Category Archives: indonesian case

existing cases in Indonesia that are actually practices of ‘sustainable’ life style

Green Roof dan Green Wall

“Greenery” pada Bangunan dalam Isu Desain Berkelanjutan

Kiki Putri Amelia

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Isu mengenai Global Warming (Pemanasan Global) bukanlah hal yang baru bagi kita. Menipisnya atmosfer Bumi, dan perkembangan Bumi serta kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya merupakan salah satu faktor mengapa isu ini terus bertahan, bahkan menjadi buruk kian harinya.

Pemanasan global telah menjadi lagu lama yang terus menerus dikumandangkan di banyak media, di seluruh dunia. Salah satu gambaran umum yang sering digunakan pada isu ini adalah fasad bangunan tinggi yang seluruhnya menggunakan kaca. Kaca-kaca tersebut dengan jumlah yang tidak sedikit menyelimuti ratusan bahkan ribuan bangunan tinggi di seluruh dunia, bukan merupakan hal yang remeh dan memiliki peran dalam isu ini. Istilah “Greenery” dalam arsitektur merupakan hal yang tidak asing didengar. Dan istilah tersebut termasuk didalam sebuah upaya konseptual seorang arsitek dalam berkontribusi, pada apa itu yang disebut sebagai sustainable design.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, salah satu yang berperan menyumbangkan banyak faktor dari pemanasan global ini adalah bangunan. Bangunan sangat berkaitan dengan arsitektur, karena arsitektur sendiri berhubungan erat dengan lingkungan hidup terutama pada penggunaan energi, air, materi dan ruang. Semua bangunan, low-rise, middle-rise, high-rise sekalipun menyumbangkan peran dalam isu ini, peran tersebut bisa menjadi positif atau bahkan negatif, memperburuk atau membantu mengurangi bahkan mencegah. Peran bangunan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut, bagaimana bangunan tersebut memberikan peran dalam isu pemanasan global ini, peran positif dari bangunan dapat memberikan solusi dari isu ini, contohnya dengan desain yang tidak merusak lingkungan dan ekologi, tetapi juga kreatif, memiliki nilai estetika tinggi, fungsional dan solutif. Desain berkelanjutan merupakan sebuah solusi positif dari seorang arsitek dalam kontribusinya terhadap lingkungan.

Sustainable Architecture

Berbagai upaya pemulihan, tindakan untuk mengurangi, mencegah, dan mengoptimalkan dilakukan dari berbagai aspek yang memungkinkan. Desain berkelanjutan pada bangunan secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu pendekatan desain secara pasif dan aktif.

  • Passive Building Desain

Merupakan pendekatan desain dari sebuah bangunan yang disesuaikan dengan iklim dan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang dibangun di iklim tropis haruslah menyesuaikan dengan iklim tropis itu tersebut, hal sederhana yang nampak jelas adalah, penggunaan atap miring pada bangunan, adalah untuk menyesuaikan bangunan dengan curah hujan yang tinggi di iklim tropis.

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Maka dari itu para arsitek dan desainer tidak dapat memindahkan atau mencontoh bangunan dari Negara beriklim subtropis tersebut. Misalnya bangunan di negara subtropis umumnya memiliki bukaan jendela yang tinggi dan lebar, dengan minimnya teritisan sebagai pelindung jendela. Di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi, teritasan atau kantiliver merupakan upaya-upaya arsitek untuk memberikan naungan dari sebuah ruang, dan juga penggunaan cross-ventilation pada bangunan merupakan salah satu pendekatan dari desain pasif dari bangunan berkelanjutan. Pada intinya, pendekatan pasif dalam desain bangunan adalah dengan mengoptimalisasi sebuah desain bangunan untuk mengadaptasi dan juga memanfaatkan lingkungan sekitarnya, untuk memiliki peran dalam sebuah bangunan, dengan harapan memnimalisir penggunaan energi dari bangunan tersebut.

  • Active Building Desain

Pendekatan desain dari sebuah bangunan untuk menghemat energi dengan menggunakan teknologi terbarukan (mekanis dan elektrikal). contohnya adalah penggunaan photovoltaic pada bangunan, lampu LED, dan teknologi-teknologi terbaru yang mendukung penghematan energi.

Greenery in Architecture

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Salah satu pendekatan populer dalam dunia arsitektur adalah dengan penggunaan greenery pada bangunan. Istilah greenery di sini merupakan sebutan dari penggunaan “tanaman” pada elemen fasad bangunan. Tanaman yang digunakan menjadikan pencitraan dari bangunan tersebut, sebagai bangunan yang “Go green” atau ramah lingkungan, digolongkan kedalam pendekatan Passive Building Desain. Tetapi penggunaan tanaman tersebut belum menjamin sebuah bangunan tersebut ramah lingkungan atau mengikuti prinsip sustainable design yang sesungguhnya. bisa jadi elemen fasad tersebut adalah berupa tempelan yang berperan banyak dalam konsep sustainable. dan memang pada umumnya bangunan dengan greenery pada fasadnya umumnya hanya berupa secondary skin yang menghiasi fasad bangunan saja. Menurut Peck (1999) mengatakan dengan penerapan ‘Skyrise Greenery’ berhasil mereduksi suhu sebesar 5,5°C dan dapat mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk AC sebesar 50% sampai 70% dengan mendinginkan suhu udara langsung luar bangunan.

  • Roof garden/greenroof

Roof garden adalah salah satu langkah penghijauan pada bangunan yang diterapkan di atap. Selain sebagai elemen dekoratif, dalam sebuah bangunan komersial green roof dapat menampung fungsi-fungsi yang menguntungkan, misalnya café outdoor, area olah raga, jogging track, mini golf, dan lain lain, ataupun seabagai area urban farmer dan garden. Green roof juga dapat berfungsi untuk menuruni suhu pada ruangan di bawahnya.

  • Vertical garden/greenwall

Vertical garden, istilah yang digunakan pada greenery yang digunakan pada fasad bangunan. Biasanya berupa secondary-skin yang berfungsi sebagai buffer ruang dalam bangunan, untuk mengurangi panas langsung cahaya matahari yang masuk kedalam. Pada bangunan tinggi yang terletak di perkotaan, penggunaan vertical garden merupakan salah satu solusi pendekatan desain berkelanjutan, selain berkontribusi terhadap gi , juga menghasilkan poin tersendiri pada bangunan tersebut. Meminimalisir penggunaan energi dalam bangunan, menurunkan temperatur ruang dalam, sehingga jika tetap menggunakan pendingin ruangan dapat diminimalisir energi penggunaannya.

Penggunaan greenery pada bangunan, dalam skala besar dapat menurunkan temperatur suhu sebuah kota, atau bahkan dunia. Keuntungan pada bangunan dapat disimpulkan di antaranya adalah

  • dari sudut pandang ekologis

sebagai elemen greenery pada bangunan tentunya penggunaan greenery bangunan sedikit banyak memberikan kontribusi pada lingkungan, khususnya mengurangi polusi udara dan dari berbagai riset yang ditemukan, baik greenroof maupun greenwall terbukti dapat mengurangi penggunaan energi pada bangunan.

  • dari sudut pandang teknis

terdiri dari lapisan tanah dan tumbuhan, selain memiliki nilai ekologis dan estetika, greenroof khususnya memiliki fungsi sebagai area resapan. Sehingga bangunan tinggi sekalipun dapat memiliki kontribusi peresapan melalui greenroof tersebut. Sedangkan pada penggunaan greenwall pada bangunan tinggi dapat meminimalisir efek pemantulan cahaya dan panas matahari dari fasad kaca.

Penggunaan dari greenery tergolong dalam passive desain dalam konsep desain arsitektur berkelanjutan, dengan pemanfaatan iklim dan potensi lingkungan sekitar. Dalam sudut pandang arsitektur tropis, Indonesia yang merupakan negara dengan kondisi iklim tropis lembab,  pada dasarnya mendukung akan penerapan desain baik greenroof maupun greenwall pada bangunan. Karena cahaya matahari yang melimpah dan curah hujan yang tinggi maka sangat memungkinkan tanaman tersebut tumbuh  dan berfungsi baik sebagai elemen estetik maupun upaya penghematan energi.

