Category Archives: creativity

Think Globally Eat Locally

Aurora Revianissa

Pernahkah kita berpikir saat memakan makanan impor kita sudah menyumbang satu “dosa” untuk menghancurkan bumi?

Pemerintah melakukan impor bahan makan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Ironis memang, hal ini dilakukan oleh negara kita yang notabene memiliki lahan yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat ketahanan pangan Indonesia yang seperti ini, kita perlu khawatir dengan nasib pertanian Indonesia di masa mendatang. Hal lain yang perlu menjadi sorotan adalah berkurangnya jumlah petani dari tahun ke tahun. Petani mulai beralih profesi pada bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kondisi demikian membuat impor makanan menjadi tidak terelakkan.

Makanan impor mengalami perjalan panjang sebelum terhidang di atas meja makan kita. Bayangkan berapa jauh jarak perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut, pesawat, kereta,dan truk yang dilakukan oleh makanan impor untuk sampai ke tangan konsumen. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin besar efek negatif yang disumbangkan untuk bumi.

Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), 30% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor agrikultur dan produksi makanan, termasuk proses impor makanan. Proses impor makanan yang menggunakan pesawat menghasilkan emisi bahan bakar pesawat yang menyumbang jutaan ton gas CO2 ke udara dan mempengaruhi global warming.

(sumber: ayoeatlocal.com)

(sumber: ayoeatlocal.com)

Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu solusi adalah dengan memakan hasil pangan produksi daerah sendiri. Disebutkan dalam Nation Master data di tahun 2008 Indonesia memiliki 47,89 juta petani dan masih memiliki lahan suboptimal untuk pertanian seluas 25,82 hektar. Jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, ketahan pangan Indonesia tentu akan meningkat baik. Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat bersama adalah dengan menjadikan makanan lokal sebagai sumber utama bahan makan konsumsi rumah tangga. Peran petani lokal kembali diposisikan sebagai pahlawan dalam pergerakan ini. Namun kendala awal untuk kembali menggunakan bahan pangan lokal adalah tidak ada rasa percaya terhadap produk lokal itu sendiri dari masyarakat. Petani pun sebagian besar masih menggunakan sistem distribusi konvensional melalui tengkulak yang dinilai lebih menguntungkan. Tidak bertemunya kebutuhan konsumen dan kepentingan produsen memerlukan sebuah inovasi kreatif untuk memecahkan masalah ini seperti yang dilakukan oleh Agritektur.

Agritektur adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok masyarakat kreatif memiliki visi peningkatan konsumsi produk pangan lokal dalam upaya penurunan konsumsi makanan impor. Agritektur bergerak sebagai wadah antara konsumen dan produsen. Komunitas ini menjalin kemitraan dengan petani lokal khususnya daerah wilayah Bandung. Agritektur berpendapat bahwa dengan memperpendek jalur distribusi bahan pangan, akan mengurangi emisi karbon dan juga memutus rantai distribusi yang merugikan petani.

Agenda rutin yang dilakukan oleh Agritektur adalah Parappa (Pasar Rakyat para Petani), table to farm dan camp on farm. Jika diperhatikan, konsep dari Parappa merujuk pada pasar petani yang biasa berada di negara Eropa. Produk hasil pangan petani Bandung (daerah Ciburial), dibawa langsung ke daerah perkotaan untuk langsung dijual ke konsumen. Komoditas yang dijual pun tidak biasa di temukan di pasar tradisional, seperti rosemary, oregano, lemon balm, stevia yang bisa ditemukan dalan polybag dalam kondisi tunas siap tanam petik dan sayur mayur organik dengan harga yang lebih murah dari pada harga sayur di pasaran. Agritektur berupaya menggunakan zero waste management untuk mengolah komoditas yang tidak habis terjual. Bahan –bahan ini kemudian diolah menjadi selai, jus, makan olahan lain dan tidak terbuang percuma. Agritektur menggandeng desainer-desainer muda untuk merancang visual branding mereka. Konsep visual komponen grafis sampai packaging dan penyajiannya, Agritektur ditampilkan dengan konsep fresh, clean, neat and friendly yang menimbulkan kesan kekinian, cocok untuk sasaran masyarakat urban. Branding ini bertujuan untuk menghilangkan kesan “kampungan” pada produk lokal yang menjadi komoditi dagang. Di Parappa pembeli bisa berkonsultasi langsung dengan petani dalam mengkonsultasikan baik tanaman tanam mau pun sayur-mayur yang diperdagangkan.

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Pada September 2014, Agritektur melakukan kampanye mandiri #AyoEatLocal dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi hasil pangan lokal di Jakarta agar semakin global. Kampanye ini bertujuan untuk memajukan petani dan menjaga lingkungan melalui pembelian dan pengkonsumsian bahan pangan segar lokal. Target pasar Agritektur adalah masyarakat menengah perkotaan. Perkembangan ekonomi Indonesia yang didominasi masyarakat menengah merupakan potensi untuk mengembalikan kejayaan ketahanan pangan Indonesia. Mendukung dan menghargai hasil pangan lokal dapat menjadi andil kecil dalam menjaga keberlangsungan pasokan pangan dan kelestarian lingkungan. Inovasi kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan tidak melulu harus dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat intelejensi tinggi dan dengan modal tinggi. Inovasi dimulai dengan langkah kecil namun disertai hasrat untuk terus berkegiatan akan menwujudkan ide dan inovasi yang besar.

Ketika Budaya Silaturahmi Menjadi Budaya Limbah

Amanda Fauziah

BUDAYA LIMBAH

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika telah melahirkan berbagai macam budaya yang berkembang secara meluas dalam masyarakat. Kemajemukan budaya ini secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk lebih peka dan toleransi terhadap sesama. Kebiasaan ini telah ditanamkan sejak kita masih anak-anak, mulai dari konsep gotong royong, sikap saling menghargai terhadap umat beragama, serta budaya silahturahmi. Tradisi ini sangat mudah diamati dalam berbagai macam acara hajatan yang dilangsungkan oleh masyarakat, seperti prosesi pernikahan, khitanan, syukuran kehamilan, aqiqahan, 40 hari meninggalnya seseorang, dan berbagai hajatan lainnya. Kegiatan hajatan merupakan acara yang sangat identik mengundang tamu secara massal dengan proses pemberian kartu undangan sebelum acara dilangsungkan. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Walaupun terkadang telah disampaikan secara lisan, namun kurang lengkap dan “kurang bergengsi” rasanya jika tidak dilengkapi dengan kartu undangan.

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

Di balik suburnya tradisi ini, sebenarnya bangsa kita telah membentuk suatu budaya baru, yakni budaya limbah. Mengapa limbah? Karena setelah dibaca kartu undangan ini sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kegunaan lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kartu undangan ini akan berakhir di tempat sampah. Dari setiap acara hajatan yang dilangsungkan paling sedikit kiranya terdapat 100 undangan yang disebarkan. Ini berarti dari setiap hajatan telah dihasilkan limbah kertas sebanyak kartu undangan yang disebarkan pada tamu-tamu tersebut. Di samping itu, setiap orang dari sejak di kandungan, lahir, hingga kematiannya menggelar sedikitnya enam hingga delapan acara hajatan. Belum lagi jika keluarga penyelenggara adalah keluarga yang berada dan terpandang. Tentunya angka 100 undangan tersebut tidaklah berlaku lagi. Hitungan berikutnya mungkin sudah mulai memasuki kelipatan ribuan. Bayangkan saja, selama masa hidupnya seseorang telah menghabiskan berapa ribu limbah kertas dari sekedar sebuah hajatan? Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bakal meledak hingga mencapai angka 300 juta jiwa pada 2015 (Tempo.co). Maka jika satu orang saja telah menghabiskan enam hingga delapan ribu kertas selama masa hidupnya, bagaimana dengan 299 juta jiwa penduduk Indonesia lainnya?

Perlu diketahui bahwa limbah kertas memiliki dampak yang luar biasa buruk terhadap lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan kertas kita tiap tahun, dikutip dari http://green.kompasiana.com.

