Author Archives: Tita Larasati

Think Globally Eat Locally

Aurora Revianissa

Pernahkah kita berpikir saat memakan makanan impor kita sudah menyumbang satu “dosa” untuk menghancurkan bumi?

Pemerintah melakukan impor bahan makan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Ironis memang, hal ini dilakukan oleh negara kita yang notabene memiliki lahan yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat ketahanan pangan Indonesia yang seperti ini, kita perlu khawatir dengan nasib pertanian Indonesia di masa mendatang. Hal lain yang perlu menjadi sorotan adalah berkurangnya jumlah petani dari tahun ke tahun. Petani mulai beralih profesi pada bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kondisi demikian membuat impor makanan menjadi tidak terelakkan.

Makanan impor mengalami perjalan panjang sebelum terhidang di atas meja makan kita. Bayangkan berapa jauh jarak perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut, pesawat, kereta,dan truk yang dilakukan oleh makanan impor untuk sampai ke tangan konsumen. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin besar efek negatif yang disumbangkan untuk bumi.

Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), 30% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor agrikultur dan produksi makanan, termasuk proses impor makanan. Proses impor makanan yang menggunakan pesawat menghasilkan emisi bahan bakar pesawat yang menyumbang jutaan ton gas CO2 ke udara dan mempengaruhi global warming.

(sumber: ayoeatlocal.com)

(sumber: ayoeatlocal.com)

Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu solusi adalah dengan memakan hasil pangan produksi daerah sendiri. Disebutkan dalam Nation Master data di tahun 2008 Indonesia memiliki 47,89 juta petani dan masih memiliki lahan suboptimal untuk pertanian seluas 25,82 hektar. Jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, ketahan pangan Indonesia tentu akan meningkat baik. Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat bersama adalah dengan menjadikan makanan lokal sebagai sumber utama bahan makan konsumsi rumah tangga. Peran petani lokal kembali diposisikan sebagai pahlawan dalam pergerakan ini. Namun kendala awal untuk kembali menggunakan bahan pangan lokal adalah tidak ada rasa percaya terhadap produk lokal itu sendiri dari masyarakat. Petani pun sebagian besar masih menggunakan sistem distribusi konvensional melalui tengkulak yang dinilai lebih menguntungkan. Tidak bertemunya kebutuhan konsumen dan kepentingan produsen memerlukan sebuah inovasi kreatif untuk memecahkan masalah ini seperti yang dilakukan oleh Agritektur.

Agritektur adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok masyarakat kreatif memiliki visi peningkatan konsumsi produk pangan lokal dalam upaya penurunan konsumsi makanan impor. Agritektur bergerak sebagai wadah antara konsumen dan produsen. Komunitas ini menjalin kemitraan dengan petani lokal khususnya daerah wilayah Bandung. Agritektur berpendapat bahwa dengan memperpendek jalur distribusi bahan pangan, akan mengurangi emisi karbon dan juga memutus rantai distribusi yang merugikan petani.

Agenda rutin yang dilakukan oleh Agritektur adalah Parappa (Pasar Rakyat para Petani), table to farm dan camp on farm. Jika diperhatikan, konsep dari Parappa merujuk pada pasar petani yang biasa berada di negara Eropa. Produk hasil pangan petani Bandung (daerah Ciburial), dibawa langsung ke daerah perkotaan untuk langsung dijual ke konsumen. Komoditas yang dijual pun tidak biasa di temukan di pasar tradisional, seperti rosemary, oregano, lemon balm, stevia yang bisa ditemukan dalan polybag dalam kondisi tunas siap tanam petik dan sayur mayur organik dengan harga yang lebih murah dari pada harga sayur di pasaran. Agritektur berupaya menggunakan zero waste management untuk mengolah komoditas yang tidak habis terjual. Bahan –bahan ini kemudian diolah menjadi selai, jus, makan olahan lain dan tidak terbuang percuma. Agritektur menggandeng desainer-desainer muda untuk merancang visual branding mereka. Konsep visual komponen grafis sampai packaging dan penyajiannya, Agritektur ditampilkan dengan konsep fresh, clean, neat and friendly yang menimbulkan kesan kekinian, cocok untuk sasaran masyarakat urban. Branding ini bertujuan untuk menghilangkan kesan “kampungan” pada produk lokal yang menjadi komoditi dagang. Di Parappa pembeli bisa berkonsultasi langsung dengan petani dalam mengkonsultasikan baik tanaman tanam mau pun sayur-mayur yang diperdagangkan.

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Pada September 2014, Agritektur melakukan kampanye mandiri #AyoEatLocal dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi hasil pangan lokal di Jakarta agar semakin global. Kampanye ini bertujuan untuk memajukan petani dan menjaga lingkungan melalui pembelian dan pengkonsumsian bahan pangan segar lokal. Target pasar Agritektur adalah masyarakat menengah perkotaan. Perkembangan ekonomi Indonesia yang didominasi masyarakat menengah merupakan potensi untuk mengembalikan kejayaan ketahanan pangan Indonesia. Mendukung dan menghargai hasil pangan lokal dapat menjadi andil kecil dalam menjaga keberlangsungan pasokan pangan dan kelestarian lingkungan. Inovasi kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan tidak melulu harus dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat intelejensi tinggi dan dengan modal tinggi. Inovasi dimulai dengan langkah kecil namun disertai hasrat untuk terus berkegiatan akan menwujudkan ide dan inovasi yang besar.

Ketika Budaya Silaturahmi Menjadi Budaya Limbah

Amanda Fauziah

BUDAYA LIMBAH

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika telah melahirkan berbagai macam budaya yang berkembang secara meluas dalam masyarakat. Kemajemukan budaya ini secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk lebih peka dan toleransi terhadap sesama. Kebiasaan ini telah ditanamkan sejak kita masih anak-anak, mulai dari konsep gotong royong, sikap saling menghargai terhadap umat beragama, serta budaya silahturahmi. Tradisi ini sangat mudah diamati dalam berbagai macam acara hajatan yang dilangsungkan oleh masyarakat, seperti prosesi pernikahan, khitanan, syukuran kehamilan, aqiqahan, 40 hari meninggalnya seseorang, dan berbagai hajatan lainnya. Kegiatan hajatan merupakan acara yang sangat identik mengundang tamu secara massal dengan proses pemberian kartu undangan sebelum acara dilangsungkan. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Walaupun terkadang telah disampaikan secara lisan, namun kurang lengkap dan “kurang bergengsi” rasanya jika tidak dilengkapi dengan kartu undangan.

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

Di balik suburnya tradisi ini, sebenarnya bangsa kita telah membentuk suatu budaya baru, yakni budaya limbah. Mengapa limbah? Karena setelah dibaca kartu undangan ini sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kegunaan lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kartu undangan ini akan berakhir di tempat sampah. Dari setiap acara hajatan yang dilangsungkan paling sedikit kiranya terdapat 100 undangan yang disebarkan. Ini berarti dari setiap hajatan telah dihasilkan limbah kertas sebanyak kartu undangan yang disebarkan pada tamu-tamu tersebut. Di samping itu, setiap orang dari sejak di kandungan, lahir, hingga kematiannya menggelar sedikitnya enam hingga delapan acara hajatan. Belum lagi jika keluarga penyelenggara adalah keluarga yang berada dan terpandang. Tentunya angka 100 undangan tersebut tidaklah berlaku lagi. Hitungan berikutnya mungkin sudah mulai memasuki kelipatan ribuan. Bayangkan saja, selama masa hidupnya seseorang telah menghabiskan berapa ribu limbah kertas dari sekedar sebuah hajatan? Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bakal meledak hingga mencapai angka 300 juta jiwa pada 2015 (Tempo.co). Maka jika satu orang saja telah menghabiskan enam hingga delapan ribu kertas selama masa hidupnya, bagaimana dengan 299 juta jiwa penduduk Indonesia lainnya?

Perlu diketahui bahwa limbah kertas memiliki dampak yang luar biasa buruk terhadap lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan kertas kita tiap tahun, dikutip dari http://green.kompasiana.com.