Dalam sudut pandang desain berkelanjutan, penggunaan greenery merupakan salah satu upaya arsitek dalam sebuah konsep pembangunan. Selain sebagai nilai estetik penggunaan greenery juga merupakan upaya meminimalisir energi yang digunakan dari sebuah bangunan. Bangunan merupakan salah satu akibat dari isu pemanasan global yang cukup dominan. Selain tumbuhnya bangunan-bangunan baru setiap tahunnya, dengan penggunaan konsep desain berkelanjutan baik pasif maupun aktif dapat sedikit banyak berkontribusi memperbaiki pemanasan global.

 

Sumber:

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju…

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju yang Memiliki Pengaruh terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Ni Annisa Nur Adha

 

Pada tahun 2015 diprediksi oleh Bank Dunia bahwa jumlah penduduk Indonesia akan menembus lebih dari 250 juta. Semakin banyak jiwa maka dibutuhkan ketersediaan sumber daya yang dapat mencukupi setiap jiwa selama jangka hidupnya. Kesadaran untuk peduli pada lingkungan di Indonesia masih belum merata. Hal ini disebabkan oleh beberapa kebiasaan yang menyebabkan ketergantungan pada hal-hal yang praktis, orang Indonesia begitu dimanjakan oleh para pelaku bisnis untuk menikmati produk sesuai keinginan mereka, namun para pelaku bisnis tersebut hanya bertanggung jawab hingga pembeli membeli produknya, setelah itu semua terserah kepada konsumen.

Sementara di beberapa negara maju, kebiasaan tersebut sudah jarang dilakukan demi mengelola keberlanjutan lingkungan. Berikut adalah beberapa contoh perbandingan kebiasaan di Indonesia dan negara maju yang dapat berpengaruh kepada keberlanjutan lingkungan. Kebiasaan ini sudah bersifat massal dan kemungkinan sulit untuk diubah, maka dari itu di sini muncul peran desainer untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kebiasaan di bawah ini:

1. Kantong untuk berbelanja

Berbelanja merupakan kegiatan wajib sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan. Di Indonesia, hampir seluruh toserba memberikan kantong plastik kepada pelanggan untuk membawa barang belanjaannya. Bahkan tidak jarang satu pelanggan diberikan lebih dari 1 plastik untuk memembungkus beberapa jenis barang yang berbeda. Hal ini bertujuan tak lain untuk kepraktisan pelanggan berbelanja, sehingga mereka dapat berbelanja kapan saja meskipun tidak direncanakan. Plastik juga merupakan material yang kuat untuk melindungi belanjaan dari air, juga terdapat pegangan sehingga orang tidak terganggu apabila mobilitasnya tinggi.

Berbeda dari berbelanja di Amerika, pelanggan cenderung membawa kantong sendiri atau disediakan kantong kertas daur ulang yang tidak memiliki pegangan. Karena kantong kertas merupakan material yang rapuh, kantong tersebut tidak diberikan pegangan agar pelanggan membawanya dengan cara menggendongnya. Apabila belanjaan terlalu banyak, mereka akan menggunakan troli.

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Dari kedua perbedaan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelanggan Indonesia lebih dimanjakan dari pelanggan Amerika, namun apabila dikaitkan dengan penjagaan lingkungan, warga Amerika memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Sayangnya saat ini hampir seluruh perusahaan retail di Indonesia masih menggunakan plastik untuk membantu pelanggannya. Sehingga masyatakat Indonesia sudah terbiasa akan hal itu dan membutuhkan waktu lama untuk berubah, karena kemungkinan perusahaan tidak ingin kehilangan pelanggan dengan mengubah regulasi pemberian kantong plastik. Konsumsi plastik di Indonesia pada tahun 2014 mencapai sekitar 3 juta ton, namun hal tersebut tidak diseimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik sehingga terdapat banyak sampah plastik yang berceceran di saluran air dan sungai sehingga menyebabkan beberapa daerah terkena banjir.

2. Jumlah rangkaian kemasan dalam satu produk

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Contoh yang paling mencolok dan dikonsumsi hampir di 90% warga Indonesia adalah produk mi instan. Terdapat berbagai macam varian mi instan sesuai dengan selera orang Indonesia. Kepedulian perusahaan terhadap selera pelanggan menyebabkan mereka harus memisahkan masing-masing bumbu dalam plastik berbeda, seperti minyak, bawang goreng, bumbu pedas, sayuran kering, dan sebagainya.

Sementara produk mi instan di Jepang, hanya menggunakan dua macam plastik, satu untuk bumbu dan satu lagi untuk sayuran kering. Dari segi pembuatan, tentu kemasan produk Jepang tidak memerlukan energi sebesar pembuatan produk mi instan Indonesia.

3. Kebiasaan dalam pemilahan sampah

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Kebutuhan produk yang tinggi dalam kategori consumer goods seperti makanan instan, produk sabun dan sebagainya menghasilkan limbah berupa bekas kemasan produk tersebut dalam jumlah yang masif, hal ini tidak diseimbangi dengan pengolahan sampah yang baik. Berbagai macam material limbah disatukan dalam satu tempat sehingga menyulitkan dan menurunkan nilai jual limbah yang dapat didaur ulang.

Jepang dan Amerika sudah menerapkan sistem pemilahan sampah dan menerapkan sistem denda bagi yang tidak melaksanakannya dengan baik. Sistem hukuman yang tegas membuat masyarakat negara-negara tersebut menjadi terbiasa mengatur sampah mereka meskipun tanpa pengawasan.

4. Ketergantungan transportasi dan tren mobil pribadi

Di Indonesia transportasi angkutan umum utama yang digunakan adalah angkot, di mana mobil dengan berbagai macam jurusan dapat ditemukan di mana saja dan diberhentikan di mana saja sesuai kebutuhan. Hal ini membuat orang Indonesia memiliki ketergantungan untuk menaiki transportasi daripada jalan kaki meskipun dalam jarak dekat. Di Jepang, orang hanya menaiki transportasi apabila akan pergi ke kota lain, selebihnya berjalan kaki atau naik sepeda. Maka dari itu tidak heran apabila turis Jepang mampu berjalan dari satu tempat ke tempat lain di suatu kota di Indonesia walaupun orang Indonesia cenderung harus menggunakan transportasi.

Selain itu, orang Indonesia yang sangat mudah terpengaruh oleh iklan dan keinginan aktualisasi diri yang tinggi, menyebabkan banyak individu ingin memiliki mobil pribadi agar status sosialnya meningkat. Berbeda dengan di Jepang, orang Jepang yang mapan atau menengah ke atas cenderung tidak memiliki mobil dan memilih menggunakan transportasi umum. Orang Jepang yang memiliki mobil justru tinggal di desa-desa karena mereka membutuhkannya untuk membeli kebutuhan di kota. Meskipun sebagian besar perusahaan mobil dan motor berasal dari Jepang, target pasar mereka justru negara-negara berkembang seperti Indonesia, sementara di negara sendiri tidak begitu banyak peminatnya.

5. Ketergantungan pada rokok

Pada tahun 2008 menurut WHO (sumber: http://swa.co.id/) , Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Sebagaimana kita ketahui rokok memberi dampak negatif pada lingkungan dengan asapnya, juga berbahaya bagi kesehatan. Namun, zat adiktif yang terdapat di dalamnya membuat warga Indonesia dari berbagai kalangan sulit untuk berhenti. Sementara di Jepang dan Australia (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ ) jumlah perokok justru menurun drastis, banyaknya penyakit yang disebabkan oleh rokok menyebabkan pemerintah menaikan pajak tembakau hingga 60%, sehingga satu bungkus rokok dapat berharga 200ribu rupiah. Upaya tersebut telah menurunkan jumlah perokok hingga 20%.

Kesimpulan dari perbedaan kebiasaan di atas adalah di Indonesia peraturan dan sistem cenderung memberi kebebasan dan kepraktisan kepada warganya tetapi tidak didasari oleh keberlanjutan lingkungan. Sementara di negara maju, pemerintah mereka tidak segan untuk membuat warganya repot asalkan keberlanjutan lingkungan dapat dipertahankan. Poin-poin di atas, tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat kebiasaan lain di negara maju yang dapat diterapkan di Indonesia. Hal-hal besar tidak dapat diubah secara instan, namun harus secara perlahan melalui kebiasaan sehari-hari. Dewasa ini kita sudah merasakan perubahan iklim yang cukup drastis, dari hujan yang besar hingga panas yang terik. Bencana alam seperti banjir yang terjadi di beberapa kota besar, terutama Jakarta, sebagian besar disebabkan oleh beberapa kebiasaan masyarakat yang sangat sulit untuk diubah karena telah dilakukan sejak lama. Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan agar bumi kita dapat bertahan untuk anak cucu kita nanti.

