisi relevan terkini, dan diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi atau jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan seputar siaga bencana tersebut.

=====

Sesi ini ternyata dihadiri pula oleh wartawan Pikiran Rakyat, yang kemudian menulis artikelnya di terbitan esok harinya, Sabtu 2 Februari 2019; berikut tautannya di e-paper: https://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2019/02/02/ada-sejarah-di-balik-penamaan-suatu-tempat-jangan-diacak 

PDF halaman 1 dan 10 yang memuat artikel Toponimi: 020219_10020219_01

5 Key Questions, 5 Trends, 5 Opportunities: Tom Fleming di Batam

o2fleming01

Beragam komunitas di Batam sedang menggeliat, mulai bangkit untuk turut berkontribusi nyata pada pembangunan kotanya. Salah satu gejalanya nampak di akhir pekan ini, 19-20 Januari 2019, dengan terselenggaranya Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai stakeholders, dengan tajuk Batam for Creative and Educational Tourism? Potential mapping, connecting resources. Salah satu narasumber, Tom Fleming, konsultan asal Inggris yang telah bekerja sama dengan banyak kota kreatif di Asia Tenggara, menyampaikan materinya berjudul 5 Key Questions, 5 Trends, 5 Opportunities melalui video; yang inti kontennya terpapar berikut ini.

o2fleming04o2fleming03

Tom Fleming merekomendasikan strategi jangka panjang untuk pengembangan kota berbasis komunitas. Terdapat lima pertanyaan yang dapat menjadi acuan dari FGD ini, dan jawabannya dapat menjadi konsensus warga/ komunitas Batam dalam mengembangkan kotanya.

  1. Jenis ekonomi apa yang akan dilaksanakan? Apakah kreativitas? Turisme? Industri Kreatif? Atau terfokus pada skala kota?
  2. Sekuat apakah kemitraan yang ada? Kesadaran akan hal ini penting untuk menentukan tingkatan kerja sama, sekaligus membangun kepercayaan. Diperlukan juga kemitraan yang dapat menampung suara dari kaum muda.
  3. Seperti apa talent pipeline yang ada? Apakah ada jalur pasokan yang kuat dari, misalkan, perguruan tinggi? Apakah talenta yang ada memiliki kekhasan tertentu?
  4. Apa saja sektor-sektor kunci yang ada? Adalah penting untuk menentukan posisi Batam terhadap kota-kota lain dengan kondisi serupa; juga untuk menentukan pasar potensial.
  5. Apa baseline yang dimiliki? Pendekatan strategis apa yang akan diterapkan untuk ekonomi? Apakah ada pertanyaan-pertanyaan kreatif yang dapat diajukan? Jejaring dan benchmark apa yang relevan; bagaimana dengan Indonesia Creative Cities Network (ICCN)?

Tom juga menyampaikan tren yang sedikit banyak dapat menjadi referensi dalam menentukan strategi.

  • Gig Economy: kecenderungan pola pekerja lepas atau freelance, yang memiliki ciri bekerja per proyek, dan berdaya wirausaha
  • Kebangkitan kota-kota sekunder: makin bertumbuhnya peran kampus-kampus, dan penciptaan kualitas hidup yang lebih intim
  • Punahnya pola pemisahan dan munculnya pola persekutuan (convergence): penciptaan lingkungan yang kolaboratif menjadi sangat penting; juga cara untuk mendekati beragam bakat dan keterampilan
  • Pertumbuhan televisi dan permainan (gaming) yang makin pesat: coba untuk berbagi dalam sektor-sektor ini; sehingga diperlukan juga pra/sarana pendukungnya seperti bandwith yang tinggi, dsb.
  • Industri kreatif, sektor seni dan budaya: perlu terus direformasi dan didukung sepenuhnya, karena telah menjadi salah satu modal utama pengembangan komunitas dan SDM

Sebagai penutup, ia menyarankan untuk mengembangkan pendekatan berbasis bukti nyata, dengan kata-kata kunci: kolaboratif, strategi, holistik, kekuatan individu untuk place-making (perkuat simpul-simpul!), dan miliki pandangan jangka panjang (adaptasi cara kerja dengan pergerakan, dan dengan mesin dan teknologi).

