Category Archives: student project

projects conducted by students with themes relevant to sustainability

Green Roof dan Green Wall

“Greenery” pada Bangunan dalam Isu Desain Berkelanjutan

Kiki Putri Amelia

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Isu mengenai Global Warming (Pemanasan Global) bukanlah hal yang baru bagi kita. Menipisnya atmosfer Bumi, dan perkembangan Bumi serta kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya merupakan salah satu faktor mengapa isu ini terus bertahan, bahkan menjadi buruk kian harinya.

Pemanasan global telah menjadi lagu lama yang terus menerus dikumandangkan di banyak media, di seluruh dunia. Salah satu gambaran umum yang sering digunakan pada isu ini adalah fasad bangunan tinggi yang seluruhnya menggunakan kaca. Kaca-kaca tersebut dengan jumlah yang tidak sedikit menyelimuti ratusan bahkan ribuan bangunan tinggi di seluruh dunia, bukan merupakan hal yang remeh dan memiliki peran dalam isu ini. Istilah “Greenery” dalam arsitektur merupakan hal yang tidak asing didengar. Dan istilah tersebut termasuk didalam sebuah upaya konseptual seorang arsitek dalam berkontribusi, pada apa itu yang disebut sebagai sustainable design.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, salah satu yang berperan menyumbangkan banyak faktor dari pemanasan global ini adalah bangunan. Bangunan sangat berkaitan dengan arsitektur, karena arsitektur sendiri berhubungan erat dengan lingkungan hidup terutama pada penggunaan energi, air, materi dan ruang. Semua bangunan, low-rise, middle-rise, high-rise sekalipun menyumbangkan peran dalam isu ini, peran tersebut bisa menjadi positif atau bahkan negatif, memperburuk atau membantu mengurangi bahkan mencegah. Peran bangunan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut, bagaimana bangunan tersebut memberikan peran dalam isu pemanasan global ini, peran positif dari bangunan dapat memberikan solusi dari isu ini, contohnya dengan desain yang tidak merusak lingkungan dan ekologi, tetapi juga kreatif, memiliki nilai estetika tinggi, fungsional dan solutif. Desain berkelanjutan merupakan sebuah solusi positif dari seorang arsitek dalam kontribusinya terhadap lingkungan.

Sustainable Architecture

Berbagai upaya pemulihan, tindakan untuk mengurangi, mencegah, dan mengoptimalkan dilakukan dari berbagai aspek yang memungkinkan. Desain berkelanjutan pada bangunan secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu pendekatan desain secara pasif dan aktif.

  • Passive Building Desain

Merupakan pendekatan desain dari sebuah bangunan yang disesuaikan dengan iklim dan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang dibangun di iklim tropis haruslah menyesuaikan dengan iklim tropis itu tersebut, hal sederhana yang nampak jelas adalah, penggunaan atap miring pada bangunan, adalah untuk menyesuaikan bangunan dengan curah hujan yang tinggi di iklim tropis.

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Maka dari itu para arsitek dan desainer tidak dapat memindahkan atau mencontoh bangunan dari Negara beriklim subtropis tersebut. Misalnya bangunan di negara subtropis umumnya memiliki bukaan jendela yang tinggi dan lebar, dengan minimnya teritisan sebagai pelindung jendela. Di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi, teritasan atau kantiliver merupakan upaya-upaya arsitek untuk memberikan naungan dari sebuah ruang, dan juga penggunaan cross-ventilation pada bangunan merupakan salah satu pendekatan dari desain pasif dari bangunan berkelanjutan. Pada intinya, pendekatan pasif dalam desain bangunan adalah dengan mengoptimalisasi sebuah desain bangunan untuk mengadaptasi dan juga memanfaatkan lingkungan sekitarnya, untuk memiliki peran dalam sebuah bangunan, dengan harapan memnimalisir penggunaan energi dari bangunan tersebut.

  • Active Building Desain

Pendekatan desain dari sebuah bangunan untuk menghemat energi dengan menggunakan teknologi terbarukan (mekanis dan elektrikal). contohnya adalah penggunaan photovoltaic pada bangunan, lampu LED, dan teknologi-teknologi terbaru yang mendukung penghematan energi.

Greenery in Architecture

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Salah satu pendekatan populer dalam dunia arsitektur adalah dengan penggunaan greenery pada bangunan. Istilah greenery di sini merupakan sebutan dari penggunaan “tanaman” pada elemen fasad bangunan. Tanaman yang digunakan menjadikan pencitraan dari bangunan tersebut, sebagai bangunan yang “Go green” atau ramah lingkungan, digolongkan kedalam pendekatan Passive Building Desain. Tetapi penggunaan tanaman tersebut belum menjamin sebuah bangunan tersebut ramah lingkungan atau mengikuti prinsip sustainable design yang sesungguhnya. bisa jadi elemen fasad tersebut adalah berupa tempelan yang berperan banyak dalam konsep sustainable. dan memang pada umumnya bangunan dengan greenery pada fasadnya umumnya hanya berupa secondary skin yang menghiasi fasad bangunan saja. Menurut Peck (1999) mengatakan dengan penerapan ‘Skyrise Greenery’ berhasil mereduksi suhu sebesar 5,5°C dan dapat mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk AC sebesar 50% sampai 70% dengan mendinginkan suhu udara langsung luar bangunan.

  • Roof garden/greenroof

Roof garden adalah salah satu langkah penghijauan pada bangunan yang diterapkan di atap. Selain sebagai elemen dekoratif, dalam sebuah bangunan komersial green roof dapat menampung fungsi-fungsi yang menguntungkan, misalnya café outdoor, area olah raga, jogging track, mini golf, dan lain lain, ataupun seabagai area urban farmer dan garden. Green roof juga dapat berfungsi untuk menuruni suhu pada ruangan di bawahnya.

  • Vertical garden/greenwall

Vertical garden, istilah yang digunakan pada greenery yang digunakan pada fasad bangunan. Biasanya berupa secondary-skin yang berfungsi sebagai buffer ruang dalam bangunan, untuk mengurangi panas langsung cahaya matahari yang masuk kedalam. Pada bangunan tinggi yang terletak di perkotaan, penggunaan vertical garden merupakan salah satu solusi pendekatan desain berkelanjutan, selain berkontribusi terhadap gi , juga menghasilkan poin tersendiri pada bangunan tersebut. Meminimalisir penggunaan energi dalam bangunan, menurunkan temperatur ruang dalam, sehingga jika tetap menggunakan pendingin ruangan dapat diminimalisir energi penggunaannya.

Penggunaan greenery pada bangunan, dalam skala besar dapat menurunkan temperatur suhu sebuah kota, atau bahkan dunia. Keuntungan pada bangunan dapat disimpulkan di antaranya adalah

  • dari sudut pandang ekologis

sebagai elemen greenery pada bangunan tentunya penggunaan greenery bangunan sedikit banyak memberikan kontribusi pada lingkungan, khususnya mengurangi polusi udara dan dari berbagai riset yang ditemukan, baik greenroof maupun greenwall terbukti dapat mengurangi penggunaan energi pada bangunan.

  • dari sudut pandang teknis

terdiri dari lapisan tanah dan tumbuhan, selain memiliki nilai ekologis dan estetika, greenroof khususnya memiliki fungsi sebagai area resapan. Sehingga bangunan tinggi sekalipun dapat memiliki kontribusi peresapan melalui greenroof tersebut. Sedangkan pada penggunaan greenwall pada bangunan tinggi dapat meminimalisir efek pemantulan cahaya dan panas matahari dari fasad kaca.

Penggunaan dari greenery tergolong dalam passive desain dalam konsep desain arsitektur berkelanjutan, dengan pemanfaatan iklim dan potensi lingkungan sekitar. Dalam sudut pandang arsitektur tropis, Indonesia yang merupakan negara dengan kondisi iklim tropis lembab,  pada dasarnya mendukung akan penerapan desain baik greenroof maupun greenwall pada bangunan. Karena cahaya matahari yang melimpah dan curah hujan yang tinggi maka sangat memungkinkan tanaman tersebut tumbuh  dan berfungsi baik sebagai elemen estetik maupun upaya penghematan energi.

