Category Archives: design

contribution to improve and encourage sustainable life style by design

Jam Tangan Ramah Lingkungan dari Limbah Kayu

Reny Maryani (27115046)

Indonesia merupakan negara dengan memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam, salah satunya kayu. Kayu merupakan salah satu sumber daya alam yang di manfaatkan oleh manusia selama berjuta-juta tahun lamanya. Pemanfaatannya berawal dari kayu bakar, kemudian berkembang menjadi bermacam-macam kegunaan seperti tempat tinggal, kendaraan, alat musik, rumah lampu, furniture, peralatan rumah tangga, alas kaki, mainan hingga aksesoris. Dalam proses pengolahannya tidak jarang menghasilkan limbah kayu dengan jumlah yang tidak sedikit, ditambah apabila produk yang dihasilkan dibuat secara mass production maka semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Kayu adalah salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan kembali meskipun sudah menjadi limbah. Di Indonesia, limbah kayu sudah dimanfaatkan menjadi produk dengan fungsi yang sama atau baru. Mulai dari yang bernilai ekonomi rendah seperti arang sampai yang bernilai ekonomi tinggi seperti peralatan rumah tangga hingga aksesoris. Selain kenaikan nilai ekonomi dari limbah kayu yang diolah yaitu kita dapat memaksimalkan dan memperpanjang usia kayu tersebut karena seperti yang kita ketahui kayu (contohnya kayu jati) baru dapat dipanen setelah usia pohon minimal 5 – 10 tahun. 

Melimpahnya limbah kayu dari workshop interior-furniture yang tidak termanfaatkan dengan baik menjadikan ide bagi para industri kreatif untuk menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku dalam pembuatan produk baru. Peluang pengolahan limbah kayu ini sudah banyak dimanfaatkan oleh orang-orang kreatif dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Matoa, brand jam tangan pertama yang menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku utamanya dan merupakan hasil karya anak bangsa dengan mengambil konsep urban, simplicity and nature menjadikan produk ini terasa eksklusif karena dibuat oleh para pengrajin dengan keahlian tinggi yang detail oriented dan tentu saja di desain dengan cukup apik oleh para desainernya. Ditambah dengan menggunakan limbah kayu berkualitas baik yaitu Maple dan Ebony Makasar menjadikan kualitas jam tangannya sangat baik.

Secara tidak langsung Matoa mengajak para konsumen menjadi bagian dari orang-orang yang peduli tentang penggunaan limbah kayu dengan memakai produk yang ramah lingkungan dan bahan baku yang berkelanjutan. Dan menegaskan bahwa pengolahan limbah kayu yang dilakukan secara professional dalam arti secara konsep desain dan proses pengerjaannya matang serta di dukung dengan packaging yang menarik dapat menghasilkan suatu karya atau produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Tren sustainability design yang sedang digembar-gemborkan oleh para komunitas, pelaku industri, desainer dan pelaku yang lainnya juga bisa menjadikan pengolahan limbah kayu menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan desain yang berkelanjutan. Potensi pengolahan limbah kayu menjadi produk dengan nilai ekonomi masih terbuka lebar bagi para pelaku industri kreatif, karena masih banyak peluang produk-produk lain yang belum di ciptakan atau diciptakan kembali dengan menggunakan bahan baku utama dari limbah kayu. Selain itu dengan memanfaatkan atau menggunakan produk dari limbah kayu juga membuat kita turut berpartisipasi atas keberlanjutan usia produktif kayu. Karena tidak dapat dipungkiri, dengan meningkatnya permintaan pasar akan kebutuhan kayu sebagai bahan baku utama untuk di olah menjadi berbagai macam produk menjadikan pasokan kayu semakin berlimpah di pasaran, ini berakibat semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Setidaknya dengan memanfaatkan limbah kayu yang ada menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah kayu, namun lebih baik lagi apabila kita dapat memanfaatkan limbah kayu menjadi zero waste.

SUMBER :

http://www.trubus-online.co.id/panen-jati-lima-tahun/ di akses 10 Maret 2017

https://www.matoa-indonesia.com/ di akses 10 Maret 2017

 

Whose Version of “Smart”?

Bandung Creative City Forum (BCCF) was invited to take part in Asia-Pacific Week in Berlin in 2013, which brought up “Smart City” as the theme, in a traveling exhibition and a debate session. At that time, our understanding about the term “smart city” circulates around digital application for public facilities, full Internet access for communication purposes; mostly aims to make life more practical. The curator of the exhibition, Ulla Giesler, challenged us to define what is “smart” for our city by presenting one of our projects, and through a series of questions concerning the project, of which answers were then referred to as our main statement for our display and/or debate. I’m publishing them here since “Smart City” has now become one of those overused buzzwords – and it seems that some people (or worse, people with power, or authorities) are entranced by that term with less (or no) consideration on the essential foreground that needs to be firmly planted in the daily life of a society, before adding virtual aids.

For this Asia-Pacific Week in 2013, BCCF chose to present Helarfest2012. Helarfest, one of BCCF main programs, is a community festival that initiated the establishment of BCCF. In 2012, Helarfest was held based on the four typical elements of Bandung City: forest, park, kampung and river. Each element was activated by a number of creative communities, resulted in four event titles: Lightchestra (forest), Ulin.bdg (park), Kampong Festival (kampung) and River Cinema (river).

In short, “smart” for us refer to the capability of the citizens to fulfill their needs and to activate their own living habitat, sometimes using tools that are not necessarily digital or hi-tech, but they can even come in another forms, such as creativity, active involvement and initiatives.

Infographics on BCCF programs and activities from 2008 to 2013, responding to diverse urban issues (stated in middle circles)

Infographics on BCCF programs and activities from 2008 to 2013, responding to diverse urban issues (stated in middle circles)

Following are the questions and answers, and an overview on Helarfest2012.

1 How does your project “smarten up” your city?

All Helarfest sub-events in 2012 responded to urgent issues in Bandung, such as preservation of a city forest and revitalization of kampungs that have been enduring ecological and social pressures caused by rapid physical development of the city, by raising awareness towards the issues among local people, and encourage them to become active citizens who knows that they have all the rights to enjoy, create, activate and maintain their living space.

The projects “smarten up” Bandung by raising engagement through creative events and activation programs, these projects increased the confidence and sense of belonging of local citizens toward their habitat. With this new/revived relation, they become eager to learn about various simple yet creative ways to maintain their living space, i.e. keeping vertical gardens, not throwing garbage to the river, personalizing their neighborhood by painting mural arts, etc. These methods are relatively easy to duplicate and applied to different areas with diverse themes, and are expected to be contagious to the neighboring areas, initiated by local communities and conducted using local resources, as much as possible.

2 Why does your city need your project and what challenges are country‐specific to your urban context?

Similar to other growing cities in Indonesia, Bandung becomes highly populated and denser. However, the rapid population growth exceeds the city’s ability to provide adequate facilities for its citizens, including physical infrastructures and public services. Urgent issues that rose due to this condition include the decrease of environmental qualities that has caused disastrous flood, the absence of garbage and solid waste processing, substandard sidewalks and bike lanes, etc. These issues, added by the insufficient governance and lack of law enforcement, have become the common main challenges faced by growing cities in developing countries, including Indonesia.

On one hand, local people have become tolerant of such disorderly conditions and accepted them as the “new normal”. On the other hand, the facts that 68% of Bandung citizens are below 40 years of age, and that Bandung has around 50 colleges and universities, show that Bandung has the potential to produce active citizens. This is what makes it possible for Bandung to respond creatively to the urban issues.

3 What are the new behaviors your building/planning/initiative encourages?

The 2012 program focused on four elements of Bandung: forest, kampong, park and river, involving local people who live around those specific areas, with an objective to raise their responsibility toward their own urban habitat. The programs created in each sub-event encouraged people to understand their specific living space, and, most importantly, to become active urban citizens.

With the Lightchestra event, people take care of the city forest that is actually located at a busy part of the city, and can be easily accessed. During the Kampung Festivals, the inhabitants gained confidence and became motivated in maintaining their cornered neighborhood. In Ulin.bdg, children who are used to find entertainment in shopping malls, or play alone with gadgets and computers, could spend one weekend in a city park that provided a lot of adventure games and activities. Cikapundung River Cinema offered a new experience for people to watch movies for free, while appreciating the unique surroundings, due to the main river that slices Bandung in two. All these events encouraged people to enjoy public spaces in different settings, with different activities, and to gain a sense of belonging to the city.

===================================

HELARFEST

Helarfest is an annual festival for creative communities held by Bandung Creative City Forum (BCCF). Helarfest started in 2008, when creative communities in Bandung gathered and agreed to make a common “umbrella” for their various events. As the result, in 2008, there were more than 30 events within 1,5 months in Bandung. Helarfest 2009 used similar format, which ended up with 67 events within 2,5 months. In 2010, Helarfest took a break. Instead, BCCF held Semarak.bdg, an event (with 7 sub-events within 1 month) that focused on the use of public space, creative intervention to public facilities, heritage building preservation, vehicle-free road, and other issues related to urban space. In 2011, BCCF collaborated with UNEP and The Indonesian Ministry of Environment as a creative consultant for TUNZA, an international conference for children and youth on environment. During this event, BCCF succeeded in having Babakan Siliwangi – an area with conflict of interests – declared as a World City Forest, and to build a canopy walk at the location (called ForestWalk), where people can enjoy walking among the high trees. In 2012 Helarfest was held again, focusing on Urban Acupuncture with the following themes, which were chosen according to the specific urban characteristics of Bandung: forest (Lightchestra), kampung (Kampung Kreatif), park (Ulin.bdg) and river (Cikapundung River Cinema). All events were held in coordination with BCCF, but each was organized and executed by different communities.