  1. Penebangan hutan yang berlebih; jelas ini dampak yang paling bisa dirasakan akibat pabrik kertas, karena kebanyakan di Indonesia pabrik kertas masih menggunakan bahan baku kayu. Padahal sekarang ini keberadaan pohon sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global.
  2. Pencemaran air; dalam proses pembuatan kertas dibutuhkan jumlah air yang sangat banyak dan setelah proses tersebut air itu akan dibuang. Limbah cair inilah yang memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar pabrik, meskipun pada beberapa pabrik sudah memberikan treatment khusus agar pada saat dibuang sudah tidak mengandung bahan berbahaya lagi, namun kesalahan prosedur masih mungkin terjadi. Dan jika limbah langsung dibuang ke sungai maka akan membahayakan masyarakat di sekitar sungai.
  3. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar; hal ini dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk hidup di perairan sungai dan dapat mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrata yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan.
  4. Sludge pabrik kertas yang dibuang ke kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari tanah, air dan udara.

Ditambah lagi, biasanya undangan selalu dilindungi dengan sampul plastik pada bagian luarnya. Sehingga selain limbah kertas, pada setiap hajatan juga dihasilkan limbah plastik yang tidak kalah jumlahnya. Bungkus plastik dari undangan ini juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah lingkungan, di mana bahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat diuraikan secara sempurna oleh bumi. Perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini. Tidak membanggakan rasanya jika budaya dan tradisi yang telah menjadi ideologi bangsa Indonesia ini kemudian berkembang menjadi budaya limbah.

DESAIN BERKELANJUTAN

(sumber: bisnisukm.com)

(sumber: bisnisukm.com)

Fenomena ini mungkin cukup sederhana dan seringkali luput dari perhatian. Tetapi budaya limbah ini perlu diperhatikan secara serius karena dampaknya yang sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Diperlukan sebuah desain berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Desain berkelanjutan dapat dipahami sebagai desain untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati manusia (Priyoga, 2010). Dalam hal ini, menggunakan sumber daya alam terbarukan adalah salah satu solusi yang dapat dikembangkan. Seperti misalnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam atau bahan-bahan daur ulang sebagai material utama kartu undangan. Jika pun akan menggunakan limbah kertas maka diusahakan menggunakan 100% limbah kertas asli/serat papan bersertifikat National Association of Paper Merchants.

(sumber: arangbambo.wordpress.com)

(sumber: arangbambo.blogspot.com)

Tentunya gerakan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pemanfaatan limbah dan keberlanjutan lingkungan, sebab semakin besar acara hajatan yang berlangsung, semakin banyak para tamu yang diundang, maka semakin banyak pula kartu undangan yang dibutuhkan. Dampak dari hal ini adalah limbah yang didaur pun akan semakin banyak sehingga pada akhirnya lingkungan pun menjadi semakin sehat. Bahkan ketika kartu undangan versi “alam” ini menjadi limbah tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan karena akan lebih cepat dan lebih mudah terurai. Selain alternatif material, dapat juga disiasati dengan desain kemasan kartu undangan yang multifungsi. Sehingga setelah pesan penyelanggara hajatan tersampaikan, kartu undangan tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dengan fungsi yang berbeda. Walaupun konsep-konsep tersebut di atas masih tidak lazim dilakukan oleh masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita atau keluarga sendiri. Bukankah memulai sesuatu yang baru akan menjadi pembeda acara hajatan kita dengan acara hajatan pada umumnya? Bahkan acara hajatan yang dilangsungkan dapat lebih menarik bagi orang kebanyakan karena konsep kartu undangannya yang unik. Untuk itu mari bersama-sama kita berantas budaya limbah di Indonesia dan selamatkan bumi kita bersama!

 

REFERENSI

Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).

Yuliastuti, D. (2011). 2015, Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Mencapai 300 Juta. Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/09/27/060358499/2015-Jumlah-Penduduk-Indonesia-Bisa-Mencapai-300-Juta

Food Truck VS Café dan Restoran, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Zita Nadia

Jika membicarakan mengenai kuliner, telinga kita sudah tidak asing lagi tentunya dengan Bandung. Bandung dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia ini, tidak lepas dari tujuan wisata kuliner yang tersebar di kota ini. Mulai dari warung, café, dan restoran yang tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Ada sebuah fenomena kuliner baru yang muncul di tengah-tengah kota Bandung, yaitu fenomena food truck. Food truck mulai marak di Bandung sekitaran tahun 2013, kini food truck sudah menjadi alternatif bagi warga kota Bandung. Akan tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah food truck memberikan dampak yang lebih buruk bagi lingkungan jika dibandingkan dengan restoran? Ataukah justru restoran yang memiliki dampak yang jauh lebih buruk bagi lingkungan?

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Apakah Food Truck itu?

Food truck atau kedai makanan adalah salah satu cara untuk menjual makanan, dengan menggunakan truck kecil sebagai media untuk berjualan makanan. Food truck biasa berjualan di tempat tertentu selama beberapa saat, mereka bisa dianggap sebagai bisnis kuliner yang menghampiri pelanggan mereka. Food truck berasal dari Amerika Serikat, kegiatan ini sudah berlangsung dari awal abad ke-17. Seiring dengan perkembangan zaman, food truck mulai masuk ke kota besar di Indonesia,pada tahun 2012-2013, food truck mulai bermunculan di Kota Bandung. Ada beberapa food truck yang dikenal di Bandung, di antaranya adalah, Four Speed Nomad, Roti Pagi, Whatever Combi dan beberapa food truck lainnya. Maraknya food truck di Bandung pada saat ini, menjadi inspirasi adanya event Bandung Food Truck Festival pada 27 Februari- 1 Maret 2015 lalu, hal ini menunjukkan bahwa, food truck sudah menjadi salah satu tujuan kuliner bagi warga kota Bandung.

Mana yang Lebih Hemat Energi? Food Truck atau Café dan Restoran?

Jika melihat secara sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa food truck akan mengkonsumsi energi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan café dan restoran. Akan tetapi, perlu kita lihat, food truck memang menggunakan konsumsi bensin sebagai bahan bakar mereka, apalagi di Indonesia masih sulit ditemukan food truck dengan bahan bakar yang ramah lingkungan.Sedangkan untuk café dan restoran menggunakan gas lebih banyak jika dibandingkan dengan food truck. Penggunaan bahan makanan yang digunakan oleh Food Truck atau Restoran dapat mempengaruhi carbon footprint yang mereka punya,semakin banyak variasi menu, dan menu impor yang dimiliki, maka akan semakin besar sumbangan emisi karbonnya. Dalam hal penggunaan listrik dan air, food truck jauh lebih sedikit untuk menggunakannya, karena dari ruangan yang dimiliki oleh food truck jauh lebih kecil karena keterbatasan ruang dibandingkan dengan café dan restoran.

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Untuk membuktikan observasi dilakukan dengan 2 food truck ,2 restoran dan 1 café yang memiliki konsep berbeda. Food truck yang diobservasi adalah Roti Pagi, dan Susu Murni Dipati Ukur (SuMur DU). Roti Pagi beroperasi pada pagi sampai sebelum tengah hari, dia memiliki 1 ruangan, tidak menggunakan lampu sama sekali, dan menggunakan kompor 2 tungku. Dalam segi menu, Roti Pagi hanya memiliki 4 menu sandwich dan 3 minuman. Sedangkan untuk SuMur DU, menggunakan kompor kecil, 2 buah lampu,dan hanya beroperasi pada malam hari. Untuk menu mereka hanya memiliki susu dan tidak memiliki menu makanan. Untuk restoran dan café , yang diobservasi adalah Karnivor, Kantin Tong-Tong dan Café DU71-a.