Dalam sudut pandang desain berkelanjutan, penggunaan greenery merupakan salah satu upaya arsitek dalam sebuah konsep pembangunan. Selain sebagai nilai estetik penggunaan greenery juga merupakan upaya meminimalisir energi yang digunakan dari sebuah bangunan. Bangunan merupakan salah satu akibat dari isu pemanasan global yang cukup dominan. Selain tumbuhnya bangunan-bangunan baru setiap tahunnya, dengan penggunaan konsep desain berkelanjutan baik pasif maupun aktif dapat sedikit banyak berkontribusi memperbaiki pemanasan global.

 

Sumber:

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju…

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju yang Memiliki Pengaruh terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Ni Annisa Nur Adha

 

Pada tahun 2015 diprediksi oleh Bank Dunia bahwa jumlah penduduk Indonesia akan menembus lebih dari 250 juta. Semakin banyak jiwa maka dibutuhkan ketersediaan sumber daya yang dapat mencukupi setiap jiwa selama jangka hidupnya. Kesadaran untuk peduli pada lingkungan di Indonesia masih belum merata. Hal ini disebabkan oleh beberapa kebiasaan yang menyebabkan ketergantungan pada hal-hal yang praktis, orang Indonesia begitu dimanjakan oleh para pelaku bisnis untuk menikmati produk sesuai keinginan mereka, namun para pelaku bisnis tersebut hanya bertanggung jawab hingga pembeli membeli produknya, setelah itu semua terserah kepada konsumen.

Sementara di beberapa negara maju, kebiasaan tersebut sudah jarang dilakukan demi mengelola keberlanjutan lingkungan. Berikut adalah beberapa contoh perbandingan kebiasaan di Indonesia dan negara maju yang dapat berpengaruh kepada keberlanjutan lingkungan. Kebiasaan ini sudah bersifat massal dan kemungkinan sulit untuk diubah, maka dari itu di sini muncul peran desainer untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kebiasaan di bawah ini:

1. Kantong untuk berbelanja

Berbelanja merupakan kegiatan wajib sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan. Di Indonesia, hampir seluruh toserba memberikan kantong plastik kepada pelanggan untuk membawa barang belanjaannya. Bahkan tidak jarang satu pelanggan diberikan lebih dari 1 plastik untuk memembungkus beberapa jenis barang yang berbeda. Hal ini bertujuan tak lain untuk kepraktisan pelanggan berbelanja, sehingga mereka dapat berbelanja kapan saja meskipun tidak direncanakan. Plastik juga merupakan material yang kuat untuk melindungi belanjaan dari air, juga terdapat pegangan sehingga orang tidak terganggu apabila mobilitasnya tinggi.

Berbeda dari berbelanja di Amerika, pelanggan cenderung membawa kantong sendiri atau disediakan kantong kertas daur ulang yang tidak memiliki pegangan. Karena kantong kertas merupakan material yang rapuh, kantong tersebut tidak diberikan pegangan agar pelanggan membawanya dengan cara menggendongnya. Apabila belanjaan terlalu banyak, mereka akan menggunakan troli.

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Dari kedua perbedaan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelanggan Indonesia lebih dimanjakan dari pelanggan Amerika, namun apabila dikaitkan dengan penjagaan lingkungan, warga Amerika memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Sayangnya saat ini hampir seluruh perusahaan retail di Indonesia masih menggunakan plastik untuk membantu pelanggannya. Sehingga masyatakat Indonesia sudah terbiasa akan hal itu dan membutuhkan waktu lama untuk berubah, karena kemungkinan perusahaan tidak ingin kehilangan pelanggan dengan mengubah regulasi pemberian kantong plastik. Konsumsi plastik di Indonesia pada tahun 2014 mencapai sekitar 3 juta ton, namun hal tersebut tidak diseimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik sehingga terdapat banyak sampah plastik yang berceceran di saluran air dan sungai sehingga menyebabkan beberapa daerah terkena banjir.

2. Jumlah rangkaian kemasan dalam satu produk

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Contoh yang paling mencolok dan dikonsumsi hampir di 90% warga Indonesia adalah produk mi instan. Terdapat berbagai macam varian mi instan sesuai dengan selera orang Indonesia. Kepedulian perusahaan terhadap selera pelanggan menyebabkan mereka harus memisahkan masing-masing bumbu dalam plastik berbeda, seperti minyak, bawang goreng, bumbu pedas, sayuran kering, dan sebagainya.

Sementara produk mi instan di Jepang, hanya menggunakan dua macam plastik, satu untuk bumbu dan satu lagi untuk sayuran kering. Dari segi pembuatan, tentu kemasan produk Jepang tidak memerlukan energi sebesar pembuatan produk mi instan Indonesia.

3. Kebiasaan dalam pemilahan sampah

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Kebutuhan produk yang tinggi dalam kategori consumer goods seperti makanan instan, produk sabun dan sebagainya menghasilkan limbah berupa bekas kemasan produk tersebut dalam jumlah yang masif, hal ini tidak diseimbangi dengan pengolahan sampah yang baik. Berbagai macam material limbah disatukan dalam satu tempat sehingga menyulitkan dan menurunkan nilai jual limbah yang dapat didaur ulang.

Jepang dan Amerika sudah menerapkan sistem pemilahan sampah dan menerapkan sistem denda bagi yang tidak melaksanakannya dengan baik. Sistem hukuman yang tegas membuat masyarakat negara-negara tersebut menjadi terbiasa mengatur sampah mereka meskipun tanpa pengawasan.

4. Ketergantungan transportasi dan tren mobil pribadi

Di Indonesia transportasi angkutan umum utama yang digunakan adalah angkot, di mana mobil dengan berbagai macam jurusan dapat ditemukan di mana saja dan diberhentikan di mana saja sesuai kebutuhan. Hal ini membuat orang Indonesia memiliki ketergantungan untuk menaiki transportasi daripada jalan kaki meskipun dalam jarak dekat. Di Jepang, orang hanya menaiki transportasi apabila akan pergi ke kota lain, selebihnya berjalan kaki atau naik sepeda. Maka dari itu tidak heran apabila turis Jepang mampu berjalan dari satu tempat ke tempat lain di suatu kota di Indonesia walaupun orang Indonesia cenderung harus menggunakan transportasi.

Selain itu, orang Indonesia yang sangat mudah terpengaruh oleh iklan dan keinginan aktualisasi diri yang tinggi, menyebabkan banyak individu ingin memiliki mobil pribadi agar status sosialnya meningkat. Berbeda dengan di Jepang, orang Jepang yang mapan atau menengah ke atas cenderung tidak memiliki mobil dan memilih menggunakan transportasi umum. Orang Jepang yang memiliki mobil justru tinggal di desa-desa karena mereka membutuhkannya untuk membeli kebutuhan di kota. Meskipun sebagian besar perusahaan mobil dan motor berasal dari Jepang, target pasar mereka justru negara-negara berkembang seperti Indonesia, sementara di negara sendiri tidak begitu banyak peminatnya.

5. Ketergantungan pada rokok

Pada tahun 2008 menurut WHO (sumber: http://swa.co.id/) , Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Sebagaimana kita ketahui rokok memberi dampak negatif pada lingkungan dengan asapnya, juga berbahaya bagi kesehatan. Namun, zat adiktif yang terdapat di dalamnya membuat warga Indonesia dari berbagai kalangan sulit untuk berhenti. Sementara di Jepang dan Australia (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ ) jumlah perokok justru menurun drastis, banyaknya penyakit yang disebabkan oleh rokok menyebabkan pemerintah menaikan pajak tembakau hingga 60%, sehingga satu bungkus rokok dapat berharga 200ribu rupiah. Upaya tersebut telah menurunkan jumlah perokok hingga 20%.

Kesimpulan dari perbedaan kebiasaan di atas adalah di Indonesia peraturan dan sistem cenderung memberi kebebasan dan kepraktisan kepada warganya tetapi tidak didasari oleh keberlanjutan lingkungan. Sementara di negara maju, pemerintah mereka tidak segan untuk membuat warganya repot asalkan keberlanjutan lingkungan dapat dipertahankan. Poin-poin di atas, tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat kebiasaan lain di negara maju yang dapat diterapkan di Indonesia. Hal-hal besar tidak dapat diubah secara instan, namun harus secara perlahan melalui kebiasaan sehari-hari. Dewasa ini kita sudah merasakan perubahan iklim yang cukup drastis, dari hujan yang besar hingga panas yang terik. Bencana alam seperti banjir yang terjadi di beberapa kota besar, terutama Jakarta, sebagian besar disebabkan oleh beberapa kebiasaan masyarakat yang sangat sulit untuk diubah karena telah dilakukan sejak lama. Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan agar bumi kita dapat bertahan untuk anak cucu kita nanti.