Think Globally Eat Locally

Aurora Revianissa

Pernahkah kita berpikir saat memakan makanan impor kita sudah menyumbang satu “dosa” untuk menghancurkan bumi?

Pemerintah melakukan impor bahan makan dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan. Ironis memang, hal ini dilakukan oleh negara kita yang notabene memiliki lahan yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Melihat ketahanan pangan Indonesia yang seperti ini, kita perlu khawatir dengan nasib pertanian Indonesia di masa mendatang. Hal lain yang perlu menjadi sorotan adalah berkurangnya jumlah petani dari tahun ke tahun. Petani mulai beralih profesi pada bidang lain yang dianggap lebih menguntungkan. Kondisi demikian membuat impor makanan menjadi tidak terelakkan.

Makanan impor mengalami perjalan panjang sebelum terhidang di atas meja makan kita. Bayangkan berapa jauh jarak perjalanan yang ditempuh menggunakan kapal laut, pesawat, kereta,dan truk yang dilakukan oleh makanan impor untuk sampai ke tangan konsumen. Semakin jauh jarak yang ditempuh semakin besar efek negatif yang disumbangkan untuk bumi.

Menurut Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), 30% lebih emisi gas rumah kaca dihasilkan dari sektor agrikultur dan produksi makanan, termasuk proses impor makanan. Proses impor makanan yang menggunakan pesawat menghasilkan emisi bahan bakar pesawat yang menyumbang jutaan ton gas CO2 ke udara dan mempengaruhi global warming.

(sumber: ayoeatlocal.com)

(sumber: ayoeatlocal.com)

Lalu apa yang dapat kita lakukan?

Salah satu solusi adalah dengan memakan hasil pangan produksi daerah sendiri. Disebutkan dalam Nation Master data di tahun 2008 Indonesia memiliki 47,89 juta petani dan masih memiliki lahan suboptimal untuk pertanian seluas 25,82 hektar. Jika lahan tersebut bisa dimanfaatkan secara maksimal, ketahan pangan Indonesia tentu akan meningkat baik. Langkah awal yang bisa dilakukan masyarakat bersama adalah dengan menjadikan makanan lokal sebagai sumber utama bahan makan konsumsi rumah tangga. Peran petani lokal kembali diposisikan sebagai pahlawan dalam pergerakan ini. Namun kendala awal untuk kembali menggunakan bahan pangan lokal adalah tidak ada rasa percaya terhadap produk lokal itu sendiri dari masyarakat. Petani pun sebagian besar masih menggunakan sistem distribusi konvensional melalui tengkulak yang dinilai lebih menguntungkan. Tidak bertemunya kebutuhan konsumen dan kepentingan produsen memerlukan sebuah inovasi kreatif untuk memecahkan masalah ini seperti yang dilakukan oleh Agritektur.

Agritektur adalah komunitas yang terdiri dari sekelompok masyarakat kreatif memiliki visi peningkatan konsumsi produk pangan lokal dalam upaya penurunan konsumsi makanan impor. Agritektur bergerak sebagai wadah antara konsumen dan produsen. Komunitas ini menjalin kemitraan dengan petani lokal khususnya daerah wilayah Bandung. Agritektur berpendapat bahwa dengan memperpendek jalur distribusi bahan pangan, akan mengurangi emisi karbon dan juga memutus rantai distribusi yang merugikan petani.

Agenda rutin yang dilakukan oleh Agritektur adalah Parappa (Pasar Rakyat para Petani), table to farm dan camp on farm. Jika diperhatikan, konsep dari Parappa merujuk pada pasar petani yang biasa berada di negara Eropa. Produk hasil pangan petani Bandung (daerah Ciburial), dibawa langsung ke daerah perkotaan untuk langsung dijual ke konsumen. Komoditas yang dijual pun tidak biasa di temukan di pasar tradisional, seperti rosemary, oregano, lemon balm, stevia yang bisa ditemukan dalan polybag dalam kondisi tunas siap tanam petik dan sayur mayur organik dengan harga yang lebih murah dari pada harga sayur di pasaran. Agritektur berupaya menggunakan zero waste management untuk mengolah komoditas yang tidak habis terjual. Bahan –bahan ini kemudian diolah menjadi selai, jus, makan olahan lain dan tidak terbuang percuma. Agritektur menggandeng desainer-desainer muda untuk merancang visual branding mereka. Konsep visual komponen grafis sampai packaging dan penyajiannya, Agritektur ditampilkan dengan konsep fresh, clean, neat and friendly yang menimbulkan kesan kekinian, cocok untuk sasaran masyarakat urban. Branding ini bertujuan untuk menghilangkan kesan “kampungan” pada produk lokal yang menjadi komoditi dagang. Di Parappa pembeli bisa berkonsultasi langsung dengan petani dalam mengkonsultasikan baik tanaman tanam mau pun sayur-mayur yang diperdagangkan.

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Kampanye promosi kegiatan Agritektur (Sumber: https://www.facebook.com/agritekturindonesia, diunduh 9 Maret 2015)

Pada September 2014, Agritektur melakukan kampanye mandiri #AyoEatLocal dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengkonsumsi hasil pangan lokal di Jakarta agar semakin global. Kampanye ini bertujuan untuk memajukan petani dan menjaga lingkungan melalui pembelian dan pengkonsumsian bahan pangan segar lokal. Target pasar Agritektur adalah masyarakat menengah perkotaan. Perkembangan ekonomi Indonesia yang didominasi masyarakat menengah merupakan potensi untuk mengembalikan kejayaan ketahanan pangan Indonesia. Mendukung dan menghargai hasil pangan lokal dapat menjadi andil kecil dalam menjaga keberlangsungan pasokan pangan dan kelestarian lingkungan. Inovasi kreatif untuk memecahkan masalah lingkungan tidak melulu harus dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat intelejensi tinggi dan dengan modal tinggi. Inovasi dimulai dengan langkah kecil namun disertai hasrat untuk terus berkegiatan akan menwujudkan ide dan inovasi yang besar.

Ketika Budaya Silaturahmi Menjadi Budaya Limbah

Amanda Fauziah

BUDAYA LIMBAH

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

(sumber: poetrafoto.wordpress.com)

Indonesia sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika telah melahirkan berbagai macam budaya yang berkembang secara meluas dalam masyarakat. Kemajemukan budaya ini secara tidak langsung menuntut masyarakat Indonesia untuk lebih peka dan toleransi terhadap sesama. Kebiasaan ini telah ditanamkan sejak kita masih anak-anak, mulai dari konsep gotong royong, sikap saling menghargai terhadap umat beragama, serta budaya silahturahmi. Tradisi ini sangat mudah diamati dalam berbagai macam acara hajatan yang dilangsungkan oleh masyarakat, seperti prosesi pernikahan, khitanan, syukuran kehamilan, aqiqahan, 40 hari meninggalnya seseorang, dan berbagai hajatan lainnya. Kegiatan hajatan merupakan acara yang sangat identik mengundang tamu secara massal dengan proses pemberian kartu undangan sebelum acara dilangsungkan. Hal ini telah menjadi sebuah tradisi yang berakar sangat kuat dalam masyarakat Indonesia. Walaupun terkadang telah disampaikan secara lisan, namun kurang lengkap dan “kurang bergengsi” rasanya jika tidak dilengkapi dengan kartu undangan.