LIGHTCHESTRA

5-7 July 2012

At Babakan Siliwangi City Forest, Jalan Tamansari, Bandung

HELARFEST #1 : LIGHTCHESTRA – Music Festival, Light/Laser Show & Community

Organizer: Design Hub Indonesia

Lightchestra was the opening event for the whole Helarfest series, a music and light concert held in Babakan Siliwangi World City Forest. Design Hub Indonesia was a community of designers/ entrepreneurs that was in charge of this event, which included activities such as a photo contest, spontaneous painting (inviting artists from an artist compound that is located next to the forest), etc., inviting i.e. BULB (Barudak Urban Light Bandung) who makes light graffiti, Bandung Urban Jedi (“lightsaber fighter”), Sahabat WALHI that works with ecological issues in urban areas, Open Your He(Art) Studio that works with orphans, etc. The aim of this event was to re-introduce the World City Forest, which was declared one year before, to public. This forest has been in dispute due to the developing license given by the municipality to a company, which was said to have planned to build a restaurant, a mall and an apartment at the area. Therefore, it is hoped that people become aware of this available urban space, so they would use this inspiring green open space for various activities, to show the government and developer that people still need such space. The music and light concert invited indie band from Bandung, held at an arena in the forest that is used for traditional ram fight each first week of the month.

KAMPUNG KREATIF

Creative Kampung program for 2012 involved 5 (five) kampungs or urban villages in Bandung; each needed different treatment, according to each potentials and characteristics. The five kampungs chosen for this program represented the entrance points to Bandung. These points are: Dago Pojok at the North (entrance to Bandung by car), Cicukang at the West (entrance to Bandung by train and airplane), Cicadas at the South (entrance to Bandung by car), LeuwiPanjang at the East (entrance to Bandung by city bus) and Tamansari that is located at among the most crowded areas in Bandung. A person responsible for this project was Rahmat Jabaril, an artist who has been living in one of these kampongs himself, but then brought the ideas to other kampongs in Bandung, which are mainly inhabited by people with low-income and who have substandard education levels.

Following are the considerations for this program:

  • Bandung has been known as a “creative city”, but upon entering Bandung, people rarely see any display of creativity from the infrastructure and conditions of Bandung. Therefore these entrance kampongs are chosen, with the hope that they could give positive impressions about Bandung at the first sight a visitor enters Bandung.
  • People who live in these urban-kampungs commonly range within the poverty line. However, the locations of their kampungs are strategic, and are mostly targeted by developers (assisted by the government) who would have them evacuated. Knowing this fact, the people of these kampungs have gradually become apathetic toward their own environment, since they kept being pushed by the physical development around them. Therefore, this program aimed to return their confidence by assisting them in discovering their potentials, with the hope that once they gain their confidence through programs that activate their neighborhood, they also gain the sense of belonging toward their habitat and hopefully would take a better care of their living environment.

ULIN.BDG

10-11 November 2012 at Cilaki Park, Jalan Citarum

http://www.bccf-bdg.com/webs/the-news/253-ulinbdg-festival-kaulinan-bandung-helarfest-2012-3.html

Organizer: HONG Community and EcoEthno

Ulin.bdg is a festival for traditional and adventurous games for children. This program meant to tackle two issues at the same time; one was the activation of parks as public space, another was to provide alternative activities for children who rarely have the chance to play outdoor or in a city park.

CIKAPUNDUNG RIVER CINEMA

22 December 2012 at Cikapundung Barat

http://rivercine.com/

Organizer: House The House

This event was the closing of the whole Helarfest 2012, held at the bank of Cikapundung River that runs along the City of Bandung. An inflatable giant screen was the center of the event, as an open-air cinema, where indie short movies were projected for about 10 hours. Next to the screen, a stage was set up for live performances and another was set for food stalls, which were run by young culinary entrepreneurs. This event was held to make people realize the importance of Cikapundung River as the beginning of civilization that formed the City of Bandung, but somehow got neglected and gradually become a place where citizens throw any kind of garbage, which has caused damaged to the river’s quality.

 

All these events in Helarfest 2012 responded to the issues of public space and urban villages within the context of Urban Acupuncture, which is an effort to educate fellow inhabitants of Bandung to appreciate their living space by activating and maintaining their surrounding environment. For the condition of Bandung, active involvement of its citizens is important, since it is their contributions that define a city. Bandung can be seen as “smart” in a way that the city thrives due to the people and their creative potentials, despite the insufficient governance and infrastructures.

Here is the link to a video recording on the talk session at ANCB (Bandung is in Panel VI) http://www.ancb.de/sixcms/detail.php?id=9261829#.VSwCshmuvRc

Desainer Impor, Bukan Solusi

Saya baru membaca salinan sambutan Presiden RI pada pembukaan INACRAFT 2015, tertanggal 8 April 2015. Lalu terpukau pada bagian ini:

 “Tadi saya bisiki Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi, desain. Kalau kita mau masuk pasar Eropa, cari desainer dari sana. Pemerintah cari desainer-desainer yang baik dari Eropa. Yang baik dari mana? Dari Perancis? Cari dari Perancis. Yang baik dari mana? Dari Italia? Cari dari Italia.  Memang harus berani seperti itu. Kalau tidak, desain kita akan tidak selalu bergerak ke pasar-pasar internasional.”

Nah, karena konteksnya INACRAFT, “desain” yang saya bahas di sini lebih mengarah ke desain produk yang erat kaitannya dengan kapasitas pengrajin dan industri rumahan, budaya, dan SDA yang umum digunakan sebagai bahan mentah dan bahan produksi. Kalau yang jadi tujuan adalah “masuk ke pasar internasional”, percayalah, sekedar menghadirkan desainer asing untuk mengolah sumber daya kita bukanlah jaminan untuk “produk yang lebih laku”. Jadi apa solusinya? Bukan mengimpor desainer, tapi membenahi ekosistem dari hulu ke hilir, dengan segala dinamikanya.

Magno, contoh karya desain produk "new craft" yang mendunia karena kearifan sistem produksinya

Magno, contoh karya desain produk “new craft” yang mendunia karena kearifan konsep dan ekosistem produksinya (karya Singgih S. Kartono, Temanggung)

Yang pertama, dari hulu, pastikan apakah ketersediaan bahan mentah dan bahan baku bisa konsisten sepanjang tahun? Pengrajin bambu andalan kami pernah gagal deliver produk pesanan kami, karena “petaninya nggak mau jual bambu”. Kenapa? “Karena di bulan yang biasanya bisa panen, jadi banyak hujan, sehingga banyak anakan yang tumbuh. Kalau induknya ditebang, bisa-bisa anaknya mati. Dan nggak bisa tebang di musim banyak hujan begini.” Ini baru masalah Perubahan Iklim. Ada lagi masalah sosial, seperti, tidak memenuhi pesanan sesuai janji karena, “Musim panen, semua orang ke ladang, nggak ada yang ‘nganyam,” atau “Ada upacara sunatan, sekampung nggak ada yang kerja.” Aktivitas adat dan sosial yang tidak bisa disanggah, sehingga target produksi pun seharusnya dapat menyesuaikan dengan ritme alami ini. Apakah desainer asing bisa memahami hal-hal seperti ini?

Eksplorasi material serat alam dengan titik berat pada kapasitas dan kemampuan pengrajin lokal, dengan bantuan teknologi sederhana

Eksplorasi material serat alam dengan titik berat pada kapasitas dan kemampuan pengrajin lokal, dengan bantuan teknologi sederhana (penelitian Desain dan Produk Budaya, ITB)

Hal lain, kita sudah punya desainer-desainer unggul, yang termasuk juga hasil didikan perguruan tinggi desain yang sudah berdiri di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Karya-karya mereka juga sudah masuk ke pasar internasional yang bergengsi, exposure karya mereka juga sudah mendunia melalui website dan media sosial. Di era seperti ini, akses dan wawasan mengenai trend global, proses produksi yang canggih, dan faktor-faktor pendukung lainnya terbuka lebar. Teman-teman, juga para mantan mahasiswa, secara bertahap telah berhasil membangun reputasi dan domain mereka dalam bidang desain yang diakui dunia internasional. Rahasianya apa? Para desainer Indonesia yang unggul ini dengan cermat dan cerdas berhasil memaknai akar budaya Indonesia yang beragam dalam karya-karyanya. Mereka unik karena dapat mengangkat nilai kearifan budaya, bukan hanya “menempelkan” ornamen tradisional pada karyanya. Apakah desainer asing bisa menjiwai hal ini?