  1. Penebangan hutan yang berlebih; jelas ini dampak yang paling bisa dirasakan akibat pabrik kertas, karena kebanyakan di Indonesia pabrik kertas masih menggunakan bahan baku kayu. Padahal sekarang ini keberadaan pohon sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global.
  2. Pencemaran air; dalam proses pembuatan kertas dibutuhkan jumlah air yang sangat banyak dan setelah proses tersebut air itu akan dibuang. Limbah cair inilah yang memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar pabrik, meskipun pada beberapa pabrik sudah memberikan treatment khusus agar pada saat dibuang sudah tidak mengandung bahan berbahaya lagi, namun kesalahan prosedur masih mungkin terjadi. Dan jika limbah langsung dibuang ke sungai maka akan membahayakan masyarakat di sekitar sungai.
  3. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar; hal ini dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk hidup di perairan sungai dan dapat mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrata yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan.
  4. Sludge pabrik kertas yang dibuang ke kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari tanah, air dan udara.

Ditambah lagi, biasanya undangan selalu dilindungi dengan sampul plastik pada bagian luarnya. Sehingga selain limbah kertas, pada setiap hajatan juga dihasilkan limbah plastik yang tidak kalah jumlahnya. Bungkus plastik dari undangan ini juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah lingkungan, di mana bahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat diuraikan secara sempurna oleh bumi. Perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini. Tidak membanggakan rasanya jika budaya dan tradisi yang telah menjadi ideologi bangsa Indonesia ini kemudian berkembang menjadi budaya limbah.

DESAIN BERKELANJUTAN

(sumber: bisnisukm.com)

(sumber: bisnisukm.com)

Fenomena ini mungkin cukup sederhana dan seringkali luput dari perhatian. Tetapi budaya limbah ini perlu diperhatikan secara serius karena dampaknya yang sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Diperlukan sebuah desain berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Desain berkelanjutan dapat dipahami sebagai desain untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati manusia (Priyoga, 2010). Dalam hal ini, menggunakan sumber daya alam terbarukan adalah salah satu solusi yang dapat dikembangkan. Seperti misalnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam atau bahan-bahan daur ulang sebagai material utama kartu undangan. Jika pun akan menggunakan limbah kertas maka diusahakan menggunakan 100% limbah kertas asli/serat papan bersertifikat National Association of Paper Merchants.

(sumber: arangbambo.wordpress.com)

(sumber: arangbambo.blogspot.com)

Tentunya gerakan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pemanfaatan limbah dan keberlanjutan lingkungan, sebab semakin besar acara hajatan yang berlangsung, semakin banyak para tamu yang diundang, maka semakin banyak pula kartu undangan yang dibutuhkan. Dampak dari hal ini adalah limbah yang didaur pun akan semakin banyak sehingga pada akhirnya lingkungan pun menjadi semakin sehat. Bahkan ketika kartu undangan versi “alam” ini menjadi limbah tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan karena akan lebih cepat dan lebih mudah terurai. Selain alternatif material, dapat juga disiasati dengan desain kemasan kartu undangan yang multifungsi. Sehingga setelah pesan penyelanggara hajatan tersampaikan, kartu undangan tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dengan fungsi yang berbeda. Walaupun konsep-konsep tersebut di atas masih tidak lazim dilakukan oleh masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita atau keluarga sendiri. Bukankah memulai sesuatu yang baru akan menjadi pembeda acara hajatan kita dengan acara hajatan pada umumnya? Bahkan acara hajatan yang dilangsungkan dapat lebih menarik bagi orang kebanyakan karena konsep kartu undangannya yang unik. Untuk itu mari bersama-sama kita berantas budaya limbah di Indonesia dan selamatkan bumi kita bersama!

 

REFERENSI

Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).

Yuliastuti, D. (2011). 2015, Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Mencapai 300 Juta. Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/09/27/060358499/2015-Jumlah-Penduduk-Indonesia-Bisa-Mencapai-300-Juta

Food Truck VS Café dan Restoran, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Zita Nadia

Jika membicarakan mengenai kuliner, telinga kita sudah tidak asing lagi tentunya dengan Bandung. Bandung dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia ini, tidak lepas dari tujuan wisata kuliner yang tersebar di kota ini. Mulai dari warung, café, dan restoran yang tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Ada sebuah fenomena kuliner baru yang muncul di tengah-tengah kota Bandung, yaitu fenomena food truck. Food truck mulai marak di Bandung sekitaran tahun 2013, kini food truck sudah menjadi alternatif bagi warga kota Bandung. Akan tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah food truck memberikan dampak yang lebih buruk bagi lingkungan jika dibandingkan dengan restoran? Ataukah justru restoran yang memiliki dampak yang jauh lebih buruk bagi lingkungan?

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Apakah Food Truck itu?

Food truck atau kedai makanan adalah salah satu cara untuk menjual makanan, dengan menggunakan truck kecil sebagai media untuk berjualan makanan. Food truck biasa berjualan di tempat tertentu selama beberapa saat, mereka bisa dianggap sebagai bisnis kuliner yang menghampiri pelanggan mereka. Food truck berasal dari Amerika Serikat, kegiatan ini sudah berlangsung dari awal abad ke-17. Seiring dengan perkembangan zaman, food truck mulai masuk ke kota besar di Indonesia,pada tahun 2012-2013, food truck mulai bermunculan di Kota Bandung. Ada beberapa food truck yang dikenal di Bandung, di antaranya adalah, Four Speed Nomad, Roti Pagi, Whatever Combi dan beberapa food truck lainnya. Maraknya food truck di Bandung pada saat ini, menjadi inspirasi adanya event Bandung Food Truck Festival pada 27 Februari- 1 Maret 2015 lalu, hal ini menunjukkan bahwa, food truck sudah menjadi salah satu tujuan kuliner bagi warga kota Bandung.

Mana yang Lebih Hemat Energi? Food Truck atau Café dan Restoran?

Jika melihat secara sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa food truck akan mengkonsumsi energi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan café dan restoran. Akan tetapi, perlu kita lihat, food truck memang menggunakan konsumsi bensin sebagai bahan bakar mereka, apalagi di Indonesia masih sulit ditemukan food truck dengan bahan bakar yang ramah lingkungan.Sedangkan untuk café dan restoran menggunakan gas lebih banyak jika dibandingkan dengan food truck. Penggunaan bahan makanan yang digunakan oleh Food Truck atau Restoran dapat mempengaruhi carbon footprint yang mereka punya,semakin banyak variasi menu, dan menu impor yang dimiliki, maka akan semakin besar sumbangan emisi karbonnya. Dalam hal penggunaan listrik dan air, food truck jauh lebih sedikit untuk menggunakannya, karena dari ruangan yang dimiliki oleh food truck jauh lebih kecil karena keterbatasan ruang dibandingkan dengan café dan restoran.

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Untuk membuktikan observasi dilakukan dengan 2 food truck ,2 restoran dan 1 café yang memiliki konsep berbeda. Food truck yang diobservasi adalah Roti Pagi, dan Susu Murni Dipati Ukur (SuMur DU). Roti Pagi beroperasi pada pagi sampai sebelum tengah hari, dia memiliki 1 ruangan, tidak menggunakan lampu sama sekali, dan menggunakan kompor 2 tungku. Dalam segi menu, Roti Pagi hanya memiliki 4 menu sandwich dan 3 minuman. Sedangkan untuk SuMur DU, menggunakan kompor kecil, 2 buah lampu,dan hanya beroperasi pada malam hari. Untuk menu mereka hanya memiliki susu dan tidak memiliki menu makanan. Untuk restoran dan café , yang diobservasi adalah Karnivor, Kantin Tong-Tong dan Café DU71-a.