Think Globally Eat Locally

Aurora Revianissa

Pernahkah kita berpikir saat memakan makanan impor kita sudah menyumbang satu “dosa” untuk menghancurkan bumi?

Pemerintah melakukan impor bahan makan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Ironis memang, hal ini dilakukan oleh negara kita yang notabene memiliki lahan yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat ketahanan pangan Indonesia yang seperti ini, kita perlu khawatir dengan nasib pertanian Indonesia di masa mendatang. Hal lain yang perlu menjadi sorotan adalah berkurangnya jumlah petani dari tahun ke tahun. Petani mulai beralih profesi pada bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kondisi demikian membuat impor makanan menjadi tidak terelakkan.

Makanan impor mengalami perjalan panjang sebelum terhidang di atas meja makan kita. Bayangkan berapa jauh jarak perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut, pesawat, kereta,dan truk yang dilakukan oleh makanan impor untuk sampai ke tangan konsumen. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin besar efek negatif yang disumbangkan untuk bumi.

Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), 30% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor agrikultur dan produksi makanan, termasuk proses impor makanan. Proses impor makanan yang menggunakan pesawat menghasilkan emisi bahan bakar pesawat yang menyumbang jutaan ton gas CO2 ke udara dan mempengaruhi global warming.

(sumber: ayoeatlocal.com)

(sumber: ayoeatlocal.com)

Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu solusi adalah dengan memakan hasil pangan produksi daerah sendiri. Disebutkan dalam Nation Master data di tahun 2008 Indonesia memiliki 47,89 juta petani dan masih memiliki lahan suboptimal untuk pertanian seluas 25,82 hektar. Jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, ketahan pangan Indonesia tentu akan meningkat baik. Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat bersama adalah dengan menjadikan makanan lokal sebagai sumber utama bahan makan konsumsi rumah tangga. Peran petani lokal kembali diposisikan sebagai pahlawan dalam pergerakan ini. Namun kendala awal untuk kembali menggunakan bahan pangan lokal adalah tidak ada rasa percaya terhadap produk lokal itu sendiri dari masyarakat. Petani pun sebagian besar masih menggunakan sistem distribusi konvensional melalui tengkulak yang dinilai lebih menguntungkan. Tidak bertemunya kebutuhan konsumen dan kepentingan produsen memerlukan sebuah inovasi kreatif untuk memecahkan masalah ini seperti yang dilakukan oleh Agritektur.

Agritektur adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok masyarakat kreatif memiliki visi peningkatan konsumsi produk pangan lokal dalam upaya penurunan konsumsi makanan impor. Agritektur bergerak sebagai wadah antara konsumen dan produsen. Komunitas ini menjalin kemitraan dengan petani lokal khususnya daerah wilayah Bandung. Agritektur berpendapat bahwa dengan memperpendek jalur distribusi bahan pangan, akan mengurangi emisi karbon dan juga memutus rantai distribusi yang merugikan petani.

Agenda rutin yang dilakukan oleh Agritektur adalah Parappa (Pasar Rakyat para Petani), table to farm dan camp on farm. Jika diperhatikan, konsep dari Parappa merujuk pada pasar petani yang biasa berada di negara Eropa. Produk hasil pangan petani Bandung (daerah Ciburial), dibawa langsung ke daerah perkotaan untuk langsung dijual ke konsumen. Komoditas yang dijual pun tidak biasa di temukan di pasar tradisional, seperti rosemary, oregano, lemon balm, stevia yang bisa ditemukan dalan polybag dalam kondisi tunas siap tanam petik dan sayur mayur organik dengan harga yang lebih murah dari pada harga sayur di pasaran. Agritektur berupaya menggunakan zero waste management untuk mengolah komoditas yang tidak habis terjual. Bahan –bahan ini kemudian diolah menjadi selai, jus, makan olahan lain dan tidak terbuang percuma. Agritektur menggandeng desainer-desainer muda untuk merancang visual branding mereka. Konsep visual komponen grafis sampai packaging dan penyajiannya, Agritektur ditampilkan dengan konsep fresh, clean, neat and friendly yang menimbulkan kesan kekinian, cocok untuk sasaran masyarakat urban. Branding ini bertujuan untuk menghilangkan kesan “kampungan” pada produk lokal yang menjadi komoditi dagang. Di Parappa pembeli bisa berkonsultasi langsung dengan petani dalam mengkonsultasikan baik tanaman tanam mau pun sayur-mayur yang diperdagangkan.

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Pada September 2014, Agritektur melakukan kampanye mandiri #AyoEatLocal dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi hasil pangan lokal di Jakarta agar semakin global. Kampanye ini bertujuan untuk memajukan petani dan menjaga lingkungan melalui pembelian dan pengkonsumsian bahan pangan segar lokal. Target pasar Agritektur adalah masyarakat menengah perkotaan. Perkembangan ekonomi Indonesia yang didominasi masyarakat menengah merupakan potensi untuk mengembalikan kejayaan ketahanan pangan Indonesia. Mendukung dan menghargai hasil pangan lokal dapat menjadi andil kecil dalam menjaga keberlangsungan pasokan pangan dan kelestarian lingkungan. Inovasi kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan tidak melulu harus dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat intelejensi tinggi dan dengan modal tinggi. Inovasi dimulai dengan langkah kecil namun disertai hasrat untuk terus berkegiatan akan menwujudkan ide dan inovasi yang besar.

Ketika Budaya Silaturahmi Menjadi Budaya Limbah

Amanda Fauziah

BUDAYA LIMBAH

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika telah melahirkan berbagai macam budaya yang berkembang secara meluas dalam masyarakat. Kemajemukan budaya ini secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk lebih peka dan toleransi terhadap sesama. Kebiasaan ini telah ditanamkan sejak kita masih anak-anak, mulai dari konsep gotong royong, sikap saling menghargai terhadap umat beragama, serta budaya silahturahmi. Tradisi ini sangat mudah diamati dalam berbagai macam acara hajatan yang dilangsungkan oleh masyarakat, seperti prosesi pernikahan, khitanan, syukuran kehamilan, aqiqahan, 40 hari meninggalnya seseorang, dan berbagai hajatan lainnya. Kegiatan hajatan merupakan acara yang sangat identik mengundang tamu secara massal dengan proses pemberian kartu undangan sebelum acara dilangsungkan. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Walaupun terkadang telah disampaikan secara lisan, namun kurang lengkap dan “kurang bergengsi” rasanya jika tidak dilengkapi dengan kartu undangan.

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

Di balik suburnya tradisi ini, sebenarnya bangsa kita telah membentuk suatu budaya baru, yakni budaya limbah. Mengapa limbah? Karena setelah dibaca kartu undangan ini sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kegunaan lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kartu undangan ini akan berakhir di tempat sampah. Dari setiap acara hajatan yang dilangsungkan paling sedikit kiranya terdapat 100 undangan yang disebarkan. Ini berarti dari setiap hajatan telah dihasilkan limbah kertas sebanyak kartu undangan yang disebarkan pada tamu-tamu tersebut. Di samping itu, setiap orang dari sejak di kandungan, lahir, hingga kematiannya menggelar sedikitnya enam hingga delapan acara hajatan. Belum lagi jika keluarga penyelenggara adalah keluarga yang berada dan terpandang. Tentunya angka 100 undangan tersebut tidaklah berlaku lagi. Hitungan berikutnya mungkin sudah mulai memasuki kelipatan ribuan. Bayangkan saja, selama masa hidupnya seseorang telah menghabiskan berapa ribu limbah kertas dari sekedar sebuah hajatan? Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bakal meledak hingga mencapai angka 300 juta jiwa pada 2015 (Tempo.co). Maka jika satu orang saja telah menghabiskan enam hingga delapan ribu kertas selama masa hidupnya, bagaimana dengan 299 juta jiwa penduduk Indonesia lainnya?