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

(sumber: kopipakegula.wordpress.com)

Di balik suburnya tradisi ini, sebenarnya bangsa kita telah membentuk suatu budaya baru, yakni budaya limbah. Mengapa limbah? Karena setelah dibaca kartu undangan ini sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk kegunaan lainnya, sehingga dapat dipastikan bahwa kartu undangan ini akan berakhir di tempat sampah. Dari setiap acara hajatan yang dilangsungkan paling sedikit kiranya terdapat 100 undangan yang disebarkan. Ini berarti dari setiap hajatan telah dihasilkan limbah kertas sebanyak kartu undangan yang disebarkan pada tamu-tamu tersebut. Di samping itu, setiap orang dari sejak di kandungan, lahir, hingga kematiannya menggelar sedikitnya enam hingga delapan acara hajatan. Belum lagi jika keluarga penyelenggara adalah keluarga yang berada dan terpandang. Tentunya angka 100 undangan tersebut tidaklah berlaku lagi. Hitungan berikutnya mungkin sudah mulai memasuki kelipatan ribuan. Bayangkan saja, selama masa hidupnya seseorang telah menghabiskan berapa ribu limbah kertas dari sekedar sebuah hajatan? Jumlah penduduk Indonesia diperkirakan bakal meledak hingga mencapai angka 300 juta jiwa pada 2015 (Tempo.co). Maka jika satu orang saja telah menghabiskan enam hingga delapan ribu kertas selama masa hidupnya, bagaimana dengan 299 juta jiwa penduduk Indonesia lainnya?

Perlu diketahui bahwa limbah kertas memiliki dampak yang luar biasa buruk terhadap lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa dampak lingkungan akibat penggunaan kertas kita tiap tahun, dikutip dari http://green.kompasiana.com.

  1. Penebangan hutan yang berlebih; jelas ini dampak yang paling bisa dirasakan akibat pabrik kertas, karena kebanyakan di Indonesia pabrik kertas masih menggunakan bahan baku kayu. Padahal sekarang ini keberadaan pohon sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global.
  2. Pencemaran air; dalam proses pembuatan kertas dibutuhkan jumlah air yang sangat banyak dan setelah proses tersebut air itu akan dibuang. Limbah cair inilah yang memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan sekitar pabrik, meskipun pada beberapa pabrik sudah memberikan treatment khusus agar pada saat dibuang sudah tidak mengandung bahan berbahaya lagi, namun kesalahan prosedur masih mungkin terjadi. Dan jika limbah langsung dibuang ke sungai maka akan membahayakan masyarakat di sekitar sungai.
  3. Industri kertas menggunakan air dalam jumlah yang sangat besar; hal ini dapat mengancam keseimbangan air pada lingkungan sekitarnya karena akan mengurangi jumlah air yang diperlukan makhluk hidup di perairan sungai dan dapat mengubah suhu air. Limbah pabrik kertas dapat menyebabkan kelainan reproduktif pada plankton dan invertebrata yang menjadi makanan ikan serta kerang-kerangan.
  4. Sludge pabrik kertas yang dibuang ke kali menimbulkan pendangkalan sungai dan membunuh tumbuhan air di tepi sungai karena tumbuhan tersebut tertutupi oleh lapisan bubur kertas. Limbah sludge tersebut mestinya tidak dibuang ke sungai bersama air limbah tetapi diendapkan dan dikeringkan untuk kemudian dibuang secara sanitary land fill atau dibakar agar tidak mencemari tanah, air dan udara.

Ditambah lagi, biasanya undangan selalu dilindungi dengan sampul plastik pada bagian luarnya. Sehingga selain limbah kertas, pada setiap hajatan juga dihasilkan limbah plastik yang tidak kalah jumlahnya. Bungkus plastik dari undangan ini juga berkontribusi terhadap timbulnya masalah lingkungan, di mana bahan ini membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat diuraikan secara sempurna oleh bumi. Perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap fenomena ini. Tidak membanggakan rasanya jika budaya dan tradisi yang telah menjadi ideologi bangsa Indonesia ini kemudian berkembang menjadi budaya limbah.

DESAIN BERKELANJUTAN

(sumber: bisnisukm.com)

(sumber: bisnisukm.com)

Fenomena ini mungkin cukup sederhana dan seringkali luput dari perhatian. Tetapi budaya limbah ini perlu diperhatikan secara serius karena dampaknya yang sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan. Diperlukan sebuah desain berkelanjutan untuk mengatasi masalah ini. Desain berkelanjutan dapat dipahami sebagai desain untuk mengatasi kondisi-kondisi yang terjadi dewasa ini terkait dengan krisis lingkungan global, pertumbuhan pesat kegiatan ekonomi dan populasi manusia, depresi sumber daya alam, kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati manusia (Priyoga, 2010). Dalam hal ini, menggunakan sumber daya alam terbarukan adalah salah satu solusi yang dapat dikembangkan. Seperti misalnya menggunakan bahan-bahan alami dari alam atau bahan-bahan daur ulang sebagai material utama kartu undangan. Jika pun akan menggunakan limbah kertas maka diusahakan menggunakan 100% limbah kertas asli/serat papan bersertifikat National Association of Paper Merchants.

(sumber: arangbambo.wordpress.com)

(sumber: arangbambo.blogspot.com)

Tentunya gerakan ini akan memberikan kontribusi positif terhadap pemanfaatan limbah dan keberlanjutan lingkungan, sebab semakin besar acara hajatan yang berlangsung, semakin banyak para tamu yang diundang, maka semakin banyak pula kartu undangan yang dibutuhkan. Dampak dari hal ini adalah limbah yang didaur pun akan semakin banyak sehingga pada akhirnya lingkungan pun menjadi semakin sehat. Bahkan ketika kartu undangan versi “alam” ini menjadi limbah tidak akan menimbulkan masalah bagi lingkungan karena akan lebih cepat dan lebih mudah terurai. Selain alternatif material, dapat juga disiasati dengan desain kemasan kartu undangan yang multifungsi. Sehingga setelah pesan penyelanggara hajatan tersampaikan, kartu undangan tersebut masih dapat dimanfaatkan kembali dengan fungsi yang berbeda. Walaupun konsep-konsep tersebut di atas masih tidak lazim dilakukan oleh masyarakat, kita bisa memulainya dari diri kita atau keluarga sendiri. Bukankah memulai sesuatu yang baru akan menjadi pembeda acara hajatan kita dengan acara hajatan pada umumnya? Bahkan acara hajatan yang dilangsungkan dapat lebih menarik bagi orang kebanyakan karena konsep kartu undangannya yang unik. Untuk itu mari bersama-sama kita berantas budaya limbah di Indonesia dan selamatkan bumi kita bersama!

 

REFERENSI

Priyoga, I. (2010). Desain Berkelanjutan (Sustainable Design). Dinamika Sains, 8(16).

Yuliastuti, D. (2011). 2015, Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Mencapai 300 Juta. Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/09/27/060358499/2015-Jumlah-Penduduk-Indonesia-Bisa-Mencapai-300-Juta

Food Truck VS Café dan Restoran, Mana yang Lebih Ramah Lingkungan?

Zita Nadia

Jika membicarakan mengenai kuliner, telinga kita sudah tidak asing lagi tentunya dengan Bandung. Bandung dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia ini, tidak lepas dari tujuan wisata kuliner yang tersebar di kota ini. Mulai dari warung, café, dan restoran yang tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Ada sebuah fenomena kuliner baru yang muncul di tengah-tengah kota Bandung, yaitu fenomena food truck. Food truck mulai marak di Bandung sekitaran tahun 2013, kini food truck sudah menjadi alternatif bagi warga kota Bandung. Akan tetapi, hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah food truck memberikan dampak yang lebih buruk bagi lingkungan jika dibandingkan dengan restoran? Ataukah justru restoran yang memiliki dampak yang jauh lebih buruk bagi lingkungan?

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Gbr.1. Food Truck Roti Pagi

Apakah Food Truck itu?

Food truck atau kedai makanan adalah salah satu cara untuk menjual makanan, dengan menggunakan truck kecil sebagai media untuk berjualan makanan. Food truck biasa berjualan di tempat tertentu selama beberapa saat, mereka bisa dianggap sebagai bisnis kuliner yang menghampiri pelanggan mereka. Food truck berasal dari Amerika Serikat, kegiatan ini sudah berlangsung dari awal abad ke-17. Seiring dengan perkembangan zaman, food truck mulai masuk ke kota besar di Indonesia,pada tahun 2012-2013, food truck mulai bermunculan di Kota Bandung. Ada beberapa food truck yang dikenal di Bandung, di antaranya adalah, Four Speed Nomad, Roti Pagi, Whatever Combi dan beberapa food truck lainnya. Maraknya food truck di Bandung pada saat ini, menjadi inspirasi adanya event Bandung Food Truck Festival pada 27 Februari- 1 Maret 2015 lalu, hal ini menunjukkan bahwa, food truck sudah menjadi salah satu tujuan kuliner bagi warga kota Bandung.