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Karnivor memiliki lahan yang cukup besar, setiap meja dilengkapi dengan lilin, dan lampu. Pada saat observasi jam 5 sore seluruh lampu telah dinyalakan. Karnivor memiliki toilet yang terpisah antara pria dan wanita. Untuk menu, ia memiliki lebih dari 10 jenis menu,mayoritas terdiri dari daging, dan terdapat beberapa menu dalam ukuran besar. Karnivor beroperasi dari jam 11.00-21.00. Sedangkan Kantin Tong-Tong memiliki ukuran tempat yang kecil (hanya seperempat dari luas karnivor), tidak memiliki toilet, lampu dinyalakan pada malam hari, karena saat pagi memanfaatkan cahaya matahari. Untuk variasi menuyang dimiliki bernuansa Indonesia. Café DU71-a, sebuah café kecil, namun lebih besar dari kanting tong tong. Terdiri dari area indoor dan outdoor, memiliki 1 toilet unisex, lampu yang ada lebih sedikit daripada yang digunakan karnivor. Hal yang perlu dicermati adalah, setiap meja memiliki colokan listrik bagi para pengunjung. Jika melihat hasil observasi, food truck yang ada jauh lebih hemat dalam soal penggunaan energi, karena restoran dan café memiliki potensi lebih boros energi. Dengan semakin besarnya ukuran restoran tersebut, dan variasi menu yang jauh lebih banyak juga dapat memicu carbon footprint yang jauh lebih besar. Jadi dari hasil observasi dalam soal energi, food truck masih lebih ramah lingkungan.

Limbah yang Dihasilkan Food Truck Dibandingkan dengan Café dan Restoran

Jika membicarakan mengenai sampah, kita bisa memperkirakan dari peralatan makan dan jumlah pengunjung yang datang. Roti Pagi menggunakan tatakan kayu yang diberikan kertas tipis dan gelas kertas, tatakan kayu bisa digunakan kembali namun sisanya harus dibuang, jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. SuMur DU, menggunakan gelas dan sedotan. Gelas kaca dapat digunakan berulang kali, dan jumlah pengunjung cukup banyak. Kantin Tong tong, Karnivor dan DU71-a, semuanya menggunakan peralatan makan yang bisa digunakan kembali, sehingga mengurangi jumlah limbah, ketiga tempat ini ramai didatangi, namun yang paling ramai adalah Karnivor. Jika melihat sekilas dari segi alat makan, restoran jauh lebih baik karena menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali, namun limbah makanan akan bertambah banyak seiring dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang, dan restoran jauh lebih berpotensi memberikan limbah yang lebih banyak.

Jadi,Manakah yang lebih Ramah Lingkungan? Dan Solusi Desain Apa yang Dapat Ditawarkan Untuk Menjadi Lebih Baik bagi Lingkungan?

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Dalam segi penggunaan energi, dari hasil observasi food truck dapat dikatakan lebih hemat dari restoran, apalagi jika restoran tersebut berukuran besar dan ramai. Ramah lingkungan atau tidak, industri makanan sangat bergantung dari konsep yang dimiliki. Restoran, café dan food truck memiliki potensi untuk menjadi sebuah industri yang lebih ramah lingkungan, industi kuliner dapat menerapkan beberapa hal berikut untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan, seperti:

  1. Menggunakan packaging yang mudah terurai dengan alam.
  2. Menggunakan bahan bakar seperti biodiesel, bahan bakar alternatif atau mobil dengan menggunakan tenaga solar (diperlukan desain yang seksama agar fitur ini dapat digunakan dengan optimal).
  3. Menggunakan lampu LED untuk sumber penerangan.
  4. Menjual produk-produk lokal dan organik.

Akan tetapi semua solusi di atas baru dapat berguna, jika menerapkannya bersama-sama, tidak sendirian. Ingat, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan kita?

 

Sumber dan Berita Terkait

http://gracelinks.org/blog/696/can-a-food-truck-be-green-in-a-word-yes

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140816204549.htm

http://www.treehugger.com/green-food/ask-pablo-are-food-trucks-greener-than-restaurants.html

http://www.citylab.com/design/2013/02/are-food-trucks-worse-environment-storefronts/4538/

https://stage.la-lights.com/lifestyle/mengenal-sejarah-food-truck-1410319.html

http://m.detik.com/travel/read/2015/02/27/185025/2845356/1382/wisata-kuliner-akhir-pekan-di-bandung-ada-food-truck-festival

Kehidupan Setelah Kehidupan

Daur Ulang Manusia

Henry Darmawan

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

“Ketika kamu mati, apakah kamu ingin menjadi makanan cacing atau makanan tupai ?” pertanyaan ini menghentakan pemikiran saya ketika membacanya dari sebuah web. Saya jadi teringat di akhir taun 2012 di mana Nenek saya meninggal di akhir tahun tersebut dan membayangkan sekarang apa yang tengah terjadi dengan jasadnya yang dikuburkan.

Saya tahu betul bahwa kematian bukanlah hal yang murah. Mulai dari pembelian tanah untuk meletakan jasad, peti seharga jutaan, kemudian memasang hiasan mulai dari batu alam sampai nisan marmer lengkap dengan segala grafir tulisannya yang menguras banyak uang. Bahkan sejak pemakaman, hanya 1x saya mengunjungi almarhum. Kemudian saya berpikir kenapa kita membuang sedikitnya 2m2 luas dari permukaan bumi dan melapisinya dengan batu atau marmer, atau hanya segundukan tanah yang memiliki kandungan sangat subur karena mineral dari jasad kita hanya untuk tempat tinggal cacing dan belatung ?

Apakah ketika kita meninggal nanti kita akan mengurangi 2m2 dari luas bumi yang selamanya akan menjadi kuburan kita ?Atau kita memilih dibakar dan tinggal dalam sebuah Urn ? Atau mungkin abu kita ditaburkan di lautan?

Di Indonesia sendiri kini bisnis kuburan menjadi salah satu bisnis yang sedang naik daun. Sebut saja kawasan San Diego Hill atau pemakanan Al Azhar yang merupakan pemakaman mewah yang dilengkapi dengan kolam renang, café, tempat ibadah, dan pusat rekreasi. Saya sungguh tidak habis pikir kenapa orang berbondong-bondong membeli dan menghabiskan begitu banyak uang untuk menguburkan sebuah jasad di tempat mewah yang mereka kunjungi mungkin hanya 1 tahun 1 kali, atau bahkan lebih jarang lagi. Dan lebih dari itu, jasad di tempat mewah ataupun bukan tetap saja akan terdekomposisi menjadi makanan cacing.

Pada tahun 2007, Mary Woodson melakukan riset dan menemukan 827.060 galon embalming fluid, 90.272 ton baja (dari peti), 2.700 ton timah dan tembaga (dari peti), 1.636.000 ton beton (hiasan pemakaman / vaults), 14.000 ton baja (hiasan pemakaman / vaults), serta 30juta lebih papan seukuran 1 kaki dari kayu. Kandungan ini semua yang terdapat pada kuburan di Amerika Serikat.

Rata-rata angka kematian manusia setiap hari adalah 67,000 jiwa dalam 1 hari (sumber: http://m.worldometers.info). Jika setengahnya dikuburkan dan setengahnya dibakar maka ada sekitar 18,000 m2 tanah yang digunakan sebagai kuburan setiap harinya. Angka ini memang angka yang kecil jika dibandingkan dengan luas daratan bumi. Setidaknya jika setiap hari 67,000m2 dihabiskan untuk menjadi lahan berkembang biak cacing dan belatung maka masih membutuhkan 5,9 juta tahun untuk membuat seluruh permukaan bumi ini menjadi kerajaan cacing.

Tapi isu yang perlu kita pikirkan adalah apakah jasad kita memang hanya untuk kejayaan para cacing? Bagaimana kita bisa mendaur ulang jasad manusia menjadi kehidupan? Mungkinkah hal itu terjadi?

Hukum Kekekalan Energi

Saya kembali teringat dengan sebuah film yang saya tonton ketika saya kuliah berjudul The Fountain karya Dareen Aronofsky pada tahun 2006. Film ini dibintangi oleh Hugh Jackman, Rachel Weisz, dan Ellen Burstyn. Saya tidak akan menceritakan kisah lengkapnya di sini tapi ada sebuah pesan yang terus saya ingat dari film ini. Setelah saya menonton film ini saya ingin ketika saya mati, saya dikuburkan dan di atas jasad saya ditanam sebuah pohon agar energi dan mineral di tubuh saya menjadi nutrisi pohon yang menghasilkan oksigen dan juga buah bagi mereka yang masih hidup.