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Karnivor memiliki lahan yang cukup besar, setiap meja dilengkapi dengan lilin, dan lampu. Pada saat observasi jam 5 sore seluruh lampu telah dinyalakan. Karnivor memiliki toilet yang terpisah antara pria dan wanita. Untuk menu, ia memiliki lebih dari 10 jenis menu,mayoritas terdiri dari daging, dan terdapat beberapa menu dalam ukuran besar. Karnivor beroperasi dari jam 11.00-21.00. Sedangkan Kantin Tong-Tong memiliki ukuran tempat yang kecil (hanya seperempat dari luas karnivor), tidak memiliki toilet, lampu dinyalakan pada malam hari, karena saat pagi memanfaatkan cahaya matahari. Untuk variasi menuyang dimiliki bernuansa Indonesia. Café DU71-a, sebuah café kecil, namun lebih besar dari kanting tong tong. Terdiri dari area indoor dan outdoor, memiliki 1 toilet unisex, lampu yang ada lebih sedikit daripada yang digunakan karnivor. Hal yang perlu dicermati adalah, setiap meja memiliki colokan listrik bagi para pengunjung. Jika melihat hasil observasi, food truck yang ada jauh lebih hemat dalam soal penggunaan energi, karena restoran dan café memiliki potensi lebih boros energi. Dengan semakin besarnya ukuran restoran tersebut, dan variasi menu yang jauh lebih banyak juga dapat memicu carbon footprint yang jauh lebih besar. Jadi dari hasil observasi dalam soal energi, food truck masih lebih ramah lingkungan.

Limbah yang Dihasilkan Food Truck Dibandingkan dengan Café dan Restoran

Jika membicarakan mengenai sampah, kita bisa memperkirakan dari peralatan makan dan jumlah pengunjung yang datang. Roti Pagi menggunakan tatakan kayu yang diberikan kertas tipis dan gelas kertas, tatakan kayu bisa digunakan kembali namun sisanya harus dibuang, jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. SuMur DU, menggunakan gelas dan sedotan. Gelas kaca dapat digunakan berulang kali, dan jumlah pengunjung cukup banyak. Kantin Tong tong, Karnivor dan DU71-a, semuanya menggunakan peralatan makan yang bisa digunakan kembali, sehingga mengurangi jumlah limbah, ketiga tempat ini ramai didatangi, namun yang paling ramai adalah Karnivor. Jika melihat sekilas dari segi alat makan, restoran jauh lebih baik karena menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali, namun limbah makanan akan bertambah banyak seiring dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang, dan restoran jauh lebih berpotensi memberikan limbah yang lebih banyak.

Jadi,Manakah yang lebih Ramah Lingkungan? Dan Solusi Desain Apa yang Dapat Ditawarkan Untuk Menjadi Lebih Baik bagi Lingkungan?

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Dalam segi penggunaan energi, dari hasil observasi food truck dapat dikatakan lebih hemat dari restoran, apalagi jika restoran tersebut berukuran besar dan ramai. Ramah lingkungan atau tidak, industri makanan sangat bergantung dari konsep yang dimiliki. Restoran, café dan food truck memiliki potensi untuk menjadi sebuah industri yang lebih ramah lingkungan, industi kuliner dapat menerapkan beberapa hal berikut untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan, seperti:

  1. Menggunakan packaging yang mudah terurai dengan alam.
  2. Menggunakan bahan bakar seperti biodiesel, bahan bakar alternatif atau mobil dengan menggunakan tenaga solar (diperlukan desain yang seksama agar fitur ini dapat digunakan dengan optimal).
  3. Menggunakan lampu LED untuk sumber penerangan.
  4. Menjual produk-produk lokal dan organik.

Akan tetapi semua solusi di atas baru dapat berguna, jika menerapkannya bersama-sama, tidak sendirian. Ingat, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan kita?

 

Sumber dan Berita Terkait

http://gracelinks.org/blog/696/can-a-food-truck-be-green-in-a-word-yes

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140816204549.htm

http://www.treehugger.com/green-food/ask-pablo-are-food-trucks-greener-than-restaurants.html

http://www.citylab.com/design/2013/02/are-food-trucks-worse-environment-storefronts/4538/

https://stage.la-lights.com/lifestyle/mengenal-sejarah-food-truck-1410319.html

http://m.detik.com/travel/read/2015/02/27/185025/2845356/1382/wisata-kuliner-akhir-pekan-di-bandung-ada-food-truck-festival

Sekolah Negeri Sampah

Olivya Nike Noman

 

Menengguk minuman dingin di siang hari rasanya memang begitu segar, apalagi jika kita sedang beraktifitas di luar. Bahkan sudah hampir menjadi kebiasaan kita setiap hari untuk membeli produk-produk minuman dingin dalam kemasan ketika jam istirahat di kantor maupun di kampus. Minuman dalam kemasan memang sangat menyegarkan dan sangat praktis untuk menemani aktifitas kita yang padat. Mudah didapatkan di mana saja, mudah dibawa dan ketika sudah habis kita tidak perlu repot membawa pulang botolnya, cukup mencari tempat sampah dan buang saja botolnya.

Seiring permintaan pasar yang semakin meningkat, varian minuman dalam kemasan yang ditawarkan pun semakin beragam. Bahkan menurut Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan kisaran peningkatan 15% per tahunnya. Dari data mereka, pada tahun 2014 produksi air minum dalam kemasan di Indonesia mencapai 24 miliar liter.

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna) Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Menurut Wawan Some, seorang aktifis lingkungan di Surabaya, ketika pada tahun 2011 produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan mencapai angka 17 miliar liter, maka dibutuhkan 500.000 ton botol plastik sebagai kemasannya. Yang artinya pada tahun 2011 itu juga dihasilkan 500.000 ton sampah botol plastik di Indonesia. Maka jika pada tahun 2014 kemarin produksi minuman dalam kemasan mencapai 24 miliar liter, berarti dibutuhkan juga 700.000 ton botol plastik untuk mengemasnya. Atau dengan kata lain pada tahun 2014 saja Indonesia memproduksi 700.000 ton sampah botol plastik.

Maka tidak heran jika menurut studi terbaru yang dilakukan Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan di University of Georgia, Indonesia terlacak sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia setelah China. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Science pada pertengahan Februari 2015 tersebut, jumlah akumulasi sampah plastik di lautan dunia telah mencapai 8,8 juta ton. Dalam penelitiannya Jambeck juga memproyeksikan bahwa jumlah akumulasi sampah plastik di lautan akan mencapai sekitar 170 juta ton pada tahun 2025 jika para penyumbang sampah plastik terbesar, yakni mayoritas negara-negara berkembang di Asia tidak menanggulangi cara pembuangan sampah.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Dari 8,8 juta ton sampah plastik di lautan, China bertanggung jawab atas 27%-nya atau sekitar 2,4 juta ton. Memang tidak disebutkan berapa jumlah sampah plastik yang berasal dari Indonesia, namun yang pasti Indonesia tetap berada di urutan kedua. Dengan adanya ‘lautan’ sampah plastik di lautan dunia akan sangat mengancam kelangsungan hidup hewan-hewan di sekitarnya, seperti burung-burung laut, mamalia laut, penyu laut, dan hewan laut lainnya. Selain termakan oleh hewan-hewan laut yang kemudian menyebabkan kematian hewan-hewan laut, adanya sampah plastik di lautan dunia juga mengumpulkan racun yang cukup untuk menghancurkan ekosistem lautan. Adapun bentuk terbanyak dari sampah plastik di lautan dunia antara lain kantung belanja, botol, mainan, pembungkus makanan, peralatan memancing, puntung rokok, kacamata, ember dan tempat duduk toilet.

Indonesia menghasilkan 700.000 ton sampah botol plastik pada tahun 2014 dan terus meningkat setiap tahunnya, Indonesia juga merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia dengan botol plastik menjadi bentuk kedua terbanyaknya. Itu berarti bahwa sampah botol plastik memang butuh ditangani lebih serius di Indonesia.

