Category Archives: design

contribution to improve and encourage sustainable life style by design

Sadar Lingkungan di Perempatan

Sadar Lingkungan di Perempatan

Ilhamsyah | 27111018

 

Sebuah Perempatan di Bandung

Sepeda Motor Sebuah Efesiensi Kehancuran

Tulisan ini berawal dari pengalaman penulis ketika memutuskan beralih  mempergunakan roda dua (sepeda motor) dari sebelumnya menggunakan kendaraan umum (Angkutan Kota). Dengan aktifitas dan mobilitas yang tinggi penulis berasumsi menggunakan sepeda motor dapat mencapai waktu tujuan dengan cepat. Selain itu berdasarkan pengalaman, satu liter bensin dapat dipergunakan untuk beraktifitas dalam satu hari dengan 3-4 tujuan, bisa dibayangkan jumlah rupiah yang di hemat mencapai Rp.15.000,-/hari. Namun tanpa disadari keefesienan tersebut berbanding terbalik dengan aktifitas yang meninggi. Dalam penjelasan lain, dengan waktu yang tersisa dari aktifitas yang sebelumnya menggunakan kendaraan umum, dimanfaatkan untuk aktifitas tambahan yang berarti jarak yang ditempuh bertambah banyak. Fakta di lapangan menunjukan ternyata jumlah sepeda motor di Indonesia telah menembus lebih dari 50 juta unit di tahun 2010 (Tempo.co), menempatkan negara Indonesia di posisi pertama se-Asia Tenggara. Bahkan di DKI Jakarta populasi sepeda motor hampir melewati jumlah penduduknya. Berarti tujuan efesiensi ternyata menimbulkan problem lingkungan lain, yaitu hampir setiap individu pengguna jalan raya turut berperan menghasilkan karbondioksida dari pembakaran bahan bakar fosil melalui sepeda motor.

Pembahasan ini akan lebih difokuskan di Kota Bandung saja, dimana aktifitas sehari-hari penulis menggunakan sepeda motor. Di Kota Bandung kendaraan umum yang paling populer adalah angkutan umum atau kadang masyarakat Kota Bandung menyingkatnya menjadi Angkot. Dari beberapa pembicaraan dengan pengemudi angkot mereka mengeluhkan turunnya jumlah penumpang karena telah beralih menggunakan sepeda motor. Diasumsikan dengan satu angkutan umum yang dapat membawa penumpang 12 orang, terpecah menjadi 10 orang menggunakan sepeda motor. Perbandingan ini akan tidak fair karena angkutan umum (mobil) memiliki kapasitas mesin kurang lebih 1500cc, sedangkan motor pada umumnya berkisar 100cc hingga 115cc. Namun bagaimana pembicaraan ini dapat dikaitkan dengan isu lingkungan dalam mencari solusi desain yang berwawasan lingkungan?

Desain Berkelanjutan

Desain berkelanjutan berdasarkan kutipan dari Wikipedia adalah filosofi perancangan obyek fisik, lingkungan binaan dan layanan untuk mematuhi prinsip-prinsip berkelanjutan ekonomi, sosial dan ekologi. Jadi kurang lebih desain berkelanjutan hadir sebagai respon terhadap krisis lingkungan global, pesatnya pertumbuhan ekonomi seiring pesatnya perkembangan populasi manusia, menyusutnya sumberdaya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Jadi desain berkelanjutan adalah konsep dimana perancangan desain ditekankan untuk lebih bertanggung jawab terhadap warisan bagi masa depan kita dan kehidupan yang lebih baik bagi penerus (keturunan) kita. Salah satu prinsip yang ditekankan dalam desain berkelanjutan adalah menekan penggunaan bahan bakar atau energi yang tidak dapat diperbaharui, dalam hal ini bahan bakar fosil (bensin). Disinilah letak keterkaitan antara paparan tentang penggunaan sepeda motor dengan desain yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Penulis akan lebih menekankan desain sebagai sebuah sistem dalam menganalisa permasalahan diatas.

Fakta di Jalan Raya

Dari pengalaman yang dirasakan penulis saat mengendarai sepeda motor, sering terjebak di perempatan yang memiliki durasi lampu merahnya lumayan lama, terkadang ada yang sampai 250 detik atau setara 2 menit 10 detik. Sebagai contoh perempatan Jalan R.E. Martadinata dan Ahmad Yani yang durasinya bisa mencapai 240 detik (3 menit), atau perempatan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Kiaracondong yang mencapai 250 menit (4 menit 10 detik). Sebuah waktu yang cukup lama untuk membakar bensin secara percuma, karena jarak tempuhnya hanya 0 kilometer. Menurut data yang didapat, mesin dengan kapasitas 100 hingga 115cc akan menghabiskan 2 hingga 5cc bensin dalam kondisi diam (jpmautomotive.blogspot.com). Tidak besar sih, tapi bila dijumlahkan dengan populasi motor yang ada serta mobilitas yang tinggi bisa dibayangkan berapa ribu liter bensin per hari terbuang percuma hanya untuk kondisi diam. Hal ini sering mengganggu penulis ketika terjebak pada setiap perempatan, maka solusi sederhana dari penulis yaitu dengan mematikan mesin motor sambil menunggu saatnya lampu hijau. Proses ini selalu dilakukan disaat berhenti di setiap perempatan, namun disesuaikan dengan kondisi durasi lampu lalu lintas saat merah, apabila terlalu singkat tidak memaksakan mematikan mesin. Keberadaan penunjuk waktu di setiap lampu lalu lintas cukup membantu penulis untuk ancang-ancang menyalakan mesin kendaraan, jadi tidak terjebak lampu hijau sedangkan mesin motor masih dalam kondisi mati, ini akan sangat mengganggu pengguna jalan lain. Selain itu sebagian besar sepeda motor yang ada, terutama model terbaru, sudah dilengkapi dengan electric starter dengan menggunakan baterai kering, jadi proses menyalakan mesin tidak perlu repot-repot menggunakan kick starter (manual).

Namun sistem ini menjadi percuma apabila dilakukan oleh penulis seorang diri, tidak ada efeknya bagi lingkungan secara nyata, hanya memenuhi rasa tanggungjawab penulis terhadap lingkungan. Lalu bagaimana cara untuk menggerakan para pengguna sepeda motor lainnya untuk memiliki kesadaran yang sama yaitu mematikan mesin kendaraannya di setiap lampu merah perempatan tersebut. Penulis melihat peluang dengan memanfaatkan fenomena sticker lucu yang sering ditempatkan bagian belakang (spatbor) sepeda motor. Berbagai macam kata-kata menarik digunakan untuk hanya menarik perhatian pengguna motor lain, yang terkadang kata-katanya menggunakan bahasa daerah (sunda). Penulis berasumsi sticker tersebut bisa dimanfaatkan sebagai ambient media untuk menyebarkan ajakan mematikan mesin motor di saat lampu merah. Selain itu dapat dilanjutkan dengan pembagian selebaran atau brosur di setiap perempatan yang isinya menyampaikan kesadaran berkendara sepeda motor yang tetap peduli pada lingkungan. Atau bisa bentuk lain yaitu dengan memanfaatkan pengeras suara di beberapa perempatan untuk menyampaikan informasi yang sama pula.