Perlu diketahui bahwa limbah kertas memiliki dampak yang luar biasa buruk terhadap lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan kertas kita tiap tahun, dikutip dari http://green.kompasiana.com.

  1. Penebangan hutan yang berlebih; jelas ini dampak yang paling bisa dirasakan akibat pabrik kertas, karena kebanyakan di Indonesia pabrik kertas masih menggunakan bahan baku kayu. Padahal sekarang ini keberadaan pohon sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global.
  2. Pencemaran air; dalam proses pembuatan kertas dibutuhkan jumlah air yang sangat banyak dan setelah proses tersebut air itu akan dibuang. Limbah cair inilah yang memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar pabrik, meskipun pada beberapa pabrik sudah memberikan treatment khusus agar pada saat dibuang sudah tidak mengandung bahan berbahaya lagi, namun kesalahan prosedur masih mungkin terjadi. Dan jika limbah langsung dibuang ke sungai maka akan membahayakan masyarakat di sekitar sungai.
  3. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar; hal ini dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk hidup di perairan sungai dan dapat mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrata yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan.
  4. Sludge pabrik kertas yang dibuang ke kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari tanah, air dan udara.

Ditambah lagi, biasanya undangan selalu dilindungi dengan sampul plastik pada bagian luarnya. Sehingga selain limbah kertas, pada setiap hajatan juga dihasilkan limbah plastik yang tidak kalah jumlahnya. Bungkus plastik dari undangan ini juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah lingkungan, di mana bahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat diuraikan secara sempurna oleh bumi. Perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini. Tidak membanggakan rasanya jika budaya dan tradisi yang telah menjadi ideologi bangsa Indonesia ini kemudian berkembang menjadi budaya limbah.

DESAIN BERKELANJUTAN

(sumber: bisnisukm.com)

(sumber: bisnisukm.com)

Fenomena ini mungkin cukup sederhana dan seringkali luput dari perhatian. Tetapi budaya limbah ini perlu diperhatikan secara serius karena dampaknya yang sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Diperlukan sebuah desain berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Desain berkelanjutan dapat dipahami sebagai desain untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati manusia (Priyoga, 2010). Dalam hal ini, menggunakan sumber daya alam terbarukan adalah salah satu solusi yang dapat dikembangkan. Seperti misalnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam atau bahan-bahan daur ulang sebagai material utama kartu undangan. Jika pun akan menggunakan limbah kertas maka diusahakan menggunakan 100% limbah kertas asli/serat papan bersertifikat National Association of Paper Merchants.

(sumber: arangbambo.wordpress.com)

(sumber: arangbambo.blogspot.com)

Tentunya gerakan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pemanfaatan limbah dan keberlanjutan lingkungan, sebab semakin besar acara hajatan yang berlangsung, semakin banyak para tamu yang diundang, maka semakin banyak pula kartu undangan yang dibutuhkan. Dampak dari hal ini adalah limbah yang didaur pun akan semakin banyak sehingga pada akhirnya lingkungan pun menjadi semakin sehat. Bahkan ketika kartu undangan versi “alam” ini menjadi limbah tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan karena akan lebih cepat dan lebih mudah terurai. Selain alternatif material, dapat juga disiasati dengan desain kemasan kartu undangan yang multifungsi. Sehingga setelah pesan penyelanggara hajatan tersampaikan, kartu undangan tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dengan fungsi yang berbeda. Walaupun konsep-konsep tersebut di atas masih tidak lazim dilakukan oleh masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita atau keluarga sendiri. Bukankah memulai sesuatu yang baru akan menjadi pembeda acara hajatan kita dengan acara hajatan pada umumnya? Bahkan acara hajatan yang dilangsungkan dapat lebih menarik bagi orang kebanyakan karena konsep kartu undangannya yang unik. Untuk itu mari bersama-sama kita berantas budaya limbah di Indonesia dan selamatkan bumi kita bersama!

 

REFERENSI

Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).

Yuliastuti, D. (2011). 2015, Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Mencapai 300 Juta. Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/09/27/060358499/2015-Jumlah-Penduduk-Indonesia-Bisa-Mencapai-300-Juta

Food Truck VS Café dan Restoran, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Zita Nadia

Jika membicarakan mengenai kuliner, telinga kita sudah tidak asing lagi tentunya dengan Bandung. Bandung dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia ini, tidak lepas dari tujuan wisata kuliner yang tersebar di kota ini. Mulai dari warung, café, dan restoran yang tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Ada sebuah fenomena kuliner baru yang muncul di tengah-tengah kota Bandung, yaitu fenomena food truck. Food truck mulai marak di Bandung sekitaran tahun 2013, kini food truck sudah menjadi alternatif bagi warga kota Bandung. Akan tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah food truck memberikan dampak yang lebih buruk bagi lingkungan jika dibandingkan dengan restoran? Ataukah justru restoran yang memiliki dampak yang jauh lebih buruk bagi lingkungan?

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Apakah Food Truck itu?

Food truck atau kedai makanan adalah salah satu cara untuk menjual makanan, dengan menggunakan truck kecil sebagai media untuk berjualan makanan. Food truck biasa berjualan di tempat tertentu selama beberapa saat, mereka bisa dianggap sebagai bisnis kuliner yang menghampiri pelanggan mereka. Food truck berasal dari Amerika Serikat, kegiatan ini sudah berlangsung dari awal abad ke-17. Seiring dengan perkembangan zaman, food truck mulai masuk ke kota besar di Indonesia,pada tahun 2012-2013, food truck mulai bermunculan di Kota Bandung. Ada beberapa food truck yang dikenal di Bandung, di antaranya adalah, Four Speed Nomad, Roti Pagi, Whatever Combi dan beberapa food truck lainnya. Maraknya food truck di Bandung pada saat ini, menjadi inspirasi adanya event Bandung Food Truck Festival pada 27 Februari- 1 Maret 2015 lalu, hal ini menunjukkan bahwa, food truck sudah menjadi salah satu tujuan kuliner bagi warga kota Bandung.

Mana yang Lebih Hemat Energi? Food Truck atau Café dan Restoran?

Jika melihat secara sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa food truck akan mengkonsumsi energi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan café dan restoran. Akan tetapi, perlu kita lihat, food truck memang menggunakan konsumsi bensin sebagai bahan bakar mereka, apalagi di Indonesia masih sulit ditemukan food truck dengan bahan bakar yang ramah lingkungan.Sedangkan untuk café dan restoran menggunakan gas lebih banyak jika dibandingkan dengan food truck. Penggunaan bahan makanan yang digunakan oleh Food Truck atau Restoran dapat mempengaruhi carbon footprint yang mereka punya,semakin banyak variasi menu, dan menu impor yang dimiliki, maka akan semakin besar sumbangan emisi karbonnya. Dalam hal penggunaan listrik dan air, food truck jauh lebih sedikit untuk menggunakannya, karena dari ruangan yang dimiliki oleh food truck jauh lebih kecil karena keterbatasan ruang dibandingkan dengan café dan restoran.

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Untuk membuktikan observasi dilakukan dengan 2 food truck ,2 restoran dan 1 café yang memiliki konsep berbeda. Food truck yang diobservasi adalah Roti Pagi, dan Susu Murni Dipati Ukur (SuMur DU). Roti Pagi beroperasi pada pagi sampai sebelum tengah hari, dia memiliki 1 ruangan, tidak menggunakan lampu sama sekali, dan menggunakan kompor 2 tungku. Dalam segi menu, Roti Pagi hanya memiliki 4 menu sandwich dan 3 minuman. Sedangkan untuk SuMur DU, menggunakan kompor kecil, 2 buah lampu,dan hanya beroperasi pada malam hari. Untuk menu mereka hanya memiliki susu dan tidak memiliki menu makanan. Untuk restoran dan café , yang diobservasi adalah Karnivor, Kantin Tong-Tong dan Café DU71-a.