Mana yang Lebih Hemat Energi? Food Truck atau Café dan Restoran?

Jika melihat secara sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa food truck akan mengkonsumsi energi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan café dan restoran. Akan tetapi, perlu kita lihat, food truck memang menggunakan konsumsi bensin sebagai bahan bakar mereka, apalagi di Indonesia masih sulit ditemukan food truck dengan bahan bakar yang ramah lingkungan.Sedangkan untuk café dan restoran menggunakan gas lebih banyak jika dibandingkan dengan food truck. Penggunaan bahan makanan yang digunakan oleh Food Truck atau Restoran dapat mempengaruhi carbon footprint yang mereka punya,semakin banyak variasi menu, dan menu impor yang dimiliki, maka akan semakin besar sumbangan emisi karbonnya. Dalam hal penggunaan listrik dan air, food truck jauh lebih sedikit untuk menggunakannya, karena dari ruangan yang dimiliki oleh food truck jauh lebih kecil karena keterbatasan ruang dibandingkan dengan café dan restoran.

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Gbr.2. Atas: Ruang Roti Pagi, Bawah: Ruang SuMur DU

Untuk membuktikan observasi dilakukan dengan 2 food truck ,2 restoran dan 1 café yang memiliki konsep berbeda. Food truck yang diobservasi adalah Roti Pagi, dan Susu Murni Dipati Ukur (SuMur DU). Roti Pagi beroperasi pada pagi sampai sebelum tengah hari, dia memiliki 1 ruangan, tidak menggunakan lampu sama sekali, dan menggunakan kompor 2 tungku. Dalam segi menu, Roti Pagi hanya memiliki 4 menu sandwich dan 3 minuman. Sedangkan untuk SuMur DU, menggunakan kompor kecil, 2 buah lampu,dan hanya beroperasi pada malam hari. Untuk menu mereka hanya memiliki susu dan tidak memiliki menu makanan. Untuk restoran dan café , yang diobservasi adalah Karnivor, Kantin Tong-Tong dan Café DU71-a.

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Gbr.3. Dari atas ke bawah: Karnivor, Kantin Tong Tong, Cafe DU 17-a

Karnivor memiliki lahan yang cukup besar, setiap meja dilengkapi dengan lilin, dan lampu. Pada saat observasi jam 5 sore seluruh lampu telah dinyalakan. Karnivor memiliki toilet yang terpisah antara pria dan wanita. Untuk menu, ia memiliki lebih dari 10 jenis menu,mayoritas terdiri dari daging, dan terdapat beberapa menu dalam ukuran besar. Karnivor beroperasi dari jam 11.00-21.00. Sedangkan Kantin Tong-Tong memiliki ukuran tempat yang kecil (hanya seperempat dari luas karnivor), tidak memiliki toilet, lampu dinyalakan pada malam hari, karena saat pagi memanfaatkan cahaya matahari. Untuk variasi menuyang dimiliki bernuansa Indonesia. Café DU71-a, sebuah café kecil, namun lebih besar dari kanting tong tong. Terdiri dari area indoor dan outdoor, memiliki 1 toilet unisex, lampu yang ada lebih sedikit daripada yang digunakan karnivor. Hal yang perlu dicermati adalah, setiap meja memiliki colokan listrik bagi para pengunjung. Jika melihat hasil observasi, food truck yang ada jauh lebih hemat dalam soal penggunaan energi, karena restoran dan café memiliki potensi lebih boros energi. Dengan semakin besarnya ukuran restoran tersebut, dan variasi menu yang jauh lebih banyak juga dapat memicu carbon footprint yang jauh lebih besar. Jadi dari hasil observasi dalam soal energi, food truck masih lebih ramah lingkungan.

Limbah yang Dihasilkan Food Truck Dibandingkan dengan Café dan Restoran

Jika membicarakan mengenai sampah, kita bisa memperkirakan dari peralatan makan dan jumlah pengunjung yang datang. Roti Pagi menggunakan tatakan kayu yang diberikan kertas tipis dan gelas kertas, tatakan kayu bisa digunakan kembali namun sisanya harus dibuang, jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. SuMur DU, menggunakan gelas dan sedotan. Gelas kaca dapat digunakan berulang kali, dan jumlah pengunjung cukup banyak. Kantin Tong tong, Karnivor dan DU71-a, semuanya menggunakan peralatan makan yang bisa digunakan kembali, sehingga mengurangi jumlah limbah, ketiga tempat ini ramai didatangi, namun yang paling ramai adalah Karnivor. Jika melihat sekilas dari segi alat makan, restoran jauh lebih baik karena menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali, namun limbah makanan akan bertambah banyak seiring dengan banyaknya jumlah pengunjung yang datang, dan restoran jauh lebih berpotensi memberikan limbah yang lebih banyak.

Jadi,Manakah yang lebih Ramah Lingkungan? Dan Solusi Desain Apa yang Dapat Ditawarkan Untuk Menjadi Lebih Baik bagi Lingkungan?

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Gbr.4. Kiri: penyajian Roti Pagi, kanan: penyajian Karnivor

Dalam segi penggunaan energi, dari hasil observasi food truck dapat dikatakan lebih hemat dari restoran, apalagi jika restoran tersebut berukuran besar dan ramai. Ramah lingkungan atau tidak, industri makanan sangat bergantung dari konsep yang dimiliki. Restoran, café dan food truck memiliki potensi untuk menjadi sebuah industri yang lebih ramah lingkungan, industi kuliner dapat menerapkan beberapa hal berikut untuk mengurangi dampak buruk pada lingkungan, seperti:

  1. Menggunakan packaging yang mudah terurai dengan alam.
  2. Menggunakan bahan bakar seperti biodiesel, bahan bakar alternatif atau mobil dengan menggunakan tenaga solar (diperlukan desain yang seksama agar fitur ini dapat digunakan dengan optimal).
  3. Menggunakan lampu LED untuk sumber penerangan.
  4. Menjual produk-produk lokal dan organik.

Akan tetapi semua solusi di atas baru dapat berguna, jika menerapkannya bersama-sama, tidak sendirian. Ingat, jika bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan kita?

 

Sumber dan Berita Terkait

http://gracelinks.org/blog/696/can-a-food-truck-be-green-in-a-word-yes

http://www.sciencedaily.com/releases/2014/08/140816204549.htm

http://www.treehugger.com/green-food/ask-pablo-are-food-trucks-greener-than-restaurants.html

http://www.citylab.com/design/2013/02/are-food-trucks-worse-environment-storefronts/4538/

https://stage.la-lights.com/lifestyle/mengenal-sejarah-food-truck-1410319.html

http://m.detik.com/travel/read/2015/02/27/185025/2845356/1382/wisata-kuliner-akhir-pekan-di-bandung-ada-food-truck-festival

Sekolah Negeri Sampah

Olivya Nike Noman

 

Menengguk minuman dingin di siang hari rasanya memang begitu segar, apalagi jika kita sedang beraktifitas di luar. Bahkan sudah hampir menjadi kebiasaan kita setiap hari untuk membeli produk-produk minuman dingin dalam kemasan ketika jam istirahat di kantor maupun di kampus. Minuman dalam kemasan memang sangat menyegarkan dan sangat praktis untuk menemani aktifitas kita yang padat. Mudah didapatkan di mana saja, mudah dibawa dan ketika sudah habis kita tidak perlu repot membawa pulang botolnya, cukup mencari tempat sampah dan buang saja botolnya.

Seiring permintaan pasar yang semakin meningkat, varian minuman dalam kemasan yang ditawarkan pun semakin beragam. Bahkan menurut Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan kisaran peningkatan 15% per tahunnya. Dari data mereka, pada tahun 2014 produksi air minum dalam kemasan di Indonesia mencapai 24 miliar liter.