Bagaimana dengan mobil? Adakah usaha sama untuk mengurangi pembakaran bensin yang percuma, karena faktanya mobil pun terjebak dalam kondisi yang sama. Penulis menemukan sebuah artikel menarik dari mobil.otomotifnet.com yang mengulas sistem Auto Start/Stop pada mobil BMW terbaru. Prinsipnya komputer yang ditanam dalam mobil akan memerintahkan mesin mobil untuk mati sementara pada kondisi berhenti (dengan mekanisme waktu tertentu), dan perannya akan digantikan oleh baterai untuk menyalakan komponen mobil lainnya (seperti Air Conditioner, Radio, klakson, dan lain-lain). Pada BMW ini merupakan salah satu dari serangkaian teknologi effeciency dynamic yang bertujuan mengurangi emisi gas buang pada kendaraan bermotor. Cukup menarik bila sistem ini benar-benar diterapkan pada setiap kendaraan roda empat di seluruh Indonesia atau bahkan seluruh dunia. Kita tidak akan menjadi paranoid karena membakar bahan bakar bensin untuk sesuatu yang tidak bergerak.

Sumber:

http://www.tempo.co/read/news/2011/08/19/124352572/Kendaraan-Bermotor-di-Indonesia-Terbanyak-di-ASEAN (13 Maret 2012)

www.wikipedia.com/sustainable design (13 Maret 2012)

http://jpmautomotive.blogspot.com/p/eco-drive-way-to-drive-efficienly.html

(13 Maret 2012)

http://www.otomotifnet.com/otonet/index.php/read_tekno/2011/12/17/326390/15/5/Mengenal-Auto-StartStop-Mesin-Mati-Malah-Happy (13 Maret 2012)

“Konsumen Pintar” Bersahabat dengan Alam

‘Konsumen Pintar’ Bersahabat dengan Alam

 Aninda Purnamashari | 27111002

Pernahkah anda menghitung berapa produk yang anda beli setiap harinya? Dan, pernahkah terlintas di benak anda, bagaimana produk-produk itu diproduksi dan efeknya terhadap lingkungan?

Pertanyaan tersebut sebenarnya ingin menyadarkan anda terhadap kenyataan yang saat ini terjadi di bumi kita. Gaya hidup konsumtif masyarakat modern memacu kegiatan produksi massal tanpa memperhatikan efek buruk yang akan mempengaruhi masa depan generasi selanjutnya. Bumi kita yang sudah semakin tua dan rapuh, secara terus menerus disedot kekayaannya tanpa berpikir panjang tentang keberlanjutannya. Dan semakin dirusak dengan limbah-limbah hasil proses produksi. Dampak nyata yang ada di depan mata adalah perubahan cuaca drastis yang dapat kita rasakan sehari-hari.

Limbah rumah tangga

Hal ini sudah menjadi kegelisahan para insan yang aktif dalam lembaga sosial pecinta lingkungan di seluruh penjuru dunia. Berbagai kampanye cinta lingkungan digalakan sebagai reaksi nyata terhadap permasalahan yang ada. Masyarakat dikenalkan kembali dengan gaya hidup natural yang dekat dengan alamnya. Inovasi para desainer sebagai bukti untuk menanggapi permasalahan ini pun satu persatu mulai bermunculan.

Sebagai manusia modern yang memiliki pemikiran terbuka, tentunya hal ini dapat menggugah kita untuk mengubah pola gaya hidup konsumtif dan menjadi ‘konsumen pintar’ yang dapat memilih dan memilah produk-produk yang memberikan dampak paling minim bagi lingkungan. Belum tahu harus memulai dari apa? Bisa kita mulai dari produk yang digunakan sehari-hari. Karena produk sehari-hari ini yang secara kontinu digunakan dan secara kontinu pula akan diproduksi sesuai kebutuhan konsumennya.

Wanita diketahui cenderung lebih konsumtif daripada pria untuk produk yang dipakai sehari-hari. Apabila ditelusuri lagi, kebutuhan wanita memang lebih banyak, mulai dari kosmetik, pakaian, tas, sepatu, dan lain-lain. Sebagai contoh, untuk kosmetik dan perawatan tubuh saja wanita membutuhkan setidaknya sepuluh jenis produk. Untuk muka, kulit, kuku, rambut, dan masih banyak lagi. Apabila wanita-wanita di seluruh dunia ini menjadi ‘konsumen pintar’ yang sadar lingkungan, tentunya mereka akan memilih produk kecantikan yang ramah lingkungan. Sudah diketahui oleh khalayak umum bahwa produk kecantikan yang banyak dijual mengandung bahan-bahan kimia yang dalam proses produksinya merusak lingkungan dengan limbah-limbah beracun dan memiliki dampak yang buruk pada diri sendiri dalam jangka waktu yang panjang.

Eco Conscious Product – Body Shop

Menilik kembali ke masa lalu, nenek buyut kita melakukan perawatan diri yang didapat langsung dari alam. Menggunakan bahan-bahan organik yang terbukti ampuh dan memberikan efek yang baik bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Hal ini sudah disadari oleh Anita Roddick, yang pada tahun 1976 dengan membuat toko kosmetik alami yang hingga saat ini dikenal dengan The Body Shop. Menyadur dari berbagai ramuan tradisional yang beliau cari di beberapa negara, Anita membuat produk kosmetiknya dengan bahan-bahan alami.

Merespon berbagai permasalahan lingkungan yang mulai bermunculan, The Body Shop meluncurkan inovasi produk kosmetik yang beretika. Mulai dari proses produksi hingga kemasan yang dapat didaur ulang ketika sudah tidak dipakai lagi. Salah satu inovasi The Body Shop yang paling akhir adalah seri ‘Eco Conscious products’, yaitu produk sabun dan shampo yang meminimalisir dampak yang buruk terhadap lingkungan dan kemasannya terbuat dari plastik yang 100% dapat didaur ulang. Bahan yang digunakan pada produk ini tidak beracun bagi organisme yang hidup di dalam air. Penggunaan kemasan yang 100% dapat didaur ulang ini menjadi salah satu tujuan utama yang saat ini sedang digerakkan oleh pihak The Body Shop terhadap seluruh produknya.

Berbagai kampanye lingkungan dilakukan oleh perusahaan ini untuk mengajak para ‘konsumen pintar’ berkontribusi di dalamnya dan membuat bumi ini menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali. Toko The Body Shop merepresentasikan konsep natural dan memberi edukasi kepada konsumennya terhadap masalah lingkungan yang sedang dikampanyekan. Informasi yang disampaikan diharapkan dapat memberikan kesadaran terhadap permasalahan lingkungan yang semakin marak dibicarakan akhir-akhir ini.

Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa dengan segala kekayaan alamnya, Indonesia tentunya memiliki keuntungan lebih. Kita memiliki berbagai hasil bumi yang dibutuhkan di seluruh dunia yang hanya tumbuh di daerah tropis. Nenek moyang kita sendiri memberikan warisan yang sangat banyak untuk diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari seperti jamu, obat-obatan tradisional sebagai obat herbal yang lebih sehat dibandingkan obat-obatan kimia.

Serambi Botani

Para insan muda dari Institut Pertanian Bogor telah menghasilkan berbagai inovasi yang mengembangkan hasil bumi dari tanah air kita sendiri. Hasil inovasi mereka dinaungi oleh kampusnya, dan dijual umum kepada masyarakat serta mudah diakses. Usaha ini dinamakan Serambi Botani. Hampir sama dengan The Body Shop, Serambi Botani juga memiliki konsep ‘kembali ke alam’. Menyajikan produk-produk yang seratus persen berasal dari alam dan turut menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Hasil inovasi yang dikemas dengan cukup baik ini pun dapat dipertanggungjawabkan. Produk-produk seperti ini tentunya dapat menjadi salah satu alternatif bagi para ‘konsumen pintar’ yang sadar lingkungan dan peduli terhadap kesehatan serta turut menggalakkan cinta produk dalam negri.

Tidak hanya perlengkapan kosmetik dan perawatan tubuh, Serambi Botani juga menawarkan produk alami lainnya antara lain madu, obat herbal, aneka olahan makanan yang menggunakan bahan baku lokal, bahan pangan, dan lain-lain. Dengan kemasan sederhana tapi efektif, serta menggunakan bahan-bahan alami, produk-produk dari Serambi Botani turut menyumbangkan eksistensinya sebagai produk harian yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Selain komitmennya sebagai produk yang alami dan sehat, Serambi Botani turut mensejahterakan para petaninya sebagai produsen utama dengan pembagian keuntungan yang adil antara produsen dan pihak pengelola.

Tidak sedikit produk-produk baru yang mencanangkan konsep serupa, dan sebagai ‘konsumen pintar’ harus bisa menentukan yang mana produk yang benar-benar memiliki komitmen terhadap lingkungan dan yang hanya memakai slogan ‘alami’ padahal tidak benar-benar berkomitmen dengan baik. Misalnya, ada produk yang secara proses memang alami dan tidak menggunakan bahan kimia, tapi sayangnya tidak didukung dengan kemasan yang baik. Sehingga ketika produk itu sudah selesai digunakan, kemasan bekas produk tersebutlah yang akhirnya merusak lingkungan kita. Atau contoh lain adalah slogan tersebut hanyalah embel-embel agar penjualan meningkat padahal secara proses produksi hingga akhirnya produk itu tidak terpakai, sama sekali tidak memberikan efek yang baik bagi tubuh kita maupun bagi lingkungan.

Memang tidak mudah melakukan perubahan pola gaya hidup seperti ini. Masih banyak yang dapat kita perbuat untuk melindungi lingkungan alam ini. Namun perlahan tapi pasti. Bumi kita sudah menunggu untuk kita mulai bergerak dan melakukan bukti nyata bahwa kita membutuhkan bumi yang sehat untuk generasi selanjutnya. Jadilah ‘konsumen pintar’ yang teliti memilih produk yang baik. Maka, mari bersahabat dengan alam, maka alam akan bersahabat dengan kita.

“Design & Sustainability”? Cari Makan Saja Susah!

DESIGN AND SUSTAINABILITY? CARI MAKAN SAJA SUSAH!

 Achmad Fadillah | 27111098

Di suatu siang di dalam angkot jurusan Terminal Dago-Stasiun Hall di kota Bandung tercinta. Setelah semalaman hampir tidak tidur gara-gara mengejar deadline proyek, saya duduk sambil sepertiga ketiduran di kursi penumpang di dekat pintu masuk. Matahari di luar lumayan terik tapi anginnya masih lumayan segar, apalagi waktu angkotnya sedang  jalan. Saya perhatikan di kaca angkot refleksi wajah saya dan saya lihat mata saya tampak sendu dan sayu. Saya perhatikan wajah para penumpang di bangku seberang mulai dari yang paling belakang terus ke depan, tidak ada yang istimewa.

Lalu pandangan saya berhenti di pak supir yang tampak belakang. Dia sedang ngobrol dengan orang di sebelahnya, mungkin temannya. Saya perhatikan wajahnya melalui kaca spion dalam, sepertinya pak supir terlalu muda untuk dipanggil pak supir, tebakan saya umurnya mungkin masih di 20an awal, antara 20-23 tahun lah kira-kira. Jadi untuk selanjutnya saya akan sebut aja dia ‘si supir’.

Rasa kantuk saya pelan-pelan mulai luntur waktu waktu saya perhatikan si supir. Bukan cuma sambil ngobrol sama temannya, dia juga mengendarai angkotnya sambil makan buah duku yang bergerombol di dalam plastik kresek hitam di samping kirinya. Duku dibuka dengan tangannya, kadang-kadang dengan giginya. Daging buahnya dia makan lalu yang bikin saya agak risih melihatnya adalah waktu kulit dukunya dia buang ke luar jendela angkot, ke jalan. Terus begitu sepanjang jalan. Waktu berhenti di lampu merah, duku yang dimakannya makin banyak dan kulitnya tetap dibuang ke luar jendela. Jadilah sampah kulit duku itu berserakan di tengah jalan. Di setiap lampu merah, perhitungan statistik saya mengatakan rata-rata buah duku yang dia makan berjumlah antara 5 sampai 10 buah dan semua sampah kulitnya dibuang ke luar jendela.

Kesal rasanya melihat kelakuan si supir angkot itu. Kenapa sampahnya tidak dibuang saja ke kantong plastik tempat dia menyimpan buah dukunya? Atau paling tidak ya dibuang saja di dalam angkotnya.

Kalau kita perhatikan, banyak orang yang melakukan hal seperti yang dilakukan si supir angkot itu. Walaupun tidak semua yang menyampah sembarangan seperti supir angkot itu adalah mereka yang datang dari masyarakat kelas sosial menengah ke bawah, tetapi yang paling sering saya lihat ya memang mereka yang berasal dari kelas sosial itu. Memang tidak jarang juga saya lihat orang yang buang sampah sembarangan ke luar jendela dari dalam mobil bagus. Bukan cuma pengendaranya -yang kemungkinan adalah supirnya- tapi juga penumpangnya.

Kembali lagi  ke si supir angkot, setelah sekian menit menahan kesal, secara tidak sengaja saya semakin larut di dalam pikiran saya sendiri dan berdiskusi dengan diri saya sendiri tentang perilaku si supir angkot itu hingga sampai di satu titik di mana saya mencoba menempatkan diri saya di posisi si supir. Saya mencoba menerobos masuk ke dalam pola pikirnya.