Desain produk bambu dengan yang diproduksi dengan existing skill pengrajin, tapi dalam desain kontemporer (karya tugas akhir mahasiswa Desain Produk ITB)

Desain produk bambu dengan yang diproduksi dengan existing skill pengrajin yang diaplikasikan pada desain kontemporer (karya Sadhiya Hanindita, tugas akhir di Desain Produk ITB)

Banyak hal lain yang “menggemaskan” seputar subyek tentang “desainer impor” ini; satu Blog tidak akan cukup untuk membahas mengenai pembenahan ekosistem desain produk dalam konteks ini. Namun, bila ingin mencoba menjawab cepat, solusi atau cara untuk pengembangan produk Indonesia adalah pada endorsement bagi para desainer profesional, terutama desainer pemula dan yang hendak naik kelas (start-up dan step-up), berupa berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi kapasitas diri, kemudahan kesempatan untuk tampil dalam berbagai event desain dunia, dan kemudahan akses ke informasi terkini dalam bidang desain dan segala hal yang berkaitan dengannya (teknologi, fenomena sosial, dsb.) Potensinya sudah banyak, dan tersebar; sehingga tinggal diperlukan sebuah sistem manajemen yang strategis, kalau mau unjuk gigi secara masif.

Itu tadi mengenai “masuk ke pasar internasional”. Sementara, saya yakin, pasar dalam negri kita ini cukup kuat. Masih penting bagi sesama bangsa ini untuk menghargai karya saudaranya sendiri; “Aku cinta buatan Indonesia” harus terus digencarkan dan dibuktikan. Jiwa konsumtif bangsa kita ini tinggal diarahkan ke berbagai produk dan jasa yang aman bagi kelestarian lingkungan, dan yang dapat mendukung dan membangkitkan industri kita sendiri.

Saya juga yakin nih, teman-teman desainer, para peneliti dan akademisi, pengusaha desain, dan pengrajin, termasuk para designer-maker yang sedang marak, pasti punya pendapat masing-masing dan solusi nyata untuk isu ini. Ada yang dengan cara bertukar pikiran dengan budaya lain, atau berkolaborasi baik dengan sesama desainer maupun dengan ahli dalam bidang lain, dan sebagainya – tapi pasti mentah-mentah mengimpor desainer, bukan jadi salah satu solusi. Ayo, kita bergerak! ^_^

Arsitektur Hijau Bandara Blimbingsari

Teguh Vicky Andrew

 

Citra kekinian Banyuwangi tak lagi identik dengan sebutan “kota santet”. Pasalnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, bekas ibu kota kerajaan terakhir di Nusantara ―Blambangan― ini telah bersalinrupa menjadi “kota hijau” yang berkesan ramah bagi setiap orang. Tentu saja, pencapaian ini tidak dapat dilepaskan dari kiprah dan kebijakan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Ketika banyak daerah berlomba-lomba menjadi kota pintar (smart city), Azwar malah mengembangkan gagasan kampung cerdas. Seturut konsep itu, selain memberikan pelayanan publik berbasis teknologi informasi, bupati berusia 41 tahun ini juga bertumpu pada budaya dan ekonomi lokal, serta menerapkan pembangunan fisik berbasis lingkungan (green architecture).

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 74)

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 74)

Secara personal, bupati kelahiran Banyuwangi ini memang memiliki kepekaan khusus terhadap seni bangunan. Namun ia juga tak dapat menampik fakta bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di seluruh dunia menghasilkan 40% emisi karbondioksida yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global (Yudelson, 2007:3). Oleh karena itu, minat sang bupati tak terbatas pada estetika dan tren arsitektur kontemporer, tetapi juga bangunan-bangunan yang ramah lingkungan.

Untuk itu, selama 5 tahun terakhir, Bupati Azwar melibatkan para arsitektur kondang dalam merenovasi, memperluas, dan mendirikan lebih dari 15 bangunan secara simultan. Salah satu konstruksi yang kental menerapkan prinsip arsitektur hijau adalah Bandara Blimbingsari. Lapangan terbang seluas 240 meter persegi dengan panjang lintasan 1.400 meter―kemudian diperpanjang 1.800 meter― ini mulai dibangun pada 2004 dan mulai beroperasi pada akhir 2010.

“Melipat Jarak”

Kehadiran bandara Blimbingsari sangat penting dan strategis. Berjarak 300 kilometer dari Surabaya, ibu kota kabupaten ini ditempuh sekitar delapan jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Namun, durasi perjalanan ini dapat dipangkas hingga 50 menit bila menggunakan pesawat (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015:76). Dengan begitu, kehadiran lapangan terbang ini akan mempermudah akses wisatawan dan investor yang memicu pertumbuhan ekonomi lokal.

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi (Asdhiana, 2014)

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi (Asdhiana, 2014)

Pada kenyataannya, jumlah tamu di Bandara Blimbingsari memang terus meningkat. Bila pada 2011 jumlah penumpang hanya 3.000 orang, maka pada 2012 telah meningkat menjadi 24.000 orang dan 44.000 orang pada 2013 (Rachmawati, 2013). Walhasil, kursi penumpang pesawat ATR72-500 milik Wings Air dan Garuda Indonesia yang melayani rute Surabaya-Banyuwangi berkapasitas 80 orang hampir selalu penuh. Pencapaian ini pun membuat bandar udara ini naik dari kelas V ke kelas III―yang biasanya 25-30 tahun― dalam tempo tiga tahun.

Belakangan, lapangan terbang ini diusulkan untuk naik ke kelas II. Otoritas lokal pun bergerak cepat. Sejak akhir 2013 proyek perluasan bandara mulai dirancang. Rencananya, lapangan terbang Blimbingsari akan diperluas hingga 5.000 meter persegi. Kapasitas bandara ini akan ditingkatkan hingga 250.000 penumpang yang akan dilayani oleh 10 bilik check in dan lima maskapai penerbangan. Lintasan pacu pesawat pun akan diperpanjang hingga 2.250 meter sehingga dapat menampung pesawat jenis Bombardier CRJ 1000 dan Boeing 737-500.

Tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Banyuwangi kemudian menunjuk arsitek Andra Martin―perancang Le Bo ye Graphic dan Gedung Dua8 di Jakarta, serta Conrad Chapel di Bali. Namun berbeda dengan karya-karya sebelumnya, Bupati Anas menantang Andra untuk merancang terminal bandara Blimbingsari seturut langgam vernakular yang dipadukan dengan konsep arsitektur hijau.

Desain Bandara Hijau

Rancangan bangunan terminal Bandara Blimbingsari memenuhi enam kriteria bangunan ramah lingkungan, yaitu penggunaan lahan tepat guna, efisiensi energi, konservasi air, kenyamanan udara, siklus material, dan manajemen lingkungan (Bachitar, 2015). Arsitektur  bandara ini juga menerapkan konsep desain pasif yang lebih mengandalkan penataan ruang daripada penggunaan alat-alat canggih untuk mengurangi konsumsi energi.

Perangkat pendingin udara (air conditioner) dan material kaca , misalnya, hampir tidak digunakan di bandara ini. Sebagai gantinya, desain interior gedung terminal dirancang minim sekat dengan dinding berupa kisi-kisi yang membuat sirkulasi udara berjalan lancar dan sinar matahari dapat leluasa masuk sehingga mengurangi penggunaan lampu. Kehadiran empat kolam ikan di lantai dasar juga berpengaruh besar terhadap suhu ruang karena mampu menurunkan tekanan udara.

Sementara bagian atap bangunan terminal Bandara Blimbingsari mengadaptasi bentuk penutup kepala pria suku Osing, udeng. Kehadirannya tak hanya menjadi representasi budaya lokal, tetapi juga membuat cahaya matahari dapat masuk melalui wuwungan sehingga ruang utama tetap terang walaupun tanpa lampu pada siang hari (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 76). Untuk meredam radiasi sinar mentari, bagian luar atap dilapisi rumput gajah mini yang selaras dengan taman yang menghampar di sekitar bandara.

Purwarupa Bandara Blimbingsari (Bachtiar, 2015)

Purwarupa Bandara Blimbingsari (Bachtiar, 2015)

Bahan utama bangunan terminal Bandara Blimbingsari ini pun berasal dari kayu ulin bekas kapal dan dermaga yang tahan rayap. Penggunaan material ini jelas terlihat jelas pada bagian tiang dan dinding gedung. Bahan lain yang digunakan adalah batu lempeng asli Banyuwangi untuk melapisi dinding dari kayu ulin tadi. Sementara, kisi-kisi dan ornamen bangunan terbuat dari kayu jati yang menampilkan hiasan lokal Banyuwangi, Gajah Oling (Bachtiar, 2015).

Di luar itu, lapangan terbang ini juga tak sekadar berfungsi sebagai tempat turun-naik penumpang pesawat. Seperti hal berbagai bandar udara internasional lainnya, bandar udara ini juga mengakomodasi berbagai kegiatan seturut konsep fungsi ruang pada bangunan hijau. Kelak, lapangan terbang ini akan dilengkapi dengan ruang pertemuan, tempat istirahat, gerai seni, pusat oleh-oleh dan kafe (Ibid., 2015).