Jika kita lihat di internet, kita dapat menemukan cara-cara untuk mendaur ulang botol plastik agar dapat digunakan kembali sebagai pot tanaman misalnya, sebagai tempat pensil maupun sebagai kap lampu yang dapat mempercantik rumah. Namun pada kenyataannya banyak orang yang enggan menggunakannya dengan alasan rumah mereka akan terkesan murah dengan penggunaan material sampah botol plastik sebagai elemen dekorasi rumah mereka. Selain itu jumlah penggunaannya pun tidak banyak, misalnya hanya diperlukan satu botol saja untuk membuat pot atau tempat pensil yang dapat digunakan berahun-tahun. Maka dari itu, cara-cara daur ulang sampah botol plastik tersebut sebenarnya kurang efektif karena jumlah produk yang didaur ulang dari sampah botol plastik sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan sampah botol plastik yang kian bertambah setiap harinya.

Sempat terpikir di benak saya bagaimana jika botol plastik dijadikan bangunan saja. Tetapi kemudian terpikir juga botol plastik terlalu ringan, maka mungkin hanya dapat menjadi kandang hewan. Namun suatu hari seorang teman menunjukkan sebuah gambar yang sangat menarik. Rupanya di Nigeria, sampah botol plastik telah disulap menjadi rumah. Proyek pembangunan rumah menggunakan sampah botol plastik di Nigeria ini dirancang oleh DARE (Development Association for Renewable Energies), sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya untuk membuat produk-produk daur ulang.

DARE menyatakan proyek ini sebagai salah satu strategi paling tepat untuk menata lingkungan sekaligus sebagai solusi mengurangi kurangnya perumahan bagi warga Nigeria. Rumah dengan luas 58 meter persegi dengan dua kamar ini membutuhkan setidaknya 14.000 botol plastik kemasan 1,5 liter atau sama dengan 400 kg sampah botol plastik untuk satu rumah, jumlah yang cukup banyak untuk mengurangi sampah botol plastik. Maka jika jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 700.000 ton per tahunnya dapat dibangun 1.750.000 rumah dengan biaya 1/3 dari dari biaya membangun rumah pada umumnya.

Solusi ini sebenarnya sangat cocok jika diterapkan di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah botol plastik terbanyak di dunia. Apalagi jika solusi ini diterapkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri yang kurang terawat hingga banyak yang roboh dan menghambat proses belajar mengajar. Kurangnya dana dari pemerintah untuk merawat dan membangun sekolah negeri menyebabkan robohnya bangunan sekolah negeri terjadi di mana-mana. Dengan memanfaatkan sampah botol plastik sebagai bahan dasar bangunan pengganti batu bata seperti dikatakan sebelumnya, dapat menghemat biaya pembangunan hingga 1/3 dari biaya pembangunan dengan batu bata pada umumnya. Selain menghemat biaya pembangunan, juga mengurangi jumlah sampah botol plastik yang menjadi momok lingkungan. Win-win solution, isn’t it?

Membuat bangunan dengan bahan sampah botol plastik tidak sulit. Pertama botol plastik diisi dengan pasir, kemudian susun botol menggunakan kawat sehingga botol terikat pada posisinya dengan kuat. Terakhir gunakan semen sebagai perekatnya. Tutup botol yang beraneka warna juga menghasilkan keunikan tersendiri sehingga dapat menjadi unsur dekorasi bangunan yang unik.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Mengenai kekuatan bangunan, para inisiator proyek di Afrika bahkan mengklaim bangunan dengan bahan sampah botol plastik berisi pasir ini lebih kuat dari batu bata biasa.”Strukturnya memiliki keuntungan lain antara lain tahan api, tahan peluru dan tahan gempa bumi. Selain itu suhu di dalam ruang bisa bertahan 180C karena pasir mampu meredam panas matahari sehingga cocok untuk diterapkan di kawasan tropis,” kata koordinator proyek di Nigeria, Yahaya Ahmad.

Maka sekolah negeri dari sampah botol plastik rupanya menjadi solusi yang murah sekaligus ramah lingkungan bagi Indonesia. Tidak seperti bata yang harus proses tradisionalnya dibakar, membutuhkan banyak kayu, serta berkontribusi pada penebangan hutan, sampah botol plastik tidak. Bisa dibayangkan ada tiga kali lipat jumlah sekolah negeri yang dapat diperbaiki dengan anggaran yang sama, serta jumlah sampah botol plastik yang termanfaatkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri sampah tersebut. Anak-anak terfasilitasi pendidikannya, beban bumi pun berkurang.

Memberi Makan Bangsa: Mengurangi Buangan Makanan

Memberi Makan Bangsa : Mengurangi Buangan Makanan

Sheila Andita Putri

 

Bencana yang Menanti: Krisis Pangan Dunia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Jonathan Foley, Director of the Institute on the Environment (IonE) at the University of the Minnesota dalam tulisannya yang berjudul Feed the World untuk National Geographic, jumlah populasi manusia yang tersebar di muka bumi berada di kisaran angka 9 miliar orang. Pada 2050, kenaikan populasi diperkirakan meningkat hingga 35%, dan untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi manusia tersebut memerlukan produksi pangan hingga dua kali lipat dari yang ada sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga permintaan akan jenis makanan tertentu, terutama yang berasal dari hewan, juga meningkat.

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Dengan bertambahnya populasi, kebutuhan akan ruang/ area untuk kehidupan terus meningkat. Luasan bumi sendiri terancam terus berkurang karena kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global yang melelehkan es dari kutub. Ukuran planet bumi sendiri tentunya takkan berubah menyesuaikan pertumbuhan manusia, sehingga kemudian muncul pertanyaan: bagaimana memberi makan seluruh manusia di bumi?

Di Indonesia sendiri, bencana kelaparan diam-diam mengancam akibat kondisi ekologi yang mulai rusak akibat aktifitas eksploitasi material alam yang berlebihan oleh industri baik legal maupun tidak. Rusaknya kondisi alam diperparah dengan perubahan iklim global yang berpotensi memunculkan bencana kekeringan yang tentunya berdampak pada produksi bahan makanan.

Berdasarkan keterangan dari  Robert Aritonang, antropolog dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dalam berita yang dimuat di KOMPAS 3 maret 2015, munculnya fenomena kematian beruntun yang dialami kelompok Orang Rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang diakibatkan bencana kelaparan. Tanpa penanganan darurat dan cepat, angka kematian itu akan terus bertamba. Bencana serupa pernah terjadi tahun 1999 dengan menewaskan 13 warga Orang Rimba. Wilayah itu mengalami paceklik, dan diperparah pembukaan hutan menjadi kebun dan hutan tanaman industri. Pada masa itu, sekitar 30.000 hektar hutan yang menjadi sumber pangan Orang Rimba lenyap.

Krisis pangan juga seiring dengan pembukaan hutan tanaman industri di sekitar area jelajah Orang Rimba. Dari 130.000 hektar luas hutan Orang Rimba dalam ekosistem Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari, kini tersisa hanya 60.400 hektar. Sumber obat alami dalam hutan yang biasa dimanfaatkan Orang Rimba kini semakin berkurang.

Food Waste : Kebiasaan Kita Membuang Makanan

Ironisnya, meskipun kebutuhan akan makanan terus meningkat, Lebih dari sepertiga dari semua makanan yang diproduksi di planet kita tidak pernah mencapai meja.. Penyebabnya dapat berupa kerusakan produk dalam proses pengiriman ataupun dibuang begitu saja oleh para konsumen di negara negara kaya , yang cenderung membeli terlalu banyak dan menciptakan sisa makanan yang berlebihan (Smith, Roff. How Reducing Food Waste Could Ease Climate Change. Nationalgeographic . Published January 22, 2015). Apabila buangan makanan ini dapat ditekan dan produksi makanan dapat lebih dioptimalkan, hal ini dapat membantu penanggulangan krisis makanan di belahan dunia yang lain.

