Tag Archives: UCCN

Buat Apa Masuk UCCN?

Beberapa hari lalu, di acara peluncuran Batam Community Network (BCN), saya mengisi sesi diskusi bertajuk The Benefits of Being in UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sebagai focal point Bandung (Kota Desain sejak 2015), bersama dengan dua kota Indonesia lain yang juga telah bergabung dalam UCCN, yaitu Pekalongan (Kota Craft & Folk Arts sejak 2014) dan Ambon (Kota Musik sejak 2019). Sebagian besar peserta acara peluncuran BCN ini berasal dari kota/kabupaten yang telah bergabung di Indonesia Creative Cities Network (ICCN), yang seluruhnya teraspirasi oleh jejaring kota kreatif dunia. Bahasan mengenai pentingnya berjejaring tentu menjadi menarik, ketika kita sekaligus harus mempertanyakan ulang: kalau sudah bergabung, terus ngapain? Apa manfaatnya berada dalam jejaring itu? Selanjutnya gimana? Nah, mari kita bahas sedikit dari sudut pandang dan pengalaman Bandung.

Ketika menyiapkan dossier Bandung untuk UCCN, proses yang awalnya top-down segera berangsur menjadi bottom-up. Kala itu, di tahun 2012, UCCN masih hanya menerima proposal dari kota-kota yang direkomendasikan oleh perwakilan UNESCO di negara pengaju dan kementerian. Namun, bahkan sebelum Bandung masuk dalam rekomendasi Kemenparekraf saat itu, mendiang Mas Tata (Ahmad Rida Soemardi) telah dan selalu mendorong Bandung untuk mengajukan diri masuk ke dalam jejaring tersebut, melalui BCCF. Sebagian besar pemikiran Mas Tata telah menjadi bagian dasar dari tulang punggung dossier Bandung, yang terus kami eksplorasi dan kembangkan hingga menjadi narasi utama. Sayang, Mas Tata keburu berpulang sebelum menikmati hasil buah pemikirannya, ketika perjalanan panjang sejak 2012 ini akhirnya berhasil menghantarkan Bandung bergabung dengan UCCN sebagai Kota Desain di tahun 2015. Ada bahasan lebih detail tentang Kota Kreatif ini di 3 posting tulisan berurutan ini: Kota Kreatif, Untuk Apa?

Sekarang kita fokus ke: setelah masuk jejaring, lalu bagaimana?

UNESCO membentuk UCCN sejak 2004 untuk mempromosikan kemitraan antar kota, yang telah mengidentifikasi kreativitas sebagai faktor strategis untuk pembangunan berkelanjutan di perkotaan. Kota-kota anggota UCCN dengan sendirinya berkomitmen untuk menjawab tantangan SDG melalui potensi kreativitas dan budaya. Berikut ini komitmen lengkapnya, sesuai dengan yang tertera di website UCCN:

Komitmen kota-kota anggota jejaring adalah untuk berbagi praktik terbaik, dan mengembangkan kemitraan yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat umum, dalam rangka: 

  • memperkuat kerja sama internasional di antara kota-kota yang telah mengakui kreativitas sebagai faktor strategis bagi pembangunan berkelanjutan;
  • menstimulasi dan mendorong inisiatif kota-kota jejaring untuk menempatkan kreativitas sebagai komponen penting dalam pembangunan kota, khususnya melalui kemitraan yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat umum;
  • memperkuat penciptaan, produksi, distribusi, dan diseminasi aktivitas, barang dan jasa berbasis budaya; mengembangkan simpul-simpul kreativitas dan inovasi, serta memperluas peluang bagi para pelaku ekonomi kreatif dan profesional dalam sektor budaya;
  • meningkatkan akses dan partisipasi dalam kehidupan berbudaya, khususnya untuk kelompok dan individu yang rentan atau termarjinalisasi;
  • secara penuh mengintegrasikan budaya dan kreativitas dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan.       