Untuk si supir, tidak ada masalah dengan perilaku menyampah sembarangannya itu. Malah, itu mempermudah hidupnya. Begini, kalau dia buang sampah kulit dukunya itu ke jalan, maka ia tidak perlu repot-repot membersihkan interior angkotnya di akhir harinya. Lagipula, membuang sampah pada tempatnya tidak akan memberikan kebaikan apapun baginya. Untuk apa berperilaku ramah lingkungan? Untuk apa menyediakan fasilitas kebersihan di dalam angkotnya? Itu tidak akan meningkatkan jumlah penumpangnya, tidak juga akan memperbaiki kesejahteraannya. Membuang sampah pada tempatnya dan tetap menjadi supir angkot, apa hebatnya? Buang saja sampahnya ke jalan, supaya petugas kebersihan jadi ada pekerjaan. Memangnya kalau kota ini bersih penghasilan supir angkot akan meningkat?

Perilaku-perilaku tidak ramah lingkungan banyak sekali dapat kita jumpai di sekitar kita. Bukan hanya di daerah-daerah pinggiran saja, tetapi juga di pusat-pusat kota seperti contoh si supir angkot di atas. Seperti yang juga sudah disinggung sebelumnya, kesadaran akan kelestarian lingkungan bisa dikatakan sulit dijumpai di kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Kemungkinan besar sumber utama yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya tingkat pendidikan  dan penghasilan masyarakat di strata ekonomi tersebut yang menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan mereka, yang berujung pada rendahnya kesadaran mereka akan kelestarian lingkungan. Seperti pada judul tulisan ini, jangankan memikirkan untuk memiliki perilaku atau produk-produk ramah lingkungan, cari makan saja susah!

Selanjutnya mari kita kupas sedikit tentang design & sustainability. Di sekitar kita sudah mulai dapat dijumpai produk-produk yang mengusung konsep ramah lingkungan. Sebut saja bio-degradable plastic (plastik yang dapat terurai secara alami). Jenis plastik ini sudah mulai digunakan di beberapa supermarket. Tentu itu merupakan sebuah kabar gembira bagi kita yang sangat peduli akan kelestarian lingkungan. Pertanyaannya, kenapa belum semua supermarket menggunakan jenis kantong plastik kemasan seperti itu? Mungkin jawabannya adalah karena harganya yang relatif lebih mahal dari kantong plastik biasa. Atau mungkin juga karena mereka (pengusaha supermarket) tidak ingin merusak hubungan bisnis yang baik dengan suplayer kantong plastik mereka. Atau mungkin karena memang mereka tidak sadar lingkungan saja. Apapun penyebabnya, penggunaan kantong plastik bio-degradable yang belum begitu populer ini pasti ada latar belakangnya.

Kelestarian lingkungan dalam kaitannya dengan desain produk sehari-hari intinya bukanlah bicara soal teknik produksi, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah atau limbah semata. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini bukanlah plastik -yang kabarnya membutuhkan waktu paling sedikit 50 tahun untuk terurai di tanah-, atau bukan juga zat-zat kimia beracun yang digunakan industri untuk memanufaktur berbagai produk yang ada di keseharian kita. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini adalah manusia. Manusia lah yang mengekstraksi berbagai material mentah dari dalam bumi. Manusia lah yang mengolah material-material itu hingga menjadi produk-produk sehari-hari. manusialah yang menciptakan racun-racun yang mencemari tanah, air dan udara ini. Manusia lah yang mengkonsumsi semua produk itu. Manusia lah yang tidak pernah berpikir untuk menghemat energi. Manusia lah yang menghasilkan sampah. Manusia lah sumber malapetakanya.

Bagian paling merusak dari makhluk yang namanya manusia ini adalah perilakunya. Di tulisan ini saya ingin menekankan untuk tidak melimpahkan semua dosa kepada material yang tidak ramah lingkungan karena yang tidak ramah lingkungan bukanlah materialnya, tetapi perilaku manusia yang mengelolanya. Sampah plastik seakan-akan seperti hantu yang selalui bergentayangan dan diusahakan untuk dibasmi. Pada sampah plastik, kata yang perlu digarisbawahi bukanlah kata ‘plastik’ nya melainkan kata ‘sampah’ nya. Plastik tidak akan menjadi menyebabkan bencana lingkungan bila dikelola dengan baik, didaur ulang, digunakan kembali, dan bukan dibuang sembarangan. Bayangkan kalau kita harus mengganti material plastik dengan material lain yang ramah lingkungan, ribuan pengangguran akan mengantri entah untuk mencari kerja atau demonstrasi di jalan karena pabrik plastik tempat mereka bekerja tutup dan mungkin selanjutnya akan muncul bencana sosial seperti meningkatnya angka kejahatan dan jumlah ‘gepeng’ (gelandangan dan pengemis).

Sebenarnya ada solusi lain yang nampaknya lebih bijaksana dan tidak menyisakan masalah lain yang sama celakanya. Solusinya adalah mendesain ulang produk-produk berbahan tidak ramah lingkungan dengan menekankan pada perilaku manusia konsumennya. Sekali lagi saya kemukakan bahwa sampah tidak akan menjadi sampah bila tidak dibuang. Melalui penerapan ilmu desain, sangatlah dimungkinkan untuk hadirnya produk yang usia kegunaannya bisa lebih panjang walaupun fungsi utamanya sudah habis.

Sebagai contoh, dapat dilihat di halaman website http://geenius.co.uk/advertising/stanley-honey-full-circle-packaging/. Di sana bisa kita lihat sebuah desain kemasan madu yang berbentuk seperti pot tanah liat. Setelah madunya habis, kemasan ini bisa digunakan sebagai pot untuk menanam bunga dan hal ini disampaikan melalui tulisan yang merupakan pesan utamanya yang berbunyi, ” Reuse this pot to grow more flowers and keep our bees busy”.  Ini adalah sebuah contoh yang ringan namun sangat inspirasional. Dan yang paling penting, desain kemasan ini murah dalam produksinya dan tidak menekankan konsepnya pada material yang digunakan melainkan pada fungsi dan pesan ramah lingkungan yang diusungnya. Hal seperti ini sangat mungkin untuk diterapkan di berbagai produk.

Demikianlah akhirnya saya menyimpulkan bahwa desainer sangat dapat memotivasi perilaku ramah lingkungan pada pengguna produk yang dirancangnya. Dan sangat memungkinkan juga untuk menerapkan hal serupa pada produk-produk konsumen di berbagai lapisan masyarakat. Masih banyak cara dan metode -selain inovasi material ramah lingkungan- yang bisa diterapkan untuk menciptakan hubungan yang lestari dan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan produk kesehariannya, serta manusia dengan lingkungannya.

Tumbler vs Paper Cup

TINJAUAN KAMPANYE SUSTAINABILITY PENGGUNAAN TUMBLER SEBAGAI PENGGANTI GELAS KERTAS OLEH STARBUCKS

Adellia Paramithasari | 27111094

Starbucks. Apa yang ada di pikiran anda jika anda membaca kata Starbucks. Sebuah gerai kopi yang sangat terkenal? Sebuah merk? Sebuah gaya hidup? Sebuah kebutuhan di jaman sekarang? Mengapa Starbucks dapat diklasifikasikan seperti ini?

Menurut BrandChannel, Starbucks berada di posisi pertama di antara consumer brands dengan memiliki 7,4 juta penggemar di Facebook, 901.925 followers di Twitter dan 6.509 subscribers di YouTube.