Akhirnya, kehadiran Bandara Blimbingsari memberikan warna berbeda dalam tren bandar udara baru di Indonesia. Dengan mengusung konsep arsitektur hijau, proses renovasi besar-besaran bandara ini dapat dilakukan dengan cepat (Juni 2014 – September 2015). Biaya yang dikeluarkan pun relatif murah, 45 milyar rupiah. Namun di luar itu, yang jauh lebih penting, bandar udara ini juga memiliki identitas kuat karena tidak saja mengusung budaya lokal, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

 

Daftar Sumber

Asdhiana, I Made.2015.Penerbangan ke Banyuwangi Tambah, Penumpang Naik. Diakses dari http://travel.kompas.com/read/2014/05/06/1755537/Penerbangan.ke.Banyuwangi.Tambah.Penumpang.Naik (3 Maret 2015, Pukul 15.03).

Bachtiar, Rifki. 2015.Terapkan Green Building, Terminal Bandara Blimbingsari Ditarget Selesai 2015. Diakses dari http://beritajatim.com/politik_pemerintahan /229865/terapkan_green_ building,_terminal_bandara_blimbingsari_ditarget_selesai_2015.html#.VO8OmCymSO0 (3 Maret 2015, Pukul 14.03).

Rachmawati, Ira. 2013.Bandara Banyuwangi Dikembangkan dengan Konsep Hijau. Diakses dari http://regional.kompas.com/read/2013/12/24/1333490/Bandara.Banyuwangi.Dikembangkan.dengan.Konsep.Hijau (3 Maret 2015, Pukul 13.27).

Suprapto, Hadi dan Tudji Martudji.2014.Indonesia Akan Punya Bandara Ramah Lingkungan. Diakses dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/507477-indonesia-akan-punya-bandara-ramah-lingkungan ( 3 Maret 2015, Pukul 14.15).

Tim Tokoh Arsitektur 2014. 2015.Angin Segar dari Ujung Timur Jawa. Majalah Tempo Edisi 5-11 Januari 2015.

Yudelson, Jerry. 2007. Green Building A to Z : Understanding the Languange of Green Building. Gabriola Island : New Society Publisher.

 

Green Roof dan Green Wall

“Greenery” pada Bangunan dalam Isu Desain Berkelanjutan

Kiki Putri Amelia

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Isu mengenai Global Warming (Pemanasan Global) bukanlah hal yang baru bagi kita. Menipisnya atmosfer Bumi, dan perkembangan Bumi serta kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya merupakan salah satu faktor mengapa isu ini terus bertahan, bahkan menjadi buruk kian harinya.

Pemanasan global telah menjadi lagu lama yang terus menerus dikumandangkan di banyak media, di seluruh dunia. Salah satu gambaran umum yang sering digunakan pada isu ini adalah fasad bangunan tinggi yang seluruhnya menggunakan kaca. Kaca-kaca tersebut dengan jumlah yang tidak sedikit menyelimuti ratusan bahkan ribuan bangunan tinggi di seluruh dunia, bukan merupakan hal yang remeh dan memiliki peran dalam isu ini. Istilah “Greenery” dalam arsitektur merupakan hal yang tidak asing didengar. Dan istilah tersebut termasuk didalam sebuah upaya konseptual seorang arsitek dalam berkontribusi, pada apa itu yang disebut sebagai sustainable design.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, salah satu yang berperan menyumbangkan banyak faktor dari pemanasan global ini adalah bangunan. Bangunan sangat berkaitan dengan arsitektur, karena arsitektur sendiri berhubungan erat dengan lingkungan hidup terutama pada penggunaan energi, air, materi dan ruang. Semua bangunan, low-rise, middle-rise, high-rise sekalipun menyumbangkan peran dalam isu ini, peran tersebut bisa menjadi positif atau bahkan negatif, memperburuk atau membantu mengurangi bahkan mencegah. Peran bangunan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut, bagaimana bangunan tersebut memberikan peran dalam isu pemanasan global ini, peran positif dari bangunan dapat memberikan solusi dari isu ini, contohnya dengan desain yang tidak merusak lingkungan dan ekologi, tetapi juga kreatif, memiliki nilai estetika tinggi, fungsional dan solutif. Desain berkelanjutan merupakan sebuah solusi positif dari seorang arsitek dalam kontribusinya terhadap lingkungan.

Sustainable Architecture

Berbagai upaya pemulihan, tindakan untuk mengurangi, mencegah, dan mengoptimalkan dilakukan dari berbagai aspek yang memungkinkan. Desain berkelanjutan pada bangunan secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu pendekatan desain secara pasif dan aktif.

  • Passive Building Desain

Merupakan pendekatan desain dari sebuah bangunan yang disesuaikan dengan iklim dan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang dibangun di iklim tropis haruslah menyesuaikan dengan iklim tropis itu tersebut, hal sederhana yang nampak jelas adalah, penggunaan atap miring pada bangunan, adalah untuk menyesuaikan bangunan dengan curah hujan yang tinggi di iklim tropis.

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Maka dari itu para arsitek dan desainer tidak dapat memindahkan atau mencontoh bangunan dari Negara beriklim subtropis tersebut. Misalnya bangunan di negara subtropis umumnya memiliki bukaan jendela yang tinggi dan lebar, dengan minimnya teritisan sebagai pelindung jendela. Di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi, teritasan atau kantiliver merupakan upaya-upaya arsitek untuk memberikan naungan dari sebuah ruang, dan juga penggunaan cross-ventilation pada bangunan merupakan salah satu pendekatan dari desain pasif dari bangunan berkelanjutan. Pada intinya, pendekatan pasif dalam desain bangunan adalah dengan mengoptimalisasi sebuah desain bangunan untuk mengadaptasi dan juga memanfaatkan lingkungan sekitarnya, untuk memiliki peran dalam sebuah bangunan, dengan harapan memnimalisir penggunaan energi dari bangunan tersebut.

  • Active Building Desain

Pendekatan desain dari sebuah bangunan untuk menghemat energi dengan menggunakan teknologi terbarukan (mekanis dan elektrikal). contohnya adalah penggunaan photovoltaic pada bangunan, lampu LED, dan teknologi-teknologi terbaru yang mendukung penghematan energi.

Greenery in Architecture

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Salah satu pendekatan populer dalam dunia arsitektur adalah dengan penggunaan greenery pada bangunan. Istilah greenery di sini merupakan sebutan dari penggunaan “tanaman” pada elemen fasad bangunan. Tanaman yang digunakan menjadikan pencitraan dari bangunan tersebut, sebagai bangunan yang “Go green” atau ramah lingkungan, digolongkan kedalam pendekatan Passive Building Desain. Tetapi penggunaan tanaman tersebut belum menjamin sebuah bangunan tersebut ramah lingkungan atau mengikuti prinsip sustainable design yang sesungguhnya. bisa jadi elemen fasad tersebut adalah berupa tempelan yang berperan banyak dalam konsep sustainable. dan memang pada umumnya bangunan dengan greenery pada fasadnya umumnya hanya berupa secondary skin yang menghiasi fasad bangunan saja. Menurut Peck (1999) mengatakan dengan penerapan ‘Skyrise Greenery’ berhasil mereduksi suhu sebesar 5,5°C dan dapat mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk AC sebesar 50% sampai 70% dengan mendinginkan suhu udara langsung luar bangunan.

  • Roof garden/greenroof

Roof garden adalah salah satu langkah penghijauan pada bangunan yang diterapkan di atap. Selain sebagai elemen dekoratif, dalam sebuah bangunan komersial green roof dapat menampung fungsi-fungsi yang menguntungkan, misalnya café outdoor, area olah raga, jogging track, mini golf, dan lain lain, ataupun seabagai area urban farmer dan garden. Green roof juga dapat berfungsi untuk menuruni suhu pada ruangan di bawahnya.

  • Vertical garden/greenwall

Vertical garden, istilah yang digunakan pada greenery yang digunakan pada fasad bangunan. Biasanya berupa secondary-skin yang berfungsi sebagai buffer ruang dalam bangunan, untuk mengurangi panas langsung cahaya matahari yang masuk kedalam. Pada bangunan tinggi yang terletak di perkotaan, penggunaan vertical garden merupakan salah satu solusi pendekatan desain berkelanjutan, selain berkontribusi terhadap gi , juga menghasilkan poin tersendiri pada bangunan tersebut. Meminimalisir penggunaan energi dalam bangunan, menurunkan temperatur ruang dalam, sehingga jika tetap menggunakan pendingin ruangan dapat diminimalisir energi penggunaannya.

Penggunaan greenery pada bangunan, dalam skala besar dapat menurunkan temperatur suhu sebuah kota, atau bahkan dunia. Keuntungan pada bangunan dapat disimpulkan di antaranya adalah

  • dari sudut pandang ekologis

sebagai elemen greenery pada bangunan tentunya penggunaan greenery bangunan sedikit banyak memberikan kontribusi pada lingkungan, khususnya mengurangi polusi udara dan dari berbagai riset yang ditemukan, baik greenroof maupun greenwall terbukti dapat mengurangi penggunaan energi pada bangunan.

  • dari sudut pandang teknis

terdiri dari lapisan tanah dan tumbuhan, selain memiliki nilai ekologis dan estetika, greenroof khususnya memiliki fungsi sebagai area resapan. Sehingga bangunan tinggi sekalipun dapat memiliki kontribusi peresapan melalui greenroof tersebut. Sedangkan pada penggunaan greenwall pada bangunan tinggi dapat meminimalisir efek pemantulan cahaya dan panas matahari dari fasad kaca.