Ketika saya membagikan apa yang saya pikirkan pada teman-teman, mereka berkata bahwa anak-anak saya kelak akan memiliki pohon angker di belakang rumah dengan nada bercanda. Tapi saya rasa itu adalah halangan yang terbesar yang ada di masyarakat asia di mana hantu dan kuburan masih sangat kental.

Untuk menjawab rasa angker ternyata beberapa designer di daerah Eropa telah mengembangkan sebuah desain pemakaman yang lebih murah dan juga ramah lingkungan. Misalnya saja yang dikembangkan oleh Martin Azua seorang Spanyol yang menciptakan Bios Urn, yaitu sebuah biodegredable Urn yang dapat menyimpan abu manusia dan mengubahnya menjadi pohon. Bahkan pada website-nya Martin Azua membantu penggunanya untuk mengkampanyekan keinginan terakhir seseorang untuk menjadi pohon menjadi salah satu wasiat berbasis media sosial untuk mengembangkan produknya. Selain Bios Urn ada juga The Spirit Tree yang memiliki konsep mirip.

Sumber: Big Think

Sumber: Big Think

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

Dengan menggunakan produk Bios Urn / Spirit Tree maka abu sisa pembakaran manusia / hewan peliharaan dapat disimpan dalam wadah dan dikuburkan untuk kemudian berubah menjadi pohon. Ide dasarnya sebenarnya sama dengan yang saya pikirkan ketika menonton The Fountain akan tetapi dengan desain yang lebih menarik, praktis, serta tidak melibatkan menanam mayat, menjadikan produk ini mungkin salah satu produk yang bisa kita bangun dan kampanyekan bahkan di Indonesia.

Urn tersebut memiliki bahan 100% biodegradable, terbuat dari batok kelapa, peat, dan selulosa yang akan terurai. Sebetulnya lebih baik jasad yang dikuburkan bersamaan dengan benih karena jasad memiliki kandungan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman lebih banyak daripada hasil pembakaran dalam sebuah urn.

Kematian adalah suatu fase yang akan ditemui oleh setiap manusia, hanya saja bagaimana kita bisa memberikan warisan terakhir bagi generasi selanjutnya. Daripada kita hanya meninggalkan batu nisan serta pesta besar bagi para cacing di tanah, bukankah lebih baik jika energi mineral yang kita miliki menjadi nutrisi bagi pohon yang juga menyerap CO2, menghasilkan oksigen, dan mungkin juga menghasilkan buah.

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Bayangkan jika setiap hari ada setidaknya 20,000 pohon (di bawah 30% dari angka kematian 1 hari) yang ditanam dalam bentuk kuburan, maka kita akan menanam setidaknya 6 sampai 7 juta pohon setiap tahun di berbagai belahan dunia. Bayangkan sebuah pemakaman / kuburan akan berfungsi sebagai hutan penghasil oksigen dan cagar alam. Jika diterapkan di Indonesa, misalnya di daerah Jakarta, maka pemakaman hutan maka bisa juga sebagai daerah resapan air.

Selain memberikan efek lingkungan yang baik, secara materipun penggunaan ide untuk mengubah jasad menjadi pohon jauh lebih ekonomis karena tidak memerlukan hiasan marmer, beton, dan hiasan lainnya. Dari segi perawatan juga jauh lebih mudah dan ramah lingkungan.

Pilihan Menghadapi Kematian

Pada artikel yang ditulis oleh C.A.Beal tentang “Jadilah Pohon; Petunjuk Kuburan Alami untuk Mengubah Dirimu Menjadi Hutan.” Dibahas mengenai berbagai macam sejarah dari kuburan dan bagaimana tradisi serta budaya dari berbagai daerah tentang menguburkan jenasah. Mulai dai dibakar, dibakar di laut/sungai (seperti dalam film-film kerajaan medieval) sampai dibalsam dan lainnya. Menurut beliau, kematian adalah fase yang harus dijalani oleh setiap manusia dan bagaimana cara kita dikuburkan itu adalah sebuah pilihan untuk menjalani fase tersebut. Apakah pilihan kita akan menghadapi kematian itu adalah sebuah pilihan yang tepat ? Apakah kita memandang kematian sebagai sebuah akhir? Ataukah kita memandang kematian merupakan sebuah kegiatan penciptaan?

Pada akhirnya jika hanya satu atau dua orang yang melakukannya efeknya tidak akan sebanding jika banyak orang yang melakukannya. Jika kita bisa mengubah kebiasaan dan kebudayaan kita dalam melakukan pemakaman maka generasi ini akan memberikan sumbangsih bagi generasi sesudahnya. Apakah generasi kita akan mewariskanbatu nisan? Atau hutan?

 

SUMBER

http://bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree

http://www.beatree.com/

Home

http://www.imdb.com/title/tt0414993/

http://m/worldometers.info

 

Chiang Mai Design Week

Born Creative

Born Creative

Ini adalah pertama kalinya Chiang Mai menyelenggarakan Design Week (Chiang Mai Design Week/ CMDW), dengan tema Born Creative, diselenggarakan oleh Thailand Creative & Design Center (TCDC) dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Chiang Mai dan The Office of Knowledge Management and Development (OKMD). Selama satu minggu penuh, 6-14 Desember 2014, beragam aktivitas dan program yang berhubungan dengan desain dan kreativitas diselenggarakan di banyak titik di Kota Chiang Mai. Saya berkesempatan hadir di CMDW perdana ini karena diundang untuk menjadi salah satu narasumber di salah satu acara utama CMDW yaitu di sesi Creative City dalam program Creative Dialogue, sebuah talk show yang diselenggarakan di venue utama CMDW, yaitu TCDC Chiang Mai. Berikut ini adalah beberapa hal menarik mengenai penyelenggaraan CMDW di kota yang karakter dan skalanya menyerupai Bandung ini.

 

Paket Buku Acara dan Peta

Penyelenggara telah menyiapkan buku acara dengan jadwal dan detail tiap program, plus peta yang memberi informasi lokasi sebaran venue tempat program/acara berlangsung. Titik-titiknya pun memiliki kode berbeda untuk tiap jenis acara, misalkan: pameran, instalasi kota, workshop, dll. Paket buku acara dan peta ini dapat diperoleh gratis di booth informasi CMDW yang tersebar juga di beberapa titik kota yang menjadi venue besar CMDW, selain juga dapat diakses melalui website CMDW http://www.chiangmaidesignweek.com/map_location/. Dengan adanya informasi yang selalu ter-update ini, pengunjung dapat merencanakan perjalanan dan waktu kunjungannya ke CMDW.

 

Elemen kota: Instalasi Seni dan Penanda Venue

Tersebar di Chiang Mai, beberapa instalasi seni yang juga ditandai sebagai bagian dari CMDW. Tiap instalasi diberi penanda yang serupa dengan penanda di setiap venue atau gedung yang berpartisipasi di CMDW; bentuknya mirip penyangga kanvas untuk melukis. Penanda ini, selain diberi nomor sesuai dengan yang terdapat di peta dan buku acara, juga memuat informasi mengenai instalasi yang terpasang dan pembuatnya.

Penanda ini sangat membantu bagi pengunjung yang sengaja hendak mampir ke berbagai venue CMDW, terutama karena beragamnya jenis venue yang berpartisipasi di CMDW ini; dari café, gudang ‘kosong’ dan gedung-gedung pemerintahan, hingga hotel bersejarah dan spa yang memiliki reputasi global. Hal ini juga menyebabkan siapa pun yang berada di Chiang Mai menjadi mengetahui mengenai CMDW dan dapat turut menikmati suasana dan karya-karya di CMDW.

Selain instalasi dan penanda venue, terdapat pula elemen promosi di beberapa titik seperti di terminal kedatangan di bandara Chiang Mai, di persimpangan jalan, dan lain-lain, namun tidak sampai mengalihkan dari rambu-rambu utama maupun mengganggu pemandangan kota.