Seluruh komitmen ini, bagi Kota Kreatif UCCN, harus diwujudkan dalam sinergi antar seluruh pemangku kepentingan kota, yang belakangam ini sering disebut sebagai Penta Helix stakeholders. Tanpa dukungan salah satu elemennya, atau bila tidak solid atau kurang kompak, maka penyelenggaraan “kota kreatif” akan timpang. Perubahan akan terus terjadi di berbagai sisi dan jenjang, oleh karena itu UCCN mewajibkan seluruh kota anggotanya untuk menyerahkan Membership Monitoring Report (MMR) secara berkala, setiap 4 tahun. Kota yang nirprestasi hingga tiga termin MMR berturut-turut akan dipertimbangkan ulang status keanggotaannya dalam UCCN. Bandung yang masuk tahun 2015 telah menyerahkan MMR pertamanya di akhir 2019 lalu, yang memuat informasi sesuai dengan butir-butir yang disyaratkan oleh Sekretariat UCCN, antara lain: kontribusi pada pengelolaan jejaring di skala global, inisiatif lokal, inisiatif kerja sama antar kota, dan rencana aksi. UCCN juga mementingkan terwujudnya komitmen anggotanya, antara lain, kehadiran di Pertemuan Tahunan UCCN.

=====

Ini kok tampaknya kewajiban semua. Jadi manfaatnya apa? Apakah UCCN memberikan insentif atau dukungan finansial pada kota-kota anggotanya? Jelas tidak. 

Harapan Bandung ketika mengajukan diri adalah — mengutip ketua tim dossier Bandung untuk UCCN Fiki Satari — bila akhirnya Bandung berhasil masuk menjadi anggota UCCN, dapat kita lihat sebagai “bonus”, karena yang terpenting adalah, selama berproses, kita terus belajar mendata, menganalisa, dan menyusun argumen tentang potensi kreativitas kita sendiri, bahkan juga mengkuantifikasi tingkat potensi kreativitas di beragam sektor.   

Manfaat 1: kita belajar mengenali diri sendiri dari sisi potensi kreativitas dalam skala kota dengan segala sumber daya pendukungnya; sekaligus mengeksplorasi berbagai indikator “kota kreatif” yang terus menerus mengalami pembaruan.

Sejak pertama kalinya hadir di pertemuan tahunan UCCN, Bandung selalu berupaya “didengar”, karena belum semua orang tahu ada kota bernama “Bandung” di Indonesia. Bagaimana caranya? Delegasi Bandung sedapat mungkin selalu aktif di sesi-sesi pertemuan; berbagi insights dan/atau menyampaikan pendapat dan pertanyaan di forum besar, menjadi fasilitator di kelompok-kelompok workshop, dan delivering lebih dari yang diharapkan. Di pertemuan di Enghien-les-Bains tahun 2017, Bandung mempresentasikan DesignAction.bdg sebagai salah satu penerapan SDG terbaik pilihan UCCN, sehingga terbuka peluang untuk ngobrol, diskusi dengan banyak pihak. Waktu memandu salah satu sesi workshop di Krakow tahun 2018, Bandung menyerahkan laporannya sebagai fasilitator secara lengkap dan concise. Dengan cara-cara ini, Bandung tidak hanya didengar, tapi juga menjadi dikenal dan bahkan diingat, sehingga selalu dilibatkan dalam berbagai rencana UNESCO dan jejaringnya. 

Manfaat 2: kita berpeluang mempromosikan kota kita di tingkat dunia, bukan hanya potensi kreativitasnya, namun juga kapasitas dan kompetensinya.  

Begitu bergabung dalam kelompok subnetwork dan berkenalan dengan Kota-kota Desain lain, langsung terasa berbagai manfaat langsung terhadap disiplin/ilmu dan profesi desain khususnya, juga sub-sektor industri kreatif lain pada umumnya. Sebagai sesama anggota jejaring, kita bisa mendapatkan informasi terlebih dahulu mengenai kegiatan di tiap kota, seperti konferensi, workshop, pameran, kompetisi, festival dsb. Bahkan di banyak hal, sebagai sesama anggota jejaring, kita mendapatkan penawaran untuk berpartisipasi dengan gratis, atau difasilitasi untuk terlibat, diundang untuk kompetisi desain dengan lingkup terbatas, dan sebagainya. Kegiatan yang bersifat terbuka (tidak hanya bagi anggota UCCN) pun dapat segera didiseminasi, sehingga manfaatnya dapat juga menyentuh pelaku ekonomi kreatif di kota/kabupaten lain di Indonesia. Bahkan tidak eksklusif hanya untuk desain; di tahun 2017 Bandung menyelenggarakan festival film bersama Santos, Kota Film UCCN di Brazil. 