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Karnivor memiliki lahan yang cukup besar, setiap meja dilengkapi dengan lilin, dan lampu. Pada saat observasi jam 5 sore seluruh lampu telah dinyalakan. Karnivor memiliki toilet yang terpisah antara pria dan wanita. Untuk menu, ia memiliki lebih dari 10 jenis menu,mayoritas terdiri dari daging, dan terdapat beberapa menu dalam ukuran besar. Karnivor beroperasi dari jam 11.00-21.00. Sedangkan Kantin Tong-Tong memiliki ukuran tempat yang kecil (hanya seperempat dari luas karnivor), tidak memiliki toilet, lampu dinyalakan pada malam hari, karena saat pagi memanfaatkan cahaya matahari. Untuk variasi menuyang dimiliki bernuansa Indonesia. Café DU71-a, sebuah café kecil, namun lebih besar dari kanting tong tong. Terdiri dari area indoor dan outdoor, memiliki 1 toilet unisex, lampu yang ada lebih sedikit daripada yang digunakan karnivor. Hal yang perlu dicermati adalah, setiap meja memiliki colokan listrik bagi para pengunjung. Jika melihat hasil observasi, food truck yang ada jauh lebih hemat dalam soal penggunaan energi, karena restoran dan café memiliki potensi lebih boros energi. Dengan semakin besarnya ukuran restoran tersebut, dan variasi menu yang jauh lebih banyak juga dapat memicu carbon footprint yang jauh lebih besar. Jadi dari hasil observasi dalam soal energi, food truck masih lebih ramah lingkungan.

Limbah yang Dihasilkan Food Truck Dibandingkan dengan Café dan Restoran

Jika membicarakan mengenai sampah, kita bisa memperkirakan dari peralatan makan dan jumlah pengunjung yang datang. Roti Pagi menggunakan tatakan kayu yang diberikan kertas tipis dan gelas kertas, tatakan kayu bisa digunakan kembali namun sisanya harus dibuang, jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. SuMur DU, menggunakan gelas dan sedotan. Gelas kaca dapat digunakan berulang kali, dan jumlah pengunjung cukup banyak. Kantin Tong tong, Karnivor dan DU71-a, semuanya menggunakan peralatan makan yang bisa digunakan kembali, sehingga mengurangi jumlah limbah, ketiga tempat ini ramai didatangi, namun yang paling ramai adalah Karnivor. Jika melihat sekilas dari segi alat makan, restoran jauh lebih baik karena menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali, namun limbah makanan akan bertambah banyak seiring dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang, dan restoran jauh lebih berpotensi memberikan limbah yang lebih banyak.

Jadi,Manakah yang lebih Ramah Lingkungan? Dan Solusi Desain Apa yang Dapat Ditawarkan Untuk Menjadi Lebih Baik bagi Lingkungan?

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Dalam segi penggunaan energi, dari hasil observasi food truck dapat dikatakan lebih hemat dari restoran, apalagi jika restoran tersebut berukuran besar dan ramai. Ramah lingkungan atau tidak, industri makanan sangat bergantung dari konsep yang dimiliki. Restoran, café dan food truck memiliki potensi untuk menjadi sebuah industri yang lebih ramah lingkungan, industi kuliner dapat menerapkan beberapa hal berikut untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan, seperti:

  1. Menggunakan packaging yang mudah terurai dengan alam.
  2. Menggunakan bahan bakar seperti biodiesel, bahan bakar alternatif atau mobil dengan menggunakan tenaga solar (diperlukan desain yang seksama agar fitur ini dapat digunakan dengan optimal).
  3. Menggunakan lampu LED untuk sumber penerangan.
  4. Menjual produk-produk lokal dan organik.

Akan tetapi semua solusi di atas baru dapat berguna, jika menerapkannya bersama-sama, tidak sendirian. Ingat, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan kita?

 

Sumber dan Berita Terkait

http://gracelinks.org/blog/696/can-a-food-truck-be-green-in-a-word-yes

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140816204549.htm

http://www.treehugger.com/green-food/ask-pablo-are-food-trucks-greener-than-restaurants.html

http://www.citylab.com/design/2013/02/are-food-trucks-worse-environment-storefronts/4538/

https://stage.la-lights.com/lifestyle/mengenal-sejarah-food-truck-1410319.html

http://m.detik.com/travel/read/2015/02/27/185025/2845356/1382/wisata-kuliner-akhir-pekan-di-bandung-ada-food-truck-festival

Sekolah Negeri Sampah

Olivya Nike Noman

 

Menengguk minuman dingin di siang hari rasanya memang begitu segar, apalagi jika kita sedang beraktifitas di luar. Bahkan sudah hampir menjadi kebiasaan kita setiap hari untuk membeli produk-produk minuman dingin dalam kemasan ketika jam istirahat di kantor maupun di kampus. Minuman dalam kemasan memang sangat menyegarkan dan sangat praktis untuk menemani aktifitas kita yang padat. Mudah didapatkan di mana saja, mudah dibawa dan ketika sudah habis kita tidak perlu repot membawa pulang botolnya, cukup mencari tempat sampah dan buang saja botolnya.

Seiring permintaan pasar yang semakin meningkat, varian minuman dalam kemasan yang ditawarkan pun semakin beragam. Bahkan menurut Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan kisaran peningkatan 15% per tahunnya. Dari data mereka, pada tahun 2014 produksi air minum dalam kemasan di Indonesia mencapai 24 miliar liter.

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna) Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Menurut Wawan Some, seorang aktifis lingkungan di Surabaya, ketika pada tahun 2011 produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan mencapai angka 17 miliar liter, maka dibutuhkan 500.000 ton botol plastik sebagai kemasannya. Yang artinya pada tahun 2011 itu juga dihasilkan 500.000 ton sampah botol plastik di Indonesia. Maka jika pada tahun 2014 kemarin produksi minuman dalam kemasan mencapai 24 miliar liter, berarti dibutuhkan juga 700.000 ton botol plastik untuk mengemasnya. Atau dengan kata lain pada tahun 2014 saja Indonesia memproduksi 700.000 ton sampah botol plastik.

Maka tidak heran jika menurut studi terbaru yang dilakukan Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan di University of Georgia, Indonesia terlacak sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia setelah China. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Science pada pertengahan Februari 2015 tersebut, jumlah akumulasi sampah plastik di lautan dunia telah mencapai 8,8 juta ton. Dalam penelitiannya Jambeck juga memproyeksikan bahwa jumlah akumulasi sampah plastik di lautan akan mencapai sekitar 170 juta ton pada tahun 2025 jika para penyumbang sampah plastik terbesar, yakni mayoritas negara-negara berkembang di Asia tidak menanggulangi cara pembuangan sampah.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Dari 8,8 juta ton sampah plastik di lautan, China bertanggung jawab atas 27%-nya atau sekitar 2,4 juta ton. Memang tidak disebutkan berapa jumlah sampah plastik yang berasal dari Indonesia, namun yang pasti Indonesia tetap berada di urutan kedua. Dengan adanya ‘lautan’ sampah plastik di lautan dunia akan sangat mengancam kelangsungan hidup hewan-hewan di sekitarnya, seperti burung-burung laut, mamalia laut, penyu laut, dan hewan laut lainnya. Selain termakan oleh hewan-hewan laut yang kemudian menyebabkan kematian hewan-hewan laut, adanya sampah plastik di lautan dunia juga mengumpulkan racun yang cukup untuk menghancurkan ekosistem lautan. Adapun bentuk terbanyak dari sampah plastik di lautan dunia antara lain kantung belanja, botol, mainan, pembungkus makanan, peralatan memancing, puntung rokok, kacamata, ember dan tempat duduk toilet.

Indonesia menghasilkan 700.000 ton sampah botol plastik pada tahun 2014 dan terus meningkat setiap tahunnya, Indonesia juga merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia dengan botol plastik menjadi bentuk kedua terbanyaknya. Itu berarti bahwa sampah botol plastik memang butuh ditangani lebih serius di Indonesia.

Jika kita lihat di internet, kita dapat menemukan cara-cara untuk mendaur ulang botol plastik agar dapat digunakan kembali sebagai pot tanaman misalnya, sebagai tempat pensil maupun sebagai kap lampu yang dapat mempercantik rumah. Namun pada kenyataannya banyak orang yang enggan menggunakannya dengan alasan rumah mereka akan terkesan murah dengan penggunaan material sampah botol plastik sebagai elemen dekorasi rumah mereka. Selain itu jumlah penggunaannya pun tidak banyak, misalnya hanya diperlukan satu botol saja untuk membuat pot atau tempat pensil yang dapat digunakan berahun-tahun. Maka dari itu, cara-cara daur ulang sampah botol plastik tersebut sebenarnya kurang efektif karena jumlah produk yang didaur ulang dari sampah botol plastik sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan sampah botol plastik yang kian bertambah setiap harinya.