 

Tur Sepeda

Selama berlangsungnya CMDW, terdapat tawaran tur sepeda gratis yang menawarkan kunjungan ke beberapa venue CMDW, sekaligus paket-paket workshop selama tur berlangsung. Chiang Mai belum mempunyai sistem bike sharing di kotanya, dan tim operator tur sepeda ini pun sebagian besar datang dari Bangkok, sementara sepeda-sepedanya diadakan oleh sponsor. Di luar acara tur, sepeda-sepeda ini dapat dipergunakan secara gratis oleh siapa pun, dan dapat diambil atau dikembalikan di pos-pos sepeda mana pun yang tersedia di venue CMDW.

Tur sepeda ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pagi hari, sekitar 15 pesertanya sudah berkumpul di meeting point awal, di TCDC. Setelah diberi pengarahan singkat mengenai cara berkendara yang aman dan membentuk buddy system untuk selama tur berlangsung, kami berjalan kaki ke sebuah venue CMDW lain yang terletak di seberang jalan TCDC. Venue ini berupa sebuah lahan kosong di mana terdapat sebuah gudang semi-terbuka, yang selama CMDW berlangsung menjadi tempat pameran. Di pelatarannya terdapat satu kontainer barang yang diubah menjadi ruang display (pameran furnitur Skandinavia) dan satu area yang berfungsi sebagai dapur dan café terbuka untuk acara diskusi, serta sebagian lahan yang menjadi tempat parkir dan pos sepeda. Setelah melihat pameran di venue pelataran terbuka ini, kami kemudian berjalan kaki menuju venue di sebelahnya, sebuah gedung 4 lantai yang biasanya tidak terpakai. Selama CMDW berlangsung, seluruh lantai gedung ini diisi oleh pameran dari beragam produk, mulai dari produk-produk tradisional (mis. lacquer works), karya kontemporer (mis. poster dan desain produk daur ulang), hingga display mengenai organisasi seperti Handmade Chiang Mai. Setelah selesai melihat display di gedung ini, kami kembali ke venue gudang semi-terbuka, untuk memilih dan mulai mengendarai sepeda masing-masing menuju venue CMDW lain.

Tiba tengah hari, venue yang kami kunjungi adalah sebuah hotel di kawasan kota tua Chiang Mai, yang sebagian bangunannya masih berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di hotel ini terdapat pameran textile for fashion dan hasil studi eksplorasi material alam untuk berbagai produk berbahan dasar kertas. Setelah disambut oleh manajer pemasaran hotel yang juga menerangkan bahwa hotel ini juga sangat terkenal oleh spa-nya, tim tur sepeda ini dijamu minuman segar dan makanan kecil sebelum melanjutkan perjalanan. Saya harus berpisah dengan rombongan, karena harus segera mempersiapkan diri untuk mengisi acara Creative Dialogue, sementara peserta tur lain berangkat ke venue lain dan berpartisipasi di berbagai workshop yang termasuk dalam paket tur sepeda ini.

 

“Angkot” Gratis

Selain sepeda, selama CMDW disediakan pula kendaraan gratis dari venue ke venue, yaitu “angkot” (kendaraan umum yang lazim digunakan di Chiang Mai, mirip Mikrolet di Jakarta), yang diubah menjadi shuttle gratis CMDW dengan menambahkan penanda dan infografis peta venue yang menjadi titik hop-on/-off pada bagian muka dan sisi kendaraan.

 

Meskipun hanya sempat berada di Chiang Mai selama 2 hari saat CMDW berlangsung, cukup terasa suasana penyemarakkan kota dengan berbagai aktivitas desain. Apalagi saat itu juga berlangsung Nimmanhaemin Art&Design Promenade (NAP), acara tahunan yang telah menjadi salah satu tujuan utama pengunjung Chiang Mai di minggu ini. Beragamnya jenis acara yang ditawarkan juga menggambarkan lingkup pengembangan desain di Thailand pada umumnya, dan Chiang Mai pada khususnya: mulai dari karya mahasiswa desain, pengrajin tradisional, hingga designer-residence dan karya warga ekspatriat, mulai dari karya eksperimen hingga yang telah memiliki brand eksklusif; seluruhnya disajikan dengan cara yang dapat memperkenalkan dunia Desain dengan ramah dan menyenangkan.

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

*Pertama kalinya menulis artikel untuk Warta Gereja GKI Maulana Yusuf, Bandung, dalam perjalanan antara Seoul dan Jeju, Korea Selatan. Artikel ini dapat pula diakses di http://gkimy.or.id/main/kolom-bina-jemaat/325-kolom-bina-2014-11-23

 

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

 

Dari sekian banyak hari besar dan peringatan di muka bumi ini, salah satu yang paling mengekspresikan kemesraan antara manusia dan habitatnya adalah Arbor Day, atau Hari Pohon (arbor berarti “pohon” dalam Bahasa Latin), yang jatuh pada tanggal 21 November, di mana orang diajak untuk menanam dan merawat pepohonan. Pada awalnya, Hari Pohon ini dimulai di Villanueva de la Sierra, sebuah kota kecil di Spanyol, ketika seorang rohaniwan lokal mencanangkan inisiatif tersebut pada tahun 1805, yang disambut dengan antusias oleh seluruh warga. Hingga kini, Arbor Day masih dirayakan di berbagai negara, meskipun dalam tanggal yang berbeda-beda, disesuaikan dengan iklim dan musim tanam di negara masing-masing.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah memberi perhatian khusus pada pohon yang terus memberi manfaat bagi kita? Atau mungkin karena saking terbiasanya merasakan kehadiran pohon, kita terkadang menganggap remeh keberadaannya? Bagi kita yang hidup di kota besar, padat penduduk, dan terus berkembang seperti Bandung: perilaku apa yang kita biasakan dalam menghadapi sesama makhluk hidup ciptaan-Nya ini?

Berbagai hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan, yang telah menjadi keprihatinan bersama belakangan ini, antara lain meliputi bencana banjir, polusi udara, dan suhu yang makin panas dan tidak nyaman, terutama di berbagai wilayah padat penduduk. Secara langsung maupun tidak, hal-hal ini berkaitan dengan keberadaan dan kualitas pepohonan di lingkungan tersebut.

Terbatasnya Ruang Terbuka Hijau di perkotaan padat penduduk seperti Bandung ini menjadi salah satu sebab berkurangnya lahan yang dapat ditanami dan ditumbuhi pepohonan. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi berbagai komunitas dan masyarakat lokal untuk dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidupnya. Tentu beberapa dari kita telah akrab dengan istilah urban farming dan sejenisnya, yang mengarah pada pemanfaatan lahan yang paling sempit sekali pun untuk bercocok tanam. Bahkan juga pemanfaatan berbagai lokasi tanam yang (dulunya) tidak lazim, seperti dinding, pagar, hingga atap rumah, dengan media tanam yang juga berbagai rupa. Bandung, yang dikenal sebagai kota dengan berbagai komunitasnya yang sangat aktif, telah banyak pula melahirkan gerakan yang berkaitan langsung dengan upaya penghijauan wilayah permukiman, hingga aktivasi ke kampung-kampung kota dan taman-taman publik, hingga hutan kota.

Forest Walk at Babakan Siliwangi. (c)GalihSedayu2013

Forest Walk di Hutan Kota Babakan Siliwangi (c)GalihSedayu2013

Kreativitas warga dan komunitas di Bandung bahkan telah berupaya mengajak masyarakat luas agar menyadari adanya hutan kota satu-satunya yang ada di Kota Bandung, Babakan Siliwangi, dan memanfaatkannya sebagai ruang publik yang inspiratif. Hutan kota ini telah dideklarasikan menjadi Hutan Kota Dunia pada tahun 2011 bersamaan dengan event Tunza, sebuah konferensi internasional untuk anak-anak dan pemuda yang diadakan oleh United Nations Environmental Program (UNEP) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF). Saat itu, Hutan Baksil tengah menjadi subyek pembicaraan yang hangat berkenaan dengan rencana pembangunannya menjadi sebuah apartemen bertingkat dan ditentangnya rencana tersebut oleh masyarakat luas. Pada saat yang bersamaan, sebuah komunitas mengadakan sayembara pemanfaatan Hutan Baksil, yang desain pemenangnya benar-benar diwujudkan di hutan kota tersebut. Hasilnya adalah ForestWalk, sebuah canopy walk, atau “jembatan” di mana kita bisa berjalan sejajar atau mendekati pucuk pepohonan besar. ForestWalk dilihat sebagai salah satu upaya pernyataan warga terhadap keinginannya untuk tetap memiliki hutan kota, juga sebagai upaya mendekatkan warga kepada hutan kotanya, di samping mengekspresikan pula kesadaran warga terhadap pentingnya memiliki paru-paru kota yang tetap dapat menjadi sumber oksigen dan peredam polusi suara. Sejak didirikannya pada tahun 2011 lalu, ForestWalk hingga kini masih dapat dinikmati warga Bandung, namun, sayangnya belum dapat terawat secara optimal, sehingga banyak bagiannya yang rusak dan kotor.

