Category Archives: education

“Design & Sustainability”? Cari Makan Saja Susah!

DESIGN AND SUSTAINABILITY? CARI MAKAN SAJA SUSAH!

 Achmad Fadillah | 27111098

Di suatu siang di dalam angkot jurusan Terminal Dago-Stasiun Hall di kota Bandung tercinta. Setelah semalaman hampir tidak tidur gara-gara mengejar deadline proyek, saya duduk sambil sepertiga ketiduran di kursi penumpang di dekat pintu masuk. Matahari di luar lumayan terik tapi anginnya masih lumayan segar, apalagi waktu angkotnya sedang  jalan. Saya perhatikan di kaca angkot refleksi wajah saya dan saya lihat mata saya tampak sendu dan sayu. Saya perhatikan wajah para penumpang di bangku seberang mulai dari yang paling belakang terus ke depan, tidak ada yang istimewa.

Lalu pandangan saya berhenti di pak supir yang tampak belakang. Dia sedang ngobrol dengan orang di sebelahnya, mungkin temannya. Saya perhatikan wajahnya melalui kaca spion dalam, sepertinya pak supir terlalu muda untuk dipanggil pak supir, tebakan saya umurnya mungkin masih di 20an awal, antara 20-23 tahun lah kira-kira. Jadi untuk selanjutnya saya akan sebut aja dia ‘si supir’.

Rasa kantuk saya pelan-pelan mulai luntur waktu waktu saya perhatikan si supir. Bukan cuma sambil ngobrol sama temannya, dia juga mengendarai angkotnya sambil makan buah duku yang bergerombol di dalam plastik kresek hitam di samping kirinya. Duku dibuka dengan tangannya, kadang-kadang dengan giginya. Daging buahnya dia makan lalu yang bikin saya agak risih melihatnya adalah waktu kulit dukunya dia buang ke luar jendela angkot, ke jalan. Terus begitu sepanjang jalan. Waktu berhenti di lampu merah, duku yang dimakannya makin banyak dan kulitnya tetap dibuang ke luar jendela. Jadilah sampah kulit duku itu berserakan di tengah jalan. Di setiap lampu merah, perhitungan statistik saya mengatakan rata-rata buah duku yang dia makan berjumlah antara 5 sampai 10 buah dan semua sampah kulitnya dibuang ke luar jendela.

Kesal rasanya melihat kelakuan si supir angkot itu. Kenapa sampahnya tidak dibuang saja ke kantong plastik tempat dia menyimpan buah dukunya? Atau paling tidak ya dibuang saja di dalam angkotnya.

Kalau kita perhatikan, banyak orang yang melakukan hal seperti yang dilakukan si supir angkot itu. Walaupun tidak semua yang menyampah sembarangan seperti supir angkot itu adalah mereka yang datang dari masyarakat kelas sosial menengah ke bawah, tetapi yang paling sering saya lihat ya memang mereka yang berasal dari kelas sosial itu. Memang tidak jarang juga saya lihat orang yang buang sampah sembarangan ke luar jendela dari dalam mobil bagus. Bukan cuma pengendaranya -yang kemungkinan adalah supirnya- tapi juga penumpangnya.

Kembali lagi  ke si supir angkot, setelah sekian menit menahan kesal, secara tidak sengaja saya semakin larut di dalam pikiran saya sendiri dan berdiskusi dengan diri saya sendiri tentang perilaku si supir angkot itu hingga sampai di satu titik di mana saya mencoba menempatkan diri saya di posisi si supir. Saya mencoba menerobos masuk ke dalam pola pikirnya.

Untuk si supir, tidak ada masalah dengan perilaku menyampah sembarangannya itu. Malah, itu mempermudah hidupnya. Begini, kalau dia buang sampah kulit dukunya itu ke jalan, maka ia tidak perlu repot-repot membersihkan interior angkotnya di akhir harinya. Lagipula, membuang sampah pada tempatnya tidak akan memberikan kebaikan apapun baginya. Untuk apa berperilaku ramah lingkungan? Untuk apa menyediakan fasilitas kebersihan di dalam angkotnya? Itu tidak akan meningkatkan jumlah penumpangnya, tidak juga akan memperbaiki kesejahteraannya. Membuang sampah pada tempatnya dan tetap menjadi supir angkot, apa hebatnya? Buang saja sampahnya ke jalan, supaya petugas kebersihan jadi ada pekerjaan. Memangnya kalau kota ini bersih penghasilan supir angkot akan meningkat?

Perilaku-perilaku tidak ramah lingkungan banyak sekali dapat kita jumpai di sekitar kita. Bukan hanya di daerah-daerah pinggiran saja, tetapi juga di pusat-pusat kota seperti contoh si supir angkot di atas. Seperti yang juga sudah disinggung sebelumnya, kesadaran akan kelestarian lingkungan bisa dikatakan sulit dijumpai di kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Kemungkinan besar sumber utama yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya tingkat pendidikan  dan penghasilan masyarakat di strata ekonomi tersebut yang menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan mereka, yang berujung pada rendahnya kesadaran mereka akan kelestarian lingkungan. Seperti pada judul tulisan ini, jangankan memikirkan untuk memiliki perilaku atau produk-produk ramah lingkungan, cari makan saja susah!

Selanjutnya mari kita kupas sedikit tentang design & sustainability. Di sekitar kita sudah mulai dapat dijumpai produk-produk yang mengusung konsep ramah lingkungan. Sebut saja bio-degradable plastic (plastik yang dapat terurai secara alami). Jenis plastik ini sudah mulai digunakan di beberapa supermarket. Tentu itu merupakan sebuah kabar gembira bagi kita yang sangat peduli akan kelestarian lingkungan. Pertanyaannya, kenapa belum semua supermarket menggunakan jenis kantong plastik kemasan seperti itu? Mungkin jawabannya adalah karena harganya yang relatif lebih mahal dari kantong plastik biasa. Atau mungkin juga karena mereka (pengusaha supermarket) tidak ingin merusak hubungan bisnis yang baik dengan suplayer kantong plastik mereka. Atau mungkin karena memang mereka tidak sadar lingkungan saja. Apapun penyebabnya, penggunaan kantong plastik bio-degradable yang belum begitu populer ini pasti ada latar belakangnya.