Penggunaan dari greenery tergolong dalam passive desain dalam konsep desain arsitektur berkelanjutan, dengan pemanfaatan iklim dan potensi lingkungan sekitar. Dalam sudut pandang arsitektur tropis, Indonesia yang merupakan negara dengan kondisi iklim tropis lembab,  pada dasarnya mendukung akan penerapan desain baik greenroof maupun greenwall pada bangunan. Karena cahaya matahari yang melimpah dan curah hujan yang tinggi maka sangat memungkinkan tanaman tersebut tumbuh  dan berfungsi baik sebagai elemen estetik maupun upaya penghematan energi.

Dalam sudut pandang desain berkelanjutan, penggunaan greenery merupakan salah satu upaya arsitek dalam sebuah konsep pembangunan. Selain sebagai nilai estetik penggunaan greenery juga merupakan upaya meminimalisir energi yang digunakan dari sebuah bangunan. Bangunan merupakan salah satu akibat dari isu pemanasan global yang cukup dominan. Selain tumbuhnya bangunan-bangunan baru setiap tahunnya, dengan penggunaan konsep desain berkelanjutan baik pasif maupun aktif dapat sedikit banyak berkontribusi memperbaiki pemanasan global.

 

Sumber:

Think Globally Eat Locally

Aurora Revianissa

Pernahkah kita berpikir saat memakan makanan impor kita sudah menyumbang satu “dosa” untuk menghancurkan bumi?

Pemerintah melakukan impor bahan makan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Ironis memang, hal ini dilakukan oleh negara kita yang notabene memiliki lahan yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat ketahanan pangan Indonesia yang seperti ini, kita perlu khawatir dengan nasib pertanian Indonesia di masa mendatang. Hal lain yang perlu menjadi sorotan adalah berkurangnya jumlah petani dari tahun ke tahun. Petani mulai beralih profesi pada bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kondisi demikian membuat impor makanan menjadi tidak terelakkan.

Makanan impor mengalami perjalan panjang sebelum terhidang di atas meja makan kita. Bayangkan berapa jauh jarak perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut, pesawat, kereta,dan truk yang dilakukan oleh makanan impor untuk sampai ke tangan konsumen. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin besar efek negatif yang disumbangkan untuk bumi.

Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), 30% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor agrikultur dan produksi makanan, termasuk proses impor makanan. Proses impor makanan yang menggunakan pesawat menghasilkan emisi bahan bakar pesawat yang menyumbang jutaan ton gas CO2 ke udara dan mempengaruhi global warming.

(sumber: ayoeatlocal.com)

(sumber: ayoeatlocal.com)

Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu solusi adalah dengan memakan hasil pangan produksi daerah sendiri. Disebutkan dalam Nation Master data di tahun 2008 Indonesia memiliki 47,89 juta petani dan masih memiliki lahan suboptimal untuk pertanian seluas 25,82 hektar. Jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, ketahan pangan Indonesia tentu akan meningkat baik. Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat bersama adalah dengan menjadikan makanan lokal sebagai sumber utama bahan makan konsumsi rumah tangga. Peran petani lokal kembali diposisikan sebagai pahlawan dalam pergerakan ini. Namun kendala awal untuk kembali menggunakan bahan pangan lokal adalah tidak ada rasa percaya terhadap produk lokal itu sendiri dari masyarakat. Petani pun sebagian besar masih menggunakan sistem distribusi konvensional melalui tengkulak yang dinilai lebih menguntungkan. Tidak bertemunya kebutuhan konsumen dan kepentingan produsen memerlukan sebuah inovasi kreatif untuk memecahkan masalah ini seperti yang dilakukan oleh Agritektur.

Agritektur adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok masyarakat kreatif memiliki visi peningkatan konsumsi produk pangan lokal dalam upaya penurunan konsumsi makanan impor. Agritektur bergerak sebagai wadah antara konsumen dan produsen. Komunitas ini menjalin kemitraan dengan petani lokal khususnya daerah wilayah Bandung. Agritektur berpendapat bahwa dengan memperpendek jalur distribusi bahan pangan, akan mengurangi emisi karbon dan juga memutus rantai distribusi yang merugikan petani.

Agenda rutin yang dilakukan oleh Agritektur adalah Parappa (Pasar Rakyat para Petani), table to farm dan camp on farm. Jika diperhatikan, konsep dari Parappa merujuk pada pasar petani yang biasa berada di negara Eropa. Produk hasil pangan petani Bandung (daerah Ciburial), dibawa langsung ke daerah perkotaan untuk langsung dijual ke konsumen. Komoditas yang dijual pun tidak biasa di temukan di pasar tradisional, seperti rosemary, oregano, lemon balm, stevia yang bisa ditemukan dalan polybag dalam kondisi tunas siap tanam petik dan sayur mayur organik dengan harga yang lebih murah dari pada harga sayur di pasaran. Agritektur berupaya menggunakan zero waste management untuk mengolah komoditas yang tidak habis terjual. Bahan –bahan ini kemudian diolah menjadi selai, jus, makan olahan lain dan tidak terbuang percuma. Agritektur menggandeng desainer-desainer muda untuk merancang visual branding mereka. Konsep visual komponen grafis sampai packaging dan penyajiannya, Agritektur ditampilkan dengan konsep fresh, clean, neat and friendly yang menimbulkan kesan kekinian, cocok untuk sasaran masyarakat urban. Branding ini bertujuan untuk menghilangkan kesan “kampungan” pada produk lokal yang menjadi komoditi dagang. Di Parappa pembeli bisa berkonsultasi langsung dengan petani dalam mengkonsultasikan baik tanaman tanam mau pun sayur-mayur yang diperdagangkan.

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Pada September 2014, Agritektur melakukan kampanye mandiri #AyoEatLocal dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi hasil pangan lokal di Jakarta agar semakin global. Kampanye ini bertujuan untuk memajukan petani dan menjaga lingkungan melalui pembelian dan pengkonsumsian bahan pangan segar lokal. Target pasar Agritektur adalah masyarakat menengah perkotaan. Perkembangan ekonomi Indonesia yang didominasi masyarakat menengah merupakan potensi untuk mengembalikan kejayaan ketahanan pangan Indonesia. Mendukung dan menghargai hasil pangan lokal dapat menjadi andil kecil dalam menjaga keberlangsungan pasokan pangan dan kelestarian lingkungan. Inovasi kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan tidak melulu harus dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat intelejensi tinggi dan dengan modal tinggi. Inovasi dimulai dengan langkah kecil namun disertai hasrat untuk terus berkegiatan akan menwujudkan ide dan inovasi yang besar.

Ketika Budaya Silaturahmi Menjadi Budaya Limbah

Amanda Fauziah

BUDAYA LIMBAH

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika telah melahirkan berbagai macam budaya yang berkembang secara meluas dalam masyarakat. Kemajemukan budaya ini secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk lebih peka dan toleransi terhadap sesama. Kebiasaan ini telah ditanamkan sejak kita masih anak-anak, mulai dari konsep gotong royong, sikap saling menghargai terhadap umat beragama, serta budaya silahturahmi. Tradisi ini sangat mudah diamati dalam berbagai macam acara hajatan yang dilangsungkan oleh masyarakat, seperti prosesi pernikahan, khitanan, syukuran kehamilan, aqiqahan, 40 hari meninggalnya seseorang, dan berbagai hajatan lainnya. Kegiatan hajatan merupakan acara yang sangat identik mengundang tamu secara massal dengan proses pemberian kartu undangan sebelum acara dilangsungkan. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Walaupun terkadang telah disampaikan secara lisan, namun kurang lengkap dan “kurang bergengsi” rasanya jika tidak dilengkapi dengan kartu undangan.

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

Di balik suburnya tradisi ini, sebenarnya bangsa kita telah membentuk suatu budaya baru, yakni budaya limbah. Mengapa limbah? Karena setelah dibaca kartu undangan ini sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kegunaan lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kartu undangan ini akan berakhir di tempat sampah. Dari setiap acara hajatan yang dilangsungkan paling sedikit kiranya terdapat 100 undangan yang disebarkan. Ini berarti dari setiap hajatan telah dihasilkan limbah kertas sebanyak kartu undangan yang disebarkan pada tamu-tamu tersebut. Di samping itu, setiap orang dari sejak di kandungan, lahir, hingga kematiannya menggelar sedikitnya enam hingga delapan acara hajatan. Belum lagi jika keluarga penyelenggara adalah keluarga yang berada dan terpandang. Tentunya angka 100 undangan tersebut tidaklah berlaku lagi. Hitungan berikutnya mungkin sudah mulai memasuki kelipatan ribuan. Bayangkan saja, selama masa hidupnya seseorang telah menghabiskan berapa ribu limbah kertas dari sekedar sebuah hajatan? Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bakal meledak hingga mencapai angka 300 juta jiwa pada 2015 (Tempo.co). Maka jika satu orang saja telah menghabiskan enam hingga delapan ribu kertas selama masa hidupnya, bagaimana dengan 299 juta jiwa penduduk Indonesia lainnya?