o2fleming02

Kota yang Berpihak pada Manusia [4]

Global Social Economy Forum (GSEF) tahun 2018 diselenggarakan tanggal 1-3 Oktober di Bilbao, Spanyol. Bandung Creative City Forum (BCCF) yang telah menjadi anggota penuh GSEF sejak tahun 2014 menghadiri general assembly sekaligus konferensi GSEF bertema Kota dan Ekonomi Sosial. Sesuai dengan nama organisasinya, GSEF menampilkan beberapa pemerintah kota, organisasi dan komunitas, yang masing-masing mengutarakan komitmen dan strateginya untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berdampak pada kesetaraan sosial. Contoh-contoh kasus yang dipaparkan memiliki kata-kata kunci seperti pembangunan partisipatif, kolaborasi, solidaritas sosial, dll., dengan penekanan pada generasi muda sebagai pelaku utama.

  1. Siapakah pemilik kota? Kepemilikan kolektif menjadi gagasan bersama, terhadap ruang, pengetahuan, cara menjalankan pemerintahan, dsb. hingga terbentuk sebuah pemerintahan “hibrid” (contoh: di Bologna terdapat sebuah pakta antara pemerintah dan warga untuk mengelola ruang atau bangunan), sehingga pendanaan partisipatif menjadi sebuah otonomi bagi semua, bukan hanya bagi para voters.
  2. Kekuatan perubahan-perubahan kecil yang positif jangan sampai luput dari perhatian, karena hal inilah yang memberdayakan masyarakat luas, dan dapat digandakan untuk mencapai perubahan yang lebih besar.
  3. Kesesuaian antara kepemimpinan dan kebijakan; investasi pada warga untuk bergerak, dan pada perguruan tinggi & penelitian untuk dapat berperan lebih.

Creative Industries Federation International Summit diselenggarakan di London, 9 Oktober 2018. Federasi ini dibentuk oleh sekelompok pelaku industri kreatif di Inggris, dan sebelumnya telah menyelenggarakan summit tingkat nasional, yang membahas hal-hal seputar industri kreatif dalam kaitannya dengan kebijakan, politik, bisnis, dsb. Di summit kali ini, dalam format talk show, dibahas tema-tema: Kreativitas dalam Era Ketidak-pastian, Masa Depan Pekerja Kreatif, Masa Depan Konsumen Kreatif, Dapatkah Desain & Kreativitas Menyelamatkan Dunia?, dan Masa Depan Perkotaan (apa peran industri kreatif terhadap kota?).

Salah satu sesi diisi oleh British Council yang memperkenalkan program Developing Inclusive Creative Economies (DICE) yang dijalankan di 9 negara, dengan narasumber dari Nesta dan Bandung, yang memaparkan contoh peran industri kreatif, dan kreativitas pada umumnya, sebagai solusi skala kota (bagaimana peran Inggris/ melalui BC dan apa yang dapat dipelajari dari contoh tersebut).

  1. “Wali kota malam” merupakan sebuah tren global, dimulai dari Amsterdam, berlanjut ke Berlin, New York, Helsinki, dll. hingga London, yang dijuluki Night Czar. Keberadaan wali kota malam ini penting untuk dapat mengelola dan menjaring peristiwa budaya, terutama yang makin meredup (seperti pertunjukan musik di kelab malam).
  2. Merancang pendidikan: kini yang dicari adalah manusia, bukan klasifikasi; manusia yang dapat berpikir secara kreatif & analitis.

World Conference on Creative Economy (WCCE) yang diinisiasi oleh Bekraf, pada kali pertamanya ini diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, setelah 2x preparatory meeting yang diselenggarakan di Bandung (2017) dan Jakarta (2018).

  1. Dunia kini makin: kompetitif (diperlukan keterampilan ekstra dan jejaring), ekstrim (kemanusiaan menjadi tidak terlalu terlihat); berbahaya (perang “info”, namun ada hingga 5.000 berita palsu per tahun di Indonesia); dan saling terhubung (dan kolaboratif).
  2. Untuk dapat menjawab tantangan global, kita harus: menyatukan perspektif yang berbeda dan menghilangkan ‘kelompok-kelompok’ (silo); menghargai pemerintah dan ambisi kreatif; berhubungan dan aktif dalam platform-platform yang mengutamakan inovasi berdasarkan kebutuhan manusia dan lingkungan.