Kelestarian lingkungan dalam kaitannya dengan desain produk sehari-hari intinya bukanlah bicara soal teknik produksi, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah atau limbah semata. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini bukanlah plastik -yang kabarnya membutuhkan waktu paling sedikit 50 tahun untuk terurai di tanah-, atau bukan juga zat-zat kimia beracun yang digunakan industri untuk memanufaktur berbagai produk yang ada di keseharian kita. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini adalah manusia. Manusia lah yang mengekstraksi berbagai material mentah dari dalam bumi. Manusia lah yang mengolah material-material itu hingga menjadi produk-produk sehari-hari. manusialah yang menciptakan racun-racun yang mencemari tanah, air dan udara ini. Manusia lah yang mengkonsumsi semua produk itu. Manusia lah yang tidak pernah berpikir untuk menghemat energi. Manusia lah yang menghasilkan sampah. Manusia lah sumber malapetakanya.

Bagian paling merusak dari makhluk yang namanya manusia ini adalah perilakunya. Di tulisan ini saya ingin menekankan untuk tidak melimpahkan semua dosa kepada material yang tidak ramah lingkungan karena yang tidak ramah lingkungan bukanlah materialnya, tetapi perilaku manusia yang mengelolanya. Sampah plastik seakan-akan seperti hantu yang selalui bergentayangan dan diusahakan untuk dibasmi. Pada sampah plastik, kata yang perlu digarisbawahi bukanlah kata ‘plastik’ nya melainkan kata ‘sampah’ nya. Plastik tidak akan menjadi menyebabkan bencana lingkungan bila dikelola dengan baik, didaur ulang, digunakan kembali, dan bukan dibuang sembarangan. Bayangkan kalau kita harus mengganti material plastik dengan material lain yang ramah lingkungan, ribuan pengangguran akan mengantri entah untuk mencari kerja atau demonstrasi di jalan karena pabrik plastik tempat mereka bekerja tutup dan mungkin selanjutnya akan muncul bencana sosial seperti meningkatnya angka kejahatan dan jumlah ‘gepeng’ (gelandangan dan pengemis).

Sebenarnya ada solusi lain yang nampaknya lebih bijaksana dan tidak menyisakan masalah lain yang sama celakanya. Solusinya adalah mendesain ulang produk-produk berbahan tidak ramah lingkungan dengan menekankan pada perilaku manusia konsumennya. Sekali lagi saya kemukakan bahwa sampah tidak akan menjadi sampah bila tidak dibuang. Melalui penerapan ilmu desain, sangatlah dimungkinkan untuk hadirnya produk yang usia kegunaannya bisa lebih panjang walaupun fungsi utamanya sudah habis.

Sebagai contoh, dapat dilihat di halaman website http://geenius.co.uk/advertising/stanley-honey-full-circle-packaging/. Di sana bisa kita lihat sebuah desain kemasan madu yang berbentuk seperti pot tanah liat. Setelah madunya habis, kemasan ini bisa digunakan sebagai pot untuk menanam bunga dan hal ini disampaikan melalui tulisan yang merupakan pesan utamanya yang berbunyi, ” Reuse this pot to grow more flowers and keep our bees busy”.  Ini adalah sebuah contoh yang ringan namun sangat inspirasional. Dan yang paling penting, desain kemasan ini murah dalam produksinya dan tidak menekankan konsepnya pada material yang digunakan melainkan pada fungsi dan pesan ramah lingkungan yang diusungnya. Hal seperti ini sangat mungkin untuk diterapkan di berbagai produk.

Demikianlah akhirnya saya menyimpulkan bahwa desainer sangat dapat memotivasi perilaku ramah lingkungan pada pengguna produk yang dirancangnya. Dan sangat memungkinkan juga untuk menerapkan hal serupa pada produk-produk konsumen di berbagai lapisan masyarakat. Masih banyak cara dan metode -selain inovasi material ramah lingkungan- yang bisa diterapkan untuk menciptakan hubungan yang lestari dan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan produk kesehariannya, serta manusia dengan lingkungannya.

Tumbler vs Paper Cup

TINJAUAN KAMPANYE SUSTAINABILITY PENGGUNAAN TUMBLER SEBAGAI PENGGANTI GELAS KERTAS OLEH STARBUCKS

Adellia Paramithasari | 27111094

Starbucks. Apa yang ada di pikiran anda jika anda membaca kata Starbucks. Sebuah gerai kopi yang sangat terkenal? Sebuah merk? Sebuah gaya hidup? Sebuah kebutuhan di jaman sekarang? Mengapa Starbucks dapat diklasifikasikan seperti ini?

Menurut BrandChannel, Starbucks berada di posisi pertama di antara consumer brands dengan memiliki 7,4 juta penggemar di Facebook, 901.925 followers di Twitter dan 6.509 subscribers di YouTube.

Starbucks mengklaim bahwa mereka adalah perusahaan yang “green”. Semua aspek di dalamnya harus menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan sustainable. Mulai dari penyuluhan ke petani-petani kopi hampir di seluruh dunia, sistem export yang teliti dan yang lainnya. Mereka bahkan mendesain interior tiap gerainya dengan furniture yang ramah lingkungan dan penggunaan listrik yang seefisien mungkin. Bahkan suhu dalam toko pun diatur sedemikian rupa untuk menghemat energi.

“Starbucks Shared Planet. You and Starbucks. It’s bigger than coffee. Use a tumbler.”