Perlu diketahui bahwa limbah kertas memiliki dampak yang luar biasa buruk terhadap lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan kertas kita tiap tahun, dikutip dari http://green.kompasiana.com.

  1. Penebangan hutan yang berlebih; jelas ini dampak yang paling bisa dirasakan akibat pabrik kertas, karena kebanyakan di Indonesia pabrik kertas masih menggunakan bahan baku kayu. Padahal sekarang ini keberadaan pohon sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global.
  2. Pencemaran air; dalam proses pembuatan kertas dibutuhkan jumlah air yang sangat banyak dan setelah proses tersebut air itu akan dibuang. Limbah cair inilah yang memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar pabrik, meskipun pada beberapa pabrik sudah memberikan treatment khusus agar pada saat dibuang sudah tidak mengandung bahan berbahaya lagi, namun kesalahan prosedur masih mungkin terjadi. Dan jika limbah langsung dibuang ke sungai maka akan membahayakan masyarakat di sekitar sungai.
  3. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar; hal ini dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk hidup di perairan sungai dan dapat mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrata yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan.
  4. Sludge pabrik kertas yang dibuang ke kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari tanah, air dan udara.

Ditambah lagi, biasanya undangan selalu dilindungi dengan sampul plastik pada bagian luarnya. Sehingga selain limbah kertas, pada setiap hajatan juga dihasilkan limbah plastik yang tidak kalah jumlahnya. Bungkus plastik dari undangan ini juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah lingkungan, di mana bahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat diuraikan secara sempurna oleh bumi. Perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini. Tidak membanggakan rasanya jika budaya dan tradisi yang telah menjadi ideologi bangsa Indonesia ini kemudian berkembang menjadi budaya limbah.

DESAIN BERKELANJUTAN

(sumber: bisnisukm.com)

(sumber: bisnisukm.com)

Fenomena ini mungkin cukup sederhana dan seringkali luput dari perhatian. Tetapi budaya limbah ini perlu diperhatikan secara serius karena dampaknya yang sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Diperlukan sebuah desain berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Desain berkelanjutan dapat dipahami sebagai desain untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati manusia (Priyoga, 2010). Dalam hal ini, menggunakan sumber daya alam terbarukan adalah salah satu solusi yang dapat dikembangkan. Seperti misalnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam atau bahan-bahan daur ulang sebagai material utama kartu undangan. Jika pun akan menggunakan limbah kertas maka diusahakan menggunakan 100% limbah kertas asli/serat papan bersertifikat National Association of Paper Merchants.

(sumber: arangbambo.wordpress.com)

(sumber: arangbambo.blogspot.com)

Tentunya gerakan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pemanfaatan limbah dan keberlanjutan lingkungan, sebab semakin besar acara hajatan yang berlangsung, semakin banyak para tamu yang diundang, maka semakin banyak pula kartu undangan yang dibutuhkan. Dampak dari hal ini adalah limbah yang didaur pun akan semakin banyak sehingga pada akhirnya lingkungan pun menjadi semakin sehat. Bahkan ketika kartu undangan versi “alam” ini menjadi limbah tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan karena akan lebih cepat dan lebih mudah terurai. Selain alternatif material, dapat juga disiasati dengan desain kemasan kartu undangan yang multifungsi. Sehingga setelah pesan penyelanggara hajatan tersampaikan, kartu undangan tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dengan fungsi yang berbeda. Walaupun konsep-konsep tersebut di atas masih tidak lazim dilakukan oleh masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita atau keluarga sendiri. Bukankah memulai sesuatu yang baru akan menjadi pembeda acara hajatan kita dengan acara hajatan pada umumnya? Bahkan acara hajatan yang dilangsungkan dapat lebih menarik bagi orang kebanyakan karena konsep kartu undangannya yang unik. Untuk itu mari bersama-sama kita berantas budaya limbah di Indonesia dan selamatkan bumi kita bersama!

 

REFERENSI

Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).

Yuliastuti, D. (2011). 2015, Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Mencapai 300 Juta. Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/09/27/060358499/2015-Jumlah-Penduduk-Indonesia-Bisa-Mencapai-300-Juta

Food Truck VS Café dan Restoran, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Zita Nadia

Jika membicarakan mengenai kuliner, telinga kita sudah tidak asing lagi tentunya dengan Bandung. Bandung dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia ini, tidak lepas dari tujuan wisata kuliner yang tersebar di kota ini. Mulai dari warung, café, dan restoran yang tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Ada sebuah fenomena kuliner baru yang muncul di tengah-tengah kota Bandung, yaitu fenomena food truck. Food truck mulai marak di Bandung sekitaran tahun 2013, kini food truck sudah menjadi alternatif bagi warga kota Bandung. Akan tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah food truck memberikan dampak yang lebih buruk bagi lingkungan jika dibandingkan dengan restoran? Ataukah justru restoran yang memiliki dampak yang jauh lebih buruk bagi lingkungan?

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Apakah Food Truck itu?

Food truck atau kedai makanan adalah salah satu cara untuk menjual makanan, dengan menggunakan truck kecil sebagai media untuk berjualan makanan. Food truck biasa berjualan di tempat tertentu selama beberapa saat, mereka bisa dianggap sebagai bisnis kuliner yang menghampiri pelanggan mereka. Food truck berasal dari Amerika Serikat, kegiatan ini sudah berlangsung dari awal abad ke-17. Seiring dengan perkembangan zaman, food truck mulai masuk ke kota besar di Indonesia,pada tahun 2012-2013, food truck mulai bermunculan di Kota Bandung. Ada beberapa food truck yang dikenal di Bandung, di antaranya adalah, Four Speed Nomad, Roti Pagi, Whatever Combi dan beberapa food truck lainnya. Maraknya food truck di Bandung pada saat ini, menjadi inspirasi adanya event Bandung Food Truck Festival pada 27 Februari- 1 Maret 2015 lalu, hal ini menunjukkan bahwa, food truck sudah menjadi salah satu tujuan kuliner bagi warga kota Bandung.

Mana yang Lebih Hemat Energi? Food Truck atau Café dan Restoran?

Jika melihat secara sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa food truck akan mengkonsumsi energi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan café dan restoran. Akan tetapi, perlu kita lihat, food truck memang menggunakan konsumsi bensin sebagai bahan bakar mereka, apalagi di Indonesia masih sulit ditemukan food truck dengan bahan bakar yang ramah lingkungan.Sedangkan untuk café dan restoran menggunakan gas lebih banyak jika dibandingkan dengan food truck. Penggunaan bahan makanan yang digunakan oleh Food Truck atau Restoran dapat mempengaruhi carbon footprint yang mereka punya,semakin banyak variasi menu, dan menu impor yang dimiliki, maka akan semakin besar sumbangan emisi karbonnya. Dalam hal penggunaan listrik dan air, food truck jauh lebih sedikit untuk menggunakannya, karena dari ruangan yang dimiliki oleh food truck jauh lebih kecil karena keterbatasan ruang dibandingkan dengan café dan restoran.

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Untuk membuktikan observasi dilakukan dengan 2 food truck ,2 restoran dan 1 café yang memiliki konsep berbeda. Food truck yang diobservasi adalah Roti Pagi, dan Susu Murni Dipati Ukur (SuMur DU). Roti Pagi beroperasi pada pagi sampai sebelum tengah hari, dia memiliki 1 ruangan, tidak menggunakan lampu sama sekali, dan menggunakan kompor 2 tungku. Dalam segi menu, Roti Pagi hanya memiliki 4 menu sandwich dan 3 minuman. Sedangkan untuk SuMur DU, menggunakan kompor kecil, 2 buah lampu,dan hanya beroperasi pada malam hari. Untuk menu mereka hanya memiliki susu dan tidak memiliki menu makanan. Untuk restoran dan café , yang diobservasi adalah Karnivor, Kantin Tong-Tong dan Café DU71-a.

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Karnivor memiliki lahan yang cukup besar, setiap meja dilengkapi dengan lilin, dan lampu. Pada saat observasi jam 5 sore seluruh lampu telah dinyalakan. Karnivor memiliki toilet yang terpisah antara pria dan wanita. Untuk menu, ia memiliki lebih dari 10 jenis menu,mayoritas terdiri dari daging, dan terdapat beberapa menu dalam ukuran besar. Karnivor beroperasi dari jam 11.00-21.00. Sedangkan Kantin Tong-Tong memiliki ukuran tempat yang kecil (hanya seperempat dari luas karnivor), tidak memiliki toilet, lampu dinyalakan pada malam hari, karena saat pagi memanfaatkan cahaya matahari. Untuk variasi menuyang dimiliki bernuansa Indonesia. Café DU71-a, sebuah café kecil, namun lebih besar dari kanting tong tong. Terdiri dari area indoor dan outdoor, memiliki 1 toilet unisex, lampu yang ada lebih sedikit daripada yang digunakan karnivor. Hal yang perlu dicermati adalah, setiap meja memiliki colokan listrik bagi para pengunjung. Jika melihat hasil observasi, food truck yang ada jauh lebih hemat dalam soal penggunaan energi, karena restoran dan café memiliki potensi lebih boros energi. Dengan semakin besarnya ukuran restoran tersebut, dan variasi menu yang jauh lebih banyak juga dapat memicu carbon footprint yang jauh lebih besar. Jadi dari hasil observasi dalam soal energi, food truck masih lebih ramah lingkungan.