Sempat terpikir di benak saya bagaimana jika botol plastik dijadikan bangunan saja. Tetapi kemudian terpikir juga botol plastik terlalu ringan, maka mungkin hanya dapat menjadi kandang hewan. Namun suatu hari seorang teman menunjukkan sebuah gambar yang sangat menarik. Rupanya di Nigeria, sampah botol plastik telah disulap menjadi rumah. Proyek pembangunan rumah menggunakan sampah botol plastik di Nigeria ini dirancang oleh DARE (Development Association for Renewable Energies), sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya untuk membuat produk-produk daur ulang.

DARE menyatakan proyek ini sebagai salah satu strategi paling tepat untuk menata lingkungan sekaligus sebagai solusi mengurangi kurangnya perumahan bagi warga Nigeria. Rumah dengan luas 58 meter persegi dengan dua kamar ini membutuhkan setidaknya 14.000 botol plastik kemasan 1,5 liter atau sama dengan 400 kg sampah botol plastik untuk satu rumah, jumlah yang cukup banyak untuk mengurangi sampah botol plastik. Maka jika jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 700.000 ton per tahunnya dapat dibangun 1.750.000 rumah dengan biaya 1/3 dari dari biaya membangun rumah pada umumnya.

Solusi ini sebenarnya sangat cocok jika diterapkan di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah botol plastik terbanyak di dunia. Apalagi jika solusi ini diterapkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri yang kurang terawat hingga banyak yang roboh dan menghambat proses belajar mengajar. Kurangnya dana dari pemerintah untuk merawat dan membangun sekolah negeri menyebabkan robohnya bangunan sekolah negeri terjadi di mana-mana. Dengan memanfaatkan sampah botol plastik sebagai bahan dasar bangunan pengganti batu bata seperti dikatakan sebelumnya, dapat menghemat biaya pembangunan hingga 1/3 dari biaya pembangunan dengan batu bata pada umumnya. Selain menghemat biaya pembangunan, juga mengurangi jumlah sampah botol plastik yang menjadi momok lingkungan. Win-win solution, isn’t it?

Membuat bangunan dengan bahan sampah botol plastik tidak sulit. Pertama botol plastik diisi dengan pasir, kemudian susun botol menggunakan kawat sehingga botol terikat pada posisinya dengan kuat. Terakhir gunakan semen sebagai perekatnya. Tutup botol yang beraneka warna juga menghasilkan keunikan tersendiri sehingga dapat menjadi unsur dekorasi bangunan yang unik.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Mengenai kekuatan bangunan, para inisiator proyek di Afrika bahkan mengklaim bangunan dengan bahan sampah botol plastik berisi pasir ini lebih kuat dari batu bata biasa.”Strukturnya memiliki keuntungan lain antara lain tahan api, tahan peluru dan tahan gempa bumi. Selain itu suhu di dalam ruang bisa bertahan 180C karena pasir mampu meredam panas matahari sehingga cocok untuk diterapkan di kawasan tropis,” kata koordinator proyek di Nigeria, Yahaya Ahmad.

Maka sekolah negeri dari sampah botol plastik rupanya menjadi solusi yang murah sekaligus ramah lingkungan bagi Indonesia. Tidak seperti bata yang harus proses tradisionalnya dibakar, membutuhkan banyak kayu, serta berkontribusi pada penebangan hutan, sampah botol plastik tidak. Bisa dibayangkan ada tiga kali lipat jumlah sekolah negeri yang dapat diperbaiki dengan anggaran yang sama, serta jumlah sampah botol plastik yang termanfaatkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri sampah tersebut. Anak-anak terfasilitasi pendidikannya, beban bumi pun berkurang.

Memberi Makan Bangsa: Mengurangi Buangan Makanan

Memberi Makan Bangsa : Mengurangi Buangan Makanan

Sheila Andita Putri

 

Bencana yang Menanti: Krisis Pangan Dunia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Jonathan Foley, Director of the Institute on the Environment (IonE) at the University of the Minnesota dalam tulisannya yang berjudul Feed the World untuk National Geographic, jumlah populasi manusia yang tersebar di muka bumi berada di kisaran angka 9 miliar orang. Pada 2050, kenaikan populasi diperkirakan meningkat hingga 35%, dan untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi manusia tersebut memerlukan produksi pangan hingga dua kali lipat dari yang ada sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga permintaan akan jenis makanan tertentu, terutama yang berasal dari hewan, juga meningkat.

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Dengan bertambahnya populasi, kebutuhan akan ruang/ area untuk kehidupan terus meningkat. Luasan bumi sendiri terancam terus berkurang karena kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global yang melelehkan es dari kutub. Ukuran planet bumi sendiri tentunya takkan berubah menyesuaikan pertumbuhan manusia, sehingga kemudian muncul pertanyaan: bagaimana memberi makan seluruh manusia di bumi?

Di Indonesia sendiri, bencana kelaparan diam-diam mengancam akibat kondisi ekologi yang mulai rusak akibat aktifitas eksploitasi material alam yang berlebihan oleh industri baik legal maupun tidak. Rusaknya kondisi alam diperparah dengan perubahan iklim global yang berpotensi memunculkan bencana kekeringan yang tentunya berdampak pada produksi bahan makanan.

Berdasarkan keterangan dari  Robert Aritonang, antropolog dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dalam berita yang dimuat di KOMPAS 3 maret 2015, munculnya fenomena kematian beruntun yang dialami kelompok Orang Rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang diakibatkan bencana kelaparan. Tanpa penanganan darurat dan cepat, angka kematian itu akan terus bertamba. Bencana serupa pernah terjadi tahun 1999 dengan menewaskan 13 warga Orang Rimba. Wilayah itu mengalami paceklik, dan diperparah pembukaan hutan menjadi kebun dan hutan tanaman industri. Pada masa itu, sekitar 30.000 hektar hutan yang menjadi sumber pangan Orang Rimba lenyap.

Krisis pangan juga seiring dengan pembukaan hutan tanaman industri di sekitar area jelajah Orang Rimba. Dari 130.000 hektar luas hutan Orang Rimba dalam ekosistem Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari, kini tersisa hanya 60.400 hektar. Sumber obat alami dalam hutan yang biasa dimanfaatkan Orang Rimba kini semakin berkurang.

Food Waste : Kebiasaan Kita Membuang Makanan

Ironisnya, meskipun kebutuhan akan makanan terus meningkat, Lebih dari sepertiga dari semua makanan yang diproduksi di planet kita tidak pernah mencapai meja.. Penyebabnya dapat berupa kerusakan produk dalam proses pengiriman ataupun dibuang begitu saja oleh para konsumen di negara negara kaya , yang cenderung membeli terlalu banyak dan menciptakan sisa makanan yang berlebihan (Smith, Roff. How Reducing Food Waste Could Ease Climate Change. Nationalgeographic . Published January 22, 2015). Apabila buangan makanan ini dapat ditekan dan produksi makanan dapat lebih dioptimalkan, hal ini dapat membantu penanggulangan krisis makanan di belahan dunia yang lain.

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Beberapa sumber yang menyebabkan tingginya angka buangan makanan antara lain:

  • Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual. Beberapa perusahaan yang memiliki regulasi yang ketat mengharuskan produk makanan yang diproduksi pada hari tersebut tidak boleh dijual kembali kepada konsumen keesokan harinya. Secara umum produk masih layak dikonsumsi namun harus dibuang karena regulasi tersebut.
  • Hasil pertanian yang tak memenuhi seleksi standar yang ditetapkan oleh pasar. Produk reject ini sesungguhnya dapat dikonsumsi, hanya saja tidak memenuhi ketentuan ukuran, warna, dan kualitas tertentu sehinggan harus dibuang.
  • Pembelian yang berlebihan. Mudahnya produk makanan diperoleh dan gaya hidup yang menuntut kepraktisan mengembangkan kebiasaan menyetok makanan dalam jumlah banyak. Namun terkadang stok yang banyak ini tidak sempat dikonsumsi hingga melewati batas kadaluarsa dan pada akhirnya harus dibuang. Kebiasaan makan di luar dan pengaruh marketing terhadap makanan yang dijual juga mendorong orang untuk memesan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan.