Starbucks mengklaim bahwa mereka adalah perusahaan yang “green”. Semua aspek di dalamnya harus menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan sustainable. Mulai dari penyuluhan ke petani-petani kopi hampir di seluruh dunia, sistem export yang teliti dan yang lainnya. Mereka bahkan mendesain interior tiap gerainya dengan furniture yang ramah lingkungan dan penggunaan listrik yang seefisien mungkin. Bahkan suhu dalam toko pun diatur sedemikian rupa untuk menghemat energi.

“Starbucks Shared Planet. You and Starbucks. It’s bigger than coffee. Use a tumbler.”

“Bring your Starbucks’s tumbler or mug and enjoy your favorite beverage half price at all Strabucks Indonesia stores”

“Less paper, more plants, more planet”

Kampanye penggunaan tumbler merupakan salah satu kampanye media sosial yang dirancang oleh Starbucks. Dalam kampanye ini, Starbucks meminta pelanggan di seluruh dunia untuk menggunakan tumbler agar dapat mengurangi jumlah penggunaan gelas kertas dan ikut serta membantu menjaga kelestarian lingkungan. Starbucks mengajak pelanggannya di seluruh dunia untuk mengganti gelas kertas dengan pilihan yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah salah satu cara Starbucks bekerja sama dengan pelanggan untuk mengurangi dampak negatif untuk lingkungan. Starbucks telah mempromosikan kampanye ini sejak tahun 1985.

While our cup has become an integral part of the coffeehouse experience over the years, it has also become an environmental concern,” menurut Ben Packard, wakil presiden Starbucks di divisi Global Responsibility. “As a result, we’ve set aggressive goals to minimize cup waste through recycling and reusable options, and are collaborating with a wide range of stakeholders to drive meaningful change. In addition to working with cup manufacturers, municipalities and recyclers to make our cups more broadly recyclable, we’re encouraging customers to think about reusable cups the way they think about reusable grocery bags.”

Honoring Earth Day

Julie Blackwell, Director of Conservation International’s Team Earth berkata, “We’re excited Starbucks is joining forces with customers to reduce cup waste in such a public way. It’s through this kind of collective action that we’ll be able to address some of the most pressing environmental challenges of our time,”

Dalam tiap kampanyenya, Starbucks selalu mengajak kita untuk menggunakan tumbler dan dengan menaatinya, kita dianggap telah ikut menjaga lingkungan dengan mengurangi jumlah penggunaan gelas kertas dan sebagainya.

Tetapi ternyata, disaat membeli tumbler, anda membeli bahan yang ternyata tidak benar-benar dapat didaur-ulang atau terurai. Tumbler sebagian besar menggunakan bahan plastik dan stainless steel. Dan cost produksinya yang cukup besar. Dan secara tidak sadar, kita telah membantu mereka dengan menghasilkan profit yang besar dari biaya yang anda keluarkan saat membeli tumbler-nya dan membiarkan mereka menghemat biaya pengeluaran yang digunakan untuk mengorder gelas kertas. Yang tidak kita sadari dalam kampanye ini adalah bahwa Starbucks mencoba menciptakan konsumen yang berpikiran bahwa dengan membuat uang Starbucks lebih mereka telah berhasil memberikan kontribusi bagian mereka dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Pada webnya, Shared Planet mengatakan bahwa, “It’s out commitment to doing business in ways that are good to the earth and to each other. From the way we buy our coffee, to trying to minimize our environmental footprint, to being involved in our local communities.”

Pernyataan ini membuat kita merasa perlu untuk membeli produk mereka agar kita dapat berkontribusi untuk mengurangi dampak-dampak buruk pada lingkungan. Sementara, kita tidak sadar bahwa produk yang kita beli hanyalah taktik manajemen perusahaan untuk membuat kita memperkaya mereka dan ternyata tidak membantu mengurangi dampak-dampak negatif itu sama sekali.

Starbucks menggunakan image mereka yang telah dianggap sebuah gaya hidup dan bagaimana efek kampanye tumbler ini akibatnya terhadap konsumen mereka di seluruh dunia. Penggunaan tumbler pun meningkat dari tahun ke tahun tanpa kita ketahui bahwa ternyata kita tidak berkontribusi yang signifikan terhadap pelestarian bumi kita. Di satu sisi, kita berpikiran bahwa kita turut serta membantu, padahal ternyata kita hanya menjadi korban iklan yang tidak tahu apa-apa. Ironis memang.

Namun, kita kembali kepada diri kita sendiri. Apakah kita memang sudah berkomitmen untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan kita ini? Atau kita hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti sama sekali tentang bagaimana cara kita ikut membantu melestarikan lingkungan kita ini? Apakah kita adalah masyarakat yang cerdas atau hanya seperti kerbau yang dicocok hidungnya?

Mengurangi adalah salah satu cara untuk membantu menjaga kelestarian lingkungan kita. Pada akhirnya, kembali ke bagaimana mendisiplinkan diri kita sendiri. Mengurangi penggunaan gelas berbahan plastik ataupun kertas. Berusaha tidak membeli makanan ataupun minuman untuk dibawa pulang. Makan dan minumlah di tempat. Kurangi apa yang bisa kita kurangi. Hidup simple dan bertanggung jawab. Menjadi manusia cerdas dan teliti yang mengerti dan tahu benar bagaimana cara kita ikut berkontribusi untuk lingkungan tanpa dijadikan korban iklan sebuah gaya hidup.

Tas “Pintar” yang Ramah Lingkungan

PUMA CLEVER LITTLE BAG

Tas “Pintar” yang Ramah Lingkungan

Wantoro | 27111052

Kemasan, dalam berbagai jenisnya merupakan salah satu elemen penting dalam produk. Selain berfungsi sebagai pengemas (bungkus), kemasan juga merupakan suatu identitas dari produk yang dikemasnya dan memiliki dampak pada nilai citra, ekonomi dan juga lingkungan.

Dari “box” ke “bag”

Puma, sebuah sportlifestyle brand ternama dunia baru-baru ini me-launching sebuah desain kemasan untuk produk-produk sepatunya dengan merespon secara “pintar” kondisi lingkungan saat ini dimana terjadi pemanasan alam, krisis sumber daya alam dan energi dengan menganut pada prinsip sustainable design (desain yang berkelanjutan). Desain kemasan untuk sepatu ini kemudian diberi nama “Clever Little Bag”.

Dalam proses perancangan kemasan ini, Puma menggandeng Yves Behar, seorang desainer dari studio Fuse Project, San Fransisco untuk memikirkan kembali cara jutaan pasang sepatu yang dijual setiap tahun dikemas dengan bahan baku dan energi untuk produksi yang lebih sedikit dan memiliki bobot lebih ringan agar mereduksi energy saat distribusi. Proses perancangan “Clever Little Bag” menghabiskan waktu 21 (dua puluh satu) bulan yang didalamnya termasuk proses pengujian, penelitian dan penilaian siklus hidup dari lebih 2.000 ide dan kemungkinan desain dan ditambah 40 prototipe desain kemasan.