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Beberapa sumber yang menyebabkan tingginya angka buangan makanan antara lain:

  • Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual. Beberapa perusahaan yang memiliki regulasi yang ketat mengharuskan produk makanan yang diproduksi pada hari tersebut tidak boleh dijual kembali kepada konsumen keesokan harinya. Secara umum produk masih layak dikonsumsi namun harus dibuang karena regulasi tersebut.
  • Hasil pertanian yang tak memenuhi seleksi standar yang ditetapkan oleh pasar. Produk reject ini sesungguhnya dapat dikonsumsi, hanya saja tidak memenuhi ketentuan ukuran, warna, dan kualitas tertentu sehinggan harus dibuang.
  • Pembelian yang berlebihan. Mudahnya produk makanan diperoleh dan gaya hidup yang menuntut kepraktisan mengembangkan kebiasaan menyetok makanan dalam jumlah banyak. Namun terkadang stok yang banyak ini tidak sempat dikonsumsi hingga melewati batas kadaluarsa dan pada akhirnya harus dibuang. Kebiasaan makan di luar dan pengaruh marketing terhadap makanan yang dijual juga mendorong orang untuk memesan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan.

Proses menyediakan makanan bagi kita ini sendiri adalah proses yang panjang dan kompleks. Mulai dari proses produksi, pengiriman, hingga akhirnya sampai di piring kita telah meninggalkan jejak ekologi yang tidak sedikit. Selain mengancam keberlangsungan alam, Food Waste yang tidak ditangani dengan baik menciptakan ketidakseimbangan kualitas hidup di bumi. Bencana kelaparan di belahan bumi yang satu, sementara penyianyiaan bahan makanan di belahan bumi lain.

Permasalahan Food Waste ini sesungguhnya merupakan isu global yang tidak bisa kita abaikan. Langkah kecil yang dimulai dari kita sendiri dapat mendorong terjadinya perubahan besar bagi bumi.

Bagaimana Desain dapat membantu mengatasi Food Waste

Desain dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan sumber makanan yang ada. Salah satu solusi desain yang bias diajukan adalah, sistem informasi pada label produk makanan. Selain informasi mengenai fakta nutrisi dan tanggal kadaluarsa, seyogyanya label juga memuat cara penyimpanan yang baik dan benar, lamanya produk harus di-display di toko (terutama produk bahan mentah), dan informasi lain terkait pemanfaatan maksimal dari produk tersebut, misalnya link ke situs yang mengajarkan cara mendaurulang makanan produk tersebut menjadi produk lain seperti pakan ternak atau pupuk.

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Selain sistem labelling, desain kemasan hendaknya dapat memuat info untuk meningkatkan kesadaran tentang food waste. Kesadaran ini terkait bijak berbelanja dan kesadaran untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Bentuk program CSR terkait isu ini dapat dilakukan dengan campaign dan ad. Info yang diberikan berupa upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasi food waste.

Upaya sederhana itu antara lain:

  • Berbelanja dan mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan
  • mendonasikan makanan yang tidak terkonsumsi namun masih dalam keadaan baik
  • mendaur ulang sisa makanan (menjadi pupuk kompos ataupun pakan ternak)

Solusi lain dalam skala yang lebih besar, dapat dibentuk sebuah tim khusus yang bertugas mengumpulkan Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual namun dalam keadaan yang masih layak konsumsi untuk dibagikan kepada orang- orang yang membutuhkan. Makanan tersebut dibagikan di hari yang sama, dalam jumlah yang dibatasi. Titik pembagian dipusatkan pada lokasi yang telah disurvei, dan produk tersebut diberi penanda tertentu untuk mencegah makanan tersebut dijual kembali. Setiap pengusaha makanan dapat membuat suatu perjanjian resmi dengan tim khusus tersebut terkait distribusi produk dan kualitas keamanan sisa produk makanan tersebut.

Kehidupan Setelah Kehidupan

Daur Ulang Manusia

Henry Darmawan

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

Sumber: Bios Urn Website (www.urnabios.com)

“Ketika kamu mati, apakah kamu ingin menjadi makanan cacing atau makanan tupai ?” pertanyaan ini menghentakan pemikiran saya ketika membacanya dari sebuah web. Saya jadi teringat di akhir taun 2012 di mana Nenek saya meninggal di akhir tahun tersebut dan membayangkan sekarang apa yang tengah terjadi dengan jasadnya yang dikuburkan.

Saya tahu betul bahwa kematian bukanlah hal yang murah. Mulai dari pembelian tanah untuk meletakan jasad, peti seharga jutaan, kemudian memasang hiasan mulai dari batu alam sampai nisan marmer lengkap dengan segala grafir tulisannya yang menguras banyak uang. Bahkan sejak pemakaman, hanya 1x saya mengunjungi almarhum. Kemudian saya berpikir kenapa kita membuang sedikitnya 2m2 luas dari permukaan bumi dan melapisinya dengan batu atau marmer, atau hanya segundukan tanah yang memiliki kandungan sangat subur karena mineral dari jasad kita hanya untuk tempat tinggal cacing dan belatung ?

Apakah ketika kita meninggal nanti kita akan mengurangi 2m2 dari luas bumi yang selamanya akan menjadi kuburan kita ?Atau kita memilih dibakar dan tinggal dalam sebuah Urn ? Atau mungkin abu kita ditaburkan di lautan?

Di Indonesia sendiri kini bisnis kuburan menjadi salah satu bisnis yang sedang naik daun. Sebut saja kawasan San Diego Hill atau pemakanan Al Azhar yang merupakan pemakaman mewah yang dilengkapi dengan kolam renang, café, tempat ibadah, dan pusat rekreasi. Saya sungguh tidak habis pikir kenapa orang berbondong-bondong membeli dan menghabiskan begitu banyak uang untuk menguburkan sebuah jasad di tempat mewah yang mereka kunjungi mungkin hanya 1 tahun 1 kali, atau bahkan lebih jarang lagi. Dan lebih dari itu, jasad di tempat mewah ataupun bukan tetap saja akan terdekomposisi menjadi makanan cacing.

Pada tahun 2007, Mary Woodson melakukan riset dan menemukan 827.060 galon embalming fluid, 90.272 ton baja (dari peti), 2.700 ton timah dan tembaga (dari peti), 1.636.000 ton beton (hiasan pemakaman / vaults), 14.000 ton baja (hiasan pemakaman / vaults), serta 30juta lebih papan seukuran 1 kaki dari kayu. Kandungan ini semua yang terdapat pada kuburan di Amerika Serikat.

Rata-rata angka kematian manusia setiap hari adalah 67,000 jiwa dalam 1 hari (sumber: http://m.worldometers.info). Jika setengahnya dikuburkan dan setengahnya dibakar maka ada sekitar 18,000 m2 tanah yang digunakan sebagai kuburan setiap harinya. Angka ini memang angka yang kecil jika dibandingkan dengan luas daratan bumi. Setidaknya jika setiap hari 67,000m2 dihabiskan untuk menjadi lahan berkembang biak cacing dan belatung maka masih membutuhkan 5,9 juta tahun untuk membuat seluruh permukaan bumi ini menjadi kerajaan cacing.

Tapi isu yang perlu kita pikirkan adalah apakah jasad kita memang hanya untuk kejayaan para cacing? Bagaimana kita bisa mendaur ulang jasad manusia menjadi kehidupan? Mungkinkah hal itu terjadi?

Hukum Kekekalan Energi

Saya kembali teringat dengan sebuah film yang saya tonton ketika saya kuliah berjudul The Fountain karya Dareen Aronofsky pada tahun 2006. Film ini dibintangi oleh Hugh Jackman, Rachel Weisz, dan Ellen Burstyn. Saya tidak akan menceritakan kisah lengkapnya di sini tapi ada sebuah pesan yang terus saya ingat dari film ini. Setelah saya menonton film ini saya ingin ketika saya mati, saya dikuburkan dan di atas jasad saya ditanam sebuah pohon agar energi dan mineral di tubuh saya menjadi nutrisi pohon yang menghasilkan oksigen dan juga buah bagi mereka yang masih hidup.