Sebenarnya, tentu saja, masih banyak hal yang dapat ditarik dari berbagai pertemuan ini; terutama contoh-contoh terbaik di mana kreativitas dan visualisasi ide, serta perwujudan prototytpe bagi gagasan yang bersifat solutif, memegang peranan penting bagi pembangunan skala kota. Seluruh contoh mensyaratkan adanya sekelompok (atau lebih) komunitas yang berdaya kepemimpinan, mampu memahami konteks, dan mengarahkan empati serta aktivitasnya pada berbagai tantangan di lingkungan terdekatnya — di belahan bumi mana pun mereka berada.

Kota yang Berpihak pada Manusia [3]

kotamanusia3a

Smart City Expo merupakan sebuah rangkaian acara yang berasal dari Barcelona, lalu kemudian diselenggarakan di negara-negara lain; kali ini di Jaipur, India, 26-28 September.

  1. Saat pembukaan, Muppavarapu Venkiah Naidu, Wakil Presiden India, menghimbau pengembangan layanan yang berpusat pada warga (citizen-centred services), dan bahwa “kota cerdas” memerlukan pemimpin dan leadership yang juga cerdas.
  2. Internet of Things (IoT) bukan selalu berarti benda-benda baru; melainkan bagaimana dengan fasilitas digital/ berbagai peralatan ‘canggih’ pemerintahan dapat melayani wilayah rural.
  3. Menurut Wali Kota Barcelona, “Kota Cerdas” adalah yang dapat membuat semakin banyak warga mau menari di jalanan kota. How would “smart city” make more people dancing in the streets of Barcelona?
  4. Pemerintahan pasti memiliki agenda politik untuk kota. Tantangan untuk pemerintah kota cerdas: bagaimana menyatukan generasi muda dan para pengusaha pemula, untuk memecahkan masalah dan berpotensial mendapatkan penghasilan dari hal terebut.
  5. Bagaimana karakteristik rekanan antara pemerintah dengan swasta? Harus transparan terhadap open data: siapa yang berhak mengakses, dan bagaimana cara pemanfaatannya; mulai dari bentuk command centre, simpul-simpul inovasi, penciptaan nilai untuk layanan yang lebih baik, hingga menguangkan data individu (dan etika di baliknya).
  6. 50% pekerjaan di masa depan belum tercipta. Diperlukan ilmu urban dan sekolah mengenai kota untuk mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan ini.
  7. Digitally-enabled everything: Connectivity, Citizen services, Collaboration in education. Pada intinya, seluruh fasilitas teknologi digital masa kini harus dapat bermanfaat bagi keterhubungan antar manusia, layanan publik, dan kolaborasi dalam pendidikan.
  8. Pelajaran utama: digital harus berkonteks lokal untuk dapat mentransformasi pemerintahan; partisipasi masyarakat dalam perencanaan masih jauh dari kenyataan; data bukanlah keputusan melainkan dipergunakan untuk efisiensi implementasi (kebijakan).
  9. Smart Cities 2.0 = learn – unlearn – collaborate – disrupt.
  10. Kota utamanya adalah mengenai manusia dan makhluk organis lainnya, sehingga solusi juga harus bersifat organis, baik dalam hal teknologi dan sistem, hingga relevansi dan penyesuaiannya dalam konteks yang dibutuhkan.
  11. Smart Cities atau Smart People? Smart Cities mengacu pada akses terhadap layanan kota yang mendasar, Smart People mengacu pada mengadopsi cara baru dalam berkehidupan.
  12. Teknologi saja tidak akan dapat menjamin masa depan; perang gagasan bukanlah mengenai memprioritaskan hal yang satu di atas yang lain, melainkan mengenai peluang bagi warga untuk menyuarakan dirinya, untuk didengar, direkam, dan difasilitasi. Inilah “Smart”.
  13. Tren global yang mengubah lansekap kota: urbanisasi kilat terkait dengan pergeseran ekonomi, perubahan demografi sosial, dan tantangan lingkungan serta keterbatasan sumber daya.
  14. Smart City bukanlah mengenai permainan teknologi, tetapi bagaimana layanan dapat disampaikan dengan lebih cepat dan lebih murah; untuk menciptakan pengalaman (sebagai warga) yang lebih bermakna, dengan pendekatan berbasis teknologi yang berpusat pada warga.
  15. Smart City is a journey to more happy, resilient, and liveable cities. Budaya urban menuntut komunitas yang cerdas dan saling terhubung.
kotamanusia3b

It’s not about prioritising one over another – but allowing citizens to have voice, to be heard, recorded, addressed.