Manfaat 3: kita berpeluang mempromosikan desain dan sub-sektor industri kreatif lain di tingkat dunia, melalui pameran, konferensi, workshop, kompetisi, festival, dsb.           

Tentunya masih banyak lagi manfaat yang bisa diperoleh dari jejaring ini, termasuk juga sebagai pendorong sinergi antar Penta Helix stakeholders secara internal, yang terus berupaya memenuhi komitmen kota terhadap UCCN; menjadi motivasi terselenggaranya berbagai kegiatan desain dengan lebih terstruktur dan berkelanjutan; hingga memberikan ‘tekanan’ pada pemerintah agar menjaga komitmen dalam mempertimbangkan budaya dan kreativitas sebagai strategi pembangunan kota secara proporsional.

Dari pengalaman selama ini, tak terhitung benefit yang bisa kita dapatkan, asal kita juga jeli memanfaatkan segala peluang yang terbuka di depan mata, sambil juga selalu berinisiatif untuk mengambil peran dan berkontribusi secara aktif. 

 

=====

Catatan Tambahan

Nah, sehubungan dengan MMR UCCN yang diserahkan Bandung di akhir tahun 2019 lalu; kebetulan tanggal 24 September kemarin, tepat sehari sebelum ulang tahun Bandung yang ke-201, UCCN mengirimkan hasil evaluasi MMR Bandung City of Design.

Di kolom simpulan akhir, laporan Bandung dinilai sebagai Very Good dan Excellent (entah yang mana seharusnya, karena yang disilang dua-duanya)! Wah, gembira!

Yang dinilai sebagai kinerja utama antara lain adalah komitmen kehadiran di pertemuan tahunan, dan kontribusi kota terhadap jejaring. Di point belakangan ini kelemahan Bandung, karena belum pernah menawarkan diri maupun berlaku sebagai host bagi pertemuan subnetwork atau acara yang melibatkan/mengundang kota-kota sesama anggota jejaring.

Point ini tidak mudah untuk dipenuhi bagi negara seperti Indonesia, yang secara geografis berjarak relatif cukup jauh dari kota-kota anggota lainnya, sehingga tidak terlalu menarik bagi yang hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan perjalanan, kecuali bila dikombinasikan dengan kegiatan lain di wilayah yang berdekatan. Selain itu, penyelenggaraan acara tingkat internasional membutuhkan komitmen dan sumber daya yang memadai, sehingga anggaran kota tidak akan mungkin dapat memenuhi keseluruhannnya, dan memerlukan anggaran dari provinsi dan pusat. Hal-hal lain pun menjadi pertimbangan, seperti kemudahan akses (bandara, jalan bebas hambatan, kereta, dll.), stabilitas keamanan dan politik, fasilitas dan amenities di dalam kota, dsb. Juga ada kebutuhan akan sebuah tim hospitality yang mumpuni, yang harus mampu menawarkan experience yang menyenangkan sejak para delegasi mengatur perjalanan dari kota masing-masing. Tanpa kolaborasi menyeluruh antara pemerintah, dan elemen Penta Helix lainnya, fungsi Bandung sebagai host pertemuan UCCN tidak akan tercapai.

Hal yang disarankan untuk laporan berikutnya adalah kaitan dengan SDG dari seluruh program yang dilaksanakan. Pada laporan ini tertera, namun belum terpetakan secara lengkap pada program-program yang disamapikan.   