Regia Infographic

Regia Infographic

Usaha untuk mendekatkan warga kepada hutan kota dilakukan lagi pada tahun 2012, ketika, dalam rangkaian acara Helarfest, diadakan Lightchestra, sebuah konser musik dan cahaya yang digelar selama tiga malam berturut-turut dalam Hutan Baksil, tanpa dipungut biaya dan dilaksanakan dengan penuh pertimbangan terhadap habitat alami dan komunitas dan warga yang beraktivitas di hutan kota tersebut. Di tahun berikutnya, 2013, bertepatan dengan Hari Bumi, Hutan Baksil kembali diaktifkan dengan event bernama Regia. Dalam Regia, dilaksanakan berbagai acara seperti yoga pagi di ForestWalk, workshop anak-anak di dalam Hutan Baksil, konser blues di Sanggar Olah Seni yang berlokasi di sisi Hutan Baksil, Forest Dining untuk memberikan pengalaman makan malam yang berbeda, pameran dan workshop fotografi, dan lain-lain, yang semuanya masih tetap bertujuan untuk mendekatkan warga pada hutan kota, dan secara kreatif memberikan informasi seputar hutan kota dan berbagai faktanya, seperti jumlah oksigen yang dihasilkan, jenis pohon yang mendominasi Hutan Baksil, fungsi Hutan Baksil sebagai tempat singgah berbagai spesies burung yang bermigrasi, dan sebagainya.

Berbagai aktivitas kreatif seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk kembali menyadarkan warga akan pentingnya keberadaan pohon dalam jumlah yang memadai di wilayah tempat tinggal kita, sekaligus juga mengajak warga untuk dapat merawat dan menambah jumlah pohon yang kita butuhkan tersebut. Adalah baik untuk mengadakan acara menanam pohon dalam merayakan Hari Pohon ini, terutama di area yang benar-benar membutuhkan, namun akan lebih seru lagi bila dilakukan juga berbagai inisiatif dalam bentuk yang baru dan menyenangkan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik sekaligus merawat pepohonan yang sudah ada di tempat-tempat tersebut. Mari, tingkatkan apresiasi terhadap pepohonan, bukan hanya dengan menanam dan merawat, tapi juga dengan mengajak keterlibatan warga seluas mungkin untuk menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara yang menyenangkan.

=====

Tita Larasati, Dosen Program Studi Desain Produk FSRD ITB & SekJen BCCF

City, Design, Sustainability

When I was asked to deliver a talk that concerns city, design, and sustainability, I right away browsed the various materials that I have in stock for such subjects, while thinking of a way to integrate them into a legible statement. Most of the audiences, I was told, were (design) students and young delegates from ASEAN countries, so I would have to take into account that not everybody is familiar with Bandung and all its characteristics. All presentation materials, of course, have to do with programs of Bandung Creative City Forum (BCCF), its programs and strategy to create a “creative city”. Here goes.

City - Design - Sustainability

CITY – DESIGN – SUSTAINABILITY

Bandung in Brief

As the capital city of West Java Province, Bandung is populated by about 2,5 million people, of which almost 70% are below 40 years old. Historically, it was among the most cities favored by the Dutch colonial government due to its cool temperature, mountain scenery and hot water springs. It had more to offer: as a resource for quinine and pharmaceutical industry and tea and coffee plantations; it was the first city designed as a garden-city, and where Dutch-Indies architects built art deco buildings. In the 30s, the newest fashion could be found either in Paris or in Bandung, hence the nickname “The Paris of Java” for Bandung in those era. All these historical facts have left cultural heritage beyond mere physical buildings; they left a city whose people are used to having a variety of lifestyles and behaviors, including progressive development in many aspects.

Bandung Potentials

Bandung is located relatively near from Jakarta, the capital city of Indonesia. Surrounding the two cities are smaller towns with material and production resources, which have become an important part of business and R&D activities in Jakarta and Bandung. Among the advantages are easy accesses to material research, product development and production, market studies, manual skills, traditional and cultural resources, and many more, which are often required in creative activities. Therefore, the location of Bandung is much favorable, considering the surrounding resources and the distance to all these resources. Added by the condition of Bandung, which is known for its pleasant mountainous atmosphere, Bandung has its advantages as a Place where creative endeavors are supported and encouraged.

Since the establishment of the first higher education in engineering in Bandung, the city has become home for about 50 universities and other higher education institutions, both for vocational and academic/research levels. These schools have attracted young, talented people from all over the place, who represent the diversity of Bandung citizens. These generations also possess an abundance of energy and ideas. They commonly gather with people who share similar interests, conducting joint programs and numerous activities in various scales, and holding them in many spots in Bandung. The facts that communities in Bandung are high in number and are very active have lead to the conclusion that the main potentials of Bandung are its People and Ideas, added by the advantage of Bandung’s location and condition: Place. The slide that shows four main programs of BCCF (Helarfest, Kampung Kreatif, Simpul Institute, DesignAction.bdg), with their general road map, gives a picture of how these programs work closely to the field of design and creativity.

Design for the City

How is Design contributing to the development of a city and its sustainability? The following slides attempt to answer this question through examples taken from BCCF programs. Presented here are three functions of Design: as a tool, as a practice, and as a method. Firstly, as a tool, the design of our city branding .bdg has taken effect as a code that unify the different creative communities in Bandung, who can still present their individual identity while having also a collective identity as originated from Bandung (by the community’s name before the [dot], and by the “bdg” that follows). As commonly conducted when defining a brand, prior studies on positioning, values, personality, etc. were explored as well, to find the real soul of Bandung, before translating all these manifestations to a visual form: a logo, a brand and its activations that represent the city.

Secondly, as a practice, design for a city can come in many forms, purposes, and scales.

  1. RekaKota project during Semarak.bdg in 2010, where several public spots in the city were each assigned to a group of designers/artists. Each group designed either a shelter, a smoking corner, a public bench, and so on, depending on the particular spot. RekaKota is among the first BCCF events that attempted to implement a collaboration among designers, business sector, and the government, by offering the public facility designs to a brand or company who would invest in producing the facilities while also subtly promoting their brand, and by having the government’s decision to give permission to the location and the facilities, and for tax reduction if the facilities are considered as an advertisement for the brands.
  2. Bandung Public Furniture projects in Helarfest 2008 and 2009, where industrial design students, lecturers and professionals designed and produced a variety of public furniture and put them in public spaces (open space in malls, public parks, etc.). The products had unusual functions and shapes, compared to the benches commonly found in public areas in Bandung, and it was interesting to observe how people appreciate and interact with these products. This project has gradually proven that well-designed products can add to the pleasant experience of people towards their built environment.
  3. An infographic poster from Regia event in 2013 that was published in Pikiran Rakyat, the biggest newspaper in West Java, informed its reader about Babakan Siliwangi World City Forest in Bandung: the dominant tree species, its Oxygen production, its function as a transit place for migrating birds, and so on. Through this clear and easy-to-read graphics, people are expected to gain information and affection towards the subject at the same time, and – in this case – to be aware and care more about Bandung’s only city forest.
  4. Regia in 2013 contained several sub-events, among which one was Forest Dining, where Baksil ForestWalk was turned into a dining place, collaborating with a nearby restaurant. This environment design provided a new experience in dining, where the “floors” were elevated wooden planks and the “walls” were huge, living trees with its hanging roots, leaves and branches, lightened by random colorful spotlights. Furthermore, another Regia sub-event was going on at the same time: Blues Leuweung, where live blues music performed at Sanggar Olah Seni, a cluster of art studios located at the periphery of the forest, and its sounds reached the ForestWalk, which added to this unique dining atmosphere.