Wacana Kota Cerdas yang ditawarkan dalam Smart City Expo di Jaipur ini agak berbeda dari yang diselenggarakan di negara-negara industri maju. Biasanya sebagian besar membahas kecanggihan teknologi dalam sebuah sistem masyarakat yang sudah sangat teratur dan dapat diprediksi, dengan penegakan hukum yang sudah mapan. Kali ini lebih ditekankan pada hubungan urban-rural, dan bagaimana teknologi dan manusia di belakangnya mengarahkan potensi yang ada demi tercapainya kesetaraan sosial.

Gagasan utama ini sejalan dengan konsep DesignAction.bdg (DA.bdg) 2015, ketika tema “smart city” diangkat, sehubungan dengan gencarnya Pemerintah Kota Bandung saat itu menyediakan fasilitas berbasis teknologi digital dan menggunakan platform internet. Sehingga DA.bdg 2015 dengan tema ConnectiCity mengangkat “kota cerdas” bukan terkait dengan kecanggihan alat, melainkan bagaimana alat & potensi yang ada dapat menghubungkan warga dengan pemerintah, warga dengan kebijakan, dan antar warga & komunitas. Semua kembali pada manusianya. [berlanjut…]

Kota yang Berpihak pada Manusia [2]

[lanjutan]

kotamanusia2a

Sustainable Human City Design Conference: Designing Cities for Better Lives, Seoul, 17-18 September 2018

Tanggal 17-18 September 2018 lalu diselenggarakan Sustainable Human City Design Conference: Designing Cities for Better Lives sebagai bagian dari Seoul Design Cloud/ Seoul Design Week di Seoul, Korea. Konferensi ini dikuratori oleh Kota-kota Desain UNESCO, St. Etienne dan Nagoya, yang kemudian mengundang Kota-kota Desain UNESCO lainnya untuk berpartisipasi aktif, baik dalam pameran, sebagai pembicara konferensi, maupun sebagai narasumber dalam workshop yang difasilitasi oleh Seoul Design Foundation. Berikut ini beberapa hal yang tercatat dari event ini.