Komitmen Kota Bandung yang lain, yang tertulis dalam dossier namun belum terwujud (mis. adanya “taman kota bertema UCCN”), ternyata tidak terlalu berpengaruh pada penliaian, karena nyatanya Bandung mewujudkan lebih banyak inisiatif lain dengan dampak nyata. Laporan Bandung selengkapnya (penyusunannya dibantu oleh tim RupaDesain/ Bandung Design Archive)  dapat diunduh di sini: https://en.unesco.org/creative-cities/sites/creative-cities/files/bandung_311219-report_uccn_2019_final-compresse.pdf

Laporan dari kota-kota UCCN lain dapat diunduh dari situs yang sama: https://en.unesco.org/creative-cities/content/reporting-monitoring

Terima kasih tak terhingga pada rekan-rekan pegiat Desain khususnya, dan pegiat seluruh ekspresi kreativitas dan budaya di Kota Bandung pada umumnya, yang senantiasa menjaga semangat, perjuangan, dan penerapan Desain dan Kreativitas sebagai disiplin ilmu, profesi, cara berpikir, strategi, dan banyak lagi!

Mari kita susun langkah dengan lebih strategis lagi, dengan dampak yang makin terukur, dan antisipasi bagi masa mendatang secara lebih jitu, dengan amunisi kreativitas yang senantiasa membentuk dinamika Kota Bandung.  

“Masa Cerdas” Kota Bandung

Dalam artikel ini, 5 lessons for smart cities in ASEAN: The example of Bandung, Indonesia* Bandung disebut sebagai termasuk yang terdepan di antara kota-kota di Asia Tenggara dalam hal keterlibatan teknologi dan sistem yang membawanya menjadi “Kota Cerdas”. Hal-hal penentunya adalah, antara lain, komitmen pemimpin daerah, yang didukung oleh seluruh pihak, termasuk komunitas dengan berbagai inisiatifnya yang – walaupun bersifat bottom-up – terus berupaya berdampak luas, hingga skala kota.

Bandung Blog 5

Credits: Yoshi Andrian Amtha (copyright: Future Cities Laboratory, 2020)

Bandung Creative City Forum, salah satu simpul komunitas di Kota Bandung, rutin menyelenggarakan DesignAction.bdg (DA.bdg), sebuah konferensi sekaligus workshop design thinking untuk mendapatkan solusi inovatif bagi berbagai permasalahan mendesak di Kota Bandung, dengan melibatkan Penta Helix stakeholders. DA.bdg 2015 bertema ConnectiCity, dengan fokus pada isu smart city yang kala itu sedang gencar bergaung di mana-mana. Apalagi pemerintah Kota Bandung masa itu mengeluarkan banyak kebijakan dan fasilitasi melalui media internet, aplikasi digital, dan teknologi komunikasi, seperti PPDB online, pajak online, PIPPK, dan sebagainya. Namun permasalahan di lapangan ternyata mencakup bukan sekedar akses masyarakat terhadap teknologi dan piranti yang memadai, namun juga pemahaman terhadap sistem layanan yang lumayan ‘baru’ ini, baik dari pihak masyarakat maupun pemerintah sebagai operator atau pelaksananya. Sehingga DA.bdg melihat upaya mewujudkan Bandung sebagai smart city bukan hanya dari sudut pandang kecanggihan teknologi atau piranti, namun lebih kepada keterhubungan antara pemerintah dan masyarakat, kebijakan dan implementasinya, serta antar unsur dalam masyarakat itu sendiri, melalui bantuan dan sistem yang tepat guna.

Dalam kurun waktu sekian tahun sejak itu, komuntas pun berinsiatif untuk menyusun strategi yang dapat menghubungkan antara gerakan bottom-up dengan penilaian kinerja pemerintah, berdasarkan mindset ekosistem ekonomi kreatif. Dalam upaya ini, Bandung pernah mengalami “masa cerdas” yang cukup menyeluruh. Bukan hanya menjalani keseharian dengan “aman”, tapi juga melakukan berbagai  inovasi pemerintahan dan program-program yang berdampak nyata, dengan melibatkan partisipasi warga/ komunitas secara aktif.

Ayo bikin Bandung lagi!

*This article leverages the methodology and the findings of the research project “Translating Smart Cities and Urban Governance in ASEAN” led by the Future Cities Laboratory (FCL) – Singapore ETH Centre and the NUS-Lee Kuan Yew School of Public Policy (2019-2020), focusing on the development of three smart cities in Indonesia: Bandung, Jakarta and Makassar.