All in all, “design for the city” that are presented here can be seen not as a mean to merely decorate or beautify a place. Design is meant to provide proper interaction between people and their surrounding objects and environment, to give clear information inclusively, and to create pleasant experiences for citizens in conducting their daily lives in the city. All design projects by BCCF aim to make urban life more enjoyable.

Thirdly, design as a method to solve problems in the city. DesignAction.bdg (DA.bdg) program at BCCF is a workshop-conference that applies design thinking method to find innovative solutions for urban issues, involving the four stakeholders of a city: the government, business sector, academics and communities. The first DA.bdg in 2013 focused on urban mobility issues, where all participants tried walking, taking angkot and bus, and riding bicycles in the city in the observation/empathy phase. The process continued with re-framing up to prototyping, where participants in groups presented and role-played their recommendations to solve urban mobility problems. DA.bdg2013 had about 250 participants from all stakeholders (government, business sector, academics and communities) who gathered for three full days and interacted intensively with each other; an opportunity that seldom comes. The “creative process” that is commonly used to solve design problem is now no longer the domain for designers only, but can be applied to other conditions, including an urban setting, and even to rethink about policies and regulations, to find where bottom-up and top-down solutions can meet, and so on.

What about the Sustainability?

The term “sustainability” refers to the three aspects of Environment, Economy, and Social-Culture. “Design for the City” by BCCF includes these three aspects as well, in the form of the target of each program: Footprints. The slide that contains BCCF strategy to create a “creative city” describes that all BCCF programs and activities aim to leave either one or more of these footprints:

  • Economic: local people or communities should be able to gain an entrepreneurial mindset and to gradually self-sustain themselves by relying on their own skills and efforts
  • Social-Cultural: local people or communities should be able to express themselves and explore their own characteristics inclusively, particularly through creative activities
  • Environmental/ Artifact: there should be a physical object/ artifact that not only reminds the people/ communities about their creative potentials, but also becomes a tool for their creative expressions, while maintaining the quality of their living habitat

The previous examples left these footprints in various forms:

  • .bdg left a city brand and its activations; it gained a sense of belonging towards the city from the different communities; it also accumulated a sense of Pride that we all a part of Bandung; and it encouraged Bandung citizens to be aware of their identity.
  • Public facility projects left a number of physical objects that have improved the urban experience in Bandung, both for citizens and visitors; the project even led to a change of policy at the municipal level concerning creative expressions in public spaces.
  • Design thinking workshop basically provides a new method of solving problems by exploring the creative potentials from all stakeholders of a city, from different backgrounds and disciplines, since this is how usually innovations emerge.

It can be seen in the slide that contains a few of BCCF portfolio since its establishment in 2008: programs and events that were held to respond to, or attempted to find solutions for, a number of urban issues (in the red circles in the middle): green open space, urban mobility, entrepreneurship, public space, heritage buildings, etc. The processes and results are prototypes and recommendations for the city government and all stakeholders, especially seen from the community level, on how people can contribute to many aspects of a city. All programs and events leave the aforementioned footprints; some are better-maintained than the rest, which proves that they all require active participations from all stakeholders of the city.

Conclusively, it is proven that Design can play an important part in a City development: as a tool, a practice or a method. It so happens that Bandung has this potential at a superior level, therefore we – communities – have been using this strength to build our own living spaces, to make them more pleasant. The Sustainability takes place when all stakeholders understand and are willing to contribute to creating a Liveable, Lovable Bandung! 🙂

Nimmanhaemin

Denah tenant peserta NAP dan brand masing-masing

Denah tenant peserta NAP dan brand masing-masing

Poster dan denah NAP sebagai penunjuk arah

Poster dan denah NAP sebagai penunjuk arah

Kunjungan ke Chiang Mai ini bukan untuk pertama kalinya, tapi kali ini bertepatan dengan peristiwa istimewa di sana: Chiang Mai untuk pertama kalinya mengadakan Design Week, berbarengan dengan berlangsungnya acara tahunan Nimmanhaemin Art&Design Promenade (NAP) yang ke-15. Apa yang membuat NAP ini menjadi sangat menggemaskan dan membuat penasaran? Karena sebenarnya kita pun bisa membuat hal serupa yang tidak kalah serunya!

Nimmanhaemin adalah sebuah distrik di Chiang Mai yang merupakan tempat berkumpulnya berbagai showroom, studio dan kantor desain dan seni dalam berbagai bidang. Sekitar 14 tahun lalu, beberapa desainer yang bekerja di Nimmanhaemin berinisiatif untuk mengundang para designer-maker, desainer pemula dan seniman muda untuk menggelar karya mereka di wilayah tersebut dalam sebuah acara tahunan, sebagai kesempatan bagi mereka untuk memperkenalkan karya mereka langsung ke khalayak ramai. Ternyata inisiatif ini disambut dengan sangat positif, dan telah berjalan secara konsisten tiap tahunnya. Para pesertanya bahkan membuat produk baru dan dalam jumlah terbatas, tidak sedikit pula yang handmade atau merupakan hasil keterampilan tangan, untuk dijual pada event ini, yang jatuh pada masa ketika banyak orang berburu hadiah Natal (5-10 Desember).

Persimpangan koridor PAN

Persimpangan koridor PAN

Koridor NAP yang dipenuhi pengunjung

Koridor NAP yang dipadati pengunjung

Booth sebuah organisasi warga lokal

Booth sebuah organisasi warga lokal

Kios makanan tradisional dari warga lokal

Kios makanan tradisional dari warga lokal

 

 

 

 

 

 

 

 

Area tempat berlangsungnya NAP merupakan lahan privat, yang para pemiliknya mengijinkan pemakaiannya untuk NAP dengan syarat berbagi hasil dari keuntungan penjualan produk-produk di NAP. Penyelenggara NAP membentuk sebuah tim kurator untuk menyeleksi tenant atau peserta NAP, untuk dapat menjaga identitas NAP sebagai ajang promosi bagi desainer dan seniman muda/ pemula, sekaligus juga menjaga kualitas produk di NAP. Selain itu, penyelenggara NAP juga menyediakan beberapa booth gratis untuk organisasi lokal, seperti pada sekelompok warga yang aktif mendata lingkungan mereka, dll. Selain tenda-tenda untuk produk-produk atau karya-karya terbaru, disediakan juga lokasi untuk makanan dan minuman, baik dari pengusaha muda pemula, maupun untuk warga lokal yang menjajakan berbagai jajanan tradisional. Selama NAP berlangsung, terdapat pula berbagai pertunjukan, live music, dll. Berhubung Nimmanhaemin, lokasi NAP ini, jauh dari pusat kota, penyelenggaranya pun menyediakan beberapa ‘shuttle’, yaitu kendaraan umum dalam kota Chiang Mai (rupanya mirip Mikrolet di Jakarta) yang disewa dan ditandai khusus sebagai bagian dari NAP, lengkap dengan rutenya, selama event berlangsung.

Pelataran mal Maya

Pelataran mal Maya

Ruang publik di pelataran Maya

Ruang publik di pelataran Maya

Pelataran dan jalan setapak yang dipenuhi pop-up stores

Pelataran yang dipenuhi pop-up stores

Dampak NAP rupanya menjalar ke area sekitarnya. Di sekitar area NAP, tumbuh berjamuran berbagai café dan toko-toko desain dan pernak-pernik, telah dirancang dan mulai dibangun pula beberapa apartemen dan hotel. Salah satu venue terbesar di dekat NAP adalah sebuah mall baru bernama Maya, yang selama NAP berlangsung, pelatarannya dipenuhi oleh sejumlah pop-up stores, café dan food truck, yang sifatnya lebih permanen (sementara NAP hanya berlangsung selama 1 minggu). Hal terpenting yang patut dicatat adalah, meskipun dipadati pengunjung, area NAP tetap terjaga kebersihan dan ketertibannya. Tidak ada sampah sembarangan berceceran, atau pengunjung yang saling mengganggu. Semuanya menikmati suasana dengan santai dan gembira.