Ketika saya membagikan apa yang saya pikirkan pada teman-teman, mereka berkata bahwa anak-anak saya kelak akan memiliki pohon angker di belakang rumah dengan nada bercanda. Tapi saya rasa itu adalah halangan yang terbesar yang ada di masyarakat asia di mana hantu dan kuburan masih sangat kental.

Untuk menjawab rasa angker ternyata beberapa designer di daerah Eropa telah mengembangkan sebuah desain pemakaman yang lebih murah dan juga ramah lingkungan. Misalnya saja yang dikembangkan oleh Martin Azua seorang Spanyol yang menciptakan Bios Urn, yaitu sebuah biodegredable Urn yang dapat menyimpan abu manusia dan mengubahnya menjadi pohon. Bahkan pada website-nya Martin Azua membantu penggunanya untuk mengkampanyekan keinginan terakhir seseorang untuk menjadi pohon menjadi salah satu wasiat berbasis media sosial untuk mengembangkan produknya. Selain Bios Urn ada juga The Spirit Tree yang memiliki konsep mirip.

Sumber: Big Think

Sumber: Big Think

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

(www.bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree)

Dengan menggunakan produk Bios Urn / Spirit Tree maka abu sisa pembakaran manusia / hewan peliharaan dapat disimpan dalam wadah dan dikuburkan untuk kemudian berubah menjadi pohon. Ide dasarnya sebenarnya sama dengan yang saya pikirkan ketika menonton The Fountain akan tetapi dengan desain yang lebih menarik, praktis, serta tidak melibatkan menanam mayat, menjadikan produk ini mungkin salah satu produk yang bisa kita bangun dan kampanyekan bahkan di Indonesia.

Urn tersebut memiliki bahan 100% biodegradable, terbuat dari batok kelapa, peat, dan selulosa yang akan terurai. Sebetulnya lebih baik jasad yang dikuburkan bersamaan dengan benih karena jasad memiliki kandungan mineral yang dibutuhkan oleh tanaman lebih banyak daripada hasil pembakaran dalam sebuah urn.

Kematian adalah suatu fase yang akan ditemui oleh setiap manusia, hanya saja bagaimana kita bisa memberikan warisan terakhir bagi generasi selanjutnya. Daripada kita hanya meninggalkan batu nisan serta pesta besar bagi para cacing di tanah, bukankah lebih baik jika energi mineral yang kita miliki menjadi nutrisi bagi pohon yang juga menyerap CO2, menghasilkan oksigen, dan mungkin juga menghasilkan buah.

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Sumber : Bios Urn website (www.urnabios.com)

Bayangkan jika setiap hari ada setidaknya 20,000 pohon (di bawah 30% dari angka kematian 1 hari) yang ditanam dalam bentuk kuburan, maka kita akan menanam setidaknya 6 sampai 7 juta pohon setiap tahun di berbagai belahan dunia. Bayangkan sebuah pemakaman / kuburan akan berfungsi sebagai hutan penghasil oksigen dan cagar alam. Jika diterapkan di Indonesa, misalnya di daerah Jakarta, maka pemakaman hutan maka bisa juga sebagai daerah resapan air.

Selain memberikan efek lingkungan yang baik, secara materipun penggunaan ide untuk mengubah jasad menjadi pohon jauh lebih ekonomis karena tidak memerlukan hiasan marmer, beton, dan hiasan lainnya. Dari segi perawatan juga jauh lebih mudah dan ramah lingkungan.

Pilihan Menghadapi Kematian

Pada artikel yang ditulis oleh C.A.Beal tentang “Jadilah Pohon; Petunjuk Kuburan Alami untuk Mengubah Dirimu Menjadi Hutan.” Dibahas mengenai berbagai macam sejarah dari kuburan dan bagaimana tradisi serta budaya dari berbagai daerah tentang menguburkan jenasah. Mulai dai dibakar, dibakar di laut/sungai (seperti dalam film-film kerajaan medieval) sampai dibalsam dan lainnya. Menurut beliau, kematian adalah fase yang harus dijalani oleh setiap manusia dan bagaimana cara kita dikuburkan itu adalah sebuah pilihan untuk menjalani fase tersebut. Apakah pilihan kita akan menghadapi kematian itu adalah sebuah pilihan yang tepat ? Apakah kita memandang kematian sebagai sebuah akhir? Ataukah kita memandang kematian merupakan sebuah kegiatan penciptaan?

Pada akhirnya jika hanya satu atau dua orang yang melakukannya efeknya tidak akan sebanding jika banyak orang yang melakukannya. Jika kita bisa mengubah kebiasaan dan kebudayaan kita dalam melakukan pemakaman maka generasi ini akan memberikan sumbangsih bagi generasi sesudahnya. Apakah generasi kita akan mewariskanbatu nisan? Atau hutan?

 

SUMBER

http://bigthink.com/design-for-good/if-you-liked-the-bios-urn-youll-love-the-spirit-tree

http://www.beatree.com/

Home

http://www.imdb.com/title/tt0414993/

http://m/worldometers.info

 

RumputAlunAlun.bdg

logo itb 1920Di awal kuliah Desain Berkelanjutan di Magister Desain ITB, seperti biasa mahasiswa peserta kuliah, dalam kelompok, diminta untuk mempresentasikan secara ringkas pemahaman mereka mengenai isu ekologi, keberlanjutan, dan kontribusi Desain terhadap isu tersebut, baik positif maupun negatif. Kali ini, ada beberapa topik yang diangkat, mulai dari limbah medis, energi, gawai, hingga polusi, dan ada juga mengenai lingkungan kota yang membahas rumput sintetis di Alun-Alun Kota Bandung. Rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini memang lumayan hangat dibicarakan, terutama di media sosial, sejak baru terpasang. Bagaimana tanggapan sekelompok mahasiswa S2 Desain mengenai hal tersebut?

Bahasan mengenai rumput sintetis ini dimulai dengan asal material itu sendiri.

Slide1Slide2Rumput sintetis yang diimpor telah sarat jejak beban ekologi akibat berlangsungnya proses distribusi, transportasi, dan sebagainya. Ada hal-hal positif dan negatif seputar penggunaan rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini. Kelebihannya adalah dalam hal perawatan, daya tahan (durability), dan harga. Kekurangannya adalah ketidak-mampuannya menghasilkan oksigen seperti halnya rumput hidup, adanya substansi berbahaya yang dikeluarkan material tersebut, dan tidak dapat hancur secara biologis (non-biodegradable).

Slide3Slide4Perawatan rumput sintetis ini pada dasarnya berupa pembersihan dari sisa-sisa makanan/minuman, dan sampah-sampah lain, termasuk kotoran hewan dan permen karet(!) yang paling sulit dilakukan. Perawatan lanjutan memerlukan peralatan khusus, seperti sikat untuk meluruskan tekstur rumput, penghawaan, dan lain-lain. Lalu ada pula bahan pembersih yang biasa digunakan untuk memelihara rumput sintetis ini, seperti cairan penghilang minyak dan jamur, sekaligus pewangi.

Slide5Slide6Berbagai jenis perawatan ini memang tidak mudah, tapi Pemerintah Kota Bandung memang memiliki alasan tersendiri untuk menerapkan rumput sintetis, bukan rumput hidup, di Alun-Alun Bandung; antara lain adalah karena adanya basement di bawahnya. Pertimbangan ini tidak dibahas lebih lanjut dalam sesi ini, karena yang lebih menarik adalah adalah berbagai skenario perlakuan rumput sintetis ini bila masa pakainya telah berakhir. Keputusan menjadikannya material daur-ulang maupun pakai-ulang tentu tergantung kualitasnya di akhir siklus pakainya nanti. Tentu saja, makin ia dipergunakan dan dirawat dengan baik, makin tahan lama.

Dalam diskusi, disepakati bahwa perilaku pengguna warga Bandung terhadap rumput sintetis ini juga sangat penting. Minimal dengan tidak meninggalkan sisa makanan/minuman pada permukaan rumput ini, dan menjaga kebersihannya dari kotoran lain seperti lumpur/tanah pada sepatu, dan lain-lain. Karena, sebagus apa pun fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota, tidak akan bisa bertahan bila warga tidak turut aktif dalam mempergunakan berbagai fasilitas tersebut secara wajar dan turut memeliharanya.