Asia Pacific Creative Cities Conference, Adelaide, Australia, 23-26 Okt 2019

Yak — mari kita mulai rangkaian tulisan dari beberapa perjalanan belakangan ini:

Asia Pacific Creative Cities Conference di Adelaide, Australia, 23-26 Oktober 2019 — sebagai focal point Bandung City of Design UCCN, untuk bicara di sesi panel bertema Maximising the Potential of the Asia-Pacific Region: Entrepreneurship and the Movement of Ideas, Creators and Innovation

Placemaker Week ASEAN 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia, 7-8 November 2019 — untuk bicara di sesi panel ASEAN dan sesi diskusi tentang Placemaking & Identity  

Indonesia Now di Amsterdam, Belanda, 12 November 2019 — sebagai pembicara keynote bersama Mbak Leila Chudori, serta di sesi tentang Design for Sustainability

PEC Meeting di Edinburgh, Inggris, 14-15 November 2019 — pertemuan kedua sebagai anggota International Advisory Council for Creative Industries Policy and Evidence Centre (PEC) UK   

 

20191024 OzAsia APCC Convention - Social - Daniel PurvisPMDX3697

Para delegasi kota-kota kreatif Asia Pasifik yang hadir di APCCC 2019

ASIA PACIFIC CREATIVE CITIES CONFERENCE — Adelaide, Australia, 23-26 Okt 2019

Asia Pacific Creative Cities Conference (APCCC) diinisiasi oleh Adelaide, Kota Musik UNESCO Creative Cities Network (UCCN), dalam rangka menghubungkan antara kota-kota kreatif UCCN yang berada di wilayah Asia & Pasifik. APCCC juga mengundang kota-kota di Asia Pasifik, yang sedang menunggu keputusan bergabungnya mereka dalam UCCN. Forum ini terbagi dalam panel-panel diskusi, yang menampilkan beberapa perwakilan dari kota-kota kreatif Asia Pasifik sekaligus dalam tema-tema tertentu, terutama terkait dengan jejaring UCCN: sejauh mana kota-kota anggota UCCN dapat merasakan manfaat jejaring ini bagi pertumbuhan masing-masing. 

Adelaide, Kota Musik UCCN, menyelenggarakan APCCC ini berbarengan dengan berbagai festival yang telah rutin diselenggarakan di kota tersebut, sehingga para delegasi juga sekaligus dapat menikmati acara-acara lain yang digelar tidak jauh dari tempat pertemuan APCCC dan hotel tempat menginap. Kesiapan Adelaide menjadi tuan rumah jelas meyakinkan, karena pengelolaan festivalnya telah menjadi andalan yang serius bagi kota tersebut; sehingga baik pendatang maupun warga sama-sama mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, bukan hanya karena festival itu sendiri, tapi juga karena infrastruktur, akses dan sistem terhadap segala fasilitasnya telah berjalan dengan baik. 

Tambahan lagi, seluruh delegasi di forum ini adalah staf pemerintah kota dan/atau dari lembaga yang resmi menjadi rekanan kota dalam mengelola kotanya sebagai Kota Kreatif UCCN; yang beraeti mendapatkan alokasi anggaran yang sepantasnya untuk mengaktivasi jejaring dan mengelola program-programnya. Selain Bandung yang diwakili oleh saya sendiri sebagai focal point Bandung Kota Desain UCCN, dari Indonesia hadir pula perwakilan Ambon (yang saat itu sedang menunggu keputusan UCCN atas bergabungnya Ambon sebagai Kota Musik), terdiri dari wali kota dan rombongan OPD terkait, serta personel dari Ambon Music Office.