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna) Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Anak-anak berenang di antara tumpukan sampah yang terdapat di Teluk Jakarta, Selasa (25/11). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Sumber: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150215164507-255-32301/indonesia-penyumbang-sampah-laut-terbesar-kedua-di-dunia/

Menurut Wawan Some, seorang aktifis lingkungan di Surabaya, ketika pada tahun 2011 produksi dan konsumsi minuman dalam kemasan mencapai angka 17 miliar liter, maka dibutuhkan 500.000 ton botol plastik sebagai kemasannya. Yang artinya pada tahun 2011 itu juga dihasilkan 500.000 ton sampah botol plastik di Indonesia. Maka jika pada tahun 2014 kemarin produksi minuman dalam kemasan mencapai 24 miliar liter, berarti dibutuhkan juga 700.000 ton botol plastik untuk mengemasnya. Atau dengan kata lain pada tahun 2014 saja Indonesia memproduksi 700.000 ton sampah botol plastik.

Maka tidak heran jika menurut studi terbaru yang dilakukan Jenna Jambeck, seorang profesor teknik lingkungan di University of Georgia, Indonesia terlacak sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia setelah China. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Science pada pertengahan Februari 2015 tersebut, jumlah akumulasi sampah plastik di lautan dunia telah mencapai 8,8 juta ton. Dalam penelitiannya Jambeck juga memproyeksikan bahwa jumlah akumulasi sampah plastik di lautan akan mencapai sekitar 170 juta ton pada tahun 2025 jika para penyumbang sampah plastik terbesar, yakni mayoritas negara-negara berkembang di Asia tidak menanggulangi cara pembuangan sampah.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Dari 8,8 juta ton sampah plastik di lautan, China bertanggung jawab atas 27%-nya atau sekitar 2,4 juta ton. Memang tidak disebutkan berapa jumlah sampah plastik yang berasal dari Indonesia, namun yang pasti Indonesia tetap berada di urutan kedua. Dengan adanya ‘lautan’ sampah plastik di lautan dunia akan sangat mengancam kelangsungan hidup hewan-hewan di sekitarnya, seperti burung-burung laut, mamalia laut, penyu laut, dan hewan laut lainnya. Selain termakan oleh hewan-hewan laut yang kemudian menyebabkan kematian hewan-hewan laut, adanya sampah plastik di lautan dunia juga mengumpulkan racun yang cukup untuk menghancurkan ekosistem lautan. Adapun bentuk terbanyak dari sampah plastik di lautan dunia antara lain kantung belanja, botol, mainan, pembungkus makanan, peralatan memancing, puntung rokok, kacamata, ember dan tempat duduk toilet.

Indonesia menghasilkan 700.000 ton sampah botol plastik pada tahun 2014 dan terus meningkat setiap tahunnya, Indonesia juga merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan dunia dengan botol plastik menjadi bentuk kedua terbanyaknya. Itu berarti bahwa sampah botol plastik memang butuh ditangani lebih serius di Indonesia.

Jika kita lihat di internet, kita dapat menemukan cara-cara untuk mendaur ulang botol plastik agar dapat digunakan kembali sebagai pot tanaman misalnya, sebagai tempat pensil maupun sebagai kap lampu yang dapat mempercantik rumah. Namun pada kenyataannya banyak orang yang enggan menggunakannya dengan alasan rumah mereka akan terkesan murah dengan penggunaan material sampah botol plastik sebagai elemen dekorasi rumah mereka. Selain itu jumlah penggunaannya pun tidak banyak, misalnya hanya diperlukan satu botol saja untuk membuat pot atau tempat pensil yang dapat digunakan berahun-tahun. Maka dari itu, cara-cara daur ulang sampah botol plastik tersebut sebenarnya kurang efektif karena jumlah produk yang didaur ulang dari sampah botol plastik sangat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan sampah botol plastik yang kian bertambah setiap harinya.

Sempat terpikir di benak saya bagaimana jika botol plastik dijadikan bangunan saja. Tetapi kemudian terpikir juga botol plastik terlalu ringan, maka mungkin hanya dapat menjadi kandang hewan. Namun suatu hari seorang teman menunjukkan sebuah gambar yang sangat menarik. Rupanya di Nigeria, sampah botol plastik telah disulap menjadi rumah. Proyek pembangunan rumah menggunakan sampah botol plastik di Nigeria ini dirancang oleh DARE (Development Association for Renewable Energies), sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya untuk membuat produk-produk daur ulang.

DARE menyatakan proyek ini sebagai salah satu strategi paling tepat untuk menata lingkungan sekaligus sebagai solusi mengurangi kurangnya perumahan bagi warga Nigeria. Rumah dengan luas 58 meter persegi dengan dua kamar ini membutuhkan setidaknya 14.000 botol plastik kemasan 1,5 liter atau sama dengan 400 kg sampah botol plastik untuk satu rumah, jumlah yang cukup banyak untuk mengurangi sampah botol plastik. Maka jika jumlah sampah plastik di Indonesia mencapai 700.000 ton per tahunnya dapat dibangun 1.750.000 rumah dengan biaya 1/3 dari dari biaya membangun rumah pada umumnya.

Solusi ini sebenarnya sangat cocok jika diterapkan di Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sampah botol plastik terbanyak di dunia. Apalagi jika solusi ini diterapkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri yang kurang terawat hingga banyak yang roboh dan menghambat proses belajar mengajar. Kurangnya dana dari pemerintah untuk merawat dan membangun sekolah negeri menyebabkan robohnya bangunan sekolah negeri terjadi di mana-mana. Dengan memanfaatkan sampah botol plastik sebagai bahan dasar bangunan pengganti batu bata seperti dikatakan sebelumnya, dapat menghemat biaya pembangunan hingga 1/3 dari biaya pembangunan dengan batu bata pada umumnya. Selain menghemat biaya pembangunan, juga mengurangi jumlah sampah botol plastik yang menjadi momok lingkungan. Win-win solution, isn’t it?

Membuat bangunan dengan bahan sampah botol plastik tidak sulit. Pertama botol plastik diisi dengan pasir, kemudian susun botol menggunakan kawat sehingga botol terikat pada posisinya dengan kuat. Terakhir gunakan semen sebagai perekatnya. Tutup botol yang beraneka warna juga menghasilkan keunikan tersendiri sehingga dapat menjadi unsur dekorasi bangunan yang unik.

Sumber:  https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Sumber: https://iramwyne.wordpress.com/2014/05/17/intelligent-designs/

Mengenai kekuatan bangunan, para inisiator proyek di Afrika bahkan mengklaim bangunan dengan bahan sampah botol plastik berisi pasir ini lebih kuat dari batu bata biasa.”Strukturnya memiliki keuntungan lain antara lain tahan api, tahan peluru dan tahan gempa bumi. Selain itu suhu di dalam ruang bisa bertahan 180C karena pasir mampu meredam panas matahari sehingga cocok untuk diterapkan di kawasan tropis,” kata koordinator proyek di Nigeria, Yahaya Ahmad.

Maka sekolah negeri dari sampah botol plastik rupanya menjadi solusi yang murah sekaligus ramah lingkungan bagi Indonesia. Tidak seperti bata yang harus proses tradisionalnya dibakar, membutuhkan banyak kayu, serta berkontribusi pada penebangan hutan, sampah botol plastik tidak. Bisa dibayangkan ada tiga kali lipat jumlah sekolah negeri yang dapat diperbaiki dengan anggaran yang sama, serta jumlah sampah botol plastik yang termanfaatkan untuk membangun sekolah-sekolah negeri sampah tersebut. Anak-anak terfasilitasi pendidikannya, beban bumi pun berkurang.

RumputAlunAlun.bdg

logo itb 1920Di awal kuliah Desain Berkelanjutan di Magister Desain ITB, seperti biasa mahasiswa peserta kuliah, dalam kelompok, diminta untuk mempresentasikan secara ringkas pemahaman mereka mengenai isu ekologi, keberlanjutan, dan kontribusi Desain terhadap isu tersebut, baik positif maupun negatif. Kali ini, ada beberapa topik yang diangkat, mulai dari limbah medis, energi, gawai, hingga polusi, dan ada juga mengenai lingkungan kota yang membahas rumput sintetis di Alun-Alun Kota Bandung. Rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini memang lumayan hangat dibicarakan, terutama di media sosial, sejak baru terpasang. Bagaimana tanggapan sekelompok mahasiswa S2 Desain mengenai hal tersebut?