Proses yang “pintar”

“Clever Little Bag” sebenarnya merupakan revolusi dari kemasan sepatu Puma sebelumnya yang dikenal dengan nama “Red Shoebox”, yaitu kemasan sepatu konvensional dimana menggunakan bahan karton dus/kertas secara mayoritas. Kemasan terdahulu ini tentu saja membutuhkan sumber energi yang besar, baik pada bahan baku (karton dus/kertas yang notabene berasal dari kayu), proses produksi maupun distribusi. Selain itu, kemasan dalam format box (kotak) cenderung memiliki umur pakai yang pendek karena box jarang dimanfaatkan setelah sepatu digunakan. Sedangkan kemasan dengan format bag seperti “Clever Little Bag” memiliki umur pakai yang lebih panjang karena dapat digunakan pada kebutuhan lain seperti kemasan membawa buah, kertas, alat-alat olahraga dan sebagainya. Selain itu, dengan format bag, tak diperlukan lagi kemasan plastik di toko sebagai pembungkus saat sepatu dibawa. Sungguh sebuah jawaban “pintar” atas permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini.

Dengan penggunaan kemasan baru ini, Puma mengklaim telah membantu mereduksi penggunaan :

•  8.500 ton kertas/tahun – jumlah ini setara dengan berat tubuh 1. 400 gajah  dewasa.

• 20 juta mega joule listrik/tahun – jumlah ini setara dengan konsumsi listrik disebuah kota  kecil di Eropa.

• 1 juta liter air/tahun – jumlah ini setara dengan kebutuhan air untuk menyiram toilet sebanyak 100.000 kali

• 1 juta liter bahan bakar minyak/tahun – jumlah ini setara dengan 650 flat pemanasan Eropa

• 500.000 liter solar/tahun – jumlah ini setara dengan kebutuhan solar sebuah mobil van untuk 131 kali berkeliling dunia

• 275 ton plastik/tahun – jumlah ini setara dengan 375 kali luas lapangan sepakbola bila plastik dibentangkan.

Selain itu, penggunaan “Clever Little Bag” juga berdampak :

• Mengurangi penggunaan kardus sebesar 65%

• Mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 10.000 ton

Fungsi lanjutan “clever little bag”

Kemasan sepatu Puma yang baru ini sebenarnya merupakan lanjutan dari suksesi pelaksanaan standar sosial dan lingkungan yang dilakukan oleh Puma dan dikenal dengan nama program Puma.Safe. “Clever Little Bag” sendiri pada akhirnya terpilih sebagai desain terbaik untuk kategori Sustainable pada ajang Conde Nast Traveller 2011 Innovation and Design Awards di St Pancras Renaissance Marriott Hotel, London Inggris. Sementara desainernya, Yves Behar mendapatkan penghargaan “Designer of The Year” atas kontribusinya dalam proyek “Clever Little Bag” ini.

Meskipun Puma belum meraih predikat sebagai The World’s Most Sustainable Companies, namun kita tidak dapat mengelak bahwa “Clever Little Bag” merupakan sebuah langkah maju dari Puma dalam upayanya merespon kondisi lingkungan saat ini khususnya di bidang ritel.  Tujuan akhir Puma pada akhirnya adalah untuk memberikan kembali kepada lingkungan apa yang telah  mereka ambil.

 

Sumber: www.puma.com/cleverlittlebag (diakses 13 Maret 2012)

 

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=vwRulz8hPKI]

Desain, Teknologi & Krisis Urban

Berikut ini adalah beberapa pointers dari materi kuliah Ridwan Kamil saat menjadi dosen tamu di mata kuliah Desain Berkelanjutan 2, Program Magister Desain, FSRD ITB, Senin 30 April 2012.

[Catatan lain dari mata kuliah yang sama, 4 Mei 2011: Negotiating a New Indonesia]

Emil saat mengisi kelas Desain Berkelanjutan 2

Science itu ilmu yang mencari kebenaran. Ilmu Sosial & Humaniora mencari keadilan. Sementara Desain itu ilmu yang mencari kecocokan, sehingga sifatnya memang subyektif.

=====

Tidak harus jadi orang kaya utk bahagia. Kita yang hidup di kota kebanyakan harus stress karena konstrain waktu. Ini karena sistem kapitalis yang ternyata sedang menang sekarang.

=====

Kota yang stress akan melahirkan manusia-manusia yang stress, sehingga peran desain menjadi sangat penting (untuk mengobati stress itu).

=====

Jalanan yang makin padat dengan kendaraan pribadi [lokasi: Jl. Dago, Bandung]

Dengan segala keterbatasan kita, kita bisa menciptakan inner sanctum happinesskita.

=====

Kalau ada waktu, lakukan sesuatu yang mikro, yang kalau banyak dilakukan bisa membuat banyak orang bahagia.

=====

Your city, your responsibility”. Kota tempat tinggalmu adalah tanggung jawabmu juga.

=====

Manfaatkan kelebihan orang Indonesia yang ini: hobi ngumpul. Makanya budaya arisan hanya ada di Indonesia. Buat sesuatu dari situ.

=====

High levels of resource consumption do not reliably produce high levels of well being. It is possible to produce high levels of well being without excessive consumption.

=====

Ada komunitas yg senang-senang saja, tapi ada juga yang based on issues seperti Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, Bridge for Life, dan sebagainya.

=====

Bila sering berperjalanan, kita bisa melihat kebiasaan atau budaya di tempat lain. [Foto: Shanghai, manula berdansa di jalan dan Paris, pasangan ber-tango] –> Mulai dari orang tua hingga anak-anak menemukan kebahagiaan di ruang publik.

=====

Ciri peradaban yang sakit adalah, ruang publik tidak dipakai. Ciri yang sehat, ruang publik habis terpakai.

Deretan warung memakai sisi jalanan, sehingga jalur pejalan kaki menjadi berada di ‘belakang’ warung-warung tersebut. [Lokasi: Jl. Hasanudin, Bandung, sisi selatan RS Boromeus]

 =====

Dari 500 taman di Bandung, yang diurus oleh Pemerintah Kota hanya 200. Lalu harus bagaimana?

Ada konsep 1 taman 1 komunitas: satu komunitas ‘mengambil’ satu taman untuk diaktifkan, seperti yang sudah dilakukan oleh komunitas fotografi, komunitas sahabat anak, dan seterusnya.

Bayangkan kalau semua taman itu bisa penuh terisi. Di akhir pekan, bisa dilakukan wisata taman, tidak melulu harus ke pusat pertokoan.

=====

Jakarta mewakili kota Indonesia.

Yang ditampilkan dari Jakarta selalu high rise building. Namun kaki-kakinya berantakan, baik secara terstruktur maupun organik.

Realita Jakarta adalah yang tidak terurus.

=====

Hidup di Indonesia itu kontras. Sebagai arsitek profesional, ada klien yang minta gedung mahal, sementara ada juga interaksi dengan penduduk kampung lokal yang dapat digarap.