“Bring your Starbucks’s tumbler or mug and enjoy your favorite beverage half price at all Strabucks Indonesia stores”

“Less paper, more plants, more planet”

Kampanye penggunaan tumbler merupakan salah satu kampanye media sosial yang dirancang oleh Starbucks. Dalam kampanye ini, Starbucks meminta pelanggan di seluruh dunia untuk menggunakan tumbler agar dapat mengurangi jumlah penggunaan gelas kertas dan ikut serta membantu menjaga kelestarian lingkungan. Starbucks mengajak pelanggannya di seluruh dunia untuk mengganti gelas kertas dengan pilihan yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah salah satu cara Starbucks bekerja sama dengan pelanggan untuk mengurangi dampak negatif untuk lingkungan. Starbucks telah mempromosikan kampanye ini sejak tahun 1985.

While our cup has become an integral part of the coffeehouse experience over the years, it has also become an environmental concern,” menurut Ben Packard, wakil presiden Starbucks di divisi Global Responsibility. “As a result, we’ve set aggressive goals to minimize cup waste through recycling and reusable options, and are collaborating with a wide range of stakeholders to drive meaningful change. In addition to working with cup manufacturers, municipalities and recyclers to make our cups more broadly recyclable, we’re encouraging customers to think about reusable cups the way they think about reusable grocery bags.”

Honoring Earth Day

Julie Blackwell, Director of Conservation International’s Team Earth berkata, “We’re excited Starbucks is joining forces with customers to reduce cup waste in such a public way. It’s through this kind of collective action that we’ll be able to address some of the most pressing environmental challenges of our time,”

Dalam tiap kampanyenya, Starbucks selalu mengajak kita untuk menggunakan tumbler dan dengan menaatinya, kita dianggap telah ikut menjaga lingkungan dengan mengurangi jumlah penggunaan gelas kertas dan sebagainya.

Tetapi ternyata, disaat membeli tumbler, anda membeli bahan yang ternyata tidak benar-benar dapat didaur-ulang atau terurai. Tumbler sebagian besar menggunakan bahan plastik dan stainless steel. Dan cost produksinya yang cukup besar. Dan secara tidak sadar, kita telah membantu mereka dengan menghasilkan profit yang besar dari biaya yang anda keluarkan saat membeli tumbler-nya dan membiarkan mereka menghemat biaya pengeluaran yang digunakan untuk mengorder gelas kertas. Yang tidak kita sadari dalam kampanye ini adalah bahwa Starbucks mencoba menciptakan konsumen yang berpikiran bahwa dengan membuat uang Starbucks lebih mereka telah berhasil memberikan kontribusi bagian mereka dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Pada webnya, Shared Planet mengatakan bahwa, “It’s out commitment to doing business in ways that are good to the earth and to each other. From the way we buy our coffee, to trying to minimize our environmental footprint, to being involved in our local communities.”

Pernyataan ini membuat kita merasa perlu untuk membeli produk mereka agar kita dapat berkontribusi untuk mengurangi dampak-dampak buruk pada lingkungan. Sementara, kita tidak sadar bahwa produk yang kita beli hanyalah taktik manajemen perusahaan untuk membuat kita memperkaya mereka dan ternyata tidak membantu mengurangi dampak-dampak negatif itu sama sekali.

Starbucks menggunakan image mereka yang telah dianggap sebuah gaya hidup dan bagaimana efek kampanye tumbler ini akibatnya terhadap konsumen mereka di seluruh dunia. Penggunaan tumbler pun meningkat dari tahun ke tahun tanpa kita ketahui bahwa ternyata kita tidak berkontribusi yang signifikan terhadap pelestarian bumi kita. Di satu sisi, kita berpikiran bahwa kita turut serta membantu, padahal ternyata kita hanya menjadi korban iklan yang tidak tahu apa-apa. Ironis memang.

Namun, kita kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita memang sudah berkomitmen untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan kita ini? Atau kita hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara kita ikut membantu melestarikan lingkungan kita ini? Apakah kita adalah masyarakat yang cerdas atau hanya seperti kerbau yang dicocok hidungnya?

Mengurangi adalah salah satu cara untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan kita. Pada akhirnya, kembali ke bagaimana mendisiplinkan diri kita sendiri. Mengurangi penggunaan gelas berbahan plastik ataupun kertas. Berusaha tidak membeli makanan ataupun minuman untuk dibawa pulang. Makan dan minumlah di tempat. Kurangi apa yang bisa kita kurangi. Hidup simple dan bertanggung jawab. Menjadi manusia cerdas dan teliti yang mengerti dan tahu benar bagaimana cara kita ikut berkontribusi untuk lingkungan tanpa dijadikan korban iklan sebuah gaya hidup.

Tas “Pintar” yang Ramah Lingkungan

PUMA CLEVER LITTLE BAG

Tas “Pintar” yang Ramah Lingkungan

Wantoro | 27111052

Kemasan, dalam berbagai jenisnya merupakan salah satu elemen penting dalam produk. Selain berfungsi sebagai pengemas (bungkus), kemasan juga merupakan suatu identitas dari produk yang dikemasnya dan memiliki dampak pada nilai citra, ekonomi dan juga lingkungan.

Dari “box” ke “bag”

Puma, sebuah sportlifestyle brand ternama dunia baru-baru ini me-launching sebuah desain kemasan untuk produk-produk sepatunya dengan merespon secara “pintar” kondisi lingkungan saat ini dimana terjadi pemanasan alam, krisis sumber daya alam dan energi dengan menganut pada prinsip sustainable design (desain yang berkelanjutan). Desain kemasan untuk sepatu ini kemudian diberi nama “Clever Little Bag”.

Dalam proses perancangan kemasan ini, Puma menggandeng Yves Behar, seorang desainer dari studio Fuse Project, San Fransisco untuk memikirkan kembali cara jutaan pasang sepatu yang dijual setiap tahun dikemas dengan bahan baku dan energi untuk produksi yang lebih sedikit dan memiliki bobot lebih ringan agar mereduksi energy saat distribusi. Proses perancangan “Clever Little Bag” menghabiskan waktu 21 (dua puluh satu) bulan yang didalamnya termasuk proses pengujian, penelitian dan penilaian siklus hidup dari lebih 2.000 ide dan kemungkinan desain dan ditambah 40 prototipe desain kemasan.