  1. Won Soon Park, yang kembali terpilih menjadi Wali Kota Seoul setelah jeda satu periode, memiliki konsep meningkatkan kualitas hidup melalui Desain dan Kota, antara lain dengan menginterpetasikan kembali budaya tradisional sehingga relevan dengan dengan kebutuhan dan gaya hidup masa kini.
  2. Identitas (city branding) I SEOUL U, yang secara pribadi sebenarnya tidak terlalu disukai wali kota, mendapatkan suara terbanyak dari masyarakat. “Desain yang baik”, dalam hal ini, adalah yang memperoleh konsensus dan menjadi pengetahuan kolektif. Warga Seoul kini dapat terus berpartisipasi melalui situs democracy.seoul.go.kr
  3. Pada masa kini, adalah penting untuk menjadi/ berpikir seperti social designer. Kebijakan Kota Seoul diarahkan untuk menjadi socially innovative city.
  4. Konteks urban menjadi lebih menantang. Users/ pengguna hasil desain kita kini adalah masyarakat umum. Dongdaemun Design Plaza (DDP) menjadi sebuah fasilitas untuk menciptakan masyarakat berbasis desain.
  5. Paola Antonelli, kurator senior di Departemen Arsitektur & Desain dan direktur R&D MOMA di New York, menyampaikan bahwa “warga” adalah sebuah status penting, yang berarti menjadi peserta dalam demokrasi dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat. Warga harus diberdayakan, termasuk untuk menjadi para desainer yang berpengaruh kuat.
  6. Wali kota yang juga arsitek biasanya banyak berperan, terutama melalui fasilitas dan infrastruktur skala kota (contoh: Curitiba dengan laboratorium studi kota, Bogota dengan taman dan ruang-ruang pejalan kaki, Medellin dengan gondola yang memberikan kesempatan bagi warga miskin untuk bekerja di area komersil di kota, Mexico City dengan laboratorium kota).
  7. Memanfaatkan, berbagi, dan menandai kota adalah sebuah intervensi di mana warga dapat meninggalkan identitasnya di sudut-sudut kota (dalam bentuk, misalkan, laser grafitti tagging, 100 chairs project, menyimpan aroma sebuah kawasan, membuat pemetaan konsentrasi wisatawan vs warga, dll.), menjadikan kota sebagai “miliknya”.
  8. Desain dapat dimanfaatkan sebagai media untuk memprotes kondisi kota, bagi warga untuk dapat ‘membantah’ pemerintahnya (contoh: Wall Street 2011, Brazil 2013, Istanbul 2013, Bahia Shehab 2013, Seoul 2016).
  9. Marc Chassaubene, Wakil Wali Kota St. Etienne: kota menjadi sebuah ruang inovasi sosial, antara lain melalui gerakan desentralisasi budaya; art as a driving force.
  10. Josyanne Franc, focal point St. Etienne untuk UNESCO Creative Cities Network (UCCN): menciptakan sebuah kota yang sesuai dengan masa kini, memerlukan desainer dan arsitek sebagai mediator.
  11. Solusi bagi kota dan masyarakat adalah inisiatif bottom-up, yang didukung oleh kebijakan dan pendanaan.
  12. Eriko Esaka, focal point Nagoya untuk UCCN: pengembangan kota kreatif yang didukung oleh humanisme bernama “Desain”.
  13. Jepang dengan proporsi penduduk 28% berusia di atas 65 tahun mengalami banyak perubahan: dalam nilai, keluarga dalam berbagai bentuk dan ukuran. Rumah-rumah di kota besar seperti Tokyo mengalami kekosongan hingga 15,8% – ada sekitar 800,000 rumah yang ditinggalkan pemiliknya. Sehingga terdapat sebuah ruang komunikasi baru, seperti Laundry Cafe, di mana warga berusia lanjut dapat bertemu untuk mencuci bajunya sekaligus minum kopi dan berinteraksi dengan sesama pengunjung yang juga menunggu baju selesai dicuci.
  14. Sebuah festival oleh komunitas dapat menjadi kekuatan komunitas: sebuah peristiwa untuk menemukan kekayaan budaya sebuah kawasan, mengubah kehidupan keseharian warga lokal dan komunitas, serta menjadi “pohon terbesar” yang dapat melindungi “hutan budaya” dalam sebuah ekosistem budaya.

Sustainable Human City Design Conference ini ditutup dengan workshop yang difasilitasi oleh Soul Design Foundation, di mana seluruh pesertanya terbagi dalam tujuh tema, dan hasilnya menjadi masukan bagi DDP.

  1. Designing Town
  2. Designing Street
  3. Street Food & Design
  4. Dongdaemun, towards A Vibrant City
  5. A way to memorise the history of Dongdaemun (DDP Tour)
  6. DDP & Universal Design
  7. Fashion Infrastructure

Berikut ini dokumen mengenai Sustainable Human City Design Conference dan 2018 Seoul Design Cloud:

sustainablehumancitydesignconfernece(whitebook)

2018seouldesigncloud(whitebook)

kotamanusia2b

Dengan sekian banyak lagi contoh dari Kota-kota Desain UCCN, makin jelas bahwa pengembangan kota-kota tersebut mengutamakan partisipasi warga, dengan kebijakan dan fasilitas yang juga berupaya mewadahi karakteristik kebutuhan warga.

Kota Bandung pun tidak jauh dari hal-hal tersebut, dengan beragamnya inisiatif warga dalam membentuk kotanya. Hanya saja diperlukan komunikasi yang lebih intensif, dan sistem kerja sama dengan struktur yang lebih solid, antara warga, komunitas, dan pemerintah. [berlanjut…]