Proses menyediakan makanan bagi kita ini sendiri adalah proses yang panjang dan kompleks. Mulai dari proses produksi, pengiriman, hingga akhirnya sampai di piring kita telah meninggalkan jejak ekologi yang tidak sedikit. Selain mengancam keberlangsungan alam, Food Waste yang tidak ditangani dengan baik menciptakan ketidakseimbangan kualitas hidup di bumi. Bencana kelaparan di belahan bumi yang satu, sementara penyianyiaan bahan makanan di belahan bumi lain.

Permasalahan Food Waste ini sesungguhnya merupakan isu global yang tidak bisa kita abaikan. Langkah kecil yang dimulai dari kita sendiri dapat mendorong terjadinya perubahan besar bagi bumi.

Bagaimana Desain dapat membantu mengatasi Food Waste

Desain dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan sumber makanan yang ada. Salah satu solusi desain yang bias diajukan adalah, sistem informasi pada label produk makanan. Selain informasi mengenai fakta nutrisi dan tanggal kadaluarsa, seyogyanya label juga memuat cara penyimpanan yang baik dan benar, lamanya produk harus di-display di toko (terutama produk bahan mentah), dan informasi lain terkait pemanfaatan maksimal dari produk tersebut, misalnya link ke situs yang mengajarkan cara mendaurulang makanan produk tersebut menjadi produk lain seperti pakan ternak atau pupuk.

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Selain sistem labelling, desain kemasan hendaknya dapat memuat info untuk meningkatkan kesadaran tentang food waste. Kesadaran ini terkait bijak berbelanja dan kesadaran untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Bentuk program CSR terkait isu ini dapat dilakukan dengan campaign dan ad. Info yang diberikan berupa upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasi food waste.

Upaya sederhana itu antara lain:

  • Berbelanja dan mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan
  • mendonasikan makanan yang tidak terkonsumsi namun masih dalam keadaan baik
  • mendaur ulang sisa makanan (menjadi pupuk kompos ataupun pakan ternak)

Solusi lain dalam skala yang lebih besar, dapat dibentuk sebuah tim khusus yang bertugas mengumpulkan Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual namun dalam keadaan yang masih layak konsumsi untuk dibagikan kepada orang- orang yang membutuhkan. Makanan tersebut dibagikan di hari yang sama, dalam jumlah yang dibatasi. Titik pembagian dipusatkan pada lokasi yang telah disurvei, dan produk tersebut diberi penanda tertentu untuk mencegah makanan tersebut dijual kembali. Setiap pengusaha makanan dapat membuat suatu perjanjian resmi dengan tim khusus tersebut terkait distribusi produk dan kualitas keamanan sisa produk makanan tersebut.

Kehidupan Setelah Kehidupan

Daur Ulang Manusia

Henry Darmawan

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

“Ketika kamu mati, apakah kamu ingin menjadi makanan cacing atau makanan tupai ?” pertanyaan ini menghentakan pemikiran saya ketika membacanya dari sebuah web. Saya jadi teringat di akhir taun 2012 di mana Nenek saya meninggal di akhir tahun tersebut dan membayangkan sekarang apa yang tengah terjadi dengan jasadnya yang dikuburkan.

Saya tahu betul bahwa kematian bukanlah hal yang murah. Mulai dari pembelian tanah untuk meletakan jasad, peti seharga jutaan, kemudian memasang hiasan mulai dari batu alam sampai nisan marmer lengkap dengan segala grafir tulisannya yang menguras banyak uang. Bahkan sejak pemakaman, hanya 1x saya mengunjungi almarhum. Kemudian saya berpikir kenapa kita membuang sedikitnya 2m2 luas dari permukaan bumi dan melapisinya dengan batu atau marmer, atau hanya segundukan tanah yang memiliki kandungan sangat subur karena mineral dari jasad kita hanya untuk tempat tinggal cacing dan belatung ?

Apakah ketika kita meninggal nanti kita akan mengurangi 2m2 dari luas bumi yang selamanya akan menjadi kuburan kita ?Atau kita memilih dibakar dan tinggal dalam sebuah Urn ? Atau mungkin abu kita ditaburkan di lautan?

Di Indonesia sendiri kini bisnis kuburan menjadi salah satu bisnis yang sedang naik daun. Sebut saja kawasan San Diego Hill atau pemakanan Al Azhar yang merupakan pemakaman mewah yang dilengkapi dengan kolam renang, café, tempat ibadah, dan pusat rekreasi. Saya sungguh tidak habis pikir kenapa orang berbondong-bondong membeli dan menghabiskan begitu banyak uang untuk menguburkan sebuah jasad di tempat mewah yang mereka kunjungi mungkin hanya 1 tahun 1 kali, atau bahkan lebih jarang lagi. Dan lebih dari itu, jasad di tempat mewah ataupun bukan tetap saja akan terdekomposisi menjadi makanan cacing.

Pada tahun 2007, Mary Woodson melakukan riset dan menemukan 827.060 galon embalming fluid, 90.272 ton baja (dari peti), 2.700 ton timah dan tembaga (dari peti), 1.636.000 ton beton (hiasan pemakaman / vaults), 14.000 ton baja (hiasan pemakaman / vaults), serta 30juta lebih papan seukuran 1 kaki dari kayu. Kandungan ini semua yang terdapat pada kuburan di Amerika Serikat.

Rata-rata angka kematian manusia setiap hari adalah 67,000 jiwa dalam 1 hari (sumber: http://m.worldometers.info). Jika setengahnya dikuburkan dan setengahnya dibakar maka ada sekitar 18,000 m2 tanah yang digunakan sebagai kuburan setiap harinya. Angka ini memang angka yang kecil jika dibandingkan dengan luas daratan bumi. Setidaknya jika setiap hari 67,000m2 dihabiskan untuk menjadi lahan berkembang biak cacing dan belatung maka masih membutuhkan 5,9 juta tahun untuk membuat seluruh permukaan bumi ini menjadi kerajaan cacing.

Tapi isu yang perlu kita pikirkan adalah apakah jasad kita memang hanya untuk kejayaan para cacing? Bagaimana kita bisa mendaur ulang jasad manusia menjadi kehidupan? Mungkinkah hal itu terjadi?

Hukum Kekekalan Energi

Saya kembali teringat dengan sebuah film yang saya tonton ketika saya kuliah berjudul The Fountain karya Dareen Aronofsky pada tahun 2006. Film ini dibintangi oleh Hugh Jackman, Rachel Weisz, dan Ellen Burstyn. Saya tidak akan menceritakan kisah lengkapnya di sini tapi ada sebuah pesan yang terus saya ingat dari film ini. Setelah saya menonton film ini saya ingin ketika saya mati, saya dikuburkan dan di atas jasad saya ditanam sebuah pohon agar energi dan mineral di tubuh saya menjadi nutrisi pohon yang menghasilkan oksigen dan juga buah bagi mereka yang masih hidup.

Ketika saya membagikan apa yang saya pikirkan pada teman-teman, mereka berkata bahwa anak-anak saya kelak akan memiliki pohon angker di belakang rumah dengan nada bercanda. Tapi saya rasa itu adalah halangan yang terbesar yang ada di masyarakat asia di mana hantu dan kuburan masih sangat kental.

Untuk menjawab rasa angker ternyata beberapa designer di daerah Eropa telah mengembangkan sebuah desain pemakaman yang lebih murah dan juga ramah lingkungan. Misalnya saja yang dikembangkan oleh Martin Azua seorang Spanyol yang menciptakan Bios Urn, yaitu sebuah biodegredable Urn yang dapat menyimpan abu manusia dan mengubahnya menjadi pohon. Bahkan pada website-nya Martin Azua membantu penggunanya untuk mengkampanyekan keinginan terakhir seseorang untuk menjadi pohon menjadi salah satu wasiat berbasis media sosial untuk mengembangkan produknya. Selain Bios Urn ada juga The Spirit Tree yang memiliki konsep mirip.