Limbah yang Dihasilkan Food Truck Dibandingkan dengan Café dan Restoran

Jika membicarakan mengenai sampah, kita bisa memperkirakan dari peralatan makan dan jumlah pengunjung yang datang. Roti Pagi menggunakan tatakan kayu yang diberikan kertas tipis dan gelas kertas, tatakan kayu bisa digunakan kembali namun sisanya harus dibuang, jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. SuMur DU, menggunakan gelas dan sedotan. Gelas kaca dapat digunakan berulang kali, dan jumlah pengunjung cukup banyak. Kantin Tong tong, Karnivor dan DU71-a, semuanya menggunakan peralatan makan yang bisa digunakan kembali, sehingga mengurangi jumlah limbah, ketiga tempat ini ramai didatangi, namun yang paling ramai adalah Karnivor. Jika melihat sekilas dari segi alat makan, restoran jauh lebih baik karena menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali, namun limbah makanan akan bertambah banyak seiring dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang, dan restoran jauh lebih berpotensi memberikan limbah yang lebih banyak.

Jadi,Manakah yang lebih Ramah Lingkungan? Dan Solusi Desain Apa yang Dapat Ditawarkan Untuk Menjadi Lebih Baik bagi Lingkungan?

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Dalam segi penggunaan energi, dari hasil observasi food truck dapat dikatakan lebih hemat dari restoran, apalagi jika restoran tersebut berukuran besar dan ramai. Ramah lingkungan atau tidak, industri makanan sangat bergantung dari konsep yang dimiliki. Restoran, café dan food truck memiliki potensi untuk menjadi sebuah industri yang lebih ramah lingkungan, industi kuliner dapat menerapkan beberapa hal berikut untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan, seperti:

  1. Menggunakan packaging yang mudah terurai dengan alam.
  2. Menggunakan bahan bakar seperti biodiesel, bahan bakar alternatif atau mobil dengan menggunakan tenaga solar (diperlukan desain yang seksama agar fitur ini dapat digunakan dengan optimal).
  3. Menggunakan lampu LED untuk sumber penerangan.
  4. Menjual produk-produk lokal dan organik.

Akan tetapi semua solusi di atas baru dapat berguna, jika menerapkannya bersama-sama, tidak sendirian. Ingat, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan kita?

 

Sumber dan Berita Terkait

http://gracelinks.org/blog/696/can-a-food-truck-be-green-in-a-word-yes

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140816204549.htm

http://www.treehugger.com/green-food/ask-pablo-are-food-trucks-greener-than-restaurants.html

http://www.citylab.com/design/2013/02/are-food-trucks-worse-environment-storefronts/4538/

https://stage.la-lights.com/lifestyle/mengenal-sejarah-food-truck-1410319.html

http://m.detik.com/travel/read/2015/02/27/185025/2845356/1382/wisata-kuliner-akhir-pekan-di-bandung-ada-food-truck-festival

Sekolah Negeri Sampah

Olivya Nike Noman

 

Menengguk minuman dingin di siang hari rasanya memang begitu segar, apalagi jika kita sedang beraktifitas di luar. Bahkan sudah hampir menjadi kebiasaan kita setiap hari untuk membeli produk-produk minuman dingin dalam kemasan ketika jam istirahat di kantor maupun di kampus. Minuman dalam kemasan memang sangat menyegarkan dan sangat praktis untuk menemani aktifitas kita yang padat. Mudah didapatkan di mana saja, mudah dibawa dan ketika sudah habis kita tidak perlu repot membawa pulang botolnya, cukup mencari tempat sampah dan buang saja botolnya.

Seiring permintaan pasar yang semakin meningkat, varian minuman dalam kemasan yang ditawarkan pun semakin beragam. Bahkan menurut Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan kisaran peningkatan 15% per tahunnya. Dari data mereka, pada tahun 2014 produksi air minum dalam kemasan di Indonesia mencapai 24 miliar liter.

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna) Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Menurut Wawan Some, seorang aktifis lingkungan di Surabaya, ketika pada tahun 2011 produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan mencapai angka 17 miliar liter, maka dibutuhkan 500.000 ton botol plastik sebagai kemasannya. Yang artinya pada tahun 2011 itu juga dihasilkan 500.000 ton sampah botol plastik di Indonesia. Maka jika pada tahun 2014 kemarin produksi minuman dalam kemasan mencapai 24 miliar liter, berarti dibutuhkan juga 700.000 ton botol plastik untuk mengemasnya. Atau dengan kata lain pada tahun 2014 saja Indonesia memproduksi 700.000 ton sampah botol plastik.

Maka tidak heran jika menurut studi terbaru yang dilakukan Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan di University of Georgia, Indonesia terlacak sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia setelah China. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Science pada pertengahan Februari 2015 tersebut, jumlah akumulasi sampah plastik di lautan dunia telah mencapai 8,8 juta ton. Dalam penelitiannya Jambeck juga memproyeksikan bahwa jumlah akumulasi sampah plastik di lautan akan mencapai sekitar 170 juta ton pada tahun 2025 jika para penyumbang sampah plastik terbesar, yakni mayoritas negara-negara berkembang di Asia tidak menanggulangi cara pembuangan sampah.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Dari 8,8 juta ton sampah plastik di lautan, China bertanggung jawab atas 27%-nya atau sekitar 2,4 juta ton. Memang tidak disebutkan berapa jumlah sampah plastik yang berasal dari Indonesia, namun yang pasti Indonesia tetap berada di urutan kedua. Dengan adanya ‘lautan’ sampah plastik di lautan dunia akan sangat mengancam kelangsungan hidup hewan-hewan di sekitarnya, seperti burung-burung laut, mamalia laut, penyu laut, dan hewan laut lainnya. Selain termakan oleh hewan-hewan laut yang kemudian menyebabkan kematian hewan-hewan laut, adanya sampah plastik di lautan dunia juga mengumpulkan racun yang cukup untuk menghancurkan ekosistem lautan. Adapun bentuk terbanyak dari sampah plastik di lautan dunia antara lain kantung belanja, botol, mainan, pembungkus makanan, peralatan memancing, puntung rokok, kacamata, ember dan tempat duduk toilet.

Indonesia menghasilkan 700.000 ton sampah botol plastik pada tahun 2014 dan terus meningkat setiap tahunnya, Indonesia juga merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia dengan botol plastik menjadi bentuk kedua terbanyaknya. Itu berarti bahwa sampah botol plastik memang butuh ditangani lebih serius di Indonesia.

Jika kita lihat di internet, kita dapat menemukan cara-cara untuk mendaur ulang botol plastik agar dapat digunakan kembali sebagai pot tanaman misalnya, sebagai tempat pensil maupun sebagai kap lampu yang dapat mempercantik rumah. Namun pada kenyataannya banyak orang yang enggan menggunakannya dengan alasan rumah mereka akan terkesan murah dengan penggunaan material sampah botol plastik sebagai elemen dekorasi rumah mereka. Selain itu jumlah penggunaannya pun tidak banyak, misalnya hanya diperlukan satu botol saja untuk membuat pot atau tempat pensil yang dapat digunakan berahun-tahun. Maka dari itu, cara-cara daur ulang sampah botol plastik tersebut sebenarnya kurang efektif karena jumlah produk yang didaur ulang dari sampah botol plastik sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan sampah botol plastik yang kian bertambah setiap harinya.

Sempat terpikir di benak saya bagaimana jika botol plastik dijadikan bangunan saja. Tetapi kemudian terpikir juga botol plastik terlalu ringan, maka mungkin hanya dapat menjadi kandang hewan. Namun suatu hari seorang teman menunjukkan sebuah gambar yang sangat menarik. Rupanya di Nigeria, sampah botol plastik telah disulap menjadi rumah. Proyek pembangunan rumah menggunakan sampah botol plastik di Nigeria ini dirancang oleh DARE (Development Association for Renewable Energies), sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya untuk membuat produk-produk daur ulang.

DARE menyatakan proyek ini sebagai salah satu strategi paling tepat untuk menata lingkungan sekaligus sebagai solusi mengurangi kurangnya perumahan bagi warga Nigeria. Rumah dengan luas 58 meter persegi dengan dua kamar ini membutuhkan setidaknya 14.000 botol plastik kemasan 1,5 liter atau sama dengan 400 kg sampah botol plastik untuk satu rumah, jumlah yang cukup banyak untuk mengurangi sampah botol plastik. Maka jika jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 700.000 ton per tahunnya dapat dibangun 1.750.000 rumah dengan biaya 1/3 dari dari biaya membangun rumah pada umumnya.