Proses yang “pintar”

“Clever Little Bag” sebenarnya merupakan revolusi dari kemasan sepatu Puma sebelumnya yang dikenal dengan nama “Red Shoebox”, yaitu kemasan sepatu konvensional dimana menggunakan bahan karton dus/kertas secara mayoritas. Kemasan terdahulu ini tentu saja membutuhkan sumber energi yang besar, baik pada bahan baku (karton dus/kertas yang notabene berasal dari kayu), proses produksi maupun distribusi. Selain itu, kemasan dalam format box (kotak) cenderung memiliki umur pakai yang pendek karena box jarang dimanfaatkan setelah sepatu digunakan. Sedangkan kemasan dengan format bag seperti “Clever Little Bag” memiliki umur pakai yang lebih panjang karena dapat digunakan pada kebutuhan lain seperti kemasan membawa buah, kertas, alat-alat olahraga dan sebagainya. Selain itu, dengan format bag, tak diperlukan lagi kemasan plastik di toko sebagai pembungkus saat sepatu dibawa. Sungguh sebuah jawaban “pintar” atas permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini.

Dengan penggunaan kemasan baru ini, Puma mengklaim telah membantu mereduksi penggunaan :

•  8.500 ton kertas/tahun – jumlah ini setara dengan berat tubuh 1. 400 gajah  dewasa.

• 20 juta mega joule listrik/tahun – jumlah ini setara dengan konsumsi listrik disebuah kota  kecil di Eropa.

• 1 juta liter air/tahun – jumlah ini setara dengan kebutuhan air untuk menyiram toilet sebanyak 100.000 kali

• 1 juta liter bahan bakar minyak/tahun – jumlah ini setara dengan 650 flat pemanasan Eropa

• 500.000 liter solar/tahun – jumlah ini setara dengan kebutuhan solar sebuah mobil van untuk 131 kali berkeliling dunia

• 275 ton plastik/tahun – jumlah ini setara dengan 375 kali luas lapangan sepakbola bila plastik dibentangkan.

Selain itu, penggunaan “Clever Little Bag” juga berdampak :

• Mengurangi penggunaan kardus sebesar 65%

• Mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 10.000 ton

Fungsi lanjutan “clever little bag”

Kemasan sepatu Puma yang baru ini sebenarnya merupakan lanjutan dari suksesi pelaksanaan standar sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh Puma dan dikenal dengan nama program Puma.Safe. “Clever Little Bag” sendiri pada akhirnya terpilih sebagai desain terbaik untuk kategori Sustainable pada ajang Conde Nast Traveller 2011 Innovation and Design Awards di St Pancras Renaissance Marriott Hotel, London Inggris. Sementara desainernya, Yves Behar mendapatkan penghargaan “Designer of The Year” atas kontribusinya dalam proyek “Clever Little Bag” ini.

Meskipun Puma belum meraih predikat sebagai The World’s Most Sustainable Companies, namun kita tidak dapat mengelak bahwa “Clever Little Bag” merupakan sebuah langkah maju dari Puma dalam upayanya merespon kondisi lingkungan saat ini khususnya di bidang ritel.  Tujuan akhir Puma pada akhirnya adalah untuk memberikan kembali kepada lingkungan apa yang telah  mereka ambil.

 

Sumber: www.puma.com/cleverlittlebag (diakses 13 Maret 2012)

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=vwRulz8hPKI]

HeadBag Mob: Sharing Laughter & Enthusiasm

Diet Kantong Plastik, Head Bag Mob

“It sure is fun to share positive enthusiasm, laugh more, share them”

 Prananda Luffiansyah Malasan | 27111027

HeadBag Mob

Diet Kantong Plastik merupakan suatu program yang mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan kantong plastik, dalam program ini tidak melarang orang untuk tidak menggunakan kantong plastik, karena pemberhentian penggunaan kantong plastik akan menimbulkan permasalahan jauh lebih besar lagi.

HeadBag Mob di Car-Free Day, Bandung

Penggunaan kantong plastik di masyarakat saat ini sangat berlebihan, dengan kebiasaan menggunakan kantong plastik hanya satu kali pakai yang berakibat jumlah sampah kantong plastik yang semakin banyak. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Greeneration Indonesia, sampah plastik yang dihasilkan oleh setiap orang per tahunnya sebanyak 700 lembar[1], dengan kata lain setiap orang akan menjadi sebuah Monster Kresek setiap tahunnya. Maka dari itu kampanye ini dilakukan untuk mengajak setiap orang untuk mengurangi penggunaan kantong plastik yang berlebihan, dengan kata lain menggunakan kantong plastik secara bijak. Ada dua cara untuk melakukan kegiatan ini, yaitu : membawa dan enggunakan tas belanja sendiri ketika berbelanja dan jika terpaksa menggunakan kantong plastik sebaiknya simpan kantong plastik yang telah digunakan tersebut untuk dimanfaatkan kembali selama mungkin.

HeadBag Mob di BakSil, Bandung

Pergerakan kampanye yang dilakukan, terkadang tidak semua orang ingin mengikutinya. Evaluasi dari beberapa pergerakan kampanye peduli tentang lingkungan, bahwa tidak semua lapisan masyarakat maupun individu yang peduli akan hal ini. Seperti contoh kampanye Greenpeace, kampanye lingkungan yang sudah cukup mendunia yang dilakukan organisasi ini cukup besar. Beberapa contoh seperti melakukan protes tentang nuklir dengan cara membentang spanduk, atau mengumpulkan sumbangan untuk disalurkan ke yayasan sosial. Namun cara ini tidak cukup halus untuk mengajak masyarakat untuk mendukung kampanye ini. Karena untuk menjadikan sesuatu menjadi perlakuan dalam kehidupan sehari-hari, seharusnya dapat diyakini oleh seluruh masyarakat bahwa hal yang dilakukan tidak membuat effort lebih dan dapat menguntungkan dirinya.