Sumber: Big Think

Sumber: Big Think

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

Dengan menggunakan produk Bios Urn / Spirit Tree maka abu sisa pembakaran manusia / hewan peliharaan dapat disimpan dalam wadah dan dikuburkan untuk kemudian berubah menjadi pohon. Ide dasarnya sebenarnya sama dengan yang saya pikirkan ketika menonton The Fountain akan tetapi dengan desain yang lebih menarik, praktis, serta tidak melibatkan menanam mayat, menjadikan produk ini mungkin salah satu produk yang bisa kita bangun dan kampanyekan bahkan di Indonesia.

Urn tersebut memiliki bahan 100% biodegradable, terbuat dari batok kelapa, peat, dan selulosa yang akan terurai. Sebetulnya lebih baik jasad yang dikuburkan bersamaan dengan benih karena jasad memiliki kandungan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman lebih banyak daripada hasil pembakaran dalam sebuah urn.

Kematian adalah suatu fase yang akan ditemui oleh setiap manusia, hanya saja bagaimana kita bisa memberikan warisan terakhir bagi generasi selanjutnya. Daripada kita hanya meninggalkan batu nisan serta pesta besar bagi para cacing di tanah, bukankah lebih baik jika energi mineral yang kita miliki menjadi nutrisi bagi pohon yang juga menyerap CO2, menghasilkan oksigen, dan mungkin juga menghasilkan buah.

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Bayangkan jika setiap hari ada setidaknya 20,000 pohon (di bawah 30% dari angka kematian 1 hari) yang ditanam dalam bentuk kuburan, maka kita akan menanam setidaknya 6 sampai 7 juta pohon setiap tahun di berbagai belahan dunia. Bayangkan sebuah pemakaman / kuburan akan berfungsi sebagai hutan penghasil oksigen dan cagar alam. Jika diterapkan di Indonesa, misalnya di daerah Jakarta, maka pemakaman hutan maka bisa juga sebagai daerah resapan air.

Selain memberikan efek lingkungan yang baik, secara materipun penggunaan ide untuk mengubah jasad menjadi pohon jauh lebih ekonomis karena tidak memerlukan hiasan marmer, beton, dan hiasan lainnya. Dari segi perawatan juga jauh lebih mudah dan ramah lingkungan.

Pilihan Menghadapi Kematian

Pada artikel yang ditulis oleh C.A.Beal tentang “Jadilah Pohon; Petunjuk Kuburan Alami untuk Mengubah Dirimu Menjadi Hutan.” Dibahas mengenai berbagai macam sejarah dari kuburan dan bagaimana tradisi serta budaya dari berbagai daerah tentang menguburkan jenasah. Mulai dai dibakar, dibakar di laut/sungai (seperti dalam film-film kerajaan medieval) sampai dibalsam dan lainnya. Menurut beliau, kematian adalah fase yang harus dijalani oleh setiap manusia dan bagaimana cara kita dikuburkan itu adalah sebuah pilihan untuk menjalani fase tersebut. Apakah pilihan kita akan menghadapi kematian itu adalah sebuah pilihan yang tepat ? Apakah kita memandang kematian sebagai sebuah akhir? Ataukah kita memandang kematian merupakan sebuah kegiatan penciptaan?

Pada akhirnya jika hanya satu atau dua orang yang melakukannya efeknya tidak akan sebanding jika banyak orang yang melakukannya. Jika kita bisa mengubah kebiasaan dan kebudayaan kita dalam melakukan pemakaman maka generasi ini akan memberikan sumbangsih bagi generasi sesudahnya. Apakah generasi kita akan mewariskanbatu nisan? Atau hutan?

 

SUMBER

http://bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree

http://www.beatree.com/

Home

http://www.imdb.com/title/tt0414993/

http://m/worldometers.info

 

RumputAlunAlun.bdg

logo itb 1920Di awal kuliah Desain Berkelanjutan di Magister Desain ITB, seperti biasa mahasiswa peserta kuliah, dalam kelompok, diminta untuk mempresentasikan secara ringkas pemahaman mereka mengenai isu ekologi, keberlanjutan, dan kontribusi Desain terhadap isu tersebut, baik positif maupun negatif. Kali ini, ada beberapa topik yang diangkat, mulai dari limbah medis, energi, gawai, hingga polusi, dan ada juga mengenai lingkungan kota yang membahas rumput sintetis di Alun-Alun Kota Bandung. Rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini memang lumayan hangat dibicarakan, terutama di media sosial, sejak baru terpasang. Bagaimana tanggapan sekelompok mahasiswa S2 Desain mengenai hal tersebut?

Bahasan mengenai rumput sintetis ini dimulai dengan asal material itu sendiri.

Slide1Slide2Rumput sintetis yang diimpor telah sarat jejak beban ekologi akibat berlangsungnya proses distribusi, transportasi, dan sebagainya. Ada hal-hal positif dan negatif seputar penggunaan rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini. Kelebihannya adalah dalam hal perawatan, daya tahan (durability), dan harga. Kekurangannya adalah ketidak-mampuannya menghasilkan oksigen seperti halnya rumput hidup, adanya substansi berbahaya yang dikeluarkan material tersebut, dan tidak dapat hancur secara biologis (non-biodegradable).

Slide3Slide4Perawatan rumput sintetis ini pada dasarnya berupa pembersihan dari sisa-sisa makanan/minuman, dan sampah-sampah lain, termasuk kotoran hewan dan permen karet(!) yang paling sulit dilakukan. Perawatan lanjutan memerlukan peralatan khusus, seperti sikat untuk meluruskan tekstur rumput, penghawaan, dan lain-lain. Lalu ada pula bahan pembersih yang biasa digunakan untuk memelihara rumput sintetis ini, seperti cairan penghilang minyak dan jamur, sekaligus pewangi.

Slide5Slide6Berbagai jenis perawatan ini memang tidak mudah, tapi Pemerintah Kota Bandung memang memiliki alasan tersendiri untuk menerapkan rumput sintetis, bukan rumput hidup, di Alun-Alun Bandung; antara lain adalah karena adanya basement di bawahnya. Pertimbangan ini tidak dibahas lebih lanjut dalam sesi ini, karena yang lebih menarik adalah adalah berbagai skenario perlakuan rumput sintetis ini bila masa pakainya telah berakhir. Keputusan menjadikannya material daur-ulang maupun pakai-ulang tentu tergantung kualitasnya di akhir siklus pakainya nanti. Tentu saja, makin ia dipergunakan dan dirawat dengan baik, makin tahan lama.

Dalam diskusi, disepakati bahwa perilaku pengguna warga Bandung terhadap rumput sintetis ini juga sangat penting. Minimal dengan tidak meninggalkan sisa makanan/minuman pada permukaan rumput ini, dan menjaga kebersihannya dari kotoran lain seperti lumpur/tanah pada sepatu, dan lain-lain. Karena, sebagus apa pun fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota, tidak akan bisa bertahan bila warga tidak turut aktif dalam mempergunakan berbagai fasilitas tersebut secara wajar dan turut memeliharanya.

 

Tautan terkait:

 

Tugas I SENDAL2015

Assignment I Art, Design, Environment FSRD ITB semester II/2014-2015

logo itb 1920In a group of 5, compose a proposal containing an idea and/or a project for a design/art/craft work/object/artifact (including system, activation, etc.). Theme: SMART CITY (within Bandung context)

Ideas or projects for this theme include:

  • Responds in a form of a creative intervention toward current smart city issues in Bandung
  • Works on spaces, functions, or systems of city elements that relate to smart city issues (signage, public art, program, etc.)
  • Problem solving through creative ideas/works that do not depend on massive infrastructure, big budgeting, or complex bureaucracy

Format:

  • Paper size A4, horizontal
  • Page 1: title/theme + group identity
  • Page 2 onward: concept and visualization
  • Submission: 30 January 2015

Page 1 >> Ideas/Projects Concept:

  • Basic ideas/ motivations, objectives
  • Material
  • Scenarios of placement/ function/ operational, etc.
  • Other points that are relevant to the realization plan

Page 2 onward >> Visualization of ideas/projects (sketches, digital image, model/mock-up, etc.). Free techniques, as long as the ideas/projects can be clearly presented.