=====

Ciri kota yang sakit adalah: pemerintahnya koruptis, pebisnisnya oportunis, akademianya apatis.

=====

60% orang Jakarta menghabiskan waktu di mal untuk berekreasi. Artinya, tidak ada alternatif lain untuk menghabiskan akhir pekan.  Inilah peradaban yang sedang dibangun oleh kapital. Sementara, utk mencapai shopping mall, fasilitas belum memadai. Akibatnya orang terpaksa berdesak-desakan di jalan raya, dan mengalami urban stress.

=====

Apa gunanya ilmu kalau tidak menyelesaikan masalah?

=====

Kalau Anda tinggal, misalkan, di Amerika, negaranya sudah established in term of urban systems. Di sini, kualitas ruang publik masih menjadi masalah.

Di negara yang sudah berfungsi, kita bisa fokus ke karya sendiri. Tapi di negara yang masih kacau, hati kecil tidak bisa dibohongi. Pasti ada dorongan untuk berbuat bagi lingkungan sekitar.

=====

Jakarta sebenarnya punya uang, tapi uangnya tidak well spent.

APBD Jakarta itu 36 triliun. Tapi kualitas hidupnya: dari 215 kota besar di dunia, Jakarta berada di urutan ke-139 sebagai kota yang nyaman dihuni. Terdapat total 39 faktor sebagai indikatornya, antara lain: political stability, personal freedom, air pollution, quality of healthcare, public spaces, schools, restaurants, theatres, etc.

=====

Urban Explosion: masa depan dunia itu Asia. The most optimistic young people are in Asia.

Dari sisi ekonomi, Indonesia sudah lepas dari krisis 2008 karena banyak yang kelas IKM. Sekarang kita hidup di masa yang ekonominya baik. Tapi masih ada tantangan: ledakan populasi.

Dulu penduduk Bandung jumlahnya 300ribu, sekarang 2,5juta, sementara tidak ada inovasi untuk mewadahi fakta ini.

=====

Harusnya kita bisa menghadirkan produk teknologi yang revolusioner di ITB.  Yang melibatkan partisipasi multi-disiplin ilmu.

=====

Sebelum ada Car-Free Day kita mungkin tidak tahu-menahu mengenai berbagai kegiatan positif di lingkungan terdekat kita. Setelah ada CFD, baru kita tahu ada apa saja di komunitas sekitar kita.

=====

The city is the people. Saat filosofi itu dilanggar, hilang jugalah positifnya.

Yang kita alami sekarang adalah, “kota” mendahulukan mobil, sementara pedestrian tidak ada. Pemikiran orang PU sekarang seperti itu, tidak pernah memperbaiki jalan aspal dengan sidewalk-nya sekaligus.

=====

Hidup “berkelanjutan” (sustainable) itu bisa dengan teknologi tinggi ATAU dengan mengubah gaya hidup. Di negara berkembang seperti Indonesia, lebih cocok dengan strategi mengubah gaya hidup.

=====

Urban Farming, Indonesia.

Power/ kekuatan di Indonesia adalah social cohesion. Indonesia ini negeri indah yang banyak masalah. Di kota-kota besar, banyak unbuilt space yang jadi negative space. Ruang-ruang semacam ini dimanfaatkan menjadi lahan untuk berkebun, yang juga telah menjadi ruang alternatif bagi aktivitas anak-anak.

Bulan Oktober 2011, Urban Farming Indonesia mendapat penghargaan dari Google sebagai Google Web Hero. Alasannya adalah: Internet dipakai sebagai sumber informasi (Google, YouTube), juga untuk menghubungkan orang (Facebook, Twitter). Hanya di Indonesia juga Internet lebih digunakan untuk mengkampanyekan berbagai gerakan. Kita ini masyarakat sosial tapi dekat ke teknologi.

=====

Educating client is the hardest part in design.

=====

Jangan percaya bahwa jalan tol dalam kota itu simbol kemajuan! Keputusan politik dapat menciptakan perubahan. Maju atau tidaknya suatu peradaban itu ditentukan oleh mental orang nomor satunya.

=====

Our fight is the fight for public space.

=====

Keberlanjutan bisa terwujud di level intervensi infrastruktur.

Babakan Asih: inisiatif memperbaiki kampung dengan lintas komunitas kreatif.

Dulu, tiap hujan biasanya banjir selama 3 hari. Sekarang, setelah ada lubang-lubang resapan, 15 menit air bisa surut.

Dulu, harus menggali sedalam 8m untuk mendapatkan air tanah. Sekarang, satu tahun setelah ada lubang-lubang resapan air itu, hanya perlu menggali sumur sedalam 4m. Dulu airnya keruh, sekarang jernih.

Ini adalah tugas kita yang punya ilmu.

=====

Desain sarana publik yg paling tepat utk org Indonesia?

Masalah utama di sini adalah: perawatan, keamanan (vandalisme), dan ‘sense of belonging’.

Pernyataan bahwa “secara sosial kita masih primitif”, mungkin ada benarnya. Karena saat diberi sesuatu yang baru, kaget, kalau tidak biasa, pasti di-abuse.

=====

Ada masalah-masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh desain. Jangan-jangan oleh kampanye, oleh pendidikan, atau sekedar dengan ngobrol. Tapi kita tidak akan bisa maju kalau kalah atau bergantung pada semua itu.

Akhirnya penerapan desain memang sifatnya eksperimental.

Akhirnya orang-orang yang punya ekstra (waktu, tenaga, sumberdaya) saja yang melakukan perbaikan. Satu pesan: kalau membuat sesuatu, buatlah yang keren sekali, jangan nanggung, supaya orang segan.

Why do people run out of a building when a quake happens?

Because it’s not the quake that kills them; it’s the building. Why do we make unsafe buildings? Don’t we learn anything from nature that has produced excellent examples of perfect shelters?

One of Prof. Bando’s presentation slides, showing viruses, ‘sheltered’ by their forms

These questions were often heard recently at our department, Industrial Design at ITB, during lectures by Professor Takaaki Bando, from Science of Design Department, Musashino Art University, Tokyo, who has been staying for almost one year in Bandung. His passion toward biomimicry, Buckminster Fuller’s concepts, bamboo and structures is obvious from his energy during the presentations. Now that his one-year period at ITB is almost up, as a closure Prof. Bando conducts a Bamboo Shelter Project. He’ll deliver an open lecture concerning this project so, comprehensive explanations should come from him, but as far as I know, this project is a realization of a shelter concept that is save for people living in it during quakes, flood, and such. The form is obviously a slight modification of a Bucky Ball, which is strongly inspired by structures of virus molecules and the form of Apollo 11 that landed the first human on the moon in 1969 (Prof. Bando has also delivered a lecture concerning interconnected inspirations within the history of great designs).

Detail of the structure’s joint system

This project involves not only students from Industrial Design department, but also from other departments in ITB such as Architecture, Interior Design, Visual Art, Aerospace Engineering, and Civil Engineering.