Bahasan mengenai rumput sintetis ini dimulai dengan asal material itu sendiri.

Slide1Slide2Rumput sintetis yang diimpor telah sarat jejak beban ekologi akibat berlangsungnya proses distribusi, transportasi, dan sebagainya. Ada hal-hal positif dan negatif seputar penggunaan rumput sintetis di Alun-Alun Bandung ini. Kelebihannya adalah dalam hal perawatan, daya tahan (durability), dan harga. Kekurangannya adalah ketidak-mampuannya menghasilkan oksigen seperti halnya rumput hidup, adanya substansi berbahaya yang dikeluarkan material tersebut, dan tidak dapat hancur secara biologis (non-biodegradable).

Slide3Slide4Perawatan rumput sintetis ini pada dasarnya berupa pembersihan dari sisa-sisa makanan/minuman, dan sampah-sampah lain, termasuk kotoran hewan dan permen karet(!) yang paling sulit dilakukan. Perawatan lanjutan memerlukan peralatan khusus, seperti sikat untuk meluruskan tekstur rumput, penghawaan, dan lain-lain. Lalu ada pula bahan pembersih yang biasa digunakan untuk memelihara rumput sintetis ini, seperti cairan penghilang minyak dan jamur, sekaligus pewangi.

Slide5Slide6Berbagai jenis perawatan ini memang tidak mudah, tapi Pemerintah Kota Bandung memang memiliki alasan tersendiri untuk menerapkan rumput sintetis, bukan rumput hidup, di Alun-Alun Bandung; antara lain adalah karena adanya basement di bawahnya. Pertimbangan ini tidak dibahas lebih lanjut dalam sesi ini, karena yang lebih menarik adalah adalah berbagai skenario perlakuan rumput sintetis ini bila masa pakainya telah berakhir. Keputusan menjadikannya material daur-ulang maupun pakai-ulang tentu tergantung kualitasnya di akhir siklus pakainya nanti. Tentu saja, makin ia dipergunakan dan dirawat dengan baik, makin tahan lama.

Dalam diskusi, disepakati bahwa perilaku pengguna warga Bandung terhadap rumput sintetis ini juga sangat penting. Minimal dengan tidak meninggalkan sisa makanan/minuman pada permukaan rumput ini, dan menjaga kebersihannya dari kotoran lain seperti lumpur/tanah pada sepatu, dan lain-lain. Karena, sebagus apa pun fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota, tidak akan bisa bertahan bila warga tidak turut aktif dalam mempergunakan berbagai fasilitas tersebut secara wajar dan turut memeliharanya.

 

Tautan terkait:

 

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

*Pertama kalinya menulis artikel untuk Warta Gereja GKI Maulana Yusuf, Bandung, dalam perjalanan antara Seoul dan Jeju, Korea Selatan. Artikel ini dapat pula diakses di http://gkimy.or.id/main/kolom-bina-jemaat/325-kolom-bina-2014-11-23

 

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

 

Dari sekian banyak hari besar dan peringatan di muka bumi ini, salah satu yang paling mengekspresikan kemesraan antara manusia dan habitatnya adalah Arbor Day, atau Hari Pohon (arbor berarti “pohon” dalam Bahasa Latin), yang jatuh pada tanggal 21 November, di mana orang diajak untuk menanam dan merawat pepohonan. Pada awalnya, Hari Pohon ini dimulai di Villanueva de la Sierra, sebuah kota kecil di Spanyol, ketika seorang rohaniwan lokal mencanangkan inisiatif tersebut pada tahun 1805, yang disambut dengan antusias oleh seluruh warga. Hingga kini, Arbor Day masih dirayakan di berbagai negara, meskipun dalam tanggal yang berbeda-beda, disesuaikan dengan iklim dan musim tanam di negara masing-masing.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah memberi perhatian khusus pada pohon yang terus memberi manfaat bagi kita? Atau mungkin karena saking terbiasanya merasakan kehadiran pohon, kita terkadang menganggap remeh keberadaannya? Bagi kita yang hidup di kota besar, padat penduduk, dan terus berkembang seperti Bandung: perilaku apa yang kita biasakan dalam menghadapi sesama makhluk hidup ciptaan-Nya ini?

Berbagai hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan, yang telah menjadi keprihatinan bersama belakangan ini, antara lain meliputi bencana banjir, polusi udara, dan suhu yang makin panas dan tidak nyaman, terutama di berbagai wilayah padat penduduk. Secara langsung maupun tidak, hal-hal ini berkaitan dengan keberadaan dan kualitas pepohonan di lingkungan tersebut.

Terbatasnya Ruang Terbuka Hijau di perkotaan padat penduduk seperti Bandung ini menjadi salah satu sebab berkurangnya lahan yang dapat ditanami dan ditumbuhi pepohonan. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi berbagai komunitas dan masyarakat lokal untuk dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidupnya. Tentu beberapa dari kita telah akrab dengan istilah urban farming dan sejenisnya, yang mengarah pada pemanfaatan lahan yang paling sempit sekali pun untuk bercocok tanam. Bahkan juga pemanfaatan berbagai lokasi tanam yang (dulunya) tidak lazim, seperti dinding, pagar, hingga atap rumah, dengan media tanam yang juga berbagai rupa. Bandung, yang dikenal sebagai kota dengan berbagai komunitasnya yang sangat aktif, telah banyak pula melahirkan gerakan yang berkaitan langsung dengan upaya penghijauan wilayah permukiman, hingga aktivasi ke kampung-kampung kota dan taman-taman publik, hingga hutan kota.

Forest Walk at Babakan Siliwangi. (c)GalihSedayu2013

Forest Walk di Hutan Kota Babakan Siliwangi (c)GalihSedayu2013

Kreativitas warga dan komunitas di Bandung bahkan telah berupaya mengajak masyarakat luas agar menyadari adanya hutan kota satu-satunya yang ada di Kota Bandung, Babakan Siliwangi, dan memanfaatkannya sebagai ruang publik yang inspiratif. Hutan kota ini telah dideklarasikan menjadi Hutan Kota Dunia pada tahun 2011 bersamaan dengan event Tunza, sebuah konferensi internasional untuk anak-anak dan pemuda yang diadakan oleh United Nations Environmental Program (UNEP) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF). Saat itu, Hutan Baksil tengah menjadi subyek pembicaraan yang hangat berkenaan dengan rencana pembangunannya menjadi sebuah apartemen bertingkat dan ditentangnya rencana tersebut oleh masyarakat luas. Pada saat yang bersamaan, sebuah komunitas mengadakan sayembara pemanfaatan Hutan Baksil, yang desain pemenangnya benar-benar diwujudkan di hutan kota tersebut. Hasilnya adalah ForestWalk, sebuah canopy walk, atau “jembatan” di mana kita bisa berjalan sejajar atau mendekati pucuk pepohonan besar. ForestWalk dilihat sebagai salah satu upaya pernyataan warga terhadap keinginannya untuk tetap memiliki hutan kota, juga sebagai upaya mendekatkan warga kepada hutan kotanya, di samping mengekspresikan pula kesadaran warga terhadap pentingnya memiliki paru-paru kota yang tetap dapat menjadi sumber oksigen dan peredam polusi suara. Sejak didirikannya pada tahun 2011 lalu, ForestWalk hingga kini masih dapat dinikmati warga Bandung, namun, sayangnya belum dapat terawat secara optimal, sehingga banyak bagiannya yang rusak dan kotor.

Regia Infographic

Regia Infographic

Usaha untuk mendekatkan warga kepada hutan kota dilakukan lagi pada tahun 2012, ketika, dalam rangkaian acara Helarfest, diadakan Lightchestra, sebuah konser musik dan cahaya yang digelar selama tiga malam berturut-turut dalam Hutan Baksil, tanpa dipungut biaya dan dilaksanakan dengan penuh pertimbangan terhadap habitat alami dan komunitas dan warga yang beraktivitas di hutan kota tersebut. Di tahun berikutnya, 2013, bertepatan dengan Hari Bumi, Hutan Baksil kembali diaktifkan dengan event bernama Regia. Dalam Regia, dilaksanakan berbagai acara seperti yoga pagi di ForestWalk, workshop anak-anak di dalam Hutan Baksil, konser blues di Sanggar Olah Seni yang berlokasi di sisi Hutan Baksil, Forest Dining untuk memberikan pengalaman makan malam yang berbeda, pameran dan workshop fotografi, dan lain-lain, yang semuanya masih tetap bertujuan untuk mendekatkan warga pada hutan kota, dan secara kreatif memberikan informasi seputar hutan kota dan berbagai faktanya, seperti jumlah oksigen yang dihasilkan, jenis pohon yang mendominasi Hutan Baksil, fungsi Hutan Baksil sebagai tempat singgah berbagai spesies burung yang bermigrasi, dan sebagainya.