Berikut ini hal-hal yang tertangkap selama forum tersebut berlangsung:

  1. Tahun 90an produksi manufaktur berkembang di Asia, hingga menjadi keuntungan kompetitif untuk dunia Barat. Krisis finansial di tahun 97 membawa tantangan kreativitas bagi negara-negara di Asia, yang kemudian mengadopsi ekonomi kreatif dan menjadi pemain terbesar dalam sektor ini.
  2. Tantangan terbesar kota, selain menjamin pertumbuhan sosial dan ekonominya, adalah “homogenisasi”. Sehingga kota-kota harus mampu menampilkan vitalitas, daya tarik, serta keunikannya, yang damat dicapai melalui industri kreatif di kota-kota tersebut, yang kemudian membentuk identitasnya sebagai “kota kreatif”. 
  3. Kisah tentang manusia dan ruang didokumentasi sedemikan rupa sehingga membentuk narasi seni dan budaya yang kemudian menjadi identitas bagi sekelompok manusia di ruang tersebut. Kegiatan ekspresi budaya ini menjadi makin besar dan melembaga, sehingga terjadi pendefinisian terhadap beragam ekspresi tersebut.     
  4. Untuk apa melakukan kolaborasi? Untuk memperoleh gagasan dan pendangen baru, selain juga untuk dapat merasa lebih berdaya ketika dipertemukan dengan orang-orang dengan perjuangan dan semangat serupa.
  5. Mengenai pariwisata: apakah brand sebuah “kota kreatif” benar-benar berpengaruh bagi penentuan kebijakan dan strategi pemasaran kota tersebut? Terutama dalam kaitannya dengan pengembangan kota yang mengutamakan kepentingan warga lokalnya, meskipun sambil juga meningkatkan bisnis hospitality.
  6. Brand Kota Kreatif sendiri mungkin belum terlalu dikenal; menjadi anggota UCCN bukanlah tujuan akhir, tapi menjadi salah satu cara untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan. 
  7. Kota-kota memiliki tantangan sumber daya, sehingga memanfaatkan kreativitas sebagai penggerak sektor ekonominya.
  8. Kota-kota yang tangguh (resilient) dikelompokkan berdasarkan indikator kesejahteraan, yang sebenarnya harus didefinisi ulang, terutama dalam kaitannya dengan skala ekonomi makro.
  9. Kota-kota kreatif memiliki metodologi dan sumer daya produksi baru, berupa peran dan keterlibatan komunitas, di mana para pelakunya mengkapitalisasi pengetahuan dan daya ciptanya.     

Selain panel-panel diskusi, terdapat juga sesi aspirasi bagi kota-kota calon anggota UCCN, dan forum yang membahas kelanjutan dari APCCC. Seluruh perwakilan kota yang hadir bersepakat bahwa dibandingkan dengan pertemuan besar seluruh anggota UCCN yang diselenggarakan tiap tahun, forum ini memberikan lebih banyak peluang untuk berdiskusi dengan lebih mendalam, terutama dengan kota-kota yang memiliki kondisi serupa karena berada di area yang berdekatan. Rencana besarnya adalah menyelenggarakan pertemuan wilayah Asia Pasifik selanjutnya, namun masih dalam pembahasan lebih lanjut mengenai kota yang bersedia dan sanggup menjadi tuan rumah. 

APCCC sets sights on the future – press release Oct 25 2019

apccc-conference-atmosphere-2000x480

Sesi Panel 6 mengenai Entrepreneurship and the Movement of Ideas, Creators and Innovation; di mana says berkesempatan juga mempresentasikan Buku Putih Kota Kreatif ICCN sebagai upaya forum komunitas di Indonesia untuk memastikan masuknya budaya dan potensi kreativitas sebagai salah satu faktor dalam strategi pembangunan daerah.

Singapura, Kota Desain Luar-Dalam

Dalam Singapore Design Week yang diselenggarakan pada tanggal 6-10 Maret 2019, penyelenggaranya, DesignSingapore Council, mengundang sesama Kota-kota Desain yang tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network (UCCN) untuk turut berpartisipasi. Sebagai tuan rumah, mereka memfasilitasi dua orang perwakilan dari tiap kota dengan akomodasi 4 malam, akses khusus ke berbagai sub-event, acara makan siang/malam, dsb. Tiap delegasi hanya harus menanggung tiket pesawatnya sendiri.