The realization itself is not without challenge. First, it was the supply of material – in less than one week, around 800 sliced bamboo had to be provided, cut according to the precise, required measurements. A number of requirements had to be compromised, among others concerning the bamboo slices: initially, the skin of the bamboo should still be intact, which was not possible considering the amount of wasted slices that would be generated while lots of slices are needed. This skinless-bamboo condition might affect the strength of the structure, but we’ll never know for sure until we try it full scale. All other flaws, especially the detailed, technical ones that are happening during the building process, are not ones that can’t be solved, and they added to the valuable experience.

How the shelter looked on Day-3: still completing the ball shape, before inserting the platform (support) into the ball

Although not fully equipped with ‘real’ dwelling facilities, this bamboo structure serves as a model of a safe shelter. As Prof. Bando mentioned in one of his lectures, “Design does not explain how society is, but how it can be”. This bamboo shelter is surely the beginning of a process in discovering how humanity may thrive and cope with extreme global changes. So- let’s discuss some more: you’re all welcome to attend Prof. Bando’s lecture on Monday, 26 March 2012 at FSRD ITB!

 

A fuss over a lid part 2

About half a year ago, an encounter with a disposable lid urged me to post about it with great concerns. Back to now, beginning 2012. A friend gave me this cup. See something familiar? Of course, it’s the lid. However, this one is not meant to be thrown away after one use. The cup itself is made of ceramics, the lid is rubber.

The "Pick Your Nose" Cup

So I’ve been using this cup for almost two weeks now. I am used to have a cupful of hot tea to get my work going, so the cup is very functional. However, I’ve never used the lid for its purpose: to keep the heat of the liquid inside the cup and to sip from (the tiny hole at the brim).

Why? Because:

(1) I don’t feel comfortable covering the cup with piping hot liquid in it with a piece of rubber. I always think that the rubber would melt and so, and affecting the taste of the liquid, although it might not be the case here – the rubber being intended with the purpose to handle (hot) beverage(?)

(2) It’s simply not comfortable to sip hot tea through small, ruber-y hole

(3) I’m thinking about the maintenance. Will hot (and sometimes sweet) beverage stick to the rubber? Will it damage the surface?

So, to save me from another fuss all over again, I rather not use the rubber lid as a lid when I’m using the cup. However, nice touch, gimmicky-cup factory.

Bamboo Products Exhibition at Rempah, Solo

Promotional poster for the exhibition

This post is perhaps a press release that didn’t get written in due time. It’s about our exhibition in Surakarta (or Solo, as people here say), a town in Central Java that is recently known as progressing in preserving local cultures and resources, thanks to the modest, smart mayor. “Our” refers to the Industrial Design research group I belong to, at Institute of Technology Bandung (ITB), and the “exhibition” includes bamboo products with contemporary styles and production processes that have been developed in the past couple of years. The exhibition took place on 10-19 December 2011, hosted by Rempah Rumah Karya, whose owner is a businessman with progressive visions.

Rempah itself needs its own explanation, but to keep it short, it’s a place where designers/ craftsmen/ cabinet makers/ students/ etc. can stay, develop and create their products with available supports: guest rooms, a workshop with wood-working tools and machines, an office, materials, and whatever else. The place had its soft-opening in July 2011 and is still being worked on, but its direction is quite visible already: almost all materials are reused pieces, retaining their rustic look, and natural lighting and ventilation are kept to maximum.  A place that can intrigue a mood to create.

The front yard of Rempah, the roof is iron beams and plant pots, so it provides shading but not sheltering from rain

Anyway. Back to the exhibition. The owner of Rempah and I actually met at a workshop in Temanggung previously, where I presented some slides that showed our bamboo products. We were then invited to hold an exhibition at his place, which we accepted happily. Come to think of it, we have been developing bamboo products since 2008, and not once had the products been exhibited outside academic/research contexts(!). So the invitation was truly an opportunity to have our products ‘tested’ publicly, especially to (potential) costumers and, most importantly, to (furniture) industry professionals such as the Rempah owner and his colleagues.

The bamboo products we brought were results of experiments in forms and production processes, often collaborated with research institutions and craftsmen. We made a sort of ‘family tree’ for our bamboo products, all were produced with different means but all have the similarity of aiming for contemporary lifestyles and to eliminate the stigma of bamboo as a ‘cheap’ material. According to the family tree, these products started from an experiment that was conducted in a collaboration with the Biomaterial R&D Unit of the Indonesian Science Institute (LIPI), which resulted in pressed bamboo strips and containers. The next collaboration, with craftsmen of Tasikmalaya, resulted in coiled bamboo disks that were made into stools. The legs of the first generation of the stools, pressed bamboo beams, were made by the R&D Center of Housing Technology (Puskim) that belongs to the Indonesian Department of Public Works. On to the next variants of the stools, different legs were designed to try different possibilities. A huge coiled bamboo disk was formed into a wide round seat, supported by a rattan structure (which is rare, since rattan is considered a ‘non-structural’ material that fits only for weaving and tying).

Setting up the display at Rempah

Next to coiling, we also presented our bamboo veneer and ‘wengku’ (bending bamboo strips into closed-curves) products: food containers, a set of cutlery, sling bags, backpacks, etc. The technique might not look new, since it’s been conducted in other countries where bamboo grows as well, but we wouldn’t know our capacities until we tried the basic ones to our SME. During our research, we had to introduce new techniques and standards that required some adjustments and, of course, an acceptance from the producers/ craftsmen as a production unit.

When shown to industry professionals, of course it was discovered that more adjustments should be made of the bamboo products, in order to fulfill safety standards, etc. However, the exhibition had raised a notion that a design research and development is necessary in a search for new products and innovation, both in forms and production process. It should also be noted that a production system also relies on constant material supply. Concerning bamboo (furniture, home accessories) products, we still need proper bamboo propagation for such industry purposes.

Exhibition: display

The next day after the opening we held a discussion session, which also opened new viewpoints toward bamboo products, contemporary design, new methods of processing, etc. The audience were students of diverse backgrounds, artists, industry professionals, etc. All in all it was a productive but relaxed event, of which hopefully new insights could be acquired, concerning wise and creative utilization of our natural resources. It is hoped also that this exhibition is a start of a continuous collaboration among the fields of academics and industries, which could be accelerated with appropriate supports from the government.

SecondPage: extending papers’ lives

SecondPage documents

In a class called SENDAL by students (SENDAL stands for SENi, DesAin & Lingkungan), or Arts, Design & The Environment, taught by five lecturers from each programs at our faculty (Industrial Design, Visual Communication Design, Interior Design, Craft, Visual Arts), we asked students to form groups for their end-term exam. Each group was to bring up an ecological issue and respond to it using their capacities as creative individuals. At the end of the term, they had to submit a video explaining their projects and other documents from their projects (products, photos, posters, etc.)

SecondPage was among the groups that participated in the class in 2011. This project brought up the issues of paper waste, especially the one produced by final year students, who usually have to do several revisions. The first video shows the whole project, the second one gives an introduction to SecondPage, and the third video contains a step-by-step way to produce new notebooks out of used papers. If conducted seriously, this project can be developed into its own business entity, enterprising in taking in used papers, employing (slightly trained) workers, and producing commercially valuable products.