 

Tautan terkait:

 

Tugas I SENDAL2015

Assignment I Art, Design, Environment FSRD ITB semester II/2014-2015

logo itb 1920In a group of 5, compose a proposal containing an idea and/or a project for a design/art/craft work/object/artifact (including system, activation, etc.). Theme: SMART CITY (within Bandung context)

Ideas or projects for this theme include:

  • Responds in a form of a creative intervention toward current smart city issues in Bandung
  • Works on spaces, functions, or systems of city elements that relate to smart city issues (signage, public art, program, etc.)
  • Problem solving through creative ideas/works that do not depend on massive infrastructure, big budgeting, or complex bureaucracy

Format:

  • Paper size A4, horizontal
  • Page 1: title/theme + group identity
  • Page 2 onward: concept and visualization
  • Submission: 30 January 2015

Page 1 >> Ideas/Projects Concept:

  • Basic ideas/ motivations, objectives
  • Material
  • Scenarios of placement/ function/ operational, etc.
  • Other points that are relevant to the realization plan

Page 2 onward >> Visualization of ideas/projects (sketches, digital image, model/mock-up, etc.). Free techniques, as long as the ideas/projects can be clearly presented.

Chiang Mai Design Week

Born Creative

Born Creative

Ini adalah pertama kalinya Chiang Mai menyelenggarakan Design Week (Chiang Mai Design Week/ CMDW), dengan tema Born Creative, diselenggarakan oleh Thailand Creative & Design Center (TCDC) dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Chiang Mai dan The Office of Knowledge Management and Development (OKMD). Selama satu minggu penuh, 6-14 Desember 2014, beragam aktivitas dan program yang berhubungan dengan desain dan kreativitas diselenggarakan di banyak titik di Kota Chiang Mai. Saya berkesempatan hadir di CMDW perdana ini karena diundang untuk menjadi salah satu narasumber di salah satu acara utama CMDW yaitu di sesi Creative City dalam program Creative Dialogue, sebuah talk show yang diselenggarakan di venue utama CMDW, yaitu TCDC Chiang Mai. Berikut ini adalah beberapa hal menarik mengenai penyelenggaraan CMDW di kota yang karakter dan skalanya menyerupai Bandung ini.

 

Paket Buku Acara dan Peta

Penyelenggara telah menyiapkan buku acara dengan jadwal dan detail tiap program, plus peta yang memberi informasi lokasi sebaran venue tempat program/acara berlangsung. Titik-titiknya pun memiliki kode berbeda untuk tiap jenis acara, misalkan: pameran, instalasi kota, workshop, dll. Paket buku acara dan peta ini dapat diperoleh gratis di booth informasi CMDW yang tersebar juga di beberapa titik kota yang menjadi venue besar CMDW, selain juga dapat diakses melalui website CMDW http://www.chiangmaidesignweek.com/map_location/. Dengan adanya informasi yang selalu ter-update ini, pengunjung dapat merencanakan perjalanan dan waktu kunjungannya ke CMDW.

 

Elemen kota: Instalasi Seni dan Penanda Venue

Tersebar di Chiang Mai, beberapa instalasi seni yang juga ditandai sebagai bagian dari CMDW. Tiap instalasi diberi penanda yang serupa dengan penanda di setiap venue atau gedung yang berpartisipasi di CMDW; bentuknya mirip penyangga kanvas untuk melukis. Penanda ini, selain diberi nomor sesuai dengan yang terdapat di peta dan buku acara, juga memuat informasi mengenai instalasi yang terpasang dan pembuatnya.

Penanda ini sangat membantu bagi pengunjung yang sengaja hendak mampir ke berbagai venue CMDW, terutama karena beragamnya jenis venue yang berpartisipasi di CMDW ini; dari café, gudang ‘kosong’ dan gedung-gedung pemerintahan, hingga hotel bersejarah dan spa yang memiliki reputasi global. Hal ini juga menyebabkan siapa pun yang berada di Chiang Mai menjadi mengetahui mengenai CMDW dan dapat turut menikmati suasana dan karya-karya di CMDW.

Selain instalasi dan penanda venue, terdapat pula elemen promosi di beberapa titik seperti di terminal kedatangan di bandara Chiang Mai, di persimpangan jalan, dan lain-lain, namun tidak sampai mengalihkan dari rambu-rambu utama maupun mengganggu pemandangan kota.

 

Tur Sepeda

Selama berlangsungnya CMDW, terdapat tawaran tur sepeda gratis yang menawarkan kunjungan ke beberapa venue CMDW, sekaligus paket-paket workshop selama tur berlangsung. Chiang Mai belum mempunyai sistem bike sharing di kotanya, dan tim operator tur sepeda ini pun sebagian besar datang dari Bangkok, sementara sepeda-sepedanya diadakan oleh sponsor. Di luar acara tur, sepeda-sepeda ini dapat dipergunakan secara gratis oleh siapa pun, dan dapat diambil atau dikembalikan di pos-pos sepeda mana pun yang tersedia di venue CMDW.

Tur sepeda ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pagi hari, sekitar 15 pesertanya sudah berkumpul di meeting point awal, di TCDC. Setelah diberi pengarahan singkat mengenai cara berkendara yang aman dan membentuk buddy system untuk selama tur berlangsung, kami berjalan kaki ke sebuah venue CMDW lain yang terletak di seberang jalan TCDC. Venue ini berupa sebuah lahan kosong di mana terdapat sebuah gudang semi-terbuka, yang selama CMDW berlangsung menjadi tempat pameran. Di pelatarannya terdapat satu kontainer barang yang diubah menjadi ruang display (pameran furnitur Skandinavia) dan satu area yang berfungsi sebagai dapur dan café terbuka untuk acara diskusi, serta sebagian lahan yang menjadi tempat parkir dan pos sepeda. Setelah melihat pameran di venue pelataran terbuka ini, kami kemudian berjalan kaki menuju venue di sebelahnya, sebuah gedung 4 lantai yang biasanya tidak terpakai. Selama CMDW berlangsung, seluruh lantai gedung ini diisi oleh pameran dari beragam produk, mulai dari produk-produk tradisional (mis. lacquer works), karya kontemporer (mis. poster dan desain produk daur ulang), hingga display mengenai organisasi seperti Handmade Chiang Mai. Setelah selesai melihat display di gedung ini, kami kembali ke venue gudang semi-terbuka, untuk memilih dan mulai mengendarai sepeda masing-masing menuju venue CMDW lain.

Tiba tengah hari, venue yang kami kunjungi adalah sebuah hotel di kawasan kota tua Chiang Mai, yang sebagian bangunannya masih berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di hotel ini terdapat pameran textile for fashion dan hasil studi eksplorasi material alam untuk berbagai produk berbahan dasar kertas. Setelah disambut oleh manajer pemasaran hotel yang juga menerangkan bahwa hotel ini juga sangat terkenal oleh spa-nya, tim tur sepeda ini dijamu minuman segar dan makanan kecil sebelum melanjutkan perjalanan. Saya harus berpisah dengan rombongan, karena harus segera mempersiapkan diri untuk mengisi acara Creative Dialogue, sementara peserta tur lain berangkat ke venue lain dan berpartisipasi di berbagai workshop yang termasuk dalam paket tur sepeda ini.

 

“Angkot” Gratis

Selain sepeda, selama CMDW disediakan pula kendaraan gratis dari venue ke venue, yaitu “angkot” (kendaraan umum yang lazim digunakan di Chiang Mai, mirip Mikrolet di Jakarta), yang diubah menjadi shuttle gratis CMDW dengan menambahkan penanda dan infografis peta venue yang menjadi titik hop-on/-off pada bagian muka dan sisi kendaraan.