Tidak sulit bagi Bandung, Kota Desain yang terdekat, untuk memenuhi undangan tersebut. Sebagai focal point Bandung untuk UCCN, saya sangat mengusahakan hadir, karena ingin mengambil kesempatan untuk berkumpul kembali dengan rekan-rekan dari sesama Kota Desain UCCN yang datang dari jauh, untuk dapat mengkoordinasikan berbagai hal lain. Tiap delegasi Kota Desain UCCN yang hadir akan menampilkan kasus di kotanya di UNESCO Cities of Design Public Forum, yang sesi-sesinya terbagi sesuai dengan pokja Kota Desain UCCN: kebijakan, bisnis, edukasi, komunikasi. Berikut ini adalah hal-hal yang memberikan kesan terdalam selama menghadiri Singapore Design Week 2019.

IMG_0991

Brainstorm Design: Measuring the ROI of Design Thinking

Sebuah rangkaian acara seri konferensi bertajuk Brainstorm Design diselenggarakan selama 3 hari, tapi kami, delegasi Kota Desain UCCN, hanya mengikuti sesi di hari terakhir. Sesi pagi merupakan workshop/ diskusi dalam kelompok kecil, di mana peserta dapat memilih satu dari sekian tema yang ditawarkan. Saya memilih ruang dengan judul Measuring the ROI of Design Thinking. Menarik, karena selama ini kita melakukan Design Thinking (DT) untuk berbagai hal di luar profesi desain (bisnis, IT, pemerintahan, dll.), namun jarang memperhitungkan efektivitasnya. Apakah benar DT menjadi metodologi yang paling optimal? Faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan untuk dapat mengukur keberhasilan DT? Prof. Jeanne Liedtka, University of Virginia Darden School dan Prof. Kristina Jaskyte, University of Georgia, mengembangkan penelitian terkait hal ini dan membuat sebuah toolkit dalam format check list dengan Skala Likert, yang membantu kita untuk mengukur efektivitas DT. Dalam workshop ini, peserta mencoba menggarap toolkit tersebut dalam versi “permukaan”. Tentu saja, bila ingin pendalaman, harus berupa konsultasi dan/atau kasus khusus, namun workshop ini cukup memberi gambaran mengenai seberapa jauh DT dapat diterapkan sebagai cara berpikir/bekerja yang optimal.

 

DesignSingapore Council: Perpindahan Kementerian Induk

DesignSingapore Council, yang dibentuk oleh Pemerintah Singapura pada tahun 2003 atas kesadaran pentingnya sumber daya kreasi, daya cipta, kreativitas dan teknologi sebagai elemen strategi pembangunan Singapura yang minim SDA, menjadi salah satu andalan Singapura dalam memajukan kesejahteraan bangsanya. DesignSingapore Council kini masih bernaung di bawah Kementerian Kominfo, namun per 1 April 2019 nanti akan berinduk pada Kementerian Industri dan Perdagangan. Kebetulan saat welcome dinner saya didudukkan dengan Menteri Indag ini, sehingga dapat langsung bertanya, “Saat perpindahan kementerian induk nanti, apa yang akan berubah (dari Council)?” Jawabnya, “Kita akan lebih titik-beratkan dukungan bagi karya-karya desain Singapura pada faktor industrinya, akan lebih digenjot sisi ekonominya, untuk dapat lebih berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan para pelaku industri desain dan seluruh stakeholders-nya.” Sekarang saja mereka sudah rapih sekali cara kerja dan tata kelolanya, badan-badan pemerintahnya kompak menjalankan tugas sesuai petajalan; apalagi dengan fokus pada industri, perdagangan, dan peningkatan aktivitas ekonomi berbasis desain dan kreativitas ini, pasti Singapura akan jauh melesat.