Melukis tas sendiri

Target dari Diet Kantong Plastik adalah bagaimana penggunaan kantong plastik secara bijak menjadi suatu kebiasaan hidup bagi masyarakat. Hal penggunaan kantong plastik secara bijak, merupakan yang baru bagi masyarakat Indonesia, dan tidak mudah untuk merubah kebiasaan. Tetapi menurut Volkswagen “..fun can change behavior for the better.”[2], kutipan tadi merupakan hal yang memang menjadi cara yang halus untuk mempersuasikan suatu pesan kepada manusia. Beberapa contoh yang sederhana seperti yang dilakukan oleh Volkswagen, idenya adalah sederhana, melihat fenomena pengguna subway, banyak orang yang lebih ingin menggunakan escalator ketika ingin naik ke lantai berikutnya, dibandingkan menggunakan tangga biasa. Volkswagen memberi pengalaman seru kepada pengguna dengan memberi suara piano setiap ada orang yang menginjak tangganya. Akhirnya banyak orang menggunakan tangga dan bermain-main dan ada pula orang yang memainkan lagu dengan tangga tersebut. Contoh lain seperti tempat sampah kaleng di Jepang, desainnya dibuat transparan sehingga terlihat jalur pembuangan kalengnya, akhirnya terdapat pengalaman tersendiri ketika pengguna tempat sampah tersebut membuang sampah, dan mengundang orang untuk terus membuang sampah pada tempatnya.

Menurut Johan Huizinga manusia pada dasarnya adalah makhluk yang senang bermain, sehingga melalui cara yang fun atau menyenangkan, orang akan lebih tertarik untuk mengikuti dan mencobanya, sehingga mendapatkan pengalaman yang baik dan terstimuli untuk terus melakukan hal serupa.

Pawai HeadBag Mob

Salah satu program yang dilakukan dalam kampanye Diet Kantong Plastik ini yakni “Head Bag Mob”. Metodanya adalah setiap orang membawa dua kantong plastik dan ditukar dengan satu kantong reusable bag. Kemudian kantong plastik tadi dirangkai di mannequin yang telah disediakan, sehingga menjadi suatu sosok “Monster Kresek”, pada instalasi mannequin ini orang-orang akhirnya mengetahui bahwa kantong plastik ini sedikit demi sedikit akan menumpuk dan menjadi sosok yang mengerikan bagi manusia. Tahap berikutnya adalah reusable bag digambar oleh setiap orangnya. Tujuannya agar pengguna merasakan kepemilikan yang lebih personal terhadap tas yang digambarkan oleh dirinya sendiri, dan ketika tas tersebut digunakan menjadi topeng merupakan simbol dimana setiap orang akan selalu ingat untuk membawa reusable bag kemanapun.

Menggambar menjadi satu cara yang halus untuk mempersuasikan maksud dari kampanye diet kantong plastik ini. Karena semua orang dapat menumpahkan ekspresinya melalui bahasa visualnya, tanpa melihat usia pada acara Head Bag Mob yang pertama ini, orang yang hadir dan ikut serta dalam acara ini sangat beragam, mulai dari anak kecil bersama orang tuanya, anak-anak muda, hingga orang usia lanjut. Rasa kepemilikan terhadap tas-nya diharpkan menjadi nilai positif bagi pengguna untuk selalu membawa dan menggunakannya dalam sehari-hari, sehingga harapan kedepannya bahwa penggunaan kantong plastik akan berkurang dapat terjadi.

Melukisi tas

Referensi:

–       Volkswagen : The Fun Theory. http://thefuntheory.com/

–       Greeneration Indonesia. http://greeneration.org/

–       Diet Kantong Plastik. http://dietkantongplastik.info/


[1] Hasil riset Greeneration Indonesia, 2009 : 419 responden dari berbagai kota besar di Indonesia

[2] Volkswagen : The Fun Theory http://thefuntheory.com/

Desain, Teknologi & Krisis Urban

Berikut ini adalah beberapa pointers dari materi kuliah Ridwan Kamil saat menjadi dosen tamu di mata kuliah Desain Berkelanjutan 2, Program Magister Desain, FSRD ITB, Senin 30 April 2012.

[Catatan lain dari mata kuliah yang sama, 4 Mei 2011: Negotiating a New Indonesia]

Emil saat mengisi kelas Desain Berkelanjutan 2

Science itu ilmu yang mencari kebenaran. Ilmu Sosial & Humaniora mencari keadilan. Sementara Desain itu ilmu yang mencari kecocokan, sehingga sifatnya memang subyektif.

=====

Tidak harus jadi orang kaya utk bahagia. Kita yang hidup di kota kebanyakan harus stress karena konstrain waktu. Ini karena sistem kapitalis yang ternyata sedang menang sekarang.

=====

Kota yang stress akan melahirkan manusia-manusia yang stress, sehingga peran desain menjadi sangat penting (untuk mengobati stress itu).

=====

Jalanan yang makin padat dengan kendaraan pribadi [lokasi: Jl. Dago, Bandung]

Dengan segala keterbatasan kita, kita bisa menciptakan inner sanctum happinesskita.

=====

Kalau ada waktu, lakukan sesuatu yang mikro, yang kalau banyak dilakukan bisa membuat banyak orang bahagia.

=====

Your city, your responsibility”. Kota tempat tinggalmu adalah tanggung jawabmu juga.

=====

Manfaatkan kelebihan orang Indonesia yang ini: hobi ngumpul. Makanya budaya arisan hanya ada di Indonesia. Buat sesuatu dari situ.