Solusi ini sebenarnya sangat cocok jika diterapkan di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah botol plastik terbanyak di dunia. Apalagi jika solusi ini diterapkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri yang kurang terawat hingga banyak yang roboh dan menghambat proses belajar mengajar. Kurangnya dana dari pemerintah untuk merawat dan membangun sekolah negeri menyebabkan robohnya bangunan sekolah negeri terjadi di mana-mana. Dengan memanfaatkan sampah botol plastik sebagai bahan dasar bangunan pengganti batu bata seperti dikatakan sebelumnya, dapat menghemat biaya pembangunan hingga 1/3 dari biaya pembangunan dengan batu bata pada umumnya. Selain menghemat biaya pembangunan, juga mengurangi jumlah sampah botol plastik yang menjadi momok lingkungan. Win-win solution, isn’t it?

Membuat bangunan dengan bahan sampah botol plastik tidak sulit. Pertama botol plastik diisi dengan pasir, kemudian susun botol menggunakan kawat sehingga botol terikat pada posisinya dengan kuat. Terakhir gunakan semen sebagai perekatnya. Tutup botol yang beraneka warna juga menghasilkan keunikan tersendiri sehingga dapat menjadi unsur dekorasi bangunan yang unik.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Mengenai kekuatan bangunan, para inisiator proyek di Afrika bahkan mengklaim bangunan dengan bahan sampah botol plastik berisi pasir ini lebih kuat dari batu bata biasa.”Strukturnya memiliki keuntungan lain antara lain tahan api, tahan peluru dan tahan gempa bumi. Selain itu suhu di dalam ruang bisa bertahan 180C karena pasir mampu meredam panas matahari sehingga cocok untuk diterapkan di kawasan tropis,” kata koordinator proyek di Nigeria, Yahaya Ahmad.

Maka sekolah negeri dari sampah botol plastik rupanya menjadi solusi yang murah sekaligus ramah lingkungan bagi Indonesia. Tidak seperti bata yang harus proses tradisionalnya dibakar, membutuhkan banyak kayu, serta berkontribusi pada penebangan hutan, sampah botol plastik tidak. Bisa dibayangkan ada tiga kali lipat jumlah sekolah negeri yang dapat diperbaiki dengan anggaran yang sama, serta jumlah sampah botol plastik yang termanfaatkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri sampah tersebut. Anak-anak terfasilitasi pendidikannya, beban bumi pun berkurang.

Memberi Makan Bangsa: Mengurangi Buangan Makanan

Memberi Makan Bangsa : Mengurangi Buangan Makanan

Sheila Andita Putri

 

Bencana yang Menanti: Krisis Pangan Dunia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Jonathan Foley, Director of the Institute on the Environment (IonE) at the University of the Minnesota dalam tulisannya yang berjudul Feed the World untuk National Geographic, jumlah populasi manusia yang tersebar di muka bumi berada di kisaran angka 9 miliar orang. Pada 2050, kenaikan populasi diperkirakan meningkat hingga 35%, dan untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi manusia tersebut memerlukan produksi pangan hingga dua kali lipat dari yang ada sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga permintaan akan jenis makanan tertentu, terutama yang berasal dari hewan, juga meningkat.

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Dengan bertambahnya populasi, kebutuhan akan ruang/ area untuk kehidupan terus meningkat. Luasan bumi sendiri terancam terus berkurang karena kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global yang melelehkan es dari kutub. Ukuran planet bumi sendiri tentunya takkan berubah menyesuaikan pertumbuhan manusia, sehingga kemudian muncul pertanyaan: bagaimana memberi makan seluruh manusia di bumi?

Di Indonesia sendiri, bencana kelaparan diam-diam mengancam akibat kondisi ekologi yang mulai rusak akibat aktifitas eksploitasi material alam yang berlebihan oleh industri baik legal maupun tidak. Rusaknya kondisi alam diperparah dengan perubahan iklim global yang berpotensi memunculkan bencana kekeringan yang tentunya berdampak pada produksi bahan makanan.

Berdasarkan keterangan dari  Robert Aritonang, antropolog dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dalam berita yang dimuat di KOMPAS 3 maret 2015, munculnya fenomena kematian beruntun yang dialami kelompok Orang Rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang diakibatkan bencana kelaparan. Tanpa penanganan darurat dan cepat, angka kematian itu akan terus bertamba. Bencana serupa pernah terjadi tahun 1999 dengan menewaskan 13 warga Orang Rimba. Wilayah itu mengalami paceklik, dan diperparah pembukaan hutan menjadi kebun dan hutan tanaman industri. Pada masa itu, sekitar 30.000 hektar hutan yang menjadi sumber pangan Orang Rimba lenyap.

Krisis pangan juga seiring dengan pembukaan hutan tanaman industri di sekitar area jelajah Orang Rimba. Dari 130.000 hektar luas hutan Orang Rimba dalam ekosistem Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari, kini tersisa hanya 60.400 hektar. Sumber obat alami dalam hutan yang biasa dimanfaatkan Orang Rimba kini semakin berkurang.

Food Waste : Kebiasaan Kita Membuang Makanan

Ironisnya, meskipun kebutuhan akan makanan terus meningkat, Lebih dari sepertiga dari semua makanan yang diproduksi di planet kita tidak pernah mencapai meja.. Penyebabnya dapat berupa kerusakan produk dalam proses pengiriman ataupun dibuang begitu saja oleh para konsumen di negara negara kaya , yang cenderung membeli terlalu banyak dan menciptakan sisa makanan yang berlebihan (Smith, Roff. How Reducing Food Waste Could Ease Climate Change. Nationalgeographic . Published January 22, 2015). Apabila buangan makanan ini dapat ditekan dan produksi makanan dapat lebih dioptimalkan, hal ini dapat membantu penanggulangan krisis makanan di belahan dunia yang lain.

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Beberapa sumber yang menyebabkan tingginya angka buangan makanan antara lain:

  • Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual. Beberapa perusahaan yang memiliki regulasi yang ketat mengharuskan produk makanan yang diproduksi pada hari tersebut tidak boleh dijual kembali kepada konsumen keesokan harinya. Secara umum produk masih layak dikonsumsi namun harus dibuang karena regulasi tersebut.
  • Hasil pertanian yang tak memenuhi seleksi standar yang ditetapkan oleh pasar. Produk reject ini sesungguhnya dapat dikonsumsi, hanya saja tidak memenuhi ketentuan ukuran, warna, dan kualitas tertentu sehinggan harus dibuang.
  • Pembelian yang berlebihan. Mudahnya produk makanan diperoleh dan gaya hidup yang menuntut kepraktisan mengembangkan kebiasaan menyetok makanan dalam jumlah banyak. Namun terkadang stok yang banyak ini tidak sempat dikonsumsi hingga melewati batas kadaluarsa dan pada akhirnya harus dibuang. Kebiasaan makan di luar dan pengaruh marketing terhadap makanan yang dijual juga mendorong orang untuk memesan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan.

Proses menyediakan makanan bagi kita ini sendiri adalah proses yang panjang dan kompleks. Mulai dari proses produksi, pengiriman, hingga akhirnya sampai di piring kita telah meninggalkan jejak ekologi yang tidak sedikit. Selain mengancam keberlangsungan alam, Food Waste yang tidak ditangani dengan baik menciptakan ketidakseimbangan kualitas hidup di bumi. Bencana kelaparan di belahan bumi yang satu, sementara penyianyiaan bahan makanan di belahan bumi lain.

Permasalahan Food Waste ini sesungguhnya merupakan isu global yang tidak bisa kita abaikan. Langkah kecil yang dimulai dari kita sendiri dapat mendorong terjadinya perubahan besar bagi bumi.

Bagaimana Desain dapat membantu mengatasi Food Waste

Desain dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan sumber makanan yang ada. Salah satu solusi desain yang bias diajukan adalah, sistem informasi pada label produk makanan. Selain informasi mengenai fakta nutrisi dan tanggal kadaluarsa, seyogyanya label juga memuat cara penyimpanan yang baik dan benar, lamanya produk harus di-display di toko (terutama produk bahan mentah), dan informasi lain terkait pemanfaatan maksimal dari produk tersebut, misalnya link ke situs yang mengajarkan cara mendaurulang makanan produk tersebut menjadi produk lain seperti pakan ternak atau pupuk.

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Selain sistem labelling, desain kemasan hendaknya dapat memuat info untuk meningkatkan kesadaran tentang food waste. Kesadaran ini terkait bijak berbelanja dan kesadaran untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Bentuk program CSR terkait isu ini dapat dilakukan dengan campaign dan ad. Info yang diberikan berupa upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasi food waste.

Upaya sederhana itu antara lain:

  • Berbelanja dan mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan
  • mendonasikan makanan yang tidak terkonsumsi namun masih dalam keadaan baik
  • mendaur ulang sisa makanan (menjadi pupuk kompos ataupun pakan ternak)

Solusi lain dalam skala yang lebih besar, dapat dibentuk sebuah tim khusus yang bertugas mengumpulkan Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual namun dalam keadaan yang masih layak konsumsi untuk dibagikan kepada orang- orang yang membutuhkan. Makanan tersebut dibagikan di hari yang sama, dalam jumlah yang dibatasi. Titik pembagian dipusatkan pada lokasi yang telah disurvei, dan produk tersebut diberi penanda tertentu untuk mencegah makanan tersebut dijual kembali. Setiap pengusaha makanan dapat membuat suatu perjanjian resmi dengan tim khusus tersebut terkait distribusi produk dan kualitas keamanan sisa produk makanan tersebut.