 

Meskipun hanya sempat berada di Chiang Mai selama 2 hari saat CMDW berlangsung, cukup terasa suasana penyemarakkan kota dengan berbagai aktivitas desain. Apalagi saat itu juga berlangsung Nimmanhaemin Art&Design Promenade (NAP), acara tahunan yang telah menjadi salah satu tujuan utama pengunjung Chiang Mai di minggu ini. Beragamnya jenis acara yang ditawarkan juga menggambarkan lingkup pengembangan desain di Thailand pada umumnya, dan Chiang Mai pada khususnya: mulai dari karya mahasiswa desain, pengrajin tradisional, hingga designer-residence dan karya warga ekspatriat, mulai dari karya eksperimen hingga yang telah memiliki brand eksklusif; seluruhnya disajikan dengan cara yang dapat memperkenalkan dunia Desain dengan ramah dan menyenangkan.

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

*Pertama kalinya menulis artikel untuk Warta Gereja GKI Maulana Yusuf, Bandung, dalam perjalanan antara Seoul dan Jeju, Korea Selatan. Artikel ini dapat pula diakses di http://gkimy.or.id/main/kolom-bina-jemaat/325-kolom-bina-2014-11-23

 

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

 

Dari sekian banyak hari besar dan peringatan di muka bumi ini, salah satu yang paling mengekspresikan kemesraan antara manusia dan habitatnya adalah Arbor Day, atau Hari Pohon (arbor berarti “pohon” dalam Bahasa Latin), yang jatuh pada tanggal 21 November, di mana orang diajak untuk menanam dan merawat pepohonan. Pada awalnya, Hari Pohon ini dimulai di Villanueva de la Sierra, sebuah kota kecil di Spanyol, ketika seorang rohaniwan lokal mencanangkan inisiatif tersebut pada tahun 1805, yang disambut dengan antusias oleh seluruh warga. Hingga kini, Arbor Day masih dirayakan di berbagai negara, meskipun dalam tanggal yang berbeda-beda, disesuaikan dengan iklim dan musim tanam di negara masing-masing.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah memberi perhatian khusus pada pohon yang terus memberi manfaat bagi kita? Atau mungkin karena saking terbiasanya merasakan kehadiran pohon, kita terkadang menganggap remeh keberadaannya? Bagi kita yang hidup di kota besar, padat penduduk, dan terus berkembang seperti Bandung: perilaku apa yang kita biasakan dalam menghadapi sesama makhluk hidup ciptaan-Nya ini?

Berbagai hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan, yang telah menjadi keprihatinan bersama belakangan ini, antara lain meliputi bencana banjir, polusi udara, dan suhu yang makin panas dan tidak nyaman, terutama di berbagai wilayah padat penduduk. Secara langsung maupun tidak, hal-hal ini berkaitan dengan keberadaan dan kualitas pepohonan di lingkungan tersebut.

Terbatasnya Ruang Terbuka Hijau di perkotaan padat penduduk seperti Bandung ini menjadi salah satu sebab berkurangnya lahan yang dapat ditanami dan ditumbuhi pepohonan. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi berbagai komunitas dan masyarakat lokal untuk dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidupnya. Tentu beberapa dari kita telah akrab dengan istilah urban farming dan sejenisnya, yang mengarah pada pemanfaatan lahan yang paling sempit sekali pun untuk bercocok tanam. Bahkan juga pemanfaatan berbagai lokasi tanam yang (dulunya) tidak lazim, seperti dinding, pagar, hingga atap rumah, dengan media tanam yang juga berbagai rupa. Bandung, yang dikenal sebagai kota dengan berbagai komunitasnya yang sangat aktif, telah banyak pula melahirkan gerakan yang berkaitan langsung dengan upaya penghijauan wilayah permukiman, hingga aktivasi ke kampung-kampung kota dan taman-taman publik, hingga hutan kota.

Forest Walk at Babakan Siliwangi. (c)GalihSedayu2013

Forest Walk di Hutan Kota Babakan Siliwangi (c)GalihSedayu2013

Kreativitas warga dan komunitas di Bandung bahkan telah berupaya mengajak masyarakat luas agar menyadari adanya hutan kota satu-satunya yang ada di Kota Bandung, Babakan Siliwangi, dan memanfaatkannya sebagai ruang publik yang inspiratif. Hutan kota ini telah dideklarasikan menjadi Hutan Kota Dunia pada tahun 2011 bersamaan dengan event Tunza, sebuah konferensi internasional untuk anak-anak dan pemuda yang diadakan oleh United Nations Environmental Program (UNEP) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF). Saat itu, Hutan Baksil tengah menjadi subyek pembicaraan yang hangat berkenaan dengan rencana pembangunannya menjadi sebuah apartemen bertingkat dan ditentangnya rencana tersebut oleh masyarakat luas. Pada saat yang bersamaan, sebuah komunitas mengadakan sayembara pemanfaatan Hutan Baksil, yang desain pemenangnya benar-benar diwujudkan di hutan kota tersebut. Hasilnya adalah ForestWalk, sebuah canopy walk, atau “jembatan” di mana kita bisa berjalan sejajar atau mendekati pucuk pepohonan besar. ForestWalk dilihat sebagai salah satu upaya pernyataan warga terhadap keinginannya untuk tetap memiliki hutan kota, juga sebagai upaya mendekatkan warga kepada hutan kotanya, di samping mengekspresikan pula kesadaran warga terhadap pentingnya memiliki paru-paru kota yang tetap dapat menjadi sumber oksigen dan peredam polusi suara. Sejak didirikannya pada tahun 2011 lalu, ForestWalk hingga kini masih dapat dinikmati warga Bandung, namun, sayangnya belum dapat terawat secara optimal, sehingga banyak bagiannya yang rusak dan kotor.

Regia Infographic

Regia Infographic

Usaha untuk mendekatkan warga kepada hutan kota dilakukan lagi pada tahun 2012, ketika, dalam rangkaian acara Helarfest, diadakan Lightchestra, sebuah konser musik dan cahaya yang digelar selama tiga malam berturut-turut dalam Hutan Baksil, tanpa dipungut biaya dan dilaksanakan dengan penuh pertimbangan terhadap habitat alami dan komunitas dan warga yang beraktivitas di hutan kota tersebut. Di tahun berikutnya, 2013, bertepatan dengan Hari Bumi, Hutan Baksil kembali diaktifkan dengan event bernama Regia. Dalam Regia, dilaksanakan berbagai acara seperti yoga pagi di ForestWalk, workshop anak-anak di dalam Hutan Baksil, konser blues di Sanggar Olah Seni yang berlokasi di sisi Hutan Baksil, Forest Dining untuk memberikan pengalaman makan malam yang berbeda, pameran dan workshop fotografi, dan lain-lain, yang semuanya masih tetap bertujuan untuk mendekatkan warga pada hutan kota, dan secara kreatif memberikan informasi seputar hutan kota dan berbagai faktanya, seperti jumlah oksigen yang dihasilkan, jenis pohon yang mendominasi Hutan Baksil, fungsi Hutan Baksil sebagai tempat singgah berbagai spesies burung yang bermigrasi, dan sebagainya.

Berbagai aktivitas kreatif seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk kembali menyadarkan warga akan pentingnya keberadaan pohon dalam jumlah yang memadai di wilayah tempat tinggal kita, sekaligus juga mengajak warga untuk dapat merawat dan menambah jumlah pohon yang kita butuhkan tersebut. Adalah baik untuk mengadakan acara menanam pohon dalam merayakan Hari Pohon ini, terutama di area yang benar-benar membutuhkan, namun akan lebih seru lagi bila dilakukan juga berbagai inisiatif dalam bentuk yang baru dan menyenangkan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik sekaligus merawat pepohonan yang sudah ada di tempat-tempat tersebut. Mari, tingkatkan apresiasi terhadap pepohonan, bukan hanya dengan menanam dan merawat, tapi juga dengan mengajak keterlibatan warga seluas mungkin untuk menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara yang menyenangkan.

=====

Tita Larasati, Dosen Program Studi Desain Produk FSRD ITB & SekJen BCCF