=====

High levels of resource consumption do not reliably produce high levels of well being. It is possible to produce high levels of well being without excessive consumption.

=====

Ada komunitas yg senang-senang saja, tapi ada juga yang based on issues seperti Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, Bridge for Life, dan sebagainya.

=====

Bila sering berperjalanan, kita bisa melihat kebiasaan atau budaya di tempat lain. [Foto: Shanghai, manula berdansa di jalan dan Paris, pasangan ber-tango] –> Mulai dari orang tua hingga anak-anak menemukan kebahagiaan di ruang publik.

=====

Ciri peradaban yang sakit adalah, ruang publik tidak dipakai. Ciri yang sehat, ruang publik habis terpakai.

Deretan warung memakai sisi jalanan, sehingga jalur pejalan kaki menjadi berada di ‘belakang’ warung-warung tersebut. [Lokasi: Jl. Hasanudin, Bandung, sisi selatan RS Boromeus]

 =====

Dari 500 taman di Bandung, yang diurus oleh Pemerintah Kota hanya 200. Lalu harus bagaimana?

Ada konsep 1 taman 1 komunitas: satu komunitas ‘mengambil’ satu taman untuk diaktifkan, seperti yang sudah dilakukan oleh komunitas fotografi, komunitas sahabat anak, dan seterusnya.

Bayangkan kalau semua taman itu bisa penuh terisi. Di akhir pekan, bisa dilakukan wisata taman, tidak melulu harus ke pusat pertokoan.

=====

Jakarta mewakili kota Indonesia.

Yang ditampilkan dari Jakarta selalu high rise building. Namun kaki-kakinya berantakan, baik secara terstruktur maupun organik.

Realita Jakarta adalah yang tidak terurus.

=====

Hidup di Indonesia itu kontras. Sebagai arsitek profesional, ada klien yang minta gedung mahal, sementara ada juga interaksi dengan penduduk kampung lokal yang dapat digarap.

=====

Ciri kota yang sakit adalah: pemerintahnya koruptis, pebisnisnya oportunis, akademianya apatis.

=====

60% orang Jakarta menghabiskan waktu di mal untuk berekreasi. Artinya, tidak ada alternatif lain untuk menghabiskan akhir pekan.  Inilah peradaban yang sedang dibangun oleh kapital. Sementara, utk mencapai shopping mall, fasilitas belum memadai. Akibatnya orang terpaksa berdesak-desakan di jalan raya, dan mengalami urban stress.

=====

Apa gunanya ilmu kalau tidak menyelesaikan masalah?

=====

Kalau Anda tinggal, misalkan, di Amerika, negaranya sudah established in term of urban systems. Di sini, kualitas ruang publik masih menjadi masalah.

Di negara yang sudah berfungsi, kita bisa fokus ke karya sendiri. Tapi di negara yang masih kacau, hati kecil tidak bisa dibohongi. Pasti ada dorongan untuk berbuat bagi lingkungan sekitar.

=====

Jakarta sebenarnya punya uang, tapi uangnya tidak well spent.

APBD Jakarta itu 36 triliun. Tapi kualitas hidupnya: dari 215 kota besar di dunia, Jakarta berada di urutan ke-139 sebagai kota yang nyaman dihuni. Terdapat total 39 faktor sebagai indikatornya, antara lain: political stability, personal freedom, air pollution, quality of healthcare, public spaces, schools, restaurants, theatres, etc.

=====

Urban Explosion: masa depan dunia itu Asia. The most optimistic young people are in Asia.

Dari sisi ekonomi, Indonesia sudah lepas dari krisis 2008 karena banyak yang kelas IKM. Sekarang kita hidup di masa yang ekonominya baik. Tapi masih ada tantangan: ledakan populasi.

Dulu penduduk Bandung jumlahnya 300ribu, sekarang 2,5juta, sementara tidak ada inovasi untuk mewadahi fakta ini.

=====

Harusnya kita bisa menghadirkan produk teknologi yang revolusioner di ITB.  Yang melibatkan partisipasi multi-disiplin ilmu.

=====

Sebelum ada Car-Free Day kita mungkin tidak tahu-menahu mengenai berbagai kegiatan positif di lingkungan terdekat kita. Setelah ada CFD, baru kita tahu ada apa saja di komunitas sekitar kita.

=====

The city is the people. Saat filosofi itu dilanggar, hilang jugalah positifnya.

Yang kita alami sekarang adalah, “kota” mendahulukan mobil, sementara pedestrian tidak ada. Pemikiran orang PU sekarang seperti itu, tidak pernah memperbaiki jalan aspal dengan sidewalk-nya sekaligus.

=====

Hidup “berkelanjutan” (sustainable) itu bisa dengan teknologi tinggi ATAU dengan mengubah gaya hidup. Di negara berkembang seperti Indonesia, lebih cocok dengan strategi mengubah gaya hidup.

=====

Urban Farming, Indonesia.

Power/ kekuatan di Indonesia adalah social cohesion. Indonesia ini negeri indah yang banyak masalah. Di kota-kota besar, banyak unbuilt space yang jadi negative space. Ruang-ruang semacam ini dimanfaatkan menjadi lahan untuk berkebun, yang juga telah menjadi ruang alternatif bagi aktivitas anak-anak.

Bulan Oktober 2011, Urban Farming Indonesia mendapat penghargaan dari Google sebagai Google Web Hero. Alasannya adalah: Internet dipakai sebagai sumber informasi (Google, YouTube), juga untuk menghubungkan orang (Facebook, Twitter). Hanya di Indonesia juga Internet lebih digunakan untuk mengkampanyekan berbagai gerakan. Kita ini masyarakat sosial tapi dekat ke teknologi.

=====

Educating client is the hardest part in design.

=====

Jangan percaya bahwa jalan tol dalam kota itu simbol kemajuan! Keputusan politik dapat menciptakan perubahan. Maju atau tidaknya suatu peradaban itu ditentukan oleh mental orang nomor satunya.