IMG_1013

Name tag Brainstorm Design

3bb3248c-9045-4a3b-9286-5df1635f2d53

Memberikan Buku Putih Kota Kreatif Indonesia ke Menteri Indag Singapura, yang akan mengampu DesignSingapore Council per 1 April 2019

Design Orchard

Reputasi Singapura tidak akan lepas dari Orchard Road, kawasan niaga utama yang sangat ramai dilalui orang. Tepat di tengah keramaian inilah Singapore Tourism Board membuka sebuah tempat bernama Design Orchard. Berusia baru beberapa bulan namun sudah operasional, Design Orchard memuat ruang-ruang coworking, pelatihan/ kelas, auditorium mini dan perlengkapannya. Karena diutamakan untuk sub-sektor fashion, Design Orchard ini dilengkapi pula dengan mesin-mesin jahit dengan berbagai teknik produksi, dari yang full manual, masinal, hingga digital print. Terdapat juga koleksi beragam material garmen dan contoh hasil pengolahannya. Dua lantai paling atas didedikasikan untuk belajar, berproses, bertemu, bereksperimen, dll., sementara lantai dasar menjadi etalase bagi produk & brand unggulan Singapura, terutama bagi pengusaha pemula. Tidak hanya untuk produk fashion dan aparel, tapi juga pernik perhiasan, cendera mata, hingga makanan. Disediakan juga ruang untuk pop-up cafe, dengan tema yang berganti-ganti (tema saat itu: Food & Fashion, dengan jenis makanan mulai dari sejenis ‘jajan pasar’, gulali, hingga cup cake). Khusus untuk produk fashion, terdapat fasilitas canggih: cermin tegak yang tersebar di sekitar display bukan hanya dapat memantulkan citra orang yang berdiri di depannya, namun juga dapat menjadi semacam ‘papan informasi’ digital di mana pengunjung dapat memindai kode baju yang dipegangnya untuk mencari ukuran atau warna lain, sekaligus juga untuk dapat melihat varian baju dengan model serupa. Seluruh produk yang ada di outlet ini telah melalui proses kurasi yang sangat ketat, baik dari segi kualitas material/ produk, konten, hingga kemasannya.

Tiga hal tersebut memberi kesan terdalam selama hadir di Singapura Design Week kali ini. Di akhir kunjungan, saya diminta memberikan komentar mengenai partisipasi dalam event ini. Pertanyaan yang diajukan pada saya adalah, apa persamaan dan perbedaan antara Singapura dan Bandung sebagai Kota Desain? Jawaban saya di depan kamera waktu itu harus diulang hingga 3-4 kali, jadi pasti ada frasa atau kata-kata yang tertinggal (dan entah akan disunting di bagian mana saja); lagi pula saya bukan tipe yang bisa tenang bicara versi live coverage. Untuk lebih jelasnya, begini: Singapura dan Bandung tentu saja memiliki kesamaan dalam hal kondisi cuaca dan iklim secara umum, karena sama-sama berada di wilayah tropis basah. Kedua kota ini sama-sama memiliki tantangan perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan kepadatan penduduk. Yang menjadi pembeda adalah, sebagai Kota Desain, Singapura secara formal jauh lebih terstruktur, karena pemerintahnya sadar betul bahwa Desain dan kreativitas pada umumnya telah menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan telah menjadi strategi yang krusial untuk meningkatkan pendapatan. Secara top down, Singapura jauh lebih rapih dalam menerapkan kebijakan terkait potensi Desain dan penerapannya, sehingga dampaknya dapat terukur dengan lebih valid. “Desain” di Singapura telah berhasil mewujudkan polesan negrinya luar-dalam: tampak pantas di permukaan dengan segala gegap-gempitanya, namun juga berlaku pantas di lapisan dalamnya, baik dari segi tata kelola, maupun penguatan dan penerapan kebijakan terkait pengembangan desain. Sedangkan di Bandung, inisiatif dan gerakan bottom up lebih dominan, di mana stakeholders kota – selain pemerintah – memanfaatkan desain dan daya kreativitas sebagai cara untuk mencari solusi bagi berbagai isu lokal. Aktivitas desain di Kota Bandung belum didukung kebijakan dan fasilitas yang memadai, sehingga upayanya belum terasa secara masif, apalagi dampaknya secara ekonomi. Jelas, PR Bandung sebagai Kota Desain masih banyak, untuk memperjuangkan peran Desain yang dapat berdampak luar-dalam seperti halnya di Singapura. Mari, lanjut berjuang!