Pembuat produk ini gemar pada huruf dan terampil mengolah kayu secara manual

Pembuat produk ini gemar pada huruf dan terampil mengolah kayu secara manual

Ini pengrajin bir, yang mencampurkan teh hijau, dll. pada produk kulinernya

Ini pengrajin bir, yang mencampurkan teh hijau, dll. pada produk kulinernya

Ada beberapa booth yang juga menawarkan workshop DIY products

Ada beberapa booth yang juga menawarkan workshop DIY products

Berkat berlangsungnya NAP selama 15 tahun secara konsisten dan selalu ramai pengunjung, area Nimmanhaemin pun menjadi populer dan bergairah, dan berhasil menarik berbagai sumber daya kreatif dalam bidang seni & desain dan wirausaha untuk menetap di sana, hingga pemodal dan sektor bisnis dalam bidang kreatif untuk berniaga di area tersebut. Bahkan, kabarnya, Chiang Mai Design Week (CMDW) pun diadakan di awal Desember agar para pengunjung CMDW dapat pula sekaligus mengunjungi NAP.

NAP ini contoh nyata bagaimana seni, desain dan kreativitas dapat berkontribusi bagi pengembangan dan keberlangsungan ekonomi dan sosial, sekaligus merupakan bukti berhasilnya kerjasama antara komunitas kreatif, sektor bisnis dan pemerintah yang mendukung inisiatif tersebut, hingga dapat berlangsung langgeng.

Nah, kita mau tunggu apa lagi? Bukankah berbagai modal dasar itu sudah kita miliki semua? Tinggal menguji kemampuan kolaborasi antar pemangku kepentingan yang berbeda, dan menjaga konsistensi daya berkreasi para wirausahawan kreatif kita dalam bidang seni dan desain, sekaligus kuliner!

 

 

 

What’s Next?

DAbdg putihDesignAction.bdg 2013 was over about three months ago. It was our first attempt to conduct a colossal design thinking workshop-conference in order to find innovative solutions for urban problems; in this case, within the issues of urban mobility. Among our motivations to conduct that event was inadequate infrastructure and public service of Bandung, due to insufficient years of governance at that time.

We consider “design thinking” as among the methods that we could apply to come up with solutions that don’t require complicated bureaucracy, gigantic infrastructure, and massive financing. These are the kind of solutions that are feasible in a short-term, yet effective, although some might be temporary. We did a workshop-conference; we practiced the “fun theory” and we did have fun indeed. A productive kind of fun.

It’s 2014 now and we have a new leader for our beloved city. Our mayor for 2013-2018 is a visionary, progressive person; not to mention that he is the former chair of Bandung Creative City Forum (2008-2012), an organization that has been providing examples and conducting city-scale experiments, in order to show the previous government how a city and its creative potentials could excel.

Within the new mayor’s first 100 days period in office (September-December 2013), most citizens have been benefiting from improvements of public facilities and services in Bandung. The mayor also stated that 2014 is the year for strengthening infrastructure and disciplines. His vision for Bandung is seemingly simple, but quite apt: a livable, lovable city.

twitRK2014

What's next?

What’s next?

Now that the government has a similar line of thinking to ours, what’s next? What could the next DesignAction.bdg be about? It was too “easy” before: to fix a badly-run city. But now that the city seems to be in good hands, we are facing a different challenge. Therefore, in this phase of transition from old to new Bandung, DesignAction.bdg will be very interesting.

Starting a few weeks back, we at BCCF gathered again to find the answer to that “What’s Next?” question. Whatever we do, it is still based on our affection for Bandung and our intention to make it more pleasant to live in. There are lots of issues going around; we even picked one for Helarfest, our other main program. We consider it better if the results of DesignAction.bdg this time could be realized within three months or so.

Idea sketches

Brainstorming

We also consider the municipal programs, improving public facilities and services, and relating them to their impacts to society. How would people react? How would people respond to those improved product and services? What does it mean to live in a maintained city, with accessible public spaces and facilities with good conditions? Are Bandung citizens ready to accept all these improvements; do they have suitable mindsets and behaviors, in order to sustain these pleasant facilities? A bigger question for us would be; what does it mean to be an urban citizen?

Based on these questions, and more and more discussions, which I’m sure will happen a lot more times, we decided that the theme for our next DesignAction.bdg is iden[c]ity. We’d like to encourage our fellow citizens to define who they are, related to their urban habitat. It might seem abstract at this phase, but we have a lot of keywords that can be translated into programs, pre-events, workshops, and so on. Watch our sites http://www.dabdg.bccf-bdg.com/ http://www.bccf-bdg.com  and, hopefully, we could spill more in the coming weeks!

Handmade Urbanism

In the first week of June, 2013, BCCF was invited to participate in an exhibition and symposium with the theme Smart Cities: The Next Generation at Aedes Network Campus Berlin, Germany. We were asked three questions that determine the “smart” aspects of our city for the exhibition materials:

  1. How does your project “smarten up” your city?
  2. Why does your city need your project and what challenges are country­‐specific to your urban context?
  3. What are the new behaviors your building/planning/initiative encourages?

While working on the answers, we became more convinced that the strength of Bandung is in its proactive citizens who have been interfering with their own habitat, to make it more livable. Our presentation in Berlin included a series of Kampung Kreatif (Creative Kampong/Neighborhood) program and Helarfest 2012, which brought up issues concerning four elements of the city: river, forest, kampong and park. Next to Bandung, there are also other Indonesian cities such as Jakarta and Medan participating in the event. During the event, it was evident that most growing, dense cities in developing countries are facing similar problems due to overpopulation and underdeveloped infrastructures and facilities, of which solutions mostly depend on the survival ability of the inhabitants.

Handmade Urbanism

Handmade Urbanism book and Urban Future CD

On our last day in Berlin, we found a book whose contents resonate what has been done in the local neighborhoods of Bandung. This book, titled Handmade Urbanism, describes the journeys of five world cities that have brought them to receive the Deutsche Bank Award for their civic initiatives: Mumbai, Sâo Paulo, Mexico City, Istanbul, and Cape Town. The book also comes with a CD, titled Urban Future, containing documentary videos of these cities. Each city has its own issues, which received different treatments as well, and they are not always expensive, nor requiring a substantial amount of budgeting and infrastructures. From the stories, we could learn that all things started small – but they got started anyway – whether from a group of people or an individual, from common villagers or planners/architects to public figures, with different backgrounds.

The examples in Handmade Urbanism show results after about 10 years of the interventions, when citizens could already enjoy the results, where social changes are evident and physical improvements are obvious. Kampung Kreatif program in Bandung started in 2012, now not even 1 year old, and – as experienced in all fields – getting started and maintaining the energy and spirit are the most challenging phase. There is still a long way to go, but we are convinced that we can also keep the program going and reach up to such benefits!

=====

“All over the world, water takes a significant part of a city” – Mumbai

“The problem (of a city) will never be solved if we keep trying to demolish the slum” – Mumbai

“Community-based programs take place and succeed where administration fails” – Mumbai

=====

“City growth as desired by politicians creates greater tensions among its citizens” – Sâo Paulo

“Small gestures (planting, library, mural, etc.) can help create space and connectedness” – Sâo Paulo

More positive activities > more life security > less crime > less reason to demolish the “slum” – Sâo Paulo

=====

“Small scale activities and movements can create great changes in a community” – Mexico City

Next to soccer games, gangs also organize graffiti classes, which have lowered the criminal rates – Mexico City

“A change of an urban space can change the attitudes and activities of the local people” – Mexico City

“Improving accessibility for all (citizens) means improving the quality of life” – Mexico City

“A city is more than a place to make money, people need more than roofs above their heads” – Mexico City

=====

“Teach children to tend a garden, they’ll go home and teach their parents” – Cape Town

“Municipality needs to recognize what has been done at the grass root level, the activism and pro-activeness” – Cape Town