=====

Our fight is the fight for public space.

=====

Keberlanjutan bisa terwujud di level intervensi infrastruktur.

Babakan Asih: inisiatif memperbaiki kampung dengan lintas komunitas kreatif.

Dulu, tiap hujan biasanya banjir selama 3 hari. Sekarang, setelah ada lubang-lubang resapan, 15 menit air bisa surut.

Dulu, harus menggali sedalam 8m untuk mendapatkan air tanah. Sekarang, satu tahun setelah ada lubang-lubang resapan air itu, hanya perlu menggali sumur sedalam 4m. Dulu airnya keruh, sekarang jernih.

Ini adalah tugas kita yang punya ilmu.

=====

Desain sarana publik yg paling tepat utk org Indonesia?

Masalah utama di sini adalah: perawatan, keamanan (vandalisme), dan ‘sense of belonging’.

Pernyataan bahwa “secara sosial kita masih primitif”, mungkin ada benarnya. Karena saat diberi sesuatu yang baru, kaget, kalau tidak biasa, pasti di-abuse.

=====

Ada masalah-masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh desain. Jangan-jangan oleh kampanye, oleh pendidikan, atau sekedar dengan ngobrol. Tapi kita tidak akan bisa maju kalau kalah atau bergantung pada semua itu.

Akhirnya penerapan desain memang sifatnya eksperimental.

Akhirnya orang-orang yang punya ekstra (waktu, tenaga, sumberdaya) saja yang melakukan perbaikan. Satu pesan: kalau membuat sesuatu, buatlah yang keren sekali, jangan nanggung, supaya orang segan.

SecondPage: extending papers’ lives

SecondPage documents

In a class called SENDAL by students (SENDAL stands for SENi, DesAin & Lingkungan), or Arts, Design & The Environment, taught by five lecturers from each programs at our faculty (Industrial Design, Visual Communication Design, Interior Design, Craft, Visual Arts), we asked students to form groups for their end-term exam. Each group was to bring up an ecological issue and respond to it using their capacities as creative individuals. At the end of the term, they had to submit a video explaining their projects and other documents from their projects (products, photos, posters, etc.)

SecondPage was among the groups that participated in the class in 2011. This project brought up the issues of paper waste, especially the one produced by final year students, who usually have to do several revisions. The first video shows the whole project, the second one gives an introduction to SecondPage, and the third video contains a step-by-step way to produce new notebooks out of used papers. If conducted seriously, this project can be developed into its own business entity, enterprising in taking in used papers, employing (slightly trained) workers, and producing commercially valuable products.

Ibu-ibu Kita Masih Melahirkan Pejuang

Ungkapan tersebut tentu sudah akrab bagi kita yang pernah membaca atau mendengar mengenai Indonesia Mengajar, termasuk saya sendiri. Telah beberapa kali saya membaca dan mengagumi gerakan ini, dan menganggapnya menjadi sebuah penghiburan yang membesarkan harapan pada Indonesia, “Negri yang pantas dicintai”, kata Kang A’at Soeratin, di tengah-tengah gencarnya berita-berita dari tanah air yang memuakkan. Oleh karena itu, ketika ada kesempatan untuk mendengarkan Pak Anies Baswedan berbicara mengenai pendidikan, saya langsung mendaftar untuk hadir, terutama karena ingin tertular semangat dan optimismenya terhadap kebangkitan bangsa ini.

Acaranya berlangsung di Rumah Belajar Semi Palar, Bandung, 25 Agustus 2011, mulai pukul 3 sore. Ketika saya datang, acara sudah dimulai dengan pengantar dari Kang A’at (bagi yang belum kenal, coba cek situs Garis Depan Nusantara – beliau termasuk salah satu anggota tim ekspedisi GDN). Setelah itu saya mulai mencatat hal-hal yang disampaikan Pak Anies, dalam sketsa dan tulisan berikut ini (mohon maklum kalau tidak runut dan kurang lengkap, karena mengandalkan sketsa dan ingatan)…

sketchnote 1

Kalau kita dengar profesi “guru” di Indonesia ini, konotasinya adalah: kurang memadainya kualitas mereka, rendahnya tingkat kesejahteraan, dan kurang meratanya distribusi tenaga pengajar ke seluruh Nusantara. Ini jelas merupakan masalah, janji negri ini pada bangsanya yang belum terlunasi. Indonesia Mengajar mencoba menjawab masalah ini dengan mengirimkan pengajar-pengajar berkualitas tinggi ke pelosok Nusantara, karena pendidikan merupakan tanggung jawab moral semua orang terdidik.

Mengutip Abah Iwan ketika melepas satu angkatan Pengajar Muda, bahwa “(Menjadi pengajar di pelosok tanpa fasilitas yang memadai) bukanlah pengorbanan, tapi merupakan kehormatan”, memang benar. Sebab para Pengajar Muda ini adalah orang-orang muda terpilih, yang telah mengalami proses seleksi ketat dan pelatihan yang sesungguhnya. Rasio jumlah yang terseleksi dibandingkan jumlah pendaftar jauh mengalahkan rasio perebutan bangku perguruan tinggi favorit di negri ini – bedanya, yang ini nyata dan hasilnya benar-benar diuji langsung di daerah penempatan.

sketchnote 2

Ketika merdeka, penduduk Republik Indonesia sekitar 70 juta jiwa. Jumlah sekolah dasar baru ada 15 ribu, kini ada sekitar 147 ribu, dan mampu menyerap hingga sekitar 94-96% pendaftar. Ketika merdeka, hanya ada segelintir jumlah sekolah menengah dan lanjutan, apalagi perguruan tinggi, sehingga jelas bahwa kualitas SDM kita masih lemah, bahkan sebagian masih buta huruf. Sehingga yang terjadi adalah, ketika membanggakan potensi negri, para pemimpin bangsa ini mengajukan SDA, hasil bumi dan hasil tambang, sebagai yang terunggul. Sekarang seharusnya berbeda: para pemimpin bangsa ini seharusnya kini dapat lebih menghargai SDM kita, dan tidak lagi bergantung pada (eksploitasi) SDA – yang adalah cara berpikir jaman kolonial.

Are we ready to prepare our children to become global citizens? Seharusnya kita sudah menyadari, bahwa letak negara-negara tetangga lebih dekat dan jauh lebih mudah dijangkau ketimbang kota-kota di pulau-pulau lain di Indonesia. Anak-anak di wilayah-wilayah tersebut seharusnya dibekali dengan pengetahuan lebih, terutama keterampilan berbahasanya.

Sebagian besar (20%) dari bangsa Indonesia peraih gelar PhD adalah dalam studi-studi yang berkaitan dengan agama. Setelah itu baru ilmu-ilmu lain: ilmu sosial, ekonomi, sains, engineering, dsb. But we need more than prayers to produce technology.

Berbagai data dan statistik menunjukkan perbandingan jumlah pelajar Indonesia dalam prosentase yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelajar dari negara-negara lain, yang menempuh pendidikan di negara-negara industri maju. Namun tidak perlu berkecil hati, sebab ternyata sebagian besar dari para pelajar asing ini adalah dalam tingkat vocational, sehingga sekembalinya mereka ke negara masing-masing, mereka akan bekerja di bidang industri manufaktur – yang kurang lebih masih dalam kontrol negara-negara maju tersebut.

Kita seharusnya bisa melakukan loncatan lebih dari mereka, dengan cara mengandalkan, melatih dan menajamkan kreativitas dan daya berpikir kritis.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=Vc1hgMl3uUk]

[Video yang ditayangkan untuk memberikan gambaran mengenai pentingnya mendidik generasi abad ke-21 dengan tepat. Apakah kita siap?]

 

Dari data lain, terlihat bahwa sebagian besar pelajar SD di Indonesia tidak dapat melanjutkan ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi. Bila melihat angka jumlah pelajar SMA, para pelajar yang memulai SD pada saat yang bersamaan tidak ‘terangkut’ atau tidak dapat terus ke tahap pendidikan lanjut.

Bila orang-orang seangkatan orang tua kita pada saat seumur kita ditanya, 30 tahun lalu berada di mana, jawabannya sebagian besar adalah di kampung, di daerahnya yang letaknya mungkin sangat jauh dari ibukota. Apa yang membawa mereka berhasil berkehidupan di kota-kota besar, menjadi professional yang sukses di bidangnya, bahkan menduduki berbagai posisi penting? Pendidikan. Apakah pendidikan kini masih dapat mengangkat harkat hidup orang-orang dari pelosok Indonesia seperti masa itu?

Kini, bila kita ditanya, 30 tahun berada di mana, jawabannya hampir dipastikan adalah kota-kota besar di Indonesia, dari kaum menengah ke atas. Bukti bahwa pendidikan belum berhasil menjangkau dan meningkatkan kesejahteraan secara merata.

Perancang sistem pendidikan adalah perancang sistem sosial suatu masyarakat. Manusia terdidik akan mampu meningkatkan tingkat sosial dan ekonominya, dengan pendidikan sebagai ekskalatornya.

sketchnote 3

Para Pengajar Muda adalah warga sipil yang kelak dapat mengatakan, “Aku telah membaktikan diri pada negriku”. Mereka ditempatkan di pelosok-pelosok Nusantara untuk tinggal dan mengajar di sana selama satu tahun. Setelah itu mereka harus pulang untuk menjadi professional di bidangnya masing-masing. Posisi mereka di daerah penempatan digantikan oleh Pengajar Muda angkatan berikutnya, dan terus bergantian, hingga lima tahun.

Dengan cara ini, mereka akan memiliki dua ‘rumah’, yaitu daerah asalnya sendiri, dan daerah di mana mereka ditempatkan, yang akan menciptakan keterikatan batin. Empati kebangsaan dan ke-Bhinneka-an mereka terbentuk selama masa penempatan ini. Sehingga akan terbangun dua hal berikut: di satu sisi para Pengajar Muda mendapatkan pengalaman tak ternilai di daerah penempatan masing-masing, sementara di sisi lain daerah penempatan tersebut pasti akan teringat dan terangkat ketika para Pengajar Muda ini kelak berkarya dalam bidangnya masing-masing. Sistem ini menjadikan para Pengajar Muda tersebut leaders with global qualities, with an understanding of their roots.

Acara berlanjut dengan tanya-jawab hingga waktu berbuka puasa tiba, dilanjutkan dengan acara penutupan. Pak Anies diminta menorehkan dengan spontan kata-kata di kanvas yang di bagian atasnya terdapat bendera merah-putih yang dijahit. Bentangan bendera merah-putih dengan robekan yang terjahit juga hadir sebagai latar acara ini, yang menurut Mas Andy Sutioso dari Rumah Belajar Semi Palar, dipakai di acara tujuh belasan yang lalu. Jahitan tersebut merupakan simbol bahwa kita sedang memperbaiki Indonesia, yang tengah mengalami kerusakan. Pada kanvas itu Pak Anies menuliskan, Ibu kita melahirkan pejuang. Hidupi Republik ini dengan gerak maju lewat pendidikan. Masa depan Republik ini akan cemerlang untuk semua!

Relevant links:

Catatan dari acara yang sama (dengan foto):

http://cinnamome37.blogspot.com/2011/08/catatan-diskusi-bersama-pak-anies-1.html

http://cinnamome37.blogspot.com/2011/08/catatan-diskusi-bersama-pak-anies-2.html

http://cinnamome37.blogspot.com/2011/08/catatan-diskusi-bersama-pak-anies-3.html

Situs Rumah Belajar Semi Palar: http://semipalar.blogspot.com/

Situs Indonesia Mengajar: http://indonesiamengajar.org/