Berbagai aktivitas kreatif seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk kembali menyadarkan warga akan pentingnya keberadaan pohon dalam jumlah yang memadai di wilayah tempat tinggal kita, sekaligus juga mengajak warga untuk dapat merawat dan menambah jumlah pohon yang kita butuhkan tersebut. Adalah baik untuk mengadakan acara menanam pohon dalam merayakan Hari Pohon ini, terutama di area yang benar-benar membutuhkan, namun akan lebih seru lagi bila dilakukan juga berbagai inisiatif dalam bentuk yang baru dan menyenangkan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik sekaligus merawat pepohonan yang sudah ada di tempat-tempat tersebut. Mari, tingkatkan apresiasi terhadap pepohonan, bukan hanya dengan menanam dan merawat, tapi juga dengan mengajak keterlibatan warga seluas mungkin untuk menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara yang menyenangkan.

=====

Tita Larasati, Dosen Program Studi Desain Produk FSRD ITB & SekJen BCCF

tempatsampah.bdg

Tempat sampah baru di Bandung

Tempat sampah baru di Bandung

Semester ini, MK Desain Berkelanjutan di Program Studi Magister Desain diselenggarakan lagi. Seperti biasanya, di minggu pertama pertemuan, mahasiswa diminta untuk menyampaikan permasalahan lingkungan yang (dapat) dipengaruhi oleh desain, baik sebagai penyebab maupun solusi.

Salah satu kelompok membahas tempat sampah umum yang baru dimiliki Bandung beberapa minggu belakangan ini. Diskusi mengenai tempat sampah yang terbuat dari plastik biodegradable ini mencakup hal-hal pro dan kontra terhadap jenis material biodegradable itu sendiri, namun dalam sesi ini lebih banyak dibahas juga dari segi Desain. “Desain” di sini bukan hanya berarti penampilan visual, bentuk, dimensi, dan warna, tapi juga dalam hal usability, operasional penggunaan, persepsi pengguna terhadap obyek itu sendiri, penempatan, dan sebagainya.

RK hadir lagi di kelas ini, kali ini bukan sebagai dosen tamu seperti biasanya, tapi secara virtual sebagai wali kota di cuplikan berita mengenai tempat sampah Bandung

RK hadir lagi di kelas ini, kali ini bukan sebagai dosen tamu seperti biasanya, tapi secara virtual, sebagai wali kota dalam cuplikan berita mengenai tempat sampah Bandung

Salah satu segi desain yang dibahas di sini adalah operasional membuka-tutup tempat sampah tersebut. Pada tempat sampah ini, orang harus memegang dan mengangkat handle yang terlekat pada tutup tempat sampah bila hendak memasukkan sampah ke dalamnya. Hal ini tidak biasa, karena desain tempat sampah pada umumnya tidak menuntut penggunanya untuk menyentuh tutup atau lubang buangannya secara langsung. Sebab, biasanya, mulut tempat sampah umum cenderung kotor karena tumpahan sampah yang dibuang, atau karena bekas bakaran puntung rokok yang dimatikan di sana. Sehingga, ketika menghadapi tempat sampah Bandung ini, orang yang merasa jijik cenderung harus menciptakan “sampah baru”, dengan cara menggunakan selembar tissue bersih untuk mengangkat handle tersebut sebelum cepat-cepat memasukkan sampah yang akan dibuang (sekaligus lembaran tissue pemegang handle itu) ke dalam tempat sampah tersebut. Akan lebih manusiawi bila terdapat perbaikan desain yang tidak mengharuskan orang untuk bersentuhan langsung dengan handle atau mulut tempat sampah umum.

Hal lain yang dibahas dari segi desain adalah penggunaan kode warna jenis sampah dan icon/ simbol pada tempat sampah tersebut. Bila akan dilakukan perbaikan desain pada tempat sampah ini, kelompok ini mengusulkan agar terdapat perubahan pada grafisnya, yang didahului dengan studi mengenai kode warna dan icon/simbol yang umum dipakai dan dimengerti sebagai kode pemilahan jenis-jenis sampah, namun juga sekaligus lebih akrab dengan masyarakat umum di Bandung/Indonesia sehingga dapat dimengerti dengan lebih tepat, sesuai dengan konteks lokal.

Jadi bagaimana peran tempat sampah ini terhadap isu keberlanjutan? Sebagai langkah awal, tersedianya tempat-tempat sampah di ruang-ruang publik ini mungkin cukup dapat mengajak warga untuk tidak lagi sembarangan membuang sampah ke jalan, taman dan selokan. Sebagai solusi sementara, tempat-tempat sampah ini mungkin ampuh, namun masih ada permasalahan-permasalahan seputar daya tahan, usability, dan visual pada fasilitas ini, yang berpotensi untuk mengurangi daya gunanya di masa mendatang. Artinya, ada banyak peluang dan kontribusi dari segi desain untuk membuat fasilitas ini lebih berkelanjutan.

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=–mToeCkCjc]

What’s Next?

DAbdg putihDesignAction.bdg 2013 was over about three months ago. It was our first attempt to conduct a colossal design thinking workshop-conference in order to find innovative solutions for urban problems; in this case, within the issues of urban mobility. Among our motivations to conduct that event was inadequate infrastructure and public service of Bandung, due to insufficient years of governance at that time.

We consider “design thinking” as among the methods that we could apply to come up with solutions that don’t require complicated bureaucracy, gigantic infrastructure, and massive financing. These are the kind of solutions that are feasible in a short-term, yet effective, although some might be temporary. We did a workshop-conference; we practiced the “fun theory” and we did have fun indeed. A productive kind of fun.

It’s 2014 now and we have a new leader for our beloved city. Our mayor for 2013-2018 is a visionary, progressive person; not to mention that he is the former chair of Bandung Creative City Forum (2008-2012), an organization that has been providing examples and conducting city-scale experiments, in order to show the previous government how a city and its creative potentials could excel.

Within the new mayor’s first 100 days period in office (September-December 2013), most citizens have been benefiting from improvements of public facilities and services in Bandung. The mayor also stated that 2014 is the year for strengthening infrastructure and disciplines. His vision for Bandung is seemingly simple, but quite apt: a livable, lovable city.

twitRK2014

What's next?

What’s next?

Now that the government has a similar line of thinking to ours, what’s next? What could the next DesignAction.bdg be about? It was too “easy” before: to fix a badly-run city. But now that the city seems to be in good hands, we are facing a different challenge. Therefore, in this phase of transition from old to new Bandung, DesignAction.bdg will be very interesting.

Starting a few weeks back, we at BCCF gathered again to find the answer to that “What’s Next?” question. Whatever we do, it is still based on our affection for Bandung and our intention to make it more pleasant to live in. There are lots of issues going around; we even picked one for Helarfest, our other main program. We consider it better if the results of DesignAction.bdg this time could be realized within three months or so.

Idea sketches

Brainstorming

We also consider the municipal programs, improving public facilities and services, and relating them to their impacts to society. How would people react? How would people respond to those improved product and services? What does it mean to live in a maintained city, with accessible public spaces and facilities with good conditions? Are Bandung citizens ready to accept all these improvements; do they have suitable mindsets and behaviors, in order to sustain these pleasant facilities? A bigger question for us would be; what does it mean to be an urban citizen?

Based on these questions, and more and more discussions, which I’m sure will happen a lot more times, we decided that the theme for our next DesignAction.bdg is iden[c]ity. We’d like to encourage our fellow citizens to define who they are, related to their urban habitat. It might seem abstract at this phase, but we have a lot of keywords that can be translated into programs, pre-events, workshops, and so on. Watch our sites http://www.dabdg.bccf-bdg.com/ http://www.bccf-bdg.com  and, hopefully, we could spill more